Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Bagai cermin pecah


__ADS_3

Kikan terdiam di atas ranjangnya, pikirannya masih kalut karena peristiwa tadi malam. Ibu membuka tirai kamar Kikan membiarkan udara pagi masuk ke kamarnya.


"Kamu tidak bersiap-siap Nduk ?", tanya ibu lirih sambil duduk di sampingnya. Kikan hanya diam, pandangan matanya tampak kosong. Ia tidak merasakan apa-apa lagi, ia merasa hampa.


"Kikan ... kamu harus mandi Nduk, kita harus bersiap ke rumah Ranu. Pagi ini Ranu akan dimakamkan. Apa kamu gak ingin melihat Mas Ranu-mu untuk terakhir kali ?", tanya ibu lagi. Kikan diam hanya air mata yang mengalir perlahan membasahi pipinya.


"Nduk .... jangan seperti ini. Ibu tahu ini cobaan terberatmu tapi kamu harus mengikhlaskan. Ibu tidak mau melihatmu sedih terus. Kamu harus sabar ya Nduk ", ucap ibu lagi kini sambil mencium kening Kikan.


Kikan hanya diam, dia masih tidak percaya dengan semua yang terjadi padanya. Dia tidak percaya Tuhan akan merebut semua kebahagiaannya dengan cepat.


"Nduk .... ibu tunggu di depan ya ? Kalau kamu tidak ikut juga tidak apa-apa, biar Intan menemani mu", ucap ibu lagi kemudian berlalu meninggalkan Kikan.


"Gimana Bu, keadaan Kikan ?", tanya ayah begitu ibu keluar kamar.


"Ibu gak tega Yah. Dia diam saja seperti patung", ucap ibu kini sambil menangis sesenggukan.


"Bu ... kamu juga harus sabar jangan menangis terus nanti Kikan tambah down ".


"Gimana gak nangis Yah, lihat anak satu-satunya seperti orang tak bernyawa gitu, diam saja, nangis saja. Aku gak tega melihatnya ".


"Aku tahu Bu, tapi ini cobaan. Kita harus saling menguatkan. Kalo Kikan melihat kamu menangis nanti dia malah sedih lagi". Ibu hanya diam lalu mencoba mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Bu, Kikan sudah siap, kita berangkat sekarang ?", tanya Kikan yang tiba-tiba sudah berdiri di depan kamarnya lengkap dengan pakaian serba hitamnya.

__ADS_1


"Oh iya Nduk, kita berangkat sekarang ", ajak ayah segera bangkit.


Kiikan lalu berjalan mendahului ayah dan ibunya menuju mobil kemudian segera duduk di bangku kedua. Ayah dan ibu hanya diam segera mengikuti Kikan masuk mobil.


Dalam perjalanan Kikan hanya diam saja sambil pandangannya sibuk memandang keluar jendela. Ayah dan ibu tidak tahu kalau Kikan sedang menangis, dia sengaja memakai kaca mata hitam untuk menyembunyikan tangisannya.


"Kita sudah sampai Nduk", ucap ayah begitu mobilnya berhenti di depan rumah Ranu.


Berbagai karangan bunga berduka cita berjajar di depan pagar sampai pintu masuk. Suasana terasa syahdu, semua berkumpul tapi banyak wajah berduka di sana. Kikan membuka pintu mobil, lalu menapakkan kakinya. Ia berusaha menguatkan dirinya, ia tidak ingin jatuh, ia ingin kuat hari ini.


Perlahan Kikan melangkah memasuki rumah Ranu. Baru saja Kikan menginjakkan kakinya ke dalam ruang tamu tiba-tiba mami Tiwi tampak berhambur memeluknya sambil menangis. Kikan hanya diam sambil membalas pelukan mami Tiwi.


"Kikan .... Ranu sudah pergi .... Ranu meninggalkan kita Kikan ", ucap mami Tiwi sesenggukan. Kikan mengangguk sambil menahan tangisnya namun urung, airmata nya sudah berjatuhan sama derasnya dengan air mata mami Tiwi. Mereka berpelukan lama saling merasakan kehilangan yang sangat.


Mami Tiwi segera melepaskan pelukannya dan membiarkan Kikan mendekat ke jasad Ranu yang sudah terbungkus rapi. Kikan ragu-ragu mendekat tapi dia beranikan dirinya, ini terakhir kali aku melihatnya.


Kikan maju membuka jarik penutup jenazah Ranu. Tampak wajah Ranu dengan mata tertutup rapat dan senyum yang selalu ada di wajahnya. Itu wajah papamu, nak. Ini terakhir kali kita melihatnya ya , gumam Kikan dalam hati sambil mengelus perutnya. Ia masih tak percaya kalo wajah yang kemarin pagi menyapanya di vc kini sudah membeku seperti ini. Kikan menutup wajahnya menahan tangis lalu dengan segera menutup kembali jenazah Ranu dan berjalan menjauh.


