Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kebahagiaan Adrian.


__ADS_3

Dua hari sebelumnya


"Adrian, aku ingin bicara denganmu. Apakah kamu ada waktu ?", tanya Tania di telepon.


"Untuk apa lagi sih, Tania. Sebentar lagi juga kita akan terus bertemu. Maaf, aku sibuk ", balas Adrian.


"Tolong ... sekali ini saja, aku yakin kamu akan menantikan saat ini ". Adrian terdiam, apa maksud perkataan Tania.


"Aku tunggu di cafe ya, aku kirim alamat cafenya. Aku tunggu disana jam 5, kamu sudah pulang kan ?", ucap Tania lagi.


"Baiklah .... ", jawab Adrian akhirnya.


Jam lima lewat lima belas menit, Adrian sudah tiba di cafe yang dimaksud Tania. Adrian segera memarkir mobilnya dan berjalan masuk menuju cafe tempat pertemuannya dengan Tania. Sebenarnya Adrian malas sekali harus bertemu berdua saja dengan Tania tapi karena ucapan Tania di telepon tadi membuat dia jadi penasaran dan memutuskan untuk datang.


"Kamu mau pesan minum ?", tanya Tania begitu melihat Adrian sudah datang menghampirinya.


"Gak usah, aku harap pembicaraan yang kamu maksud ini penting dan tidak membuang waktuku", ucap Adrian ketus.


"Duh ... Tuan galak, kenapa kamu tidak bisa bersikap sedikit manis kepadaku seperti saat kamu bersama Kikan ?", ucap Tania sambil menggoda Adrian. Adrian hanya menatap Tania kesal, ternyata dia sudah tahu hubunganku dengan Kikan.


"Kaget ya ? Aku sudah tahu tentang dirimu dan Kikan. Kalian seperti sepasang merpati saja yang kemana-mana selalu memandu cinta, bermesra di tempat umum pula ", ucap Tania lagi. Kini Adrian merubah posisi duduknya dan mendekat ke Tania.


"Kamu tidak punya kerjaan ya, suka menguntitku ?", tanya Adrian kesal. Namun Tania hanya tertawa melihat reaksi Adrian.


"Kamu tidak berniat menikah dengannya, Adrian ?". Adrian kini makin terkejut dengan sikap Tania. Apa sih maksudnya ?, pikir Adrian.


"Jadi apa sebenarnya tujuanmu memintaku kemari ?", tanya Adrian kesal. Tania hanya tersenyum sambil menyesapi kopi pesanannya.

__ADS_1


"Sepertinya aku membuang waktuku percuma ", ucap Adrian sambil beranjak bangkit meninggalkan Tania. Tapi, tangan Tania lebih dulu menarik lengannya dan memintanya duduk kembali.


"Duduklah .... aku belum selesai bicara. Mengapa kamu selalu galak padaku ? Apakah tidak pernah sedikitpun ada rasa untukku ?", tanya Tania kini. Adrian hanya terdiam dan duduk ke tempatnya semula.


"Awalnya aku memang menolak perjodohan ini namun setelah pertemuan pertama kita di mall, aku jadi suka padamu, jatuh cinta padamu dan aku menyetujui perjodohan ini. Aku sangat berharap suatu saat kamu juga bisa mencintai aku. Tapi ternyata, kamu sudah mempunyai Kikan .... ", ucap Tania kini mulai bercerita. Adrian hanya terdiam sambil memasang tampang kesal.


"Tentu aku tidak mau kalah dengan Kikan, aku harus memilikimu. Kamu tampan, menarik dan kaya gadis mana yang tidak akan tergoda untuk menjadi istrimu. Aku begitu terobsesi padamu, Adrian. Dan aku hampir melakukan segala cara untuk memilikimu seutuhnya. Aku melupakan yang menjadi dasar keutuhan sebuah hubungan yaitu cinta ", ucap Tania lagi. Kini Adrian sudah merubah tampangnya dan memberi perhatian ke Tania.


"Kamu tidak pernah punya cinta untukku dan aku sendiri ... Aku sendiri terlalu terobsesi memilikimu. Aku tidak mencintaimu, aku hanya terobsesi padamu. Kamu seperti piala yang harus aku menangkan. Aku salah ... Adrian. Aku telah membuat orang yang mencintai dan kucintai menderita. Aku juga hampir saja menjadi pembunuh dari buah cinta kami ". Adrian kembali bingung dengan ucapan Tania.


"Apa maksudmu, Tania ?", tanya Adrian.


