
Episode ini mengandung unsur 18+, pembaca harap bijak menyikapinya
Adrian tersenyum menatap Kikan yang masih terlelap di pelukannya. Ia cantik sekali, aku beruntung telah memiliki seutuhnya sekarang. Aku janji tidak akan pernah membuat airmatanya menetes lagi.
Kikan perlahan membuka matanya dan tersenyum saat melihat Adrian yang menatapnya.
"Kamu tidak tidur ?", tanya Kikan.
"Aku barusan terjaga ", jawab Adrian masih menatap Kikan dengan senyumannya.
"Boleh aku bertanya ?", ucap Adrian lagi.
"Tanya apa ?".
"Apa benar Raka itu anakmu ?". Kikan terkejut mencoba bangun dari tidurnya dan sedikit bersandar di dada Adrian.
"Kok tanya begitu, memangnya kenapa ?", ucap Kikan.
"Karena aku tadi kesulitan saat memasukkan punyaku ke milikmu dan kamu sendiri juga kesakitan. Jadi aku berpikir kalau Raka itu bukan anakmu ", jawab Adrian santai.
"Adrian ... kamu bener-bener deh, bercandanya kelewatan ", ucap Kikan sambil mencubit perut Adrian. Adrian hanya tertawa tanpa menghindar dari cubitan Kikan.
"Ayo, Sayang ... !", ucap Adrian setelah Kikan berhenti mencubit.
"Ayo kemana ?", tanya Kikan bingung.
"Kita lakukan lagi ", jawab Adrian sambil tersenyum nakal.
"Kan kita sudah melakukannya lima kali, Sayang ".
"Tapi aku mau lagi, yuk !", ucap Adrian sambil menyingkap selimut Kikan dan memulainya kembali seperti tadi malam.
Kikan terbangun karena alarm ponselnya yang lupa dimatikan. Badannya terasa sakit semua dan sulit digerakkan. Ia melirik tampak Adrian masih terlelap disampingnya dan masih sibuk memeluk dirinya. Pantas saja badanku sulit digerakkan, pikirnya. Kikan berusaha memindahkan tangan Adrian.
"Kamu mau kemana ?", gumam Adrian masih terpejam saat Kikan memindahkan tangannya.
"Aku mau ke toilet, Sayang ... ", jawab Kikan. Akhirnya Adrian mau mengangkat tangannya dan tidur membelakangi Kikan. Kikan bernafas lega dan langsung berlari ke kamar mandi.
Kikan segera menuntaskan hajatnya dan ingin sekalian mandi, tubuhnya terasa lengket semua. Namun ketika dia berdiri di depan cermin kembali ia terkejut.
"Astaga ... Adrian. Ini bener-bener parah sekali ", gumam Kikan sambil mengamati sekujur tubuhnya yang penuh kissmark akibat ulah Adrian.
Kikan akhirnya bergegas mandi, lagipula ini sudah jam 9 pagi. Selesai mandi, Kikan lupa tidak membawa baju, akhirnya ia hanya melilitkan handuk di tubuhnya dan berjalan keluar kamar mandi.
Adrian pasti masih tidur, pikir Kikan. Kini Kikan sedang asyik mencari bajunya di koper sambil sedikit membungkuk membuat bagian bawah tubuhnya sedikit terekspos karena handuk yang dililitnya hanya sebatas pahanya saja.
__ADS_1
"Kamu mencoba menggodaku ya, Sayang ?", tiba-tiba suara Adrian sudah mengagetkannya. Kikan menoleh, ia melihat Adrian sudah bangun dan kini sedang duduk bersandar di ranjang sambil menatapnya dengan senyum nakalnya.
Kikan hanya tersenyum canggung, Adrian tetap tampan meski baru bangun tidur.
"Kemarilah ... kamu sedang mencari apa sih ?", tanyanya. Kikan menurut dan berjalan ke arah Adrian.
"Aku sedang mencari bajuku, Sayang. Kok bajuku tidak ada ya, apa di koper satunya ?", ucap Kikan bingung.
"Memang siapa yang menyuruhmu memakai baju ?", ucap Adrian santai. Kikan hanya diam menatap Adrian dengan pandangan kesal.
"Aku sudah janji sama Raka ", ucap Adrian lagi.
"Janji apa ?", tanya Kikan bingung.
"Sepulang kita dari honeymoon, Raka akan punya adik. Jadi bantu aku tepati janji ke Raka ya ?". Kikan tersenyum mendengarnya.
"Kamu memang menyebalkan sekali ", ucap Kikan kesal yang disambut tawa Adrian.
"Sudah ... , yuk ", ucap Adrian sambil menarik handuk yang melilit tubuh Kikan hingga terlepas. Akhirnya mereka melakukannya lagi berulang-ulang seperti tadi malam.
"Kita gak kemana-mana nih ?", tanya Kikan setelah mereka menyudahi permainan mereka. Adrian hanya terdiam sambil memeluk Kikan. Sepertinya dia kelelahan, salah sendiri minta kok terusan, udah gitu gak cukup hanya sekali, batin Kikan.
"Kamu capek ?", tanya Kikan.
