
Tania memandang wajahnya di cermin, ia terpaku melihat bayangan dirinya. Aku seperti putri raja, gumamnya sambil tersenyum.
"Bagus Mbak dan cocok sekali untuk Mbak Tania ", puji Amel.
"Iya ... Mbak Kikan memang pintar ya, dia tahu banget apa yang aku mau ", ucap Tania sambil tersenyum.
"Mari kita keluar, Mbak ", pinta Amel.
"Kau duluan saja, aku mau berselfi sebentar ", ucap Tania sambil mengeluarkan ponselnya dan mulai bergaya di depan cermin. Setelah berpose berbagai gaya akhirnya Tania keluar, tepat berbarengan saat Adrian membuka pintu ruang fittingnya.
"Sayang ... kamu sudah datang rupanya ", ucap Tania sambil berjalan mendekati Adrian yang masih berdiri di depan pintu.
"Kalau bukan karena Mama yang menyuruhku pasti aku tidak akan kesini ", ucap Adrian kesal.
"Huh ... pangeranku kok kesal begitu sih ", ucap Tania kian mendekat ke Adrian.
"Aku tahu ... kamu tidak pernah menyukai dan bahkan mencintaiku. Tapi, aku yakin semua sikap sombongmu itu sebentar lagi akan berubah dan menjadi takluk padaku ", ucap Tania kini sambil menyudutkan Adrian ke dinding ruangan itu.
"Ya ... dalam mimpimu saja itu ", jawab Adrian makin kesal dengan sikap Tania. Lalu tiba-tiba Tania memeluk Adrian dan mencium bibir Adrian.
"Tania .... ! kamu apa-apaan sih ", ucap Adrian marah sambil mendorong tubuh Tania sampai dia terbentur tembok. Tania hanya terkekeh.
"Kenapa kamu marah ? bukankah sebentar lagi kita akan menikah dan pasti akan melakukan lebih dari itu. Atau ... kamu takut kekasihmu melihatnya", ucap Tania sambil tersenyum sinis. Adrian diam, apa dia tahu kalau Kikan kekasihku dan sengaja melakukan ini.
"Aku harap kamu tidak melewati batasanmu, Tania atau aku akan .... ", ucap Adrian sedikit melunak.
"Akan apa ? membatalkan pernikahan kita ?. Apa kamu ingin Mamamu masuk rumah sakit lagi ?", potong Tania. Adrian terdiam lagi dan segera berlalu meninggalkan Tania. Ia tidak ingin berdebat lagi, ia ingin cepat menyudahi hari ini.
"Bagaimana Mas ? apa sudah pas bajunya ?", tanya Amel begitu Adrian keluar dari ruang fitting. Ia kelihatan gugup dan mencoba mencari Kikan. Apa Kikan melihat saat Tania menciumku tadi ?, hanya itu yang ada di pikirannya.
__ADS_1
"I... ya ... bajunya sudah pas. Eh ... Kikan mana ?", tanya Adrian akhirnya. Amel sedikit bingung, mengapa calon pengantin ini mencari Mbak Kikan ya ?.
"Eh .. Mbak Kikan sedang terima telepon tadi ", jawab Amel akhirnya. Adrian hanya mengangguk mengiyakan.
"Mbak ... , tolong beri tahu Mbak Kikan yang sebelah kiri sudah tidak usah ditambah payet lagi ya. Aku suka yang seperti ini saja ", Tania sudah bersuara di belakang Adrian.
"Baik Mbak ", ucap Amel sambil mendekat.
"Apa bajunya sudah sesuai dengan yang diinginkan, Tania ?", tanya Kikan yang sudah berdiri di samping Adrian. Adrian menoleh mencoba menatapnya tapi Kikan menghindar dan kini sedang berjalan mendekati Tania.
"Bagus banget ... Mbak, aku suka. Aku seperti putri raja dan tentu saja dia pangerannya ", ucap Tania sambil menunjuk Adrian. Adrian hanya terdiam menunduk sama seperti yang dilakukan Kikan. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Berarti aku sudah tidak usah fitting lagi ya, Mbak. Kalau sudah jadi, bisa langsung dikirim ke rumah kan ?", tanya Tania. Kikan hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya ... aku akan mengirimkan undangan pernikahan kami untuk Mbak Kikan dan beberapa staf disini yang sudah membantu. Mbak Kikan harus datang ya ?", ucap Tania lagi. Kikan kembali mengangguk.
"Aku ganti duluan, aku harus cepat balik kantor ", ucap Adrian sambil bergegas ke ruang fitting.
Senja sudah datang, Kikan merasa lega bisa melewati hari ini. Ia hempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Menyandarkan kepala di atas kursi sambil berputar pelan ke kanan dan kiri sedikit membuat rileks dirinya.
"Mbak ... gak pulang ?", Amel tiba-tiba menyeruak masuk.
"Bentar lagi, Mel. Aku masih capek ", jawab Kikan sambil memejamkan mata.
"Saya sudah membereskan semua, Mbak. Saya pulang duluan ya ?", ucap Amel lagi.
"Ya ... pulanglah ... Jangan lupa matikan semua lampunya. Pintunya gak usah dikunci, sebentar lagi aku akan turun ", ucap Kikan sambil masih asyik duduk berputar di kursi kerjanya.
"Baik, Mbak. Amel pulang dulu ya ?", pamit Amel. Kikan hanya mengangguk.
