
Kehamilan Kikan sudah berusia 10 Minggu, namun mengapa ia masih terus mengalami morning sick berbeda saat hamil Raka dulu. Seperti pagi ini, sejak bangun jam 5 tadi Kikan sudah bolak balik ke kamar mandi sampai ia merasa lemas sekali. Adrian ikut khawatir melihat keadaan Kikan.
"Sayang .... apa perlu kita ke dokter lagi ? aku gak tega kalau tiap hari melihatmu seperti ini ", ucap Adrian cemas.
"Gak usah ..., kan barusan kemarin aku kontrolnya lagian sudah ada obatnya kok. Paling ini bawaan bayi kan beda-beda ", ucap Kikan sambil masuk kembali ke dalam selimutnya. Ia merasa nyaman bila sudah rebahan di bawah selimut.
"Hari ini kamu gak usah ke butik di rumah saja ya ?". Kikan hanya mengangguk.
"Sayang ... aku buatin sarapan dong. Aku ingin makan scramble egg buatanmu. Maukah buatin ?", pinta Kikan lagi. Adrian tersenyum sambil menatapnya.
"Iya ... apa sih yang gak bisa aku lakukan untuk kamu. Tunggu sebentar ya !". Adrian segera bangkit dan berjalan keluar kamar meninggalkan Kikan.
"Papa ngapain ?", tanya Raka yang sudah duduk manis di meja makan heran melihat Adrian yang sudah pakai jas kini memakai celemek.
"Mau buatin Mama sarapan, Raka juga mau gak ?", tanya Adrian sambil sibuk mengocok telur.
"Laka bantuin aja, Pa !", ucap Raka sambil berdiri lalu mendekati Adrian.
"Raka hari ini berangkat diantar Pak Banu ya, Papa agak siang berangkat ke kantornya, Mama lagi sakit soalnya ", ucap Adrian sambil masih sibuk memasak.
"Iya, Pa ", jawab Raka sambil tersenyum. Kini mereka berdua sedang asyik menyiapkan sarapan untuk Kikan. Setelah beberapa lama akhirnya siap juga. Adrian bergegas membawanya ke kamar, sedang Raka sudah berangkat ke sekolah dengan Pak Banu, sopir kantor Adrian.
"Sayang ... ini sarapannya sudah siap ", seru Adrian sambil membawa sarapan untuk Kikan ke kamar namun Kikan sudah tidak ada di kasurnya. Adrian mendengar suara air di kamar mandi, pasti Kikan sedang disana.
"Kamu gak pa-pa, Sayang ?", tanya Adrian begitu melihat Kikan keluar dari kamar mandi dengan muka pucat dan rambut berantakan.
"Gak pa-pa kok, mana sarapannya, aku mau makan terus minum obat ", ucap Kikan kini sudah duduk di tepi ranjangnya. Adrian mendekat dan menyodorkan sarapan untuk Kikan.
"Kamu ada janji dengan klien hari ini ?", tanya Kikan sambil mengunyah makanannya.
"Iya ", ucap Adrian sambil tersenyum dan duduk di sebelah Kikan sekarang.
__ADS_1
"Cowok apa cewek ?", tanya Kikan sambil terus mengunyah.
"Maksudnya ?", kata Adrian bingung.
"Kliennya, cowok atau cewek ?", kata Kikan sedikit kesal. Adrian tersenyum menggoda Kikan.
"Kamu cemburu ya ?", ucap Adrian kini.
"Gak kok, aku kan cuman tanya saja ", jawab Kikan kini ia menyudahi makannya.
"Kok tidak dihabiskan sih ?".
"Perutku enek, gak enak mau muntah lagi ", sahut Kikan sambil segera berlari ke kamar mandi. Adrian hanya menggelengkan kepalanya. Kalau seperti ini, aku jadi menyesal membuatmu hamil, sayang, pikirnya.
"Kamu belum berangkat ?", tanya Kikan saat dia keluar dari kamar mandi dan Adrian masih di kamarnya.
"Aku gak tega ninggalin kamu, maafin aku ya sudah bikin kamu kayak gini ", ucap Adrian lesu.
"Aku gak pa-pa kok, orang hamil memang seperti ini semua kalau di awal trimester. Lagian ada Bi Etik kok yang jagain. Kamu berangkat deh, nanti telat loh janjiannya ".
"Oke deh, aku berangkat dulu ya !", ucap Adrian sambil mencium kening Kikan.
"Tapi ... tunggu Sayang .... ", ucap Kikan tiba-tiba membuat Adrian kaget.
"Ada apa ?".
