
"Kikan .... gimana udah siap semua ?", tanya Winda teman seangkatan Kikan yang juga ikut pagelaran.
Kikan mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu gimana Win ?" kata Kikan balik nanya.
"Aku juga udah, cuman aku masih ragu dengan karyaku kayak ada yang kurang deh".
"Kenapa ? udah PD aja, yakin semuanya sudah kamu kerjakan dengan baik kok masih ragu". Winda hanya tersenyum.
"Iya, kamu benar mungkin aku kurang percaya diri aja". Kikan tersenyum lalu merangkul Winda.
"Oke guys, kita briefing sebentar untuk GR hari ini ya", seru Bu Rima dosen sekaligus penanggung jawab acara ini.
Segera semua mahasiswa termasuk Kikan dan Winda mendekat ke arah Bu Rima.
"Baik, malam ini kita akan melakukan GR untuk pagelaran besok tapi ibu harap kalian serius dalam melakukan GR hari ini supaya besok saat pagelaran berlangsung berjalan lancar dan sukses. Apa model kalian sudah datang semua ?".
"Sudah Bu ", jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Baik, kita mulai dengan mengarahkan alur keluar masuk model supaya tidak terjadi tabrakan ya. Terus berdasarkan kesepakatan kemarin urutan desain baju yang keluar tidak berdasarkan nomer absen kalian tapi berdasarkan kocokan nomer ya. Jadi jangan kuatir yg nomer absen pertama belum tentu mulai duluan. Kemarin sudah tahu kan nomer urutnya masing-masing ?". Pertanyaan Bu Rima dijawab dengan anggukan para mahasiswa nya.
"Setiap model kalian akan menampilkan 2 gaun ya ? jadi atur juga proses ganti kostumnya supaya tidak memakan waktu lama. Saya tidak ingin melihat panggung catwalk kosong begitu lama. Oke, kalian paham semua ? Kalo sudah paham, mari kita mulai, silakan ke posisinya masing-masing", ucap Bu Rima mengakhiri.
Tak lama tampak Kikan dan teman-temannya mulai sibuk di belakang layar. Ada yang sibuk menyiapkan alur keluar masuk model, ada yang sibuk menghitung waktu persiapan sebelum model keluar dan durasi waktu yang dibutuhkan untuk mengganti baju model. Semua dikerjakan dengan serius dan sungguh-sungguh. Mungkin bagi orang awam ini hanya pagelaran kelas receh dari desainer-desainer tak ternama. Namun bagi Kikan dan teman-temannya ini merupakan ajang pembuktian kalau mereka bisa terjun ke dunia fashion yang menjadi cita-cita mereka nantinya. Ini juga yang sering dijadikan ajang entitas dan kualitas mereka selama belajar di kampus.
Waktu tak terasa menunjukkan pukul 8 malam, akhirnya selesai sudah gladi resik untuk acara pagelaran mereka.
"Fuih .... capek juga ya, padahal ini baru GR bagaimana kalau besok, semoga besok lancar-lancar saja", ucap Kikan sambil menyeka keringatnya.
"Iya, bajuku sampai basah kuyup padahal AC menyala kencang, mungkin terlalu nervous. Semoga saja besok aku gak nervous biar gak basah kuyup gini", seloroh Winda.
"Kikan, aku pulang dulu ya ?", ucap Intan yang tiba-tiba berdiri di belakang Kikan. Kikan spontan menoleh.
"Kamu pulang sekarang Ntan ? gak bareng aku ?".
Intan menggeleng sambil tersenyum.
"Gak Kikan, aku ada janji dengan seseorang. Lagian ini masih sore, kamu berani kan pulang sendiri ?". Kikan tertawa mendengar ucapan Intan.
__ADS_1
"Beranilah ..., btw makasih ya. Besok aku jemput atau gimana ?", tanya Kikan lagi.
"Ehmmm ... liat besok deh, nanti aku kabari."
"Ya udah, hati-hati ya ....". Intan hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.
"Kalo gitu, kita pulang juga yuk !", ajak Winda.
"Ayo".
"Tapi aku nebeng ya, suamiku gak bisa jemput ada kerja lembur. Kamu bawa mobil kan ?".
"Iya, beres apa sih yang gak boleh buat bumil cantik", ucap Kikan menggoda Winda yang sudah menikah dan sedang hamil muda sekarang.
Mereka lalu berjalan beriringan menuju parkiran. Belum sampai mereka di mobil Kikan, tiba-tiba Kikan melihat Intan yang sedang asyik mengobrol dengan seorang cowok yang sangat dikenal banget sosoknya. Ya ... sosok cowok itu Bobby, saudara sepupunya. Jadi Intan janjian Ama Bobby nih. Sepertinya ada yang bakal kena pajak jadian nih. Kikan terkekeh sendiri.
"Kamu kenapa ketawa sendiri ?", tanya Winda.
"Gak pa-pa, seneng aja." Winda hanya memandang Kikan bingung sambil berjalan ke mobil mereka.
__ADS_1
Dasar Bobby, pekik Kikan dalam hati.