"Kikan ... kamu baik-baik saja ?", tanya Intan melihat Kikan menjauhi jenazah Ranu. Kikan hanya mengangguk.


"Ayo kita ambil wudhu, sebentar lagi sholat jenazah. Kamu ingin ikut menghantar Ranu ke peristirahatan terakhirnya kan ?". Kikan mengangguk dan menurut mengikuti Intan.


Sholat jenazah diadakan di rumah Ranu, setelah sholat jenazah usai, mereka bersiap mengantar Ranu ke peristirahatan terakhirnya. Kikan hanya diam mengikuti prosesi pemakaman itu namun air matanya kembali mengalir deras saat jasad Ranu dengan perlahan dimasukkan ke liang lahat.

__ADS_1


Ini akhir kisah ku denganmu ya mas ?. Harus dipisahkan dengan maut sebelum sempat disatukan dalam sebuah ikatan resmi ?. Disini, tempat terakhir kita bersama. Dua dunia yang membedakan kita dan membuat jarak kita. Apa aku sanggup mas tanpa kamu di sisiku ? Apa aku sanggup bisa terus berdiri tegak tanpamu disampingku sedangkan sekarang saja kakiku tak tahan menahan beban tubuhku. Apa aku bisa melalui semua ini ?, lamun Kikan.


"Kikan ... ayo kita pulang Nduk ?", ajak ibu melihat Kikan hanya diam memandangi pusaran tempat Ranu beristirahat.


Kikan memandang di sekitar, sudah sedikit orang yang tinggal. Mami Tiwi terpaksa harus dipapah papi Farid dan saudaranya karena hampir pingsan tadi. Sedang Galuh, dia terus menangis sama seperti dirinya.


"Kikan ...", panggil ibu lagi. Kikan menoleh ke arah ibu dan beranjak pergi. Aku pulang mas, pamit Kikan dalam hati.


Sampai di rumah, tanpa bicara lagi Kikan langsung masuk ke kamarnya. Ibu dan ayah hanya diam, mereka juga bingung menghadapi anak semata wayangnya itu.


"Sudah Bu, biarkan Kikan istirahat. Mungkin dia ingin sendiri, ini benar-benar cobaan berat untuknya Bu", ucap ayah saat ibu mencoba mengikuti Kikan ke kamar. Ibu hanya mengangguk lalu mengurungkan niatnya dan duduk di samping ayah.


"Cepat atau lambat Kikan akan menerima kenyataan ini Bu. Ini salah satu tahapan dia untuk lulus ujian kehidupan. Kita hanya harus mendukungnya". Ibu manggut-manggut mendengar perkataan ayah.


"Iya Yah, semoga Kikan bisa lulus menghadapinya", pinta ibu.


"Lebih baik, kita istirahat sekarang kita sudah lelah sejak semalam ", ucap ayah sambil berlalu ke kamar kemudian ibu bangkit dan menyusulnya.


Sedangkan Kikan, sedang duduk termenung di ujung ranjangnya. Dia memandang gaun pengantin yang sudah dirancangnya jauh-jauh hari masih terpajang rapi di sudut kamarnya. Dia masih ingat sangat bahagia saat merancang gaun itu. Menjahitnya dengan penuh rasa cinta, berharap suatu saat nanti Ranu melihat ia mengenakannya di hari istimewa mereka, hari pernikahan mereka.


Kikan mengedarkan pandangan matanya melihat kotak cincin yang pertama kali dibawa Ranu saat melamar dirinya di sebuah restoran yang mewah. Ia ingat betul betapa bahagianya hari itu, ia merasa ia orang paling bahagia di dunia ini. Belum lagi saat kejutan istimewa dari Ranu sebuah rumah kayu sebagai hadiah pernikahan mereka untuknya, untuk tempat tinggal mereka nantinya.


Tapi sekarang .... kembali Kikan terisak. Untuk apa sekarang gaun itu aku rancang ? lalu cincin ini, cincin yang melingkar di jariku ini apa artinya bila dia yang memasangnya sudah tiada ? dan rumah kayu itu ? kalaupun itu untukku, dengan siapa aku akan menempatinya ?. Kikan menangis, hatinya terasa sakit, hancur berantakan seperti cermin pecah. Semua mimpi indahnya sudah sirna, sudah pudar, sudah pupus. Kini hanya lembaran kosong dan hitam yang menemaninya. Kikan terus menangis sambil terduduk lemas di sudut kamarnya. Ia tak sanggup lagi menahan kesedihannya, ia hanya ingin terus menangis.

__ADS_1


__ADS_2