Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

"Raka ...., ayo kita istirahat dulu. Mama capek dari tadi nungguin kamu main. Kita makan di cafe itu ya ?", ucap Kikan ketika hampir satu jam menemani Raka bermain di Timezone.


"Huh ... Mama payah, balu cegitu cudah capek", ucap Raka.


"Memangnya Raka gak haus atau lapar ? Inikan sudah jam makan siang, kita makan dulu yuk nanti selesai makan kita main lagi ya ?", bujuk Kikan.


Raka mengangguk lalu mengikuti Kikan keluar dari arena Timezone dan masuk menuju sebuah cafe di dekatnya.


"Raka mau makan apa ?", tanya Kikan begitu mereka berdua sudah duduk.


"Laka mau makan ayam goleng, Ma, sama jus jeluk", jawab Raka.


"Baik, Mama pesenin ya", ucap Kikan sambil memanggil mbak pelayan.


"Nasi ayam goreng 1, nasi goreng seafood 1, jus jeruk 2 ya Mbak", ucap Kikan kepada pelayan yang sudah menghampiri.


"Baik, tunggu sebentar ya Kak ", ucap pelayan itu sopan. Kikan mengangguk kemudian mengecek ponselnya takut kalau ada pesan masuk dari Irene.


"Mama cedang nunggu olang ya ?", tanya Raka mengejutkan Kikan.


"Eh, iya Sayang. Mama lagi nunggu Tante Irene, Tante Irene mau menikah bulan depan jadi butuh bantuan Mama. Raka mau ikut nunggu kan ?", jawab Kikan. Raka mengangguk.


"Tapi nanti kita main lagi ya, Ma ?", kata Raka lagi.


"Pasti dong, nanti kita main lagi habis ini. Eh ... ini makanannya sudah datang, kita makan dulu ya ?", ucap Kikan begitu melihat pelayan membawakan makanan pesanannya. Raka mengangguk lagi, lalu menikmati makanannya. Raka makan begitu lahap membuat Kikan suka melihatnya.


"Kikan ... !", seru seseorang memanggil Kikan. Kikan menoleh dan tampak sesosok yang tidak asing lagi.


"Irene !", pekik Kikan kegirangan langsung memeluk Irene yang berdiri di depannya.


"Ya Tuhan Irene .... !, kamu gak berubah sama sekali ya ?", ucap Kikan.


"Iya, Kikan. Aku cukup konsisten kok. Hehehe ", jawab Irene sambil tertawa.


"Oh, ini Raka ya ?", pekik Irene begitu melihat Raka yang dari tadi melongo melihat Kikan dan Irene.


"Oh iya, Raka kasih salam dong ke Tante", pinta Kikan. Raka langsung menjulurkan tangannya kemudian mencium tangan Irene.


"Calam kenal, Tante", ucap Raka.

__ADS_1


"Aduh lucu sekali, mirip banget dengan Ranu ya ?", ucap Irene sambil tersenyum. Kikan hanya tersenyum mendengarnya.


"Maaf Kikan, aku tidak bisa kesini saat Ranu tiada. Aku sedang ada bisnis trip, aku turut berbelasungkawa ya ?".


"Gak pa-pa, Irene, aku paham kok. Oh ya, ngomong-ngomong beneran kamu akan menikah ?". Irene tersenyum.


"Semua orang selalu berkata begitu, seakan gak percaya kalau aku orang yang berkomitmen. Tapi tetap akan ku jawab pertanyaan mu. Aku akan menikah bulan depan, makanya aku pulang ke Indonesia untuk mempersiapkan hal itu. Tapi sebenarnya sudah disiapkan oleh keluargaku dan keluarga calon suamiku sih. Aku hanya menyiapkan baju pengantin saja. Kemarin aku main ke rumah Mami Tiwi dan Beliau cerita kalau kamu punya butik sekarang, bahkan Mami Tiwi memintaku memakai baju rancanganmu. Mami Tiwi juga yang memberikan nomor telepon mu", jelas Irene.


"Mami Tiwi memang The best. Pelanggan ku juga banyak dari Mami Tiwi kok, Irene ", jawab Kikan.


"Mami Tiwi cerita banyak tentang kamu, kesalahan kalian yang akhirnya harus kau tanggung sendiri, depresimu, yang akhirnya kau jadikan semangat untuk berubah dan menjadi lebih baik. Aku senang Kikan, kamu sudah melewati saat-saat sulit itu ".


"Iya, Irene, aku bersyukur mempunyai orang-orang yang masih sayang dan mendukungku terus. Mungkin tanpa mereka, aku tidak akan seperti ini. Setiap orang pasti mempunyai masalah sesuai dengan kapasitasnya".


"Iya, kamu benar Kikan. Oh ya, Raka sudah sekolah belum ?", tanya Irene kini ke Raka.


"Cudah, Tante", jawab Raka sambil tersenyum.


"Kamu sudah makan Irene atau aku pesankan makanan saja ?", tanya Kikan.


"Gak usah, aku baru saja makan", jawab Irene.


