Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kekalahan dan Kemenangan


__ADS_3

"Ma ...., Tania ingin bicara dengan Mama. Mama dimana sekarang ?", ucap Tania di telepon.


"Mama lagi di rumah, ada apa ? bagaimana foto preweddingnya ?", tanya mama Tania yang tak lain adalah Bu Diana, customer langganan Kikan.


"Nanti saja Tania ceritakan, Tania otw pulang ini ", ucap Tania segera mengakhiri teleponnya.


Setelah hampir satu jam setengah, akhirnya Tania tiba di rumah. Ia parkir mobilnya sembarangan di depan rumah dan bergegas masuk. Dengan kesal Tania membuka pintu rumahnya.


"Ada apa Tania ? mengapa kamu datang dengan marah-marah begini ?", tanya Bu Diana.


"Adrian Ma, Tania kesal dengan Adrian ", jawab Tania sambil menghempaskan tubuhnya di sofa setelah sebelumnya melempar tasnya sembarangan.


"Kenapa lagi dengan Adrian ? Bukankah dia sudah mau datang ke foto prewed kalian. Dia juga sudah menyetujui rencana pernikahan kalian. Memangnya kenapa lagi dengan Adrian ?", tanya Bu Diana bingung.


"Apa Adrian sudah punya pacar Ma ?", kata Tania balik bertanya.


"Kalau tentang itu Mama tidak tahu Tania. Mengapa kau menanyakannya sekarang ?".


Tania hanya diam, ia mencoba mengatur nafasnya yang naik turun akibat emosi.


"Tapi Tante Tika sempat akan membatalkan pertunangan kalian beberapa waktu yang lalu sebelum ia masuk rumah sakit. Tentu saja Mama tidak maulah, mau di taruh mana muka Mama. Meskipun dia sahabat baik Mama, tapi Mama tidak mau dia bersikap seenaknya saja. Lagipula yang meminta perjodohan ini kan bukan Mama tapi dia. Sudahlah, kamu jangan kesal seperti itu. Adrian memang seperti itu tapi buktinya dia sudah menyetujui semuanya berarti dia sebenarnya juga tertarik padamu. Mungkin karena waktu saja nanti lama-lama dia juga akan jatuh cinta padamu ", jelas Bu Diana. Tania hanya tersenyum. Mama benar juga, mungkin aku biarkan saja Adrian berbuat sesukanya sekarang tapi nanti setelah dia resmi menjadi suamiku, akan kuikat dia dan tak akan kubiarkan wanita lain mendekatinya, pikir Tania.


"Kamu tidak ada syuting hari ini ?", tanya Bu Diana lagi.


"Sebenarnya ada, tapi gara-gara foto prewed ini aku minta ijin. Oh ya ... Ma, Mbak Kikan itu sudah menikah belum ?", Tania bertanya lagi.


"Kenapa kamu bertanya tentang Kikan ?".


"Gak pa-pa Ma, aku ingin tahu saja. Dia cantik dan pintar pasti banyak pria yang ingin menjadikan dia pasangan hidupnya ".


"Iya .... Kikan memang cantik dan pintar, Mama selalu suka dengan desain baju buatannya. Setahu Mama sih dia belum menikah tapi dia seorang single mother. Suaminya sudah meninggal ".


"Oh .... begitu ", jawab Tania sambil manggut-manggut. Ternyata Adrian lebih memilih seorang single mother daripada aku yang masih gadis. Duh ... bener-bener kalah jauh dari aku. Adrian .... Adrian .... , sayang banget kalau kamu tidak kudapatkan, gumam Tania.


"Kamu kenapa sibuk senyum sendiri ? tadi datang marah-marah sekarang senyum-senyum gak jelas", ucap Bu Diana bingung.

__ADS_1


"Gak pa-pa kok, Ma. Aku hanya sedang membayangkan calon suamiku, Adrian. Mengapa dia begitu tampan ya ?", ucap Tania asal.


"Huh ... dasar sindrom mau jadi pengantin tuh. Sudah, sana mandi dulu habis ini Mama ajak ke mall ". Tania hanya mengangguk dan segera bangkit meninggalkan mamanya.


Selang beberapa lama Tania sudah bersiap dan rapi hendak pergi ke mall bersama mamanya.


"Ayo Ma .... aku sudah siap !", ucap Tania kegirangan.


"Sebentar .... Mama telepon Tante Tika dulu, katanya dia juga sudah otw tadi ", ucap Bu Diana.


"Ya sudah ... kalau gitu Tania tunggu di mobil ya ?". Bu Diana mengangguk dan membiarkan Tania berjalan ke mobil duluan.


Tania sudah duduk di belakang kemudi, ia sibuk mengecek ponselnya. Nama Adrian yang muncul duluan di daftar kontak. Tania segera melakukan panggilan. Ia penasaran, apakah Adrian masih bersama Kikan atau sudah pulang ?. Ponsel Tania sudah berulang kali melakukan panggilan ke Adrian tapi belum juga dijawab olehnya.


"Brengsek ..... apa dia masih bersama pacarnya itu ?", maki Tania kesal. Kini wajahnya berubah masam lagi.


"Kamu kenapa lagi kok marah-marah ?", tanya Bu Diana bingung yang langsung masuk ke mobil dan duduk di samping Tania.


"Gak pa-pa kok, Ma. Kita langsung berangkat ?".


