Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 108


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


"Artinya apa?" Harsa menunggu jawaban Widya. Ia penasaran apakah perempuan itu akan peka dengan perhatian dan wujud cintanya selama ini. Fokusnya jadi terpecah dua antara jalanan dan wajah Widya. Kedua mata Harsa bolak-balik menatap ke arah Widya dan jalan raya dengan gugup.


"Artinya ... selama ini lo juga suka mengantar jemput perempuan lain selain gue?" Harsa melongo tidak percaya. Apa selama ini Widya terlalu polos berteman dengan Harsa, sehingga dia tidak bisa mengartikan hal itu sebagai cinta?


"Gue–"


"Lo pasti capek, Sa, kalau kayak gitu. Mulai besok lo nggak perlu antar jemput gue lagi, deh. Gue jadi nggak enak." Widya menukas perkataan Harsa.


Harsa menghela napas kasar. Sepertinya Widya memang tidak peka dengan perasaannya. "Gue nggak pernah capek ataupun keberatan buat antar jemput lo, Wid. Kecuali kalau lo udah nggak nganggap gue sahabat lo lagi, lo boleh nolak niat baik gue ini."


Widya bergeming. Sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan, tetapi dirinya terlalu takut jika Harsa akan salah paham. Widya tidak mau mengakui jika dirinya kini tengah berada di zona nyaman bersama Harsa. "Ya, kalau memang itu nggak memberatkan lo, sih, nggak apa-apa. Gue cuma bisa bilang makasih atas semuanya yang udah lo lakuin buat gue, Sa. Makasih banyak, ya." Widya tersenyum tulus setelah berkata seperti itu.


Harsa membalas senyuman Widya. "Nggak perlu bilang makasih. Kita ini sahabat. Gue akan selalu ada buat lo," ucap Harsa. Sebelah tangannya terulur untuk mengacak rambut Widya, sebelum dirinya fokus lagi ke jalan raya.


Widya menatap Harsa penuh arti. Entah kenapa hatinya terasa lebih hangat dari sebelumnya. Rasa resah yang menguasai hatinya seketika punah. Setidaknya ia yakin, jika Harsa tidak akan meninggalkannya walaupun ia sudah mempunyai seseorang yang spesial dalam hatinya.


"Kenapa lihatin gue kayak gitu?"


Widya tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan. "Siapa yang lihatin lo? Pede banget!" sanggah Widya. Ia jadi salah tingkah sambil merasakan debaran jantungnya sendiri. Rasa gugup membuat jantungnya berdebar lebih kencang.


Harsa mengulas senyuman, ekor matanya melirik ke arah Widya. Ia bisa melihat semburat merah yang tercetak samar di pipi Widya. Harsa yakin jika perempuan pemilik hatinya itu tengah merasa malu.


"Oh, iya. Jadi siapa yang katanya cinta sama gue, Wid? Gue penasaran, loh, siapa orangnya." Kedua mata Widya langsung mendelik ke arah Harsa. Raut wajahnya tiba-tiba berubah kesal.


"Terus kalau lo udah tahu, lo mau ngapain? Lo mau pacarin dia. Tadi katanya lo udah punya seseorang yang lo cinta. Kenapa sekarang tiba-tiba penasaran sama orang lain. Gimana, sih?" gerutu Widya menceramahi Harsa.


Harsa tergelak. "Ya, nggak, lah. Gue penasaran aja sama orangnya. Dia berani bilang sama lo, tapi nggak berani bilang sama gue," ucap Harsa setelah tawanya reda.


"Dia itu cewek, Sa. Nggak mungkin lah dia nyatain cinta duluan."


"Loh, memangnya kenapa kalau cewek nyatain cinta duluan. Bukannya dulu lo juga pernah nyatain cinta lo duluan sama gue?"


