Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pernikahan Irene


__ADS_3

Kikan termenung di kamarnya, ia masih memikirkan semua ucapan Adrian. Dia tidak pernah berubah selalu arogan, menang sendiri dan kepedeannya tingkat dewa. Apa benar yang diucapkan Adrian kemarin ? Apa benar ia masih mencintainya ? masih ingin menjalin sebuah hubungan lagi dengannya ?. Apa Adrian tidak pernah mempermasalahkan status dan masa lalunya ?. Sudah jam 1.30, aku harus tidur. Besok ada hari yang harus kujalani lagi, pikir Kikan. Ya, besok hari pernikahan Irene, ia akan sibuk membantu Irene, akan butuh tenaga ekstra besok.


Pagi ini, Kikan sudah berada di tempat acara pernikahan Irene. Sudah sejak subuh tadi, ia membantu Irene bersiap. Irene sudah tampil cantik dan siap mengikuti prosesi acara pernikahan. Kikan sengaja datang sendiri dan lebih awal karena ingin membantu Irene sedangkan Raka nanti akan datang bersama ayah dan ibu. Kali ini Kikan memakai gaun warna soft blue dengan potongan rendah di lehernya. Ia juga menata rambutnya dengan sanggul alami dan dihiasi beberapa bunga segar. Kikan tidak ingin tampil menonjol tapi dia sudah cukup cantik untuk membuat semua mata melihat ke arahnya. Ia kini sudah berdiri di antara para tamu dan kerabat yang menyaksikan prosesi akad nikah.


"Aku pikir kamu mempelai wanita nya tapi kok sendirian ?", seru Adrian yang sudah berdiri disampingnya. Kikan menoleh, menatap sekilas ke arah Adrian yang juga tidak kalah tampan. Ia memakai setelan jas soft blue juga dengan dalaman kemeja biru Dongker dan dasi putih. Rambutnya juga tertata klimis rapi disisir ke belakang.


"Kenapa kok ngeliatnya gitu ?. Kaget ya ada orang seganteng aku ?", ucap Adrian lagi. Kikan hanya tersenyum. Ia sedang asyik menyaksikan prosesi akad nikah yang sudah berlangsung.


"Kenapa kamu gak duduk di kursi keluarga saja ?", tanya Kikan.


"Ah, enakan berdiri sama kamu disini. Raka belum datang ?", tanya Adrian.


"Nanti dia kesini dengan ayah dan ibu. Tadi aku duluan berangkat untuk membantu Irene", jelas Kikan.


"Oh, begitu. Hei ... itu ada bangku kosong, kita duduk di situ yuk ?", ajak Adrian sambil menarik tangan Kikan. Kikan terpaksa menurut padahal ia ingin melihat prosesinya lebih dekat.


"Tapi ... dari sini gak kelihatan, Adrian. Aku kan pengen lihat Irene dan Feril ", gerutu Kikan.


"Alah ... pasti sama saja, nanti kalau kita yang nikah saja diabadikan. Atau perlu ku uji coba dulu ya. Saya terima nikahnya Kikan .....". Belum sempat Adrian melanjutkan ucapannya, Kikan sudah membungkam mulut Adrian dengan tangannya namun Adrian malah menarik tangan Kikan dan mengecupnya.


"Kamu apa-apaan sih, Adrian", ucap Kikan sambil menarik tangannya. Untung saja tempat duduk mereka tertutupi oleh orang-orang yang sibuk berdiri menyaksikan prosesi pernikahan.


"Habis, kamu yang mulai sih ", kata Adrian sambil tersenyum nakal.


"Mama .... Om Kelen, kok ada disini ? pacalan ya ?", seru Raka tiba-tiba mengagetkan.


"Raka .... kok ngomong begitu sih, gak sopan, Sayang ", ucap Kikan. Raka hanya terdiam sedang Adrian senyum-senyum mendengar ucapan Raka.

__ADS_1


"Ayah, ibu ... baru datang ?", tanya Kikan begitu melihat ayah dan ibunya berjalan setelah Raka.


"Iya, Nduk. Kamu sudah ke pengantinnya ?", tanya ibu.


"Tadi sih Kikan membantu Irene bersiap tapi belum kesana lagi untuk mengucapkan selamat", jawab Kikan.


