Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kikan yang jutek


__ADS_3

"Hendy ... sudah dari tadi ?", sapa Bobby begitu dia masuk ke rumah Kikan.


"Barusan kok, kamu dari mana ?", tanya Hendy.


"Aku tadi habis nganter anak-anak panti. Eh, Kikan sudah tahu kamu disini ?".


"Sudah, dia sedang menidurkan Raka kok".


"Oh ya sudah kalau gitu. Eh, ngomong-ngomong gimana perkembangan hubungan kalian ?", tanya Bobby setengah berbisik. Hendy hanya tersenyum mendengarnya.


"Kok malah senyum, jadi curiga aku", ucap Bobby lagi.


"Kami mulai dari awal, Bob. Kikan ingin berteman dulu kalau memang ada kecocokan mungkin akan berlanjut", jawab Hendy akhirnya. Bobby hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Tapi .. Kikan sendiri bagaimana ? dia terlihat tertarik padamu gak ?", bisik Bobby lagi.


"Entahlah ... , aku bukan pembaca pikiran orang. Sudah, jangan tanya lagi, gak enak kalau kedengeran orang lain", kata Hendy sedikit menghindar.


"Ok. Eh ... kamu sudah makan belum ? aku ambilin ya ?".


"Gak usah, Bob, nanti saja".


"Loh ... Bobby, kamu sama siapa ?. Itu temanmu ya ?", kata ibu yang tiba-tiba muncul di depan Bobby.


"Loh ... Bulik belum tahu. Ini Hendy ....", ucap Bobby. Ibu langsung terbelalak.


"Ini ibunya Kikan, Hen. Bulik ku ", terang Bobby. Hendy hanya mengangguk. Kalau ini ibunya Kikan yang di panggil mami tadi siapanya Kikan ?, pikir Hendy.


"Kikan sudah tahu kalau ada Hendy disini ?", tanya ibu lagi.


"Sudah Bu, Kikan sedang menidurkan Raka", jawab Hendy sopan.


"Nak Hendy sudah makan ?, Ibu ambilkan ya !".


"Gak usah Bu, nanti saja".


"Biar Kikan saja yang mengambilkan Bulik", kata Bobby.


"Nak Hendy ... rumahnya dimana ?", tanya ibu lagi.

__ADS_1


Belum sempat Hendy menjawab, Kikan sudah keluar dari dalam sambil membawa beberapa kue dan minuman.


"Maaf mas, lama ya nunggunya", ucapnya sambil meletakkan minuman dan kue di atas meja.


"Raka sudah tidur, Nduk ?", tanya ibu.


"Iya, Bu. Ada Mami yang jagain". Ibu hanya mengangguk.


"Kamu kok gak bilang kalau mengundang temanmu kesini ?", tanya ibu lagi.


"Kikan gak ngundang kok, dia yang datang sendiri", jawab Kikan acuh membuat Hendy yang sedang minum tersedak.


"Hus .... gak sopan itu. Maaf, nak Hendy, Kikan memang begitu suka ceplas-ceplos. Ibu tinggal ke dalam dulu ya. Ayo Bob, Bulik ambilkan makan tadi Intan sudah nungguin kamu", ucap ibu sambil beranjak masuk kedalam menarik Bobby yang sibuk memakan kue yang disuguhkan.


"Aku tinggal dulu ya, Bro ...", pamit Bobby dengan mulut penuh kue. Hendy hanya mengangguk.


"Ayo dimakan mas, Kuenya", ucap Kikan kikuk. Kini tinggal mereka berdua di ruang tamu itu. Kikan duduk di sebelah Hendy agak menjauh. Dia benar-benar membangun tembok di sekelilingnya, pikir Hendy.


"Tadi acaranya mulai jam berapa ?", kata Hendy membuka obrolan.


"Jam 10", jawab Kikan singkat.


"Banyak tamunya ?", tanya Hendy lagi.


"Iya .., maaf tadi aku sebenarnya sudah berangkat pagi. Tapi, waktu bertanya alamat mu ternyata aku bertanya pada Tante ku sendiri. Aku baru tahu kalau rumahnya satu kompleks dengan rumahmu. Jadi terpaksa, aku mampir ke rumah nya dulu. Mobilku juga parkir di rumahnya, makanya tadi aku jalan kesini ".


"Oh ....."


"Kamu kenal Bu Ratih atau biasa dipanggil Bu Sasongko, itu Tanteku. Rumahnya gak jauh kok dari rumahmu", terang Hendy lagi. Kikan hanya manggut-manggut. Hendy kembali menelan ludah, sepertinya Kikan tidak tertarik dengannya.


