
Hari ini seluruh keluarga besar Kikan berkumpul di rumahnya. Setelah pernikahan Kikan yang batal karena kecelakaan Ranu, kini keluarga besar Kikan dihebohkan dengan kehamilan Kikan. Sebenarnya ayah dan ibu tidak ingin membahas hal ini karena mereka tidak ingin memberi Kikan beban lagi. Tapi entah siapa yang memberi tahu sehingga seluruh keluarga besar tahu tentang kehamilan Kikan dan mendadak hadir ke rumah Kikan semua.
"Benar-benar memalukan anak gadis hamil duluan di luar nikah. Pantas saja dulu mereka mendesak ingin memajukan tanggal pernikahannya ternyata ini toh alasan besarnya", ucap Pakde yang tak lain ayah Bobby membuka percakapan mereka.
"Apa kamu tidak bisa menjaga Kikan dengan baik ?. Dia anak gadismu satu-satunya malah sekarang sudah mencoreng nama keluarga kita dengan arang ", ucap Bude menimpali sambil bertanya ke ibu. Ibu dan ayah hanya diam, mereka tidak ingin memperkeruh keadaan dengan membuat suasana semakin runyam. Mereka takut Kikan yang sedang beristirahat di kamar akan mendengar obrolan mereka.
"Kita harus menyelesaikan masalah ini, jangan sampai tetanggamu tahu. Malu ...", ucap pakde Gofar menambahi.
"Sebenarnya itung-itungan Kikan dan calon suaminya itu sudah bagus, akan membawa rezeki, ketentraman namun sayang Tuhan berkata lain ", tambah pakde Gofar.
"Sun, apa rencanamu sekarang ?", tanya pakde ke ibu.
"Ya ... kami akan menjaga Kikan sampai dia melahirkan Mas. Kami tidak mau ada hal yang tidak diinginkan menimpa Kikan lagi", jawab ibu.
"Jadi kamu akan membiarkan anakmu itu perutnya gede kesana kemari tanpa suami sampai dia melahirkan gitu ?". Ibu mengangguk.
"Hei ! apa kamu gak malu ? Kita ini masih orang yang punya adat ketimuran, kita ini juga masih keturunan darah biru. Apa kamu gak malu punya anak yang hamil tanpa suami ?. Apa kata orang ? apa kata mbah-mbah buyut kita ? kamu benar-benar sudah mencoreng nama baik keluarga kita Sun ?", cercah pakde lagi.
"Lalu bagaimana Mas ? aku tidak mau meminta Kikan untuk menggugurkan kandungannya. Itu lebih berdosa. Aku juga tidak mau membuat dia depresi lagi. Aku tidak mau kehilangan Kikan juga Mas", jawab ibu kini dengan sedikit terisak. Ayah hanya diam sambil mengelus pundak ibu.
"Apapun yang terjadi kami akan menjaga Kikan sampai melahirkan Mas", tandas ayah akhirnya.
"Baik, kalau itu yang kalian inginkan. Kalian ingin Kikan mempertahankan bayi dalam kandungannya sampai dia lahir kan ?. Baiklah kalo gitu kita harus segera menikahkan Kikan ".
"Maksud Mas ?", tanya ibu kaget.
"Kita harus segera menjodohkan Kikan dengan siapa saja yang mau menjadi ayah dari anaknya itu", ucap Pakde lagi.
"Gak Mas, jangan ... aku gak mau melihat Kikan tertekan lagi. Biarkan saja dia seperti itu, aku tidak mau kehilangan Kikan juga. Jangan Mas ... jangan jodohkan Kikan dengan siapapun", pinta ibu.
__ADS_1
"Jadi kamu rela melihat anak gadismu jadi bahan olokan orang bahkan di keluarga kita nantinya. Kamu lebih suka begitu ? sudah manut saja. Kemarin Pakde Gofar sudah berunding dengan Mas Citro, sepupu kita dia mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah berumur tapi belum menikah. Pakde Gofar sudah menghitung semuanya dan ternyata cocok. Besok atau lusa Mas Citro akan kesini untuk melamar Kikan ", terang Pakde.
Ibu hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya. Ibu tidak tahu harus berkata apa, dia tidak kuasa jika harus melihat Kikan depresi lagi mendengar hal ini. Lagipula anak mas Citro yang akan dijodohkan dengan Kikan itu mengalami keterbelakangan mental, bagaimana nasib Kikan nantinya.
Tanpa mereka ketahui semua, Kikan mengintip dan mendengar pembicaraan mereka semua dari balik kelambu. Kikan menangis, dia berlari ke kamarnya. Dia terduduk lesu di pinggir ranjangnya.
Apa yang harus kulakukan sekarang ? aku tidak ingin membuat ayah ibu bersedih didesak seperti itu tapi aku juga tidak sanggup kalau harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan. Kikan berpikir keras lalu tiba-tiba dia ingat mami Tiwi. Segera Kikan meraih ponselnya lalu menekan kontak mami Tiwi.
