
"Makanannya sudah datang ?", tanya Kikan sekembalinya dari toilet. Ia sudah melihat pesanannya tertata rapi di meja. Adrian hanya mengangguk menjawabnya.
"Kita mulai makan yuk ! ", ajak Kikan sambil mulai memotong steak pesanannya.
Adrian kembali mengangguk dan ikut asyik memotong steaknya. Tapi belum sempat Adrian memakan steak yang telah dipotongnya, Kikan sudah menyodorkan garpunya yang sudah terdapat potongan steak untuknya.
"Makanlah .... aku ingin menyuapi mu ", ucap Kikan sambil tersenyum begitu melihat Adrian bingung melihatnya. Adrian lalu memakan steak yang sudah disodorkan padanya. Kemudian Adrian membalas menyuapi Kikan dengan steak potongannya tapi Kikan menolaknya dan malah menyuruh Adrian memakannya juga.
"Aku kenyang, Sayang. Ini sama saja aku memakan dua porsi. Tahu gitu aku tidak pesan tadi ", gerutu Adrian setelah potongan steak terakhir dari Kikan masuk ke mulutnya. Kikan hanya tertawa melihatnya.
Adrian masih sibuk mengunyah, menuntaskan daging di mulutnya. Sedang Kikan kini asyik membersihkan sudut bibir Adrian yang penuh bekas noda steak dengan tisu.
"Kamu seperti anak kecil makannya, kalah sama Raka ", ucap Kikan disambut kekeh Adrian.
"Sudah ... jangan bersihkan bibirku dengan tisu. Bersihkan dengan bibirmu saja ", ucap Adrian sambil mengerling nakal. Kikan hanya tersenyum.
"Mengapa kamu tidak makan hari ini ?", tanya Adrian setelah kunyahannya habis.
"Aku sudah kenyang ", jawab Kikan singkat sambil meminum orange jus-nya.
"Kamu mengajakku makan malam tapi kamu tidak makan sama sekali. Kamu diet, Sayang ?". Kikan menggeleng.
"Gak .... , aku hanya ingin .... bersama kamu malam ini ", ucapnya jujur. Adrian hanya diam tertegun.
"Sudah ... jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya ingin bersama kamu saja kok, itu saja. Sebentar lagi kan kamu akan me...". Belum sempat Kikan meneruskan ucapannya, Adrian sudah menutup mulut Kikan dengan tangannya.
"Jangan diteruskan ", ucap Adrian. Kikan terdiam dan menarik tangan Adrian dari mulutnya.
__ADS_1
"Tapi itu kenyataannya Adrian ...., kurang dua minggu kan ?. Undangan sudah tersebar bahkan aku dan ayahku juga mendapatkannya. Apa salah kalau aku memperjelasnya ", ucap Kikan. Adrian hanya terdiam.
"Sudahlah Kikan ... aku tidak mau membahasnya ", ucap Adrian setelah terdiam.
"Lalu sampai kapan akan kau gantung aku ?", tanya Kikan membuat Adrian menoleh dan menatapnya tajam.
"Kamu masih belum mempunyai jalan keluar dari masalah ini kan. Dan kamu terus membuatku bersabar dan menunggu. Sekarang aku tanya sampai kapan aku menunggumu ?". Adrian diam kini ia menunduk lesu.
"Kalau kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku, biarkan aku membantumu. Aku tidak mau terus menunggumu tanpa kejelasan meskipun aku yakin dan percaya semua perasaanmu padaku tidak berubah. Tapi, aku tidak mau seperti ini terus, aku tidak mau dalam bayang-bayang terus. Kalau memang kamu kesulitan memutuskannya biarkan aku melepasmu. Aku ikhlas .... Adrian ", ucap Kikan lagi. Kini Adrian mengangkat kepalanya dan menatap Kikan seakan tak percaya.
"Kamu sudah lelah denganku ?", tanyanya.
"Aku hanya ingin membantumu menyelesaikan ini, Adrian ... ", ucap Kikan. Adrian terdiam lalu menunduk lagi.
"Aku gagal lagi ... Kikan. Aku gagal memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Aku telah mengecewakanmu lagi dan aku terus menerus membuatmu menangis. Aku bener-bener orang yang gagal ", ucap Adrian dengan nada parau. Sepertinya ia berusaha menahan air matanya.
"Maafkan aku ... harus mengembalikan ini ", ucap Kikan sambil melepas cincin yang tersemat di jarinya yang pernah di berikan Adrian untuknya. Adrian mengangkat kepalanya dan menatap Kikan yang kini memasukkan cincin itu di dalam kotaknya kemudian menyodorkan padanya.
"Aku minta, kamu simpan saja itu ", ucap Adrian menolak menerima. Kikan diam kemudian meletakkan kotak itu di atas meja.