"Aku boleh main ke rumahmu lagi, lain kali ?", tanya Hendy. Kikan menoleh cepat.


"Untuk apa ?", tanya Kikan datar.


"Ya ... mungkin aku pas main ke rumah Tanteku terus mampir ke sini, boleh ?". Kikan kembali mengangguk.


"Kamu bosan ya ?", tanya Hendy lagi. Kikan langsung menoleh lagi.


"Kenapa tanya seperti itu ?".

__ADS_1


"Habis dari tadi kamu kelihatan gak bersemangat dan manggut-manggut saja ".


"Maaf, hari ini aku capek banget jadi mungkin kelihatan tidak bersemangat. Maaf ya".


"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya. Sebenarnya aku ingin ketemu Raka tapi dia tidur. Lain kali aku main lagi ya".


"Iya, gak pa-pa kok", jawab Kikan.


"Baik, aku pulang dulu ya. Ibumu dan Bobby dimana ?, aku mau pamit".


"Mereka mungkin sedang makan, gak pa-pa nanti aku sampaikan".


"Oke, aku pulang. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam ..", ucap Kikan sambil mengantar Hendy di depan pintu. Dia lalu bergegas masuk ke dalam. Namun, begitu tirai pembatas ruang di buka tampak ibu dan Bobby berdiri berjajar dengan ekspresi kaget.


"Ibu ngapain disini ? Bobby juga ngapain ?. Kalian nguping pembicaraan ku ya ?", tebak Kikan.


"Enggak kok, aku dan Bulik tadi barengan mau keluar terus kamu masuk duluan. Ngapain juga nguping pembicaraan kalian. Bener kan Bulik ?", sergah Bobby.


"Iya, Nduk. Ibu juga ngapain harus curi-curi dengar, sudah gak cocok lagi, bukan zamannya", ucap ibu membela diri.


"Ya sudah kalau gitu, Kikan mau istirahat dulu, capek", sahut Kikan cuek sambil berlalu menuju kamarnya.


"Tuh Bob, kamu denger sendiri kan. Kikan itu susah kalau disuruh pedekate ", ucap ibu begitu Kikan pergi.


"Dulu waktu sama Ranu juga gitu, tapi Bulik tahu kalau Kikan sebenarnya suka cuman jual mahal. Lah ini, kok Kikan kesannya galak banget gitu. Memang Hendy gak pernah cerita apa-apa ke kamu ?", tanya ibu.


"Kapan hari sih Hendy cerita, tiap hari ngirimin Kikan sarapan, makan siang terus bunga juga. Pertama di terima terus lama-lama Kikan tolak dan marah-marah. Malah Kikan minta Hendy menjauhi nya kok, Bulik".


"Masak, Kikan seperti itu ?".


"Iya, tapi tadi Hendy, Bobby tanyain sepertinya mereka kembali seperti awal. Hanya ingin berteman dulu, kalau cocok mungkin bisa lanjut ke tahap berikutnya".


"Oalah Kikan, apalagi sih yang dicari ... Anak itu memang susah banget dari dulu. Ibu lihat sejak SMA kan banyak teman cowoknya yang naksir tapi Kikan selalu gitu kalau gak jutek, judes, ya ketus. Tapi ada satu, seingat Bulik yang sepertinya Kikan juga suka ".


"Siapa Bulik ?", tanya Bobby ingin tahu.


"Bulik lupa namanya, kalau kesini selalu naik motor gede yang buat balapan itu loh. Anaknya ganteng kok seperti keturunan bule gitu. Kikan sepertinya juga suka sama dia cuman sepertinya dia gak sungguh-sungguh jadi Kikan malas menanggapi. Paklik mu juga melarang Kikan berteman dengannya, gara-gara pernah melihat Kikan boncengan sepeda motor dengan anak itu dan kebut-kebutan di jalan. Aduh. .. siapa ya namanya, Bulik kok lupa. Kamu gak ingat toh, Bob ?. Kan kamu dulu satu sekolah dengan Kikan".

__ADS_1


"Maaf Bulik ... Bobby lupa. Habis dulu, waktu SMA Bobby kan sering bolos sekolah kalau gak ya masuk tapi tidur di kelas. Habis lagi kecanduan play station dulu. Hehehe", ucap Bobby sambil nyengir.


"Huh ... dasar kamu Bob !", ucap Ibu sambil memukul tangan Bobby.


__ADS_2