Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Prewed


__ADS_3

Kikan tak tahu harus bagaimana menghadapi Adrian. Ia sebenarnya sedih, kecewa tapi ia juga tidak mau kalau harus kehilangan Adrian. Akhirnya Kikan menurut saja dengan Adrian. Ia percaya Adrian akan mempunyai cara untuk menyelesaikan masalah ini meskipun Kikan yakin itu pasti sangat sulit. Ia juga ingin berjuang dengan Adrian mempertahankan cintanya, cinta yang baru ditemukan kembali.


Hari ini Kikan berusaha menyelesaikan semua pr-nya termasuk mengerjakan baju pengantin pesanan Tania. Ia sadar meskipun hatinya sakit dan hancur berantakan tapi ia harus tetap profesional menyelesaikan pesanan customernya.


"Mbak .... ", suara Amel mengejutkan lamunannya.


"Ada apa, Mel ?", jawab Kikan.


"Tadi ada telpon dari Mbak Tania katanya ia meminta dibawakan beberapa baju untuk foto preweddingnya ", kata Amel. Kikan terdiam, memang Tania kemarin sudah mengirim pesan padanya tapi ia lupa untuk menjawabnya. Ia terlalu sibuk mengatur hatinya mengkondisikan hatinya baik-baik saja.


"Kapan foto preweddingnya, Mel ?", tanya Kikan lagi.


"Harusnya hari ini, Mbak. Tapi .... maaf Mbak, saya tidak bisa mengantarkannya ", tutur Amel. Kikan mengangkat kepalanya. Memang hari ini banyak beberapa karyawannya yang tidak masuk kerja karena sakit terpaksa Rika dan Amel berbagi tugas menghandle semuanya.


Kikan menarik nafas berat, sepertinya harus dia yang mengantarkannya. Sebenarnya Kikan malas sekali karena dia harus bertemu dengan Adrian dan Tania lagi. Memang Kikan berjanji pada Adrian untuk bersabar menunggu dan percaya padanya tapi Kikan juga tidak mau terlalu sering bertemu dengan mereka berdua. Ia tidak mau menyiksa hatinya terus.


"Bajunya sudah saya siapkan kok Mbak dan hanya diantar ke studio foto saja ", ucap Amel lagi.


"Oh ... gitu ... ". Jadi aku tidak akan bertemu mereka kan, pikir Kikan.


"Baiklah .... , biar aku antar ", ucap Kikan akhirnya. Amel mengangguk dan bergegas turun ke bawah menyiapkan semuanya.


Kikan melajukan mobilnya sesuai dengan alamat yang diberikan Amel. Studio foto itu tidak terlalu jauh dari butiknya sehingga Kikan hanya memakan waktu sebentar saja.


"Mereka baru saja pergi, Mbak. Tadi sebenarnya sudah menunggu lama tapi sepertinya mereka sedang terburu waktu ", ucap resepsionis di studio foto itu begitu Kikan datang mengantarkan baju.


"Waduh ... terus saya harus bagaimana ?", tanya Kikan bingung.

__ADS_1


"Saran saya, Mbaknya susul saja mungkin mereka tidak terlalu jauh. Ini alamat lokasi foto preweddingnya ", ucapnya lagi sambil memberikan sebuah alamat di secarik kertas.


Ini sih hampir di luar kota dan jauh sekali, gumam Kikan sambil membaca tulisan di kertas itu. Baru saja Kikan menyelipkan kertas itu di sakunya sebuah panggilan menyala di ponselnya.


"Halo ..., Mbak Kikan. Mbak, bisa minta tolong bajunya diantar ke lokasi foto gak ?. Tadi saya sudah telpon ke butik katanya Mbak Kikan yang mengantar ke studio ", ucap suara di telepon yang tak lain Tania, tunangan Adrian.


"Iya ... baiklah. Tunggu sebentar, saya otw kesana ", jawab Kikan dengan berat hati.


"Oke, saya tunggu. Terima kasih, Mbak ", Tania mengakhiri telponnya.


Kikan menutup teleponnya dan segera mengemudikan mobilnya ke alamat yang dimaksud. Untung saja hari itu suasana jalanan tidak semacet seperti biasanya. Setelah hampir satu jam akhirnya Kikan sampai di lokasi foto. Tania memilih lokasi foto preweddingnya di tengah hutan pinus. Perlahan Kikan memarkir mobilnya, ia berharap tidak menemukan mobil Adrian di sana. Kikan sedikit lega saat mobil Adrian tidak ditemukannya. Ia segera turun dan membawa baju ke lokasi.


