
Hujan sudah reda, Kikan dan Adrian masih duduk di gazebo itu sambil berdiam diri. Baju mereka basah kuyup karena air hujan. Tangan Adrian terus menggenggam tangan Kikan yang mulai kedinginan tadi. Adrian dan Kikan masih duduk berdiam serta saling curi pandang seperti dua remaja yang baru jatuh cinta. Kikan sedikit malu mengingat apa yang diucapkan di tengah hujan tadi. Ah, aku benar-benar gila, mengapa sampai berani mengutarakan isi hatiku ke Adrian tadi, pikirnya. Semburat merah mulai muncul lagi di wajah Kikan setiap dia mengingat pernyataan cintanya tadi.
"Kamu kenapa ?", tanya Adrian begitu melihat wajah Kikan yang tiba-tiba memerah karena malu. Kikan langsung menunduk menutupi wajahnya.
"Gak pa-pa kok ", jawab Kikan. Adrian semakin gemas melihatnya. Ia lalu mengangkat dagu Kikan dan menatap wajahnya kini. Kikan yang diperlakukan seperti itu refleks kaget dan semburat merah merona lagi di pipinya.
"Kamu apaan sih, Adrian ?", ucap Kikan sambil menepis tangan Adrian. Adrian hanya tertawa melihatnya.
"Aku ingin dengar kamu mengucapkan kata tadi", ucap Adrian kini.
"Kata apa ?", tanya Kikan bingung.
"Kata yang kau ucapkan di tengah hujan sambil teriak tadi. Sekarang mumpung hujan sudah reda, aku pasti mendengarnya jelas ", ucap Adrian menggoda. Kikan hanya menatap Adrian dengan kesal.
"Kamu sengaja menggodaku ya ?. Sudah, jangan memandangiku terus. Aku malu", ucap Kikan lagi ketika Adrian semakin intens menatapnya. Adrian tersenyum lalu menarik tangan Kikan dan mengecupnya.
"Ayo !", ajak Adrian tiba-tiba sambil berdiri.
"Kemana ?", tanya Kikan.
"Kita ganti baju, aku gak mau kamu sakit karena kehujanan. Lagian aku takut gak kuat menahan hasratku melihat tubuhmu yang basah kuyup begitu ", ucap Adrian lagi sambil mengerling nakal. Kikan langsung melotot mendengar Adrian dan segera menyambar jaketnya lalu memakainya. Adrian tersenyum melihat reaksi Kikan.
"Tapi aku gak bawa baju ", ucap Kikan sambil mengikuti langkah Adrian.
__ADS_1
"Tenang saja, aku sudah menyiapkannya kok. Yuk !", ajak Adrian sambil mulai menstater motornya. Kikan menurut dan segera naik ke atas motor.
Adrian melajukan motornya hanya beberapa meter, ia lalu berhenti di sebuah rumah kecil dari kayu seperti rumah kayu pemberian Ranu. Mengapa selera mereka sama ya, pikir Kikan sambil tersenyum geli.
"Ayo masuk !, ini bukan rumahku. Aku menyewanya ", kata Adrian seakan menjawab pertanyaan Kikan.
"Kita menginap malam ini ? tapi aku tidak membawa baju, lagian aku juga belum pamit ayah, ibu dan juga Raka", ucap Kikan gugup.
"Tenang saja Kikan, aku sudah pamitkan ibu tadi. Lagian rumah ini ada dua kamar tidur, kita tidur terpisah tapi kalau kamu ingin tidur bersamaku juga gak pa-pa kok", kata Adrian lagi. Kikan hanya melotot mendengar ucapan Adrian yang santai.
"Masuklah, ini kamarmu. Aku sudah menyiapkan baju untukmu. Kamu mandi dan ganti baju ya, setelah itu aku tunggu untuk makan siang. Kamu lapar kan ?", ucap Adrian lagi sambil membukakan pintu kamar untuk Kikan. Kikan mengangguk dan segera masuk ke kamar. Kikan segera mengambil baju yang sudah disiapkan Adrian lalu masuk ke kamar mandi.
Adrian sudah mandi dan kini ia sedang menyiapkan makan siang yang kesorean. Ia tadi sudah memesan beberapa makanan di resto camping ground ini. Ia berharap Kikan menyukai menu di resto ini.