"Iya, aku kesini dengan seseorang tapi bukan calon suamiku, dia sedang bekerja sekarang. Aku kesini dengan adik sepupunya, dia masih kerabat jauh Ranu juga", jawab Irene.


"Jadi kamu menikah dengan orang Indonesia, bukan bule ?", tanya Kikan lagi.


"Iyalah, aku lebih mencintai produk lokal. Hehehe ", tawa Irene bergema lagi.


"Nah, itu dia sepupuku. Hai !, sini !", ucap Irene sambil memanggil seseorang. Kikan langsung menoleh ke arah Irene memanggil. Betapa terkejutnya Kikan begitu mengetahui siapa sosok sepupu calon suami Irene. Tubuh tegap dengan penampilan rapi, jas krem dalaman kaos putih dan celana kain senada sedang berjalan ke arah mereka. Kikan semakin kaget saat sosok itu membuka kaca mata hitamnya dan sedang tersenyum kearahnya. Wajah itu tidak asing bagi Kikan. Wajah dengan rahang yang kuat, ditambah lesung pipi dan rambut belah tengah yang kini sudah tersisir rapi. Kikan ingat pemilik wajah itu tapi mengapa dia muncul lagi setelah sekian lama.


"Hai ! Kikan !", sapa sosok itu begitu mendekat.


"Hei ! kalian saling kenal rupanya ", seru Irene terkejut. Sosok itu hanya tersenyum sambil terus memandang Kikan.


"Halo jagoan ", sapa sosok itu kini menyapa Raka.


"Halo Om, Wah, Om Kelen banget", pekik Raka polos yang disambut tawa Irene dan sosok itu, sedang Kikan hanya diam tak berkutik. Sosok itu kini duduk di samping Kikan, Irene terus menatap Kikan yang hanya diam dan melihat kecanggungan di antara mereka berdua.


"Raka ... ayo temani Tante main di Timezone yuk !", ajak Irene memecah keheningan.

__ADS_1


"Ayuk, Tante. Mama, Laka boleh kan main sama Tante ?", ucap Raka membuyarkan lamunan Kikan.


"Tapi ini sudah siang, Raka, kita harus pulang", kata Kikan sambil bersiap-siap pulang.


"Tolonglah Kikan, aku sudah lama tidak bermain ini, hanya sebentar saja kok ?", ucap Irene merayu.


"Iya, Ma. Kacihan Tantenya, Ma", ucap Raka membuat Kikan tersenyum.


"Baiklah, tapi jangan nakal ya !". Raka mengangguk dan segera berlari menggandeng Irene ke Timezone. Sedangkan sosok di samping Kikan kini sedang asyik menopang kepalanya dengan kedua tangan sambil terus mengamati Kikan. Kikan hanya melotot sebal melihat tingkahnya.


"Kamu gak berubah ya, tetap cantik dan jutek kayak dulu", ucap sosok itu bersuara. Kikan hanya diam dan menarik nafas. Ia merasa jengah diperhatikan seperti itu.


"Untuk apa kamu kesini ?", tanya Kikan akhirnya.


"Aku nemani Irene, dia kan calon kakak sepupuku. Bagaimana kabarmu ?", ucap sosok itu lagi.


"Untuk apa kamu menanyakannya, kamu sudah lihat sendiri keadaanku", jawab Kikan ketus.


"Huh .... sadis ... masih sama seperti yang dulu. Kamu tidak pernah berubah ya ?", ucap sosok itu sambil terkekeh.


"Aku sudah berubah, aku sudah menikah dan juga sudah punya anak. Sudah, pergi sana jangan ganggu aku", ucap Kikan lagi. Sosok itu makin terkekeh mendengarnya.


"Kamu gak percaya ? atau mau aku telpon suamiku supaya mengusirmu", bentak Kikan kesal.


"Aku percaya kalau kamu sudah punya anak tapi suamimu kan sudah meninggal atau aku harus menyebutnya calon suamimu, begitu ?", kata sosok itu lagi.


"Brengsek kamu, sudah pergi sana jangan ganggu aku ", ucap Kikan sambil mulai memukul sosok itu.


"Kamu masih marah ya sama aku sehingga kayak gini sikapmu padaku ?. Atau mungkin kamu masih sulit untuk melupakanku ?", ucap sosok itu sambil memegang tangan Kikan yang berusaha memukulnya. Kikan hanya melotot menahan amarahnya begitu melihat sosok itu hanya tersenyum menggodanya.


"Lepaskan aku, atau aku akan teriak ", ucap Kikan mengancam, sosok itu segera melepaskan genggamannya. Kikan kemudian bangkit, ia ingin segera pergi dari tempat itu.


"Kamu mau kemana ?", tanya sosok itu lagi begitu melihat Kikan berdiri.


"Aku mau pulang", ucap Kikan kesal.


"Tunggu Kikan, kita belum ngobrol kok sudah pulang sih".


"Denger ya ! Aku gak ada urusan sama kamu, Adrian Dinata. Aku mau pulang ", ucap Kikan lalu segera berlalu meninggalkan sosok yang bernama Adrian itu. Andrian hanya tersenyum melihat kepergian Kikan.

__ADS_1


__ADS_2