"Eh, kapan? Gue nggak pernah nyatain cinta duluan sama cowok, ya," sanggah Widya. Ia langsung memiringkan tubuhnya menghadap Harsa. Pikirannya menerawang jauh pada masa SMA mereka. Kala itu Widya pernah jatuh hati kepada Harsa. Namun, rasa itu kini sudah tidak ada. Cinta Nathan sudah berhasil menggeser posisi Harsa dalam hati Widya. Cinta itu bahkan teramat dalam, membuat Widya sulit untuk melepaskan cintanya pada Nathan yang telah tiada.

__ADS_1


"Lo lupa sama surat cinta yang lo tulis buat gue? Itu isinya ungkapan cinta lo sama gue, kan?"


Blush!


Wajah Widya seketika merona. Widya malu jika mengingat hal tersebut. Ia kira, perbuatan konyol itu akan tersimpan rapi olehnya sendiri. Namun nyatanya, surat itu malah tersebar ke seluruh pelosok sekolahnya. Tangan jahil seseorang yang menempelkan surat itu di mading sekolah, berhasil mengungkap perasaan Widya terhadap Harsa kala itu.


"Ya ... tapi yang nembak duluan tetep lo, kan?" ujar Widya tidak mau mengakui perasaannya saat itu.


"Iya, deh. Gue duluan yang ngungkapin. Cewek selalu menang." Akhirnya Harsa kalah dengan gengsi seorang perempuan. Akan tetapi, Harsa merasa senang ketika melihat wajah Widya yang bisa tersipu seperti dulu. Aura kecantikan Widya seolah terpancar jika dirinya tengah dilanda malu. Rasanya Harsa ingin kembali ke masa lalu.


...***...


Tanpa terasa, mobil yang dikendarai oleh Harsa tiba di depan pekarangan rumah Widya.


"Lo nggak mau mampir dulu, Sa?" ajak Widya setelah berhasil membuka seatbelt-nya.


"Nggak, deh. Udah malam. Salam aja sama bunda dan ayah!" tolak Harsa dengan lembut.


Widya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu ia bergegas turun dari mobil Harsa.


"Lo, masuk, gih! Gue mau mastiin lo masuk rumah dengan selamat," seru Harsa sambil menopangkan kedua tangannya di atas kemudi. Kepalanya ia sandarkan di atasnya dengan wajah menghadap Widya.


Widya disambut oleh kedua orang tuanya. Setelah mengobrol sebentar, perempuan itu pamit pergi kamar untuk membersihkan badan. Satu jam ia gunakan untuk memanjakan tubuhnya di kamar mandi. Tubuhnya yang begitu lelah dengan aktivitas hari ini menjadi rileks kembali.


Ketika Widya sudah bersiap untuk tidur, ia dikagetkan oleh suara pintu kamarnya yang diketuk dari luar. Terdengar pula suara Arini yang memanggil namanya setelah suara ketukan itu hilang.


"Ada apa, Bunda?" tanya Widya setelah membuka pintu kamarnya.


"Kamu mau tidur, Sayang?" tanya Arini dengan raut wajah bingung.


"Iya, Bun, Widya baru mau tidur. Memangnya kenapa? Wajah Bunda kayak bingung gitu?" tanya Widya penasaran.


"Gini, Bunda tadi keluar sebentar mau buang sampah. Terus Bunda lihat mobilnya Harsa masih terparkir di luar pagar pembatas rumah kita. Jadi, Bunda pikir kamu masih mau pergi, dan dia lagi nunggu kamu di sana."


Widya tersentak mendengar penuturan bundanya. Bukannya satu jam yang lalu mereka sudah saling berpamitan. Widya memang masuk duluan ke dalam rumahnya, tetapi dia pun mendengar suara mesin mobil Harsa yang melaju dari pekarangan rumahnya. Widya tidak pernah tahu kalau Harsa memarkirkan mobilnya lagi di depan pagar rumah perempuan itu.


...***...

__ADS_1


Harsa merasa lega melihat Widya masuk ke dalam rumah. Ia pun menyalakan mesin mobil dan membawanya keluar dari pekarangan rumah Widya. Namun, hatinya tidak mengizinkan dirinya pergi dari sana. Mobil itu kembali berhenti di depan pagar rumah Widya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Sesuatu yang sudah tidak bisa ia tahan. Rasanya ingin meledak dan segera ia ungkapkan.