"Sini, duduklah. Ayo kita makan !", ajak Adrian mencoba mengusir hasratnya melihat penampilan Kikan tadi. Kikan langsung duduk berhadapan dengan Adrian.
"Wah .... ikan bakar, ini kesukaanku ", ucap Kikan sambil menahan air liurnya. Adrian tersenyum senang, lalu mulai mengambilkan Kikan nasi dan lauk untuknya. Kikan tampak senang dan dengan lahap memakannya. Mereka makan bersama dengan lahap dan tanpa banyak bicara.
"Biar aku yang membereskannya ", ucap Kikan selesai makan. Adrian hanya mengangguk, lalu ia berjalan menuju sofa panjang dan duduk sambil meluruskan kakinya.
"Kamu capek ?", tanya Kikan melihat Adrian duduk di sofa meluruskan kaki sambil mata setengah terpejam.
"Iya, aku sudah lama gak naik motor perjalanan jauh. Jadi terasa capek sekali ", jawabnya. Kikan tersenyum lalu duduk disamping Adrian.
__ADS_1
"Sini, aku pijat kakinya biar gak capek", ucap Kikan sambil mulai memijat kaki Adrian.
"Kamu gak keberatan ?", tanya Adrian ragu. Kikan menggeleng.
"Aku biasa memijat ayah kalau capek dan kata ayah pijatanku enak ", kata Kikan mulai memijat kaki Adrian. Adrian hanya tersenyum sambil memejamkan mata menikmati pijatan Kikan.
Di luar hujan turun lagi, kini lebih deras dari tadi siang tapi untungnya tidak ada petir dan guntur yang bersahutan. Kikan melirik Adrian sekilas, dia tertidur karena pijatannya. Kikan menghentikan pijatannya, lalu beralih mengamati wajah Adrian yang tertidur pulas. Dia masih Adrian yang sama yang kukenal di SMA, tidak berubah sama sekali. Mungkin yang berbeda hanya posisinya sebagai CEO saja sekarang. Mungkin karena dia tidak berubah itulah yang mampu membuatku kembali mencintainya seperti dulu. Andai dulu dia tidak pergi dan aku tidak pernah mengenal mas Ranu mungkin aku masih bersama dia. Tapi, kadang kita harus melalui segala rintangan dulu untuk mendapatkan kebahagiaan, pikir Kikan.
Kikan mengambil selimut untuk Adrian dan segera meletakkan di atas Adrian, ia tidak mau Adrian tidur kedinginan. Namun, saat Kikan meletakkan selimut, Adrian perlahan membuka matanya.
"Kamu mau kemana ?", tanya Adrian dengan suara parau khas bangun tidur. Kikan terkejut.
"Aku pikir kamu masih tidur, tadi aku ambilkan selimut. Aku takut kamu kedinginan".
"Maaf, aku membuatmu menunggu. Aku ketiduran tadi ", ucapnya Adrian.
"Sini !", ucap Adrian lagi sambil meminta Kikan duduk di sampingnya.
"Naikkan kakimu seperti aku !", ucap Adrian saat Kikan sudah duduk di sebelahnya. Kikan menurut, kini posisi Kikan duduk selonjor di depan Adrian yang sudah selonjoran di sofa dari tadi. Lalu Adrian memeluk pinggang Kikan dari belakang.
"Kamu mau apa ?", tanya Kikan kaget begitu melihat sikap Adrian.
"Aku hanya ingin memelukmu saja", ucap Adrian makin mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Tidurlah di dadaku, aku ingin malam ini tidur di sini saja. Bersamamu, di pelukanku", ucap Adrian sambil mencium rambut Kikan. Kikan terdiam, ia awalnya merasa risih namun akhirnya ia mencoba bersandar di dada bidang Adrian. Ia rasakan debaran jantung Adrian yang teratur seakan menyatu dengan debaran jantungnya yang terus sibuk berlompatan. Kikan melirik Adrian, ia sudah tertidur lagi, dengkuran halus keluar dari mulutnya. Kikan tersenyum geli lalu mencoba memejamkan matanya, tertidur di pelukan Adrian.