"Bisa gak kamu kalau berangkat kerja gak wangi dan ganteng kayak gini. Aku gak rela kalau banyak cewek yang merhatiin kamu apalagi kalau itu klienmu. Kalau tertarik padamu, gimana ". Adrian tersenyum mendengar ucapan Kikan.
"Bumilku lagi cemburu nih ceritanya .... terus aku harus pakai baju apa biar gak kelihatan ganteng. Aku gak pakai bajupun masih kelihatan ganteng kok kan kamu sudah lihat sendiri, Sayang ", ucap Adrian sambil tersenyum nakal.
"Atau kamu lagi pingin ya dan melarangku berangkat kerja dengan alasan tadi ", sambung Adrian.
__ADS_1
"Ih ... siapa juga yang pingin, kamu tuh yang pingin. Aku kesel aja kalau kamu terlalu ganteng tanpa ada aku lagi. Emang gak boleh ya ?". Adrian makin terkekeh. Memang sejak hamil tingkah Kikan aneh dan cemburuan banget tapi Adrian suka itu.
"Sini .... , aku gak bakalan ngapa-ngapain kok. Aku sudah punya istri yang cantik dan baik kayak kamu jadi gak mungkin aku nyari lagi. Udah, jangan cemburu lagi ya. Memang suamimu ini sudah ganteng dari sononya jadi diapain aja juga tetep ganteng ". Kikan hanya manyun mendengar jawaban Adrian antara kesal dan pengen ketawa bercampur jadi satu.
"Iya ... iya aku percaya. Sudah cepetan berangkat, sudah siang ini ", ucap Kikan sambil mendorong Adrian yang masih memeluknya. Adrian tersenyum lalu mencium lembut bibir Kikan.
"Aku berangkat ya !", pamit Adrian, Kikan hanya mengangguk lalu kembali naik ke ranjang dan masuk ke selimutnya.
Kikan tertidur cukup lama sampai suara di perutnya menggugah minta diisi. Kikan segera bangkit, ia merasa sedikit enakan daripada tadi pagi. Ia berjalan ke kamar mandi dan bergegas mandi.
Kini ia sudah berdandan di depan cermin, sebentar lagi perutku akan membesar dan menjadi gendut. Tentu tidak akan terlihat seksi lagi di mata Adrian. Akh .... apa dia masih mau menerimaku kalau aku gendut nanti ? apa dia tidak akan berpaling ke orang lain ?. Tapi bagaimana seandainya itu terjadi ?. Hiks, hiks, aku gak mau kehilangan Adrian lagi. Aku gak mau, pikir Kikan. Kini airmata sudah mengalir di pipinya, ia sendiri juga tidak tahu mengapa jadi sensitif seperti ini sejak hamil.
"Sayang .... kamu kenapa kok nangis ?", suara Adrian mengagetkannya. Kikan menoleh dan mendapati suaminya sudah datang. Kikan langsung berdiri dan berhambur ke pelukan Adrian. Adrian hanya bingung dan balas memeluknya.
"Jangan tinggalin aku, hiks ... hiks ... ", Isak Kikan.
"Aku gak kemana-mana kok, aku gak ninggalin kamu ", jawab Adrian sedikit bingung.
" Beneran ? janji gak ninggalin aku ?". Adrian mengangguk.
"Memang siapa yang bilang aku mau ninggalin kamu ?", tanya Adrian kini. Kikan diam.
"Gak ada ".
"Terus ... kok kamu nangis ?".
"Aku tadi ngaca terus lihat badan aku yang semakin gendut. Aku gak seksi lagi dan akan tambah gendut nantinya. Aku takut kamu bakalan ninggalin aku kalau lihat aku gendut gini ", jawab Kikan polos yang langsung disambut tawa Adrian.
"Kok ketawa sih ?".
"Habis kamu lucu, emang ya kalau wanita hamil itu sensitif banget. Aku yang ingin kamu hamil, ngapain aku ninggalin kamu sih ?. Sudah, jangan mikir yang aneh-aneh ya. Aku sengaja langsung pulang tadi sesudah bertemu klien. Kamu sudah makan belum, aku bawain ikan bakar kesukaanmu itu ".
__ADS_1
"Akh ... kamu kok tahu aku lagi ingin makan ikan bakar. Terima kasih, suamiku ", ucap Kikan kini sambil mencium Adrian mesra. Adrian hanya tersenyum sambil memeluk Kikan. Sepertinya bakalan lebih sulit melewati hari-hari Kikan hamil kalau dia sesensitif ini, pikir Adrian.