__ADS_1
Kini Kikan sendiri, ingatannya kembali ke siang tadi saat ia tak sengaja melihat Adrian berciuman dengan Tania. Mereka begitu mesra, juga serasi. Mungkin sekarang Adrian tidak mencintai Tania. Tapi seiring berjalannya waktu, apalagi Tania gadis yang cantik dan Adrian laki-laki normal pasti mereka akan saling mencintai. Lalu bagaimana dengan aku ?. Aku hanya terus berharap sesuatu yang tidak mungkin. Sesuatu yang sebenarnya bukan untuk ku miliki. Mungkin ini saatnya aku harus melepaskanmu, Adrian. Aku harus mengikhlaskanmu untuk orang lain. Aku harus membuang jauh-jauh rasa ini, rasa yang sebenarnya baru ku suka. Kikan kini terdiam dan langsung menidurkan kepalanya di meja kerja dengan tumpuan tangannya. Lalu pecahlah tangis yang sudah ditahannya sedari siang tadi.
Tanpa disadari Kikan, ada sebuah mobil yang berhenti di sebrang rukonya dari tadi. Di dalamnya tampak seorang pria yang terus tak berkedip mengawasinya dari dalam mobil. Memang ruang kerja Kikan tampak terlihat jelas dari sebrang jalan itu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pria itu memutuskan untuk keluar dari mobil dan kini sedang berjalan menuju butik Kikan.
"Hiks .... hiks ... hiks ", suara tangis Kikan yang belum berhenti. Sosok pria yang tak lain adalah Adrian kini berdiri mematung di depan pintu ruangan kerja Kikan. Ia merasa bersalah untuk semua yang terjadi hari ini. Seharusnya, aku menyudahi semua ini dan membuat keputusan yang tepat tanpa terus berlarut menyakitimu. Maafkan aku, Kikan, batinnya.
"Maaf .... untuk semua yang terjadi hari ini !", ucap Adrian kini sudah berdiri di samping Kikan sambil membelai rambutnya. Tangis Kikan berhenti, ia mencoba mengangkat kepalanya. Masih banyak genangan air di matanya.
"Maafkan ..... aku, Sayang ", ucap Adrian sedikit menunduk sambil merangkum wajah Kikan dan menghapus air matanya. Kikan hanya menggeleng.
"Aku gak pa-pa, Adrian .... ", kata Kikan sambil menghalau tangan Adrian yang menghapus air matanya.
"Tolong ... bilang padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan aku berjanji .... , aku berjanji akan melakukannya ", ucap Adrian lagi kini matanya mulai berkaca-kaca. Kikan hanya menggeleng, namun tiba-tiba dia terdiam.
"Apa boleh aku berkata lelah menantimu ?", ucap Kikan setelah lama terdiam. Adrian terkejut dan mencoba mencari kesungguhan ucapan Kikan.
"Apa maksudmu, Sayang ?", tanya Adrian bingung.
"Aku .... mengikhlaskan mu, menikah dengan Tania, Adrian ", ucap Kikan. Adrian terkejut mendengar ucapan Kikan.
"Gak .... gak, kamu gak boleh melakukan itu. Aku .. aku gak mau. Aku gak mau hidup tanpamu ", ucap Adrian sedikit keras.
"Aku sudah memutuskannya dan mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku lelah bersaing dengannya, dengan waktu karena aku yakin aku tidak akan menjadi pemenangnya. Tolong mengertilah !". Adrian terus menggeleng dan menolak.
"Tidak ! kamu yang harusnya mengerti perasaanku. Aku hampir sepuluh tahun kehilanganmu, saat aku bertemu kamu lagi aku memutuskan untuk hidup bersamamu. Dan sekarang perjodohan sialan ini yang menghalangi kita. Aku ingin kamu juga berjuang bersamaku, berjuang demi cinta kita. Mengapa kamu sudah menyerah duluan ?".
"Aku tidak menyerah, aku hanya berpikir rasional. Aku tidak punya apapun yang bisa dibanggakan. Aku bukan saingan Tania yang bisa kau tunjukkan ke Mamamu. Aku bukan apa-apa, Adrian. Tolong, berpikir rasional lah. Kalian serasi, sama-sama orang sukses, orang hebat tidak ada sedikitpun kecacatan di antara kalian berdua. Mungkin sekarang kamu belum mencintainya tapi lambat laun cinta itu pasti tumbuh di hatimu. Aku ... aku .. sudah memutuskannya ".
"Apa yang menyebabkanmu bicara seperti ini ? Apa kamu melihat saat Tania menciumku tadi ?", tanya Adrian tiba-tiba membuat Kikan terkejut. Kikan mengangkat kepalanya dan kini matanya sudah penuh dengan genangan air yang siap tumpah.
__ADS_1
"Aku yakin ... Tania tahu tentang kita dan sedang berusaha melukai hatimu. Tadi dia memang sengaja menciumku dan aku rasa itu juga untuk memanasi dirimu. Tapi .... denger sayang .... semua rasa yang kumiliki ini hanya untuk kamu. Tidak pernah sedikitpun aku berikan untuk orang lain, cuman kamu. Kumohon bersabarlah .... jangan menjauh atau ingin meninggalkan aku lagi", ucap Adrian kini sambil memeluk Kikan. Kikan hanya terdiam dan terus menangis dalam pelukan Adrian.