"Maaf ya Mbak jadi merepotkan ", sambut Tania begitu melihat Kikan. Kikan hanya tersenyum dan segera meletakkan baju yang dibawanya ke tempat yang telah disediakan.


"Mbak ...., kami kekurangan personil bisa bantu mempersiapkan calon pengantinnya kan ?", ucap seseorang yang Kikan yakini dia fotografer yang bertanggung jawab di sini.


"Tolonglah .... Mbak, sebentar saja ....", mohonnya. Kikan hanya terdiam dan tanpa sadar dia mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih ya, Mbak ... !. Siska, ayo kita segera mulai. Mbak Tania, silakan bersiap dulu ya ", ucap fotografer itu lagi.


"Terima kasih, Mbak Kikan ", ucap Tania tersenyum sambil menghampirinya. Kikan hanya tersenyum dan segera membantu Tania bersiap.


"Kita ambil foto Mbak Tania dulu ya !", ucap fotografer itu. Lalu mereka kembali sibuk, mengatur cahaya, menyiapkan background dan tentu saja Tania sudah beraksi, berpose dalam berbagai gaya. Kikan sedikit iri menyaksikannya, ada sebuah getaran aneh yang menjalari di relung hatinya kini. Ah ... aku harus segera pergi dari sini.


"Maaf ... saya terlambat ", sebuah suara membuat Kikan terkejut. Ia menoleh cepat dan langsung bertatapan dengan pemilik suara itu yang tak kalah kaget juga melihatnya.


"Mbak .... bisa bantu lagi kan untuk menyiapkan calon pengantin prianya ", ucap gadis yang bernama Siska. Kikan hanya mengangguk lalu berjalan mendekati Adrian, memilih baju yang sudah dibawanya tadi.

__ADS_1


"Kamu sedang apa disini ?", bisik Adrian ketika Kikan mendekat.


"Kau lihat sendiri, aku sedang bekerja ", jawab Kikan lirih.


"Ini, gantilah bajumu dulu ", ucap Kikan lagi sambil menyerahkan baju ke Adrian. Ia berusaha tegar, hanya satu pintanya jangan buat airmataku menetes, ya Tuhan.


Adrian mengambil baju dari Kikan dan segera berganti. Kini dia sudah siap, dia tampan sekali. Kikan merapikan bajunya tanpa ekspresi, ia berusaha tegar dan tidak ingin sedikitpun melihat Adrian yang terus menatapnya.


"Sayang .... kamu baru datang, syukurlah kita bisa mulai untuk yang sesi foto berdua ", ucap Tania yang sudah dibelakang Adrian. Adrian hanya diam dan terus menatap Kikan.


"Sudah siap Mas ?", tanya fotografer itu mendekati Adrian.


"Jangan lama-lama ya, aku masih banyak kerjaan", ucap Adrian sambil tetap menatap Kikan yang sudah menjauh darinya.


"Kamu selalu begitu ... padahal kita belum mulai ", rengek Tania sambil bergelayut manja di lengan Adrian seperti biasanya.


"Jangan begini .... kamu membuat kusut bajuku ", ucap Adrian sambil menarik lengannya perlahan.


Tania hanya mencibir kesal. Lalu mereka mengikuti fotografer yang sudah bersiap.


Kikan mengamati dari jauh, melihat lelaki yang dicintainya sedang bersama wanita lain membuat hatinya seperti diiris-iris, sakit tapi tak berdarah.


"Mas Adrian ... lebih dekat lagi dong, peluk mbak Tania jangan jauh-jauh ", perintah fotografer itu.


"Kan belum muhrim, Mas ", omel Adrian kesal. Karena jujur saja ada hati yang harus dijaga yang sedang memperhatikannya dari jauh.


"Kamu apaan sih Adrian ... kita kan sedang foto prewed jadi ya harus mesra dong ", protes Tania. Ia kesal harus bolak balik mengulangi posenya karena Adrian yang terus melakukan kesalahan.

__ADS_1


Kikan terdiam mengamati foto prewedding yang sepertinya tidak berjalan lancar. Mungkin aku harus pergi, supaya dia lebih berkonsentrasi dan cepat selesai, pikir Kikan. Ia kini memutuskan untuk berjalan menjauh dari lokasi itu. Ia ingin menyendiri dan menikmati udara sejuk ini sendiri. Mungkin dengan begini semua kesedihanku akan hilang, pikirnya. Tapi bukannya hilang, bayangan Adrian dan Tania yang sedang berpose mesra melakukan foto prewed bermunculan di benaknya. Apa salah aku cemburu ? apa akan sesakit ini ya ?, akhirnya tumpah juga airmata yang sudah ditahan Kikan sejak dari tadi.


__ADS_2