"Selamat siang, Om, Tante ", sapa Adrian sopan. Ayah dan ibu hanya tersenyum dan mengangguk ke arah Adrian.


"Loh .... Adrian, kamu disini toh ?. Dari tadi dicari mamamu untuk foto keluarga ", seru Mami Tiwi yang tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah mereka.


"Iya, Tante. Nanti deh, Adrian kesana", jawab Adrian santai.


"Eh, kesana dulu saja biar Mamamu gak bingung nyari dari tadi ", ucap Mami Tiwi lagi. Akhirnya Adrian bangkit dari duduknya.


"Aku tinggal dulu ya ", pamit Adrian ke Kikan. Kikan hanya mengangguk.


"Kamu kenal Adrian, Kikan ?", tanya Mami Tiwi kini setelah Adrian berlalu.


"Iya, Oma. Om Kelen kan pacalan ama Mama, Om Kelen juga mau jadi papanya Laka kok," tutur Raka polos.


"Raka ..... kok ngomong gitu sih !", seru Kikan kesal. Mami Tiwi hanya bingung menoleh ke Kikan dan Raka.


"Om keren itu siapa ?", tanya Mami Tiwi lagi.


"Adrian, Mi ", jawab Kikan lagi.


"Oh .... hahaha, iya, iya gak pa-pa kok Kikan. Adrian itu juga keponakan Mami. Dia anak yang baik, meski waktu SMA nya nakal tapi sekarang dia sudah berubah dan menjadi orang sukses. Mami setuju kok kalau kamu dengan Adrian, ya gak Bu ?", kata Mami Tiwi sambil meminta persetujuan ke Ibu Kikan.

__ADS_1


"Iya, betul Mi, saya juga suka kok dengan Adrian. Raka juga sudah akrab dengannya", jawab ibu. Kikan hanya terdiam mendengar obrolan ibu-ibu ini. Ini semua gara-gara Raka, gara-gara omongannya.


Pesta pernikahan Irene berjalan lancar dam meriah. Meski Irene tidak mengundang banyak tamu, namun semuanya terasa sangat berkesan.


"Selamat ya, Irene ?", ucap Kikan begitu maju ke arah Irene dan Feril yang sedang berbahagia.


"Terima kasih, Kikan. Berkat kamu juga aku tampil cantik hari ini", ucap Irene.


"Eh, kita foto dulu yuk !", ucap Irene. Kikan lalu bersiap berfoto. Ia sudah berdiri di sebelah Irene bersama Raka. Ibu dan ayah sudah berfoto sebelumnya dan sekarang sedang menikmati hidangan jadi tidak ikut berfoto lagi. Kikan sudah bersiap berpose namun fotografer belum menjepret karena masih mencari angle yang bagus.


"Tunggu ... tunggu, saya juga ikut dong ", ucap Adrian sambil nyelonong maju ke depan dan langsung berdiri di sebelah Feril.


"Kalau gitu, tuker dulu Mas. Mbaknya sebelah pengantin laki-laki dan sebaliknya. Adek kecil di tengah ya, biar bagus fotonya", ucap fotografer tersebut. Kikan dan Adrian hanya menurut, sedang Irene sudah senyum-senyum saja dari tadi. Ia tahu pasti ada sesuatu antara Adrian dan Kikan. Irene sudah tahu itu sejak pertemuan pertama di cafe Mall itu.


"Raka ...., boleh gak Om pinjam mamanya bentar ?", tanya Adrian ke Raka.


"Boleh kok Om ", jawab Raka.


"Raka tunggu disini ya ? janji jangan kemana-mana ya ?", ucap Adrian lagi.


"Janji Om, Laka akan tunggu, gak kemana-mana kok", kata Raka lagi.


"Yuk, Kikan !", ajak Adrian kini.


"Mau kemana ?", tanya Kikan bingung.


"Sudah ikut saja, cuman sebentar kok. Nanti kita balik lagi ". Kikan ragu, ia menoleh ke ayah dan ibu yang sudah mengangguk seakan mengijinkannya.

__ADS_1


"Janji, kamu gak akan macem-macem kan ?", tanya Kikan lagi.


"Memangnya aku mau ngapain, di tempat umum gini ?", ucap Adrian sambil tersenyum. Kikan akhirnya percaya dan segera berjalan mengikuti Adrian meninggalkan pesta pernikahan Irene yang semakin ramai.


__ADS_2