Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Persiapan pertunangan


__ADS_3

"Hallo ... mbak Wid, ini Sundari gimana kabarnya ?. Alhamdulillah aku baik saja. Enggak, ini aku mau ngundang sampean sekeluarga untuk datang di acara tunangan Kikan. Iya mbak, Kikan mau tunangan. Insya Allah hari minggu, akhir bulan ini, datang ya jangan sampai gak. Gak usah repot-repot datang aja udah seneng. Ya wes, kalo gitu, aku tunggu ya", kata ibu asyik di telepon.


"Telepon siapa Bu ?", tanya ayah.


"Mbak Widya Yah. Temen lama kita, dia bakalan marah nanti kalo gak diundang tahun kemarin kita kan juga diundang ke acara pernikahan anaknya".


"Oalah Bu, mbok gak usah banyak-banyak undangannya, ini kan masih acara pertunangan belum pernikahannya Kikan. Nanti aja kalo acara pernikahannya, baru kita undang semua".


"Alah .... cuma mbak Widya aja kok Yah. Ibu kan ingin yang spesial buat Kikan. Dia putri kita satu-satunya, kasihan kalo gak dirame-ramekan Yah." Ayah hanya menggeleng sambil meneruskan membaca koran.


"Oh ya, Yah apalagi ya yang belum Ibu pesan. Makanan sudah, dekor sudah, souvernir juga sudah, apa toh Yah ? Ibu lupa", ucap ibu sambil berpikir keras. Ayah hanya diam saja memperhatikan ibu yang bingung sendiri.


"Oalah .... iya Yah, kostum, kostum kita gimana ?. Ayah mau pake baju apa ? Apa di seragamin aja ya satu keluarga ?. Tapi pasti gak keburu, atau warnanya aja yang sama. Kikan bilang sih dia mau tema soft blue, kita kembaran aja ya Yah. Ya wes, besok ibu tak hunting baju di mall. Ayah temani ya ?",rengek ibu akhirnya.

__ADS_1


"Mending Ibu berangkat sendiri aja atau dianter Kikan, kalo Ayah gak bisa Bu besok ada audit internal, Ayah harus dampingi". Ibu kembali manyun.


"Assalamualaikum ....", sapa Kikan begitu masuk rumah.


"Kamu sendirian Nduk ?", tanya ibu.


"Dianter Mas Ranu Bu, tapi sudah langsung balik kantor", jawab Kikan.


"Persiapan apa Bu ?", tanya Kikan.


"Ya, acara tunanganmu toh Nduk. gimana toh kamu ini ?".


"Kan cuman sekeluarga aja Bu, ngapain harus dimewah-mewahkan ?", ucap Kikan yang langsung disambut ancungan jempol ayah.

__ADS_1


"Tuh, anaknya aja gak mau yang mewah-mewah. Ibu sendiri yang ribet", ucap ayah.


"Haduh ... kalian ini anak dan ayah kok sama saja. Ibu ini ingin memberikan yang terbaik buat Kikan. Kikan kan anak kita satu-satunya mosok gak dibuat istimewa, bener-bener gak ngerti Ibu".


"Tapi kan ini masih tunangan, nanti aja Bu kalau nikah dibikin mewah biar gak terlalu boros", ucap Kikan akhirnya.


"Wes, wes sudah cukup, pokoknya kalian berdua harus Manut Ibu. Ibu sudah susah payah pesen EO, catering, dekor, souvernir supaya meriah acaranya. Eh, kok malah gak dihargai. Ya wes, terserah kalian, Ibu gak ngurus lagi", ucap ibu dengan marah.


Ayah dan Kikan saling bertatapan, lalu Kikan mendekat memeluk ibunya.


"Maafin Kikan Bu, Bukannya Kikan gak mau atau menolak semua yang Ibu siapkan tapi Kikan hanya mau yang sederhana saja. Tapi kalo semua yang sudah Ibu siapkan untuk Kikan membuat Ibu bahagia, Kikan Manut saja. Kikan Manut sama ibu, maafin Kikan ya Bu ".


"Ayah juga minta maaf Bu, Ayah sadar ini bentuk cinta Ibu kepada Kikan yang luar biasa jadi Ayah juga Manut saja rencana Ibu", ucap ayah sambil memeluk ibu juga. Ibu kembali tersenyum sumringah mendengar perkataan ayah dan Kikan.

__ADS_1


__ADS_2