"Kata siapa aku capek, kamu mau lagi ?", ucap Adrian sambil menatap Kikan. Kikan segera menggeleng.
"Aku hanya sedang menikmati kebahagiaanku, Sayang. Aku ingin disini saja bersama kamu. Aku tidak mau berpisah denganmu lagi. Aku tak akan sanggup melewati hari-hari ku kalau harus berpisah denganmu lagi, cukup saat itu saja. Janji ya, jangan pernah pergi dariku apapun masalah yang akan kita hadapi nanti berjanjilah untuk selalu di sampingku ", ucap Adrian. Kikan hanya mengangguk dan mencium pipi Adrian.
"Kamu ingin punya anak berapa ?", tanya Adrian kini sambil mencium cuping telinga Kikan.
"Yang pasti lebih dari satu, sangat tidak enak hidup tanpa saudara kandung seperti aku ", jawab Kikan.
"Kalau begitu jangan bosan tiap ku ajak bikin anak ya ?", ucap Adrian kini mulai mencium leher Kikan.
Kikan tahu akan berakhir dimana nantinya Adrian.
"Sayang .... apa kamu tidak lapar ?", tanya Kikan membuat Adrian berhenti menciumnya lalu tertawa ke arah Kikan.
"Kamu lapar ?", tanya Adrian. Kikan mengangguk.
"Ya sudah ..., yuk kita keluar cari makan !", ajak Adrian. Kikan tersenyum kesenangan, akhirnya ia bisa jalan-jalan keluar juga.
"Kita mandi bareng yuk !", ucap Adrian sambil langsung mengangkat tubuh Kikan dan langsung meletakkan Kikan di bathtub.
Adrian segera menyalakan air membuat tubuh Kikan kaget karena air yang dinyalakan Adrian air dingin.
__ADS_1
"Wah .... dingin banget, tambahin air panas, Sayang ", ucap Kikan. Akhirnya Adrian menyalakan air panas sehingga suhu air di bathtub menjadi hangat.
Adrian tiba-tiba menarik Kikan dan menyuruhnya untuk duduk di atasnya.
"Mau ngapain?", tanya Kikan.
"Bonus satu lagi dong, kita belum melakukannya di bathtub. Apa kamu tidak ingin mencobanya ?", ucap Adrian dengan senyum nakalnya.
Suaminya satu ini memang benar-benar nakal, tapi tetap saja Kikan tak bisa menolaknya.
Akhirnya acara mandi itupun sedikit lebih lama karena Adrian selalu tak mau hanya satu kali. Ia ingin meminta lebih dari satu kali.
Setelah beberapa saat berendam di bathtub, Kikan akhirnya keluar dari kamar mandi dan bersiap. Adrian sudah lebih dulu bersiap karena ia tadi mencari koper yang berisi baju Kikan. Ternyata koper baju Kikan masih berada di luar kamar.
"Aku tunggu di luar ya, Sayang ", ucap Adrian meninggalkan Kikan yang sibuk bersiap. Kikan hanya mengangguk dan bergegas bersiap. Ia tidak mau Adrian menunggu terlalu lama.
Adrian sedang asyik membuat kopi untuknya ketika ponselnya berbunyi. Ada nama mama di layarnya, Adrian segera menjawab teleponnya.
"Iya, Ma, ada apa ?", tanya Adrian begitu tersambung.
"Bagaimana kabar kalian ? apa semua baik-baik saja ?", tanya mama.
"Iya, kami baik-baik saja kok Ma ".
"Lalu kenapa ponselmu tidak dapat dihubungi beberapa hari lalu ?", tanya mama lagi.
"Adrian sengaja mematikannya, Ma. Adrian tidak ingin ada yang ganggu ".
"Dasar kamu ini masih saja nakal seperti biasanya". Adrian hanya tersenyum mendengarnya.
"Kikan dimana ?".
"Ia sedang bersiap-siap, Ma. Kami mau keluar mencari sarapan ".
"Kamu sudah gila ya Adrian, ini sudah hampir makan malam dan kamu bilang mau mencari sarapan".
"Hehehe ... sudah malam ya Ma, aku pikir masih pagi. Habis kami di kamar saja beberapa hari ini ".
"Dasar kamu ya !. Ya sudah kalau begitu Mama hanya ingin menanyakan kabar kalian saja. Jangan lupa, bilang ke Kikan, Mama ingin cepat punya cucu lagi. Kalau bisa sepulang ini Kikan sudah hamil ".
"Siap, Ma. Nanti aku sampaikan ke Kikan ".
"Siapa Sayang yang menelpon ?", tanya Kikan begitu Adrian menutup teleponnya.
"Dari Mama, Mama bilang sepulang honeymoon kamu harus sudah hamil. Mama ingin lekas punya cucu lagi. Jadi kayaknya habis makan kita langsung pulang ya !".
__ADS_1
"Dih ..., kata Mama atau kamu yang mau ?", tanya Kikan curiga.
"Tentu saja Mama yang bilang dan aku yang pingin. Udah akh, ayo keburu malam. Aku sudah laper banget mau isi tenaga buat perang lagi nanti malam ", ucap Adrian sambil menggandeng Kikan.