"Aku rasa ... aku harus pergi Adrian. Sudah cukup perjalanan kita dan mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Maafkan aku bila tidak akan datang di pernikahanmu ", ucap Kikan sambil berkemas dan bersiap berdiri meninggalkan Adrian.
"Aku punya satu permintaan .... ", ucap Adrian setelah lama terdiam. Kikan menoleh dan kembali duduk di sampingnya.
"Apa ?", tanya Kikan.
"Ikut aku ke bukit bintang malam ini ", ucap Adrian. Kikan melirik arlojinya sudah jam sepuluh malam, tapi mungkin ini yang terakhir kalinya aku kesana.
__ADS_1
"Baiklah ", ucap Kikan akhirnya. Adrian tersenyum lalu bangkit dan berjalan mendahului Kikan.
Setelah hampir lima belas menit, akhirnya mereka tiba di bukit bintang. Kikan dan Adrian keluar dari mobil masing-masing. Dengan canggung, Kikan berjalan mendekat ke Adrian yang sedang menatapnya.
"Kemarilah ... aku tak akan memukulmu ", gurau Adrian memecahkan kecanggungan. Kikan berjalan semakin mendekat.
Setelah cukup dekat, Adrian segera menarik Kikan dalam pelukannya. Kikan terkejut dan mencoba berontak.
"Diamlah ..., Sayang. Ini salah satu permintaan terakhirku. Biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir disini ", bisik Adrian di telinga Kikan. Akhirnya Kikan terdiam dan hanyut dalam pelukan Adrian.
"Terima kasih ... sudah bersamaku. Mungkin ini sangat sulit harus berpisah denganmu. Tapi semua alasan yang kamu berikan memang benar dan mungkin ini saat bagiku juga untuk melepasmu meskipun hatiku belum sepenuhnya ikhlas. Aku mencintaimu ... Kikan dan itu akan selalu ada di hatiku meskipun aku bukan milikmu. Aku tak bisa memadamkan rasa itu dan aku juga tak bisa menghilangkannya. Aku hanya ingin terus mencintaimu meski kita tak pernah bersatu ", ucap Adrian sambil terus menatap Kikan yang sudah berada di pelukannya. Kikan hanya menangis mendengar ucapan Adrian.
"Setelah aku menikah nanti .... , tolong ... jangan larang aku untuk menghubungimu. Meskipun akhirnya kamu menghindariku, aku akan tetap mencarimu. Karena aku yakin, kamulah cinta sejatiku, bukan Tania atau siapapun. Mungkin kita tak berjodoh saat ini tapi kita tak akan tahu Tuhan mempertemukan kita lagi suatu saat. Aku hanya ingin mengatakan itu saja, Sayang ".
"Adrian ... jangan seperti itu ... aku tidak ingin merusak rumah tanggamu bila kau sudah menikah nanti. Aku tidak ingin disebut sebagai pelakor. Aku hanya ingin jadi temanmu saja ", protes Kikan begitu mendengar ucapan Adrian.
Adrian hanya tersenyum.
"Sudahlah .... jangan terlalu dipikirkan ucapanku tadi. Mungkin sekarang aku harus mengalah dan melepaskanmu tapi aku yakin suatu saat kau akan menjadi milikku lagi ", ucap Adrian membuat Kikan tambah bingung. Sepertinya Adrian tidak pernah ingin berpisah darinya.
"Apa aku boleh menciummu ... untuk yang terakhir ?", tanya Adrian sambil menarik dagu Kikan ke arahnya. Kikan hanya diam tidak mengiyakan tapi juga tidak menolaknya.
Adrian mendekatkan kepalanya lalu menempelkan bibirnya di bibir Kikan. Mencium dengan lembut dan lama. Hingga tak terasa air mata sudah menetes di pipi Kikan. Adrian menyudahi aksinya lalu perlahan menghapus airmata Kikan kemudian merengkuh kepala Kikan ke dalam dadanya.
"Setelah ini ... jangan ada lagi airmata yang menetes di pipimu ya, janji !", ucap Adrian. Kikan hanya mengangguk sambil terus tenggelam di dada bidang Adrian.
Cukup lama mereka terdiam dalam pelukan hingga tengah malam datang dan Kikan memutuskan pulang lebih dulu meninggalkan Adrian yang memilih ingin tinggal lebih lama di sana.
__ADS_1
Selamat tinggal ... Adrian, terima kasih untuk hari-hari yang indah yang telah kau berikan untukku. Terima kasih untuk semua kenangan yang mungkin akan sulit kulupakan nantinya, gumam Kikan dalam hati yang terus menatap Adrian yang membelakanginya dan semakin menjauh.