"Aku hamil Adrian ...., dan anak dalam kandunganku ini buah cintaku dan kekasihku. Awalnya aku ingin menggugurkan kandunganku dan menikah denganmu. Tapi bagaimana kalau kau tidak menerimaku dan aku juga kehilangan orang yang mencintaiku. Oleh sebab itu, aku kesini untuk membatalkan pernikahan kita ", ucap Tania yang langsung membuat Adrian terkejut.


"Jadi maksudmu pertunangan dan pernikahan kita batal kan ?", tanya Adrian bersemangat. Tania mengiyakan dengan senyuman.


"Lantas bagaimana dengan dirimu ?".


"Honey ... kamu sudah selesai ?", sebuah suara menyapa Tania. Adrian menoleh tampak pria berperawakan sedang, kulit gelap dengan wajah yang manis sudah berdiri di belakangnya.


"Adrian ... kenalkan ini calon suamiku, Kemal ", ucap Tania mengusik keterkejutan Adrian.


"Adrian ", ucap Adrian sambil mengulurkan tangannya.


"Senang bertemu denganmu, Adrian. Tania sering menceritakan tentangmu ternyata memang kamu lebih tampan dariku ", ucap Kemal sambil bergurau yang disambut senyuman Adrian.


"Sudahlah ... Honey, akhirnya aku memilih kamu juga kan ?", ucap Tania sambil bergelayut manja di lengan Kemal.

__ADS_1


"Baiklah ... Adrian, kami pulang dulu ya !", pamit Kemal.


"Aku harap kamu segera menemukan Kikan. Aku sudah ke butiknya tadi untuk meminta maaf, tapi kata karyawannya Kikan sedang liburan keluar kota. Mungkin dia sedang berusaha menghapus kesedihannya. Sampaikan salamku bila bertemu dengannya ya. Aku pergi dulu !", pamit Tania. Adrian hanya mengangguk dan tersenyum.


"Oh ya, satu lagi kamu tidak perlu hadir di pernikahanku. Aku takut, aku akan berubah pikiran dan lebih memilihmu daripada Kemal ", ucap Tania bercanda yang langsung mendapat lirikan tajam dari Kemal.


"Aku bercanda, Honey ... ", ralat Tania akhirnya sambil tersenyum.


Mereka akhirnya berlalu meninggalkan Adrian yang masih duduk sendiri. Ia benar-benar terkejut hari ini, antara perasaan senang dan terkejut bercampur jadi satu.


Adrian segera mengeluarkan ponselnya mencoba mencari kontak Kikan setelah ketemu Adrian mencoba menelponnya. Namun ponselnya sepertinya tidak aktif atau mungkin dia sengaja memblokir nomorku. Atau mungkin juga dia sedang di tempat yang tidak ada sinyal. Tadi Tania bilang Kikan sedang keluar kota. Aku harus segera menemukannya.


Adrian bergegas keluar dari cafe itu dan masuk ke mobilnya kemudian mengemudikan ke rumah Kikan. Ia tak sabar ingin menyampaikan berita menggembirakan ini.


Adrian bergegas memarkir mobilnya sembarangan dan berjalan cepat ke rumah Kikan, menekan bel rumahnya sampai pintu akhirnya terbuka.


"Nak Adrian ... , ada apa kemari ?", tanya ibu begitu pintu terbuka.


"Kikan ada Bu ?", tanya Adrian.


"Dia tidak ada ", jawab ayah yang sudah berdiri di belakang ibu. Ibu menoleh cepat melihat suaminya sudah berdiri dengan wajah murka.


"Untuk apa kamu kesini lagi ? apa kamu ingin terus menyiksa Kikan ? ingin terus menggantungnya tanpa kepastian ?. Sudah kembali sana, lagipula kau akan menikah lusa ", ucap ayah dengan marah. Adrian terdiam.


"Maaf, Om. Ini memang salah saya yang tidak tegas. Tapi saya mohon, biarkan saya bertemu Kikan ada hal yang harus saya ceritakan padanya", ucap Adrian memohon.


"Yah ... biarkan dia masuk, mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan ", ucap ibu meredam kemarahan ayah. Akhirnya ayah menyingkir dari pintu dan menyilakan Adrian masuk.

__ADS_1


"Kikan tidak ada di rumah, ia dan Raka sedang liburan ke luar kota. Apa yang mau Nak Adrian bicarakan ?", tanya ibu.


Adrian menghela nafasnya mencoba mengatur nafas yang seperti menggebu. Lalu akhirnya ia ceritakan semuanya termasuk pembatalan pernikahannya dengan Tania dan maksud kedatangannya untuk melamar Kikan menjadi istrinya. Ayah dan ibu tampak terkejut, namun raut bahagia tampak jelas di wajah mereka. Mereka bahagia akhirnya doa-doa untuk kebahagiaan Kikan dikabulkan.


__ADS_2