"Baiklah .... ", ucap Tania sambil mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya menuju mall. Ia ingin menghilangkan kekesalannya terhadap Adrian dengan shopping hari ini.


Sementara itu, Adrian dan Kikan kini sudah berada di bukit bintang. Sehabis dari hutan pinus tadi, Kikan pulang dan kemudian dijemput Adrian ke bukit bintang. Mereka menyebutnya bukit bintang karena bukit ini terletak lebih tinggi dari tempat sekitarnya selain itu di bukit ini mereka bisa melihat bintang di langit dan kerlip lampu kota di bawah.


"Kamu gak keberatan kan bersama aku terus seharian ini ?", ucap Adrian. Kikan tersenyum.


"Mulai kapan aku protes keberatan ?. Aku selalu senang kok tiap bersama kamu ", jawab Kikan. Adrian tersenyum sambil terus menatap intens.


"Ayo ... kita keluar, langitnya sangat cerah aku ingin melihat bintang-bintang ", seru Kikan lagi.


"Iya ... sebentar. Sepertinya ada yang meneleponku ", ucap Adrian sambil merogoh saku celananya. Adrian mengeluarkan ponsel dari sakunya melihat nama si penelpon di layarnya. Kemudian dengan kesal, Adrian meletakkan ponselnya di dashboard mobil.


"Kamu tidak menjawabnya ?", tanya Kikan bingung.


"Tidak ... aku malas bicara dengannya ", jawab Adrian kesal.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang menelpon ?". Adrian hanya diam tak menjawab.


"Tania ?", tebak Kikan. Adrian diam namun isyarat matanya membenarkan tebakan Kikan.


"Maaf .... lain kali aku akan mematikan ponselku kalau sedang bersamamu ", ucap Adrian akhirnya.


Kikan hanya menghela nafas.


"Aku tidak apa-apa ... Adrian. Dia pantas meneleponmu, mungkin dia sedang menanyakan keadaanmu. Tadi kalian kan habis foto prewed, mungkin dia mencemaskanmu..... ".


"Stop Kikan, aku tidak mau membicarakan orang lain saat kita sedang berdua. Aku tak peduli statusku dengan dia tapi saat aku bersamamu, berhenti membahas tentang orang lain. Dia hanya orang lain bagiku, tak lebih ", potong Adrian.


"Ya ... tapi dia sebentar lagi akan menjadi istrimu, Adrian ", ucap Kikan lirih hampir tak terdengar.


"Sudahlah ... ayo, kita keluar. Kita nikmati malam indah ini dengan menatap bintang-bintang ", kata Adrian bersemangat. Kini dia sudah keluar duluan dari mobil. Kikan akhirnya ikut menyusul keluar.


"Kemarilah .... ", ucap Adrian begitu melihat Kikan keluar dengan lesu. Gara-gara telepon tadi, dia jadi tidak bersemangat.


Kikan mendekat dan segera bersandar di dada Adrian. Ia merasa nyaman bila bersandar di dada bidangnya. Seakan sedikit melupakan semua masalah dan kesedihannya hari ini.


"Kamu senang kan ?", tanya Adrian sambil menatap Kikan. Kikan hanya mengangguk, tersenyum. Adrian sedang sibuk kembali menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam ini. Sebuah senyuman manis terlukis di bibirnya.


Kikan hanya terdiam memandang Adrian. Kau sangat tampan, mempesona dan baik mungkin wajar jika Tania akhirnya jatuh cinta padamu dan bersedia menerima perjodohan kalian. Betapa beruntungnya dirinya, tidak perlu susah mencari orang yang tepat untuknya karena sudah disiapkan oleh keluarganya sendiri. Apa aku sanggup bersaing dengan Tania yang masih gadis dan punya masa depan yang indah daripada aku. Aku seorang single mother tanpa status pernikahan, sudah mempunyai seorang putra. Rasanya itu bukan nilai plus yang harus dipamerkan dan pantas disandingkan dengan Tania. Ah ... mungkin aku harus belajar melepaskanmu dari sekarang meskipun kamu terus menolaknya. Tapi aku yakin, persaingan dan perbedaan ini sangat sulit untuk kumenangkan, pikir Kikan dalam lamunannya.


"Kamu kenapa kok diam saja ?", tanya Adrian membuyarkan lamunan Kikan.


"Gak pa-pa kok, aku hanya sedang mengagumi ciptaan Tuhan ", jawab Kikan.


"Maksudmu menatap bintang ?". Kikan menggeleng sambil tersenyum.


"Terus apa ?", tanya Adrian penasaran.


"Kamu .... kamu adalah ciptaan Tuhan yang paling indah untukku. Dan aku sangat bersyukur karenanya ", jawab Kikan membuat Adrian tersipu.


"Mengapa kamu membuatku menjadi tersipu akhir-akhir ini. Kamu ternyata pinter ngegombal juga ya ?", ucap Adrian sambil tersenyum. Kikan tersenyum dan kini memeluk pinggang Adrian, ia benamkan kepalanya di dada bidang Adrian.

__ADS_1


"Aku ingin seperti ini saja, jangan bangunkan aku jika aku tertidur. Aku ingin terus dalam dekapanmu ", ucap Kikan sambil memejamkan matanya. Adrian hanya mengangguk, mengecup puncak kepala Kikan dan semakin mempererat pelukannya.


__ADS_2