
Hari Minggu akhir bulan, acara lamaran sekaligus pertunangan Kikan. Rumah Kikan sudah terlihat sibuk sejak tadi malam. Banyak kerabat yang berdatangan, tim dekor sudah menghias rumah Kikan sejak subuh tadi. Di setiap sudut rumah sudah diletakkan bunga-bunga yang cantik, dalam sekejap rumah Kikan sudah disulap menjadi dekor pertunangan yang indah. Makanan sudah ditata rapi disiapkan untuk acara nanti, sebagian diletakkan di ruang tamu yang sudah tertata indah sebagian lagi diatur dengan rapi di taman samping rumah.
Ibu dan ayah tampil serasi dengan baju couple soft blue. Ibu disanggul cantik menambah aura keibuannya semakin muncul. Sedangkan Kikan, hari ini dia mengenakan kebaya softblue dengan potongan asimetris dan open shoulder menampilkan tubuh indahnya terbalut dengan indah. Rambut Kikan yang panjang terurai kini disanggul rapi dihias dengan bunga-bunga dilengkapi dengan make up minimalis yang semakin menambah kecantikannya.
Pukul 10 tepat, keluarga Ranu datang bersama rombongan berjumlah sepuluh orang. Mereka langsung disambut dengan suka cita oleh keluarga Kikan. Acara pun dimulai dengan pembukaan doa, sambutan masing-masing. keluarga dan kemudian acara inti, pertunangan Kikan dan Ranu.
"Nah, tiba kita di inti acara yaitu pertunangan Mbak Kikan dan Mas Ranu", ucap MC acara.
"Silahkan mbak Kikan dan mas Ranu ke tempat yang disediakan".
Kemudian Ranu dan Kikan menuju ke tempat dekor utama yang sudah disiapkan. Kikan dan Ranu saling berhadapan dengan senyum mengembang yang menggambarkan suka cita luar biasa. Lalu mereka saling memasangkan cincin ke jari satu sama yang lain yang kemudian disambut tepuk tangan segenap keluarga. Kemudian masing-masing keluarga berdiri dan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua, dilanjut acara foto-foto dan makan bersama.
"Selamat ya Kikan, akhirnya kalian satu langkah menuju resmi ", ucap Intan yang datang bersama Bobby hari ini. Kikan tersenyum sambil menerima salam Intan.
"Kamu beruntung, Ran bisa dapetin adek sepupuku ini padahal dulu saat SMA banyak cowok yang antri tapi ditolak semua", seru Bobby.
Ranu hanya tersenyum sambil terus memandang Kikan yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Eh, kalian disini toh. Ayo, ayo sini ada teman ibu yang ingin kenalan ...", seru ibu sambil menarik tangan Kikan dan Ranu.
"Ini loh Wid, Kikan anakku dan ini calon mantuku, Ranu. Gimana, serasi toh ?", ucap ibu sambil mengenalkan Kikan dan Ranu ke Tante Widya.
"Salam kenal Tante", ucap Kikan dan Ranu hampir berbarengan. Widya hanya mengangguk tersenyum.
"Anakmu cantik, Sun. Kenapa tidak kau kenalkan dia dari dulu ke aku kan kita bisa besanan", bisik Widya di telinga ibu saat Kikan dan Ranu sudah beranjak pergi.
"Halah ... kamu ini kok baru ngomong sekarang. Aku kan tidak tahu kalo kamu juga cari mantu. Wes, wes belum jodoh itu namanya. Ayo, dinikmati saja makanannya", ucap ibu disambut tawa Widya dan suaminya.
"Sayang. ..", panggil Ranu tiba-tiba dibelakang Kikan. Kikan menoleh cepat.
"Aku capek, bisa cari tempat tersendiri dulu", bisik Ranu. Kikan mengangguk dan bergegas mengajak Ranu ke taman belakang rumahnya yang jauh lebih sepi dan tidak hingar bingar.
"Aku ambilin makan ya ?", pinta Kikan, Ranu segera mengangguk. Kikan segera berlalu dan kembali dengan dua piring nasi beserta lauk pauk di tangannya.
"Dimakan dulu, kamu pasti lapar". Tanpa menunggu lagi Ranu segera menghabiskan makanannya begitu juga dengan Kikan.
__ADS_1
"Ternyata acara pertunangan saja cukup melelahkan ya ? apalagi nanti kalo pesta pernikahan pasti tambah capek lagi ", ucap Kikan.
Ranu tersenyum mendengarnya.
"Kamu sudah gak sabar ya ?", tanya Ranu membuat Kikan langsung menoleh kaget.
"Apaan sih Mas ? Emang Mas Ranu enggak ?" kata Kikan balik nanya.
"Aku kan sudah bilang Sayang, ini satu langkah menuju pernikahan kita. Jadi, yang sabar menanti ya ?. Apalagi tadi sudah ditetapkan tanggal pernikahan kita, makanya kamu harus giat belajar supaya cepat lulus terus nikah ". Kikan tersenyum mendengarnya.
"Kalo sudah nikah nanti, kamu pengen punya anak berapa ?".
"Berapa ya ? Aku pingin punya anak lebih dari satu sih dua atau tiga karena anak satu itu gak enak kayak aku sendirian gak punya teman main di rumah".
"Kalo gitu kita bikin aja satu lusin biar rame sekalian dijadiin tim sepak bola, gimana ?", gurau Ranu yang langsung disambut tawa Kikan.
"Kamu senang ya hari ini ?", tanya Ranu lagi, Kikan mengangguk kembali.
__ADS_1
Kemudian Ranu memegang wajah Kikan meraihnya untuk mendekat ke wajahnya. Saat wajah mereka saling mendekat, bibir mereka kembali saling bertaut. Ranu terus melancarkan aksinya ******* bibir lembut Kikan. Kikan hanya memejamkan mata sambil menikmati semuanya lebih intens.