
"Hai sayang, sudah selesai kuliahnya?" tanya Ranu saat melihat Kikan menghampirinya dengan wajah kucel. Kikan hanya mengangguk.
"Kenapa? Capek?" tanya Ranu lagi.
"Aku laper, kita cari makan yuk. Sudah selesai, kan acara yudisiumnya?"
"Iya, sudah selesai kok, tinggal ngambil toga aja buat wisuda minggu depan. Kamu datang kan ke wisudaku?"
"Pasti dong, Sayang. Masa iya sih aku gak datang. Sudah buruan pamit ke anak-anak, aku laper banget nih," kata Kikan sambil memegang perutnya.
"Oke, Bro. Aku pamit dulu, ya. Tuan putriku udah kelaperan nih," pamit Ranu sambil bangkit dan menyalami temannya.
"Ok, Bro hati-hati, ya," sahut teman Ranu. Ranu hanya mengangguk dan segera mengajak Kikan berdiri dan berlalu.
Mereka berjalan beriringan, tangan Kikan mengelendot manja di lengan Ranu. Bukan rahasia lagi kalau Kikan dan Ranu adalah pasangan paling populer di kampus mereka. Walaupun mereka beda jurusan dan beda angkatan tapi jalinan cinta mereka awet saja tidak ada gosip menerpa.
Pertemuan pertama Kikan dan Ranu adalah saat acara ospek universitas yang mengharuskan semua mahasiswa setiap jurusan berkumpul. Ranu yang jadi panitia ospek kepincut paras imut Kikan yang lagi nyengir kepanasan menahan terik matahari saat apel pembukaan ospek. Dari situ Ranu mulai mencari tahu Kikan masuk jurusan apa, nomer teleponnya berapa sampai semua detil yang disukai Kikan dicari tahu oleh Ranu. Ranu ingat betul gak gampang untuk mendapatkan cinta Kikan, dia harus bersaing dengan cowok-cowok yang juga suka Kikan, belum lagi harus menghadapi kejutekan Kikan tiap bertemu Ranu. Giliran Kikannya sudah lumer, dia harus menghadapi bokap Kikan yang orang Jawa banget dan sedikit kolot.
"Ngapain sih dari tadi kok nyengir-nyengir sendiri?" tanya Kikan begitu sampai tempat parkir.
Ranu hanya meringis sambil menyodorkan helm ke arah Kikan. Ranu hanya sedikit teringat awal pertemuannya dengan Kikan.
"Mas, nanti mampir ke toko kain dulu, ya pas pulangnya. Kemarin ada brokat yang lupa belum aku beli," ucap Kikan sambil duduk di boncengan.
"Terus modelnya sudah dapet belum?" tanya Ranu. Kikan mengangguk sambil tersenyum.
"Mas tahu siapa yang jadi modelku?"
__ADS_1
Ranu menggeleng sambil mulai menstater motornya.
"Intan," jawab Kikan membuat Ranu berhenti menstater motornya dan menoleh ke arah Kikan.
"Kamu gak salah? Bukannya dari dulu kamu musuhan sama dia?"
"Mungkin dia sudah bosan jadi rivalku, Mas. Akhirnya sekarang mau bantuin aku. Aku sih seneng aja, Intan bodinya bagus cocok banget kalau jadi model gaun rancanganku nanti. Tapi mungkin juga dia mau menolongku karena lagi pedekate sama Bobby, sepupuku itu."
"Oh pantes aja, ya udah deh syukur kalo sekarang kalian berteman. Ini jadinya mau makan apa?" tanya Ranu lagi sambil mulai menstater motornya lagi.
"Aku mau makan soto ayam, Mas di langganan kita terus nanti pulangnya mampir toko kain, ya?"
"Siap bos," jawab Ranu sambil mulai menjalankan motornya.
Kikan hanya tersenyum kegirangan sambil memeluk pinggang Ranu dengan erat.