"Hallo ....", sapa suara mami Tiwi di seberang.
"Hallo Mami..., ini Kikan ", balas Kikan.
"Iya, Sayang ada apa ? tumben malam-malam telepon ?".
"Mami ... apa boleh Kikan tinggal di rumah Mami barang sehari dua hari ?", tanya Kikan.
"Tentu Sayang, tinggal disini seterusnya juga gak pa-pa. Tapi ..., apa ayah dan ibumu mengijinkan ?". Kikan terdiam, dia bingung menjawabnya.
"Gak usah Mi, Kikan kesana sendiri aja. Tiga puluh menit lagi Kikan sampai".
"Baik, Mami tunggu ya!".
Kikan segera menutup teleponnya lalu bergegas memasukkan baju dan beberapa kebutuhannya ke dalam tas besar. Kikan membuka kamarnya perlahan, menoleh ke kanan dan kekiri lalu keluar sambil menjinjing tasnya.
Di ruang tamu masih terdengar suara pakde dan ayah saling beradu argumen. Kikan juga mendengar suara Bobby di taman belakang sedang asyik menelepon. Kikan bergegas membuka pintu taman samping berjalan keluar dengan berjingkat kemudian setelah keluar dari halaman rumah dia setengah berlari menuju taxi online yang sudah dipesannya.
Sementara itu di taman belakang Bobby yang tidak menyadari kepergian Kikan sedang asyik menelepon Intan.
"Ntan ..., aku bener-bener nyesel sudah menceritakan soal kehamilan Kikan ke ibuku. Harusnya aku tutup mulut saja ya waktu itu ?", ucap Bobby di telepon.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Bob ?", tanya Intan.
"Gara-gara ceritaku itu kini keluarga besar kami berkumpul di rumah Kikan. Mereka memutuskan untuk menikahkan Kikan dengan orang lain. Ya .... masih kerabat juga sih, tapi kalo menikah tanpa cinta bukannya itu paksaan. Apalagi mengingat kondisi Kikan yang habis depresi, apa dia gak tambah depresi tuh. Aku bener-bener nyesel, Ntan kenapa harus cerita ke ibu waktu kemarin".
"Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu Kikan, apa mereka tidak menolaknya ?".
"Dari yang kudengar sih paklik dan Bulik berusaha menolak tapi kamu belum tahu watak keluarga besarku apalagi ayahku dan pakde Gofar. Apa yang dikatakan harus dituruti. Akh, kasihan Kikan ... aku merasa bersalah".
"Sudahlah Bob, ini mungkin pelajaran buat kamu untuk tidak menceritakan semua yang kamu dengar langsung ke orang lain. Semoga aja ada keajaiban yang bisa menolong Kikan. Kasihan dia ... padahal sebelumnya aku sempat iri melihat keberuntungan nasibnya. Namun kini, aku mungkin juga tidak mau kalo harus mengalami hal yang sama seperti dialami Kikan. Terus Kikan dimana sekarang ?".
"Ada di kamarnya, tadi aku lihat sedang tidur. Mungkin kalau nanti dia bangun dan mendengar semuanya pasti dia akan kaget. Semoga saja dia sanggup menerima semua ini. Kita doakan saja yang terbaik untuknya ya ".
"Iya Bob, aku nitip salam ya buat dia". Bobby mengangguk.
"Eh, sudah dulu ya ... kayaknya ayah memanggilku", ucap Bobby menyudahi telepon.
"Bobby ....". Benar saja Bobby mendengar suara ayahnya memanggil dirinya.
"Iya yah ", jawab Bobby setengah berlari.
"Darimana kamu ?".
"Dari belakang yah".
"Ya sudah pamit ke Bulik-mu, kita pulang ". Bobby lalu pamit ke ibu dan ayah Kikan dan bergegas mengikuti ayahnya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Bagaimana ini yah ?", tanya ibu setelah semua kerabatnya pulang.
"Entahlah Bu, ayah sebenarnya sudah ikhlas menerima keadaan Kikan. Ayah tidak mau membuat Kikan tambah sedih lagi. Namun mengapa keluarga besar kita ikut andil dalam hal ini. Ayah juga bingung".
__ADS_1
"Sebenarnya kemarin waktu Kikan di rumah sakit, ibunya Ranu sempat menjenguk Kikan. Dia bersedia merawat Kikan karena semua yang Kikan alami juga karena ulah anaknya. Dia juga sudah menganggap bayi yang dikandung Kikan itu sebagai cucunya. Dia ingin ikut membantu dan merawat nantinya. Tapi kalo keluarga besar kita sudah ikut campur tambah runyam jadinya. Aku bingung Yah. Wes aku tidur duluan, aku mau ngecek Kikan dia sudah tidur belum", ucap ibu sambil berlalu. Ayah hanya manggut-manggut.
Perlahan ibu membuka kamar Kikan, gelap karena Kikan mematikan lampunya. Mungkin Kikan sudah tidur, biarin wes, ucap ibu dalam hati sambil menutup kamar Kikan lagi.