"Kenapa nggak tadi aja gue langsung bilang sama Widya? Bodoh banget, sih! Jadi gini, kan, sekarang. Mau pulang juga nggak tenang. Apa gue masuk lagi aja buat nemuin Widya? Ah, tapi ini udah malem." Harsa menggerutu sendiri sambil mengacak rambutnya frustrasi.


Sudah satu jam Harsa berada di dalam mobil yang tidak bergerak sama sekali. Hatinya merasa gamang dengan apa yang akan dia lakukan. Hingga akhirnya Harsa malah ketiduran.


Harsa terperanjat ketika mendengar suara ketukan di kaca mobilnya. Kedua matanya menyipit tajam guna memperjelas penglihatannya yang masih samar. Terlihat Widya dengan setelan baju tidur sudah berdiri di samping mobilnya. Harsa pun keluar dari sana.


"Lo ngapain masih di sini?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Widya ketika Harsa sudah berdiri di hadapannya.


Harsa tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Gue ketiduran," jawab Harsa merasa malu.


"Hah? Nggak salah? Lo ketiduran di depan rumah gue? Bukannya tadi lo udah pergi, ya?" cecar Widya. Ia belum bisa mencerna perbuatan Harsa yang memilih tertidur di depan rumahnya.


"I–iya. Tadi gue ngantuk banget, jadi ... gue tidur bentar, tapi malah kebablasan." Harsa membuat alasan yang sepertinya bisa diterima oleh Widya. Perempuan itu pun menghela napasnya, merasa kasihan dengan kondisi bosnya tersebut. Mungkin lelaki itu terlalu lelah bekerja, begitulah pikir Widya.


"Oh, gitu. Ya udah, lo pulang sana! Hati-hati bawa mobilnya. Nyampe rumah langsung tidur!" pesan Widya.


Harsa terdiam sejenak. Menatap Widya dengan tatapan yang berbeda. Mulutnya sudah gatal ingin berkata sesuatu, tetapi rasanya sulit sekali untuk membuka suara.


"Gue masuk lagi, ya. Lo jangan ketiduran di sini lagi! Langsung pulang!" Perintah Widya mengembalikan kesadaran Harsa yang sempat melamun. Tangannya dengan cepat meraih tangan Widya, ketika perempuan itu hendak pergi meninggalkannya.


"Ada apa?" tanya Widya sambil melirik tangannya yang ditahan oleh Harsa.


"Gue–gue mau bilang sesuatu." Harsa berkata gugup.


"Iya, apa?" tanya Widya bingung.


Harsa menarik napasnya sebelum ia berkata, "Gue mau bilang kalau gue masih mencintai lo, Wid. Di hati gue selalu ada lo, dan gue mau lo jadi pacar gue lagi. Ah, bukan pacar lagi, melainkan calon istri. Calon ibu dari anak-anak gue."


Widya terperangah mendengar pengakuan cinta Harsa. Kedua mata Widya melebar sempurna dengan mulut sedikit menganga. "Lo–lo ngelindur ya, Sa? Cuci muka dulu, deh! Lo pasti belum sadar dari mimpi lo tadi." Widya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Harsa.


Namun, Harsa malah menarik tangan Widya hingga tubuh perempuan itu menjadi lebih dekat dengannya. Kini tubuh mereka hanya berjarak satu jengkal saja. Tatapannya tertuju pada bola mata Widya yang bergerak tidak tenang. Lalu ia berkata dengan nada pelan, tetapi penuh penekanan. "Gue serius, Wid. Gue sadar banget dengan apa yang gue ungkapin barusan. Gue cinta sama lo, Wid. Lo mau, kan, nerima cinta gue?"


...***...


...****To be continued**...

__ADS_1


...Eh, Widya yang ditembak. Kenapa aku yang klepek-klepek, ya 😅...


...Jadi gimana, nih. Terima jangan**? ...


__ADS_2