"Aku datang sendiri saja, Mas. Aku gak mau merepotkan kok. Pulangnya saja yang bareng, ya," jawab Kikan sambil mulai memasukkan suapan pertamanya.
"Huh ... panas," ucapnya lagi sambil mengadu karena kuah soto yang masih panas.
"Pelan-pelan dong, Sayang ... ini kan masih panas." Kikan hanya tersenyum.
"Habis laper banget sih, gara-gara lupa gak sarapan tadi jadi kelaparan di kelas. Sudah gitu kuliahnya lama banget," omel Kikan sambil sibuk meniup kuah sotonya. Ranu hanya tersenyum mendengarnya.
"Ini, makan punyaku saja sudah gak panas kok," ucap Ranu sambil menyodorkan mangkok sotonya yang dari tadi sibuk diaduk untuk menghilangkan uap panasnya.
"Beneran gak pa-pa nih, Mas. Punyaku sudah aku kasih cabe banyak tadi, nanti Mas Ranu kepedesan."
"Gak pa-pa, kan bisa minum kalau kepedesan," ucap Ranu santai sambil menarik mangkok soto Kikan ke arahnya dan mengganti mangkok sotonya untuk Kikan.
__ADS_1
Kikan hanya tersenyum sambil menerima mangkok soto milik Ranu, lalu mulai menambahkan kecap dan sambal yang sedikit banyak kemudian mulai memakannya lagi.
"Gak panas, kan?" tanya Ranu. Kikan mengangguk dan lahap menikmati sotonya.
Sementara Ranu sudah mulai memesan minuman lagi untuk menghalau rasa pedas dari soto milik Kikan. Memang dia bukan pencinta makanan pedas beda dengan Kikan. Namun, dia gak pernah protes dengan kebiasaan Kikan itu.
Kikan merasa beruntung telah memilih Ranu. Ranu gak pernah mengeluh menghadapi sifat manjanya. Maklum Kikan anak tunggal dia terbiasa dengan semua kasih sayang yang full diberikan untuknya. Ranu juga selalu mengerti apa yang dia mau. Dia bener-bener bisa menjaga dan mengayomi Kikan. Makanya selama hampir 3 tahun berpacaran gak pernah sekalipun mereka sampai berantem hebat. Selalu Ranu yang mengalah dan kemudian menasehati Kikan untuk berubah lebih baik. Akh, beruntung banget aku, pikir Kikan dalam hati.
"Sudah selesai makannya?" tanya Ranu ke Kikan. Kikan mengangguk dan kemudian tertawa melihat Ranu.
"Kok tertawa, sih? Ada apa?" tanya Ranu heran.
"Wajahmu kok merah banget, Mas. Matamu juga berair, kayak habis nangis. Terus, tuh bibirmu merona merah," ucap Kikan masih tertawa.
"Ya ... gara-gara makan sotomu yang super pedas itu. Aku heran kok kamu enjoy dan enak saja memakannya. Padahal aku sudah seperti ini setelah memakannya. Ini saja rasanya masih kepedesan," jawab Ranu sambil tersenyum.
"Ya ... itulah hebatnya cewek, Mas. Walaupun pedas dimakan saja habis enak. Asal jangan sampai saja bikin hatiku panas," ucap Kikan sambil melirik Ranu.
"Memangnya aku ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain sekarang, gak tahu kalau besok-besok."
"Sudah, jangan mikir yang aneh-aneh. Kita pulang, yuk! Katanya mau mampir ke toko kain juga, nanti keburu siang," ajak Ranu. Kikan mengangguk lalu mengikuti Ranu yang sudah berdiri terlebih dahulu dan membayar di kasir.
"Sudah siap?" tanya Ranu begitu Kikan sudah naik di atas motornya.
"Sudah."
"Oke kita lanjut, ya!" Ranu segera melajukan motornya meninggalkan warung soto ayam itu menuju toko kain.
__ADS_1