
Hari ini ulang tahun mama dan sejak tadi pagi aku belum mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Padahal biasanya aku selalu rutin mengirimkan bunga dan ucapan selamat ulang tahun untuk mama. Aku merasa ada yang beda tapi aku menikmatinya, lamun Adrian.
"Pak ...., apakah Bapak mempunyai opsi lain untuk permasalahan ini ?", tanya Sari membuyarkan lamunan Adrian.
"Eh ... saya rasa opsi yang nomer dua lebih baik ", ucap Adrian gugup. Baru kali ini ia memimpin meeting dengan pikiran kosong.
"Tapi Pak, tadi Pak Budi sudah menjelaskan kesulitan menggunakan opsi kedua tersebut ", ucap Sari lagi. Kini Adrian terdiam, ia pandangi satu persatu peserta meeting pagi ini.
"Maafkan saya, hari ini konsentrasi saya sedikit terganggu. Kita break dulu, nanti selesai makan siang kita lanjut lagi ", ucap Adrian sambil bangkit dan berlalu meninggalkan ruang meeting.
"Ada apa dengan Pak Adrian ? tidak biasanya beliau seperti itu ", kata Pak Budi.
"Entahlah, Pak Adrian akhir-akhir ini sering melamun kerjanya. Kadang juga lupa menandatangani berkas yang sudah ku siapkan. Sepertinya sedang ada masalah tapi saya tidak berani menanyakannya ", ucap Sari.
"Jangan, Sar. Jangan kau tanyakan, beliau pasti tidak enak kalau membicarakan masalahnya dengan bawahan apalagi kalau masalah pribadi. Lebih baik kau ingatkan saja kalau dia sedang melamun supaya konsentrasi lagi seperti tadi ", ucap Pak Budi. Sari hanya mengangguk setuju.
Adrian menghempaskan dirinya di kursi kerjanya, ia memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing. Bayangan mama, Tania, acara pertunangan, Kikan dan Raka silih berganti berseliweran di benaknya.
Apa yang harus kulakukan sekarang, semuanya bagai buah simalakama dan aku benar-benar pusing. Aku tidak ingin menyakiti mereka semua tapi ini benar-benar membingungkan, gumam Adrian.
Tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk dari Julian, kakaknya.
"Halo ", sapa Adrian di telepon.
"Ian ..., kamu nanti datang ke pesta Mama kan ?", tanya Julian langsung.
"Eh, entahlah Kak. Aku ada janji dengan klien hari ini ", bohong Adrian.
"Ayolah Adrian, masak gak bisa kamu tunda. Ini hari spesial Mama dan kamu harus datang. Beliau pasti mengharapkan kedatanganmu ", ucap Julian merayu.
"Aku gak tahu, Kak ".
"Kamu masih marah dengan Mama ?", tanya Julian tapi Adrian hanya terdiam.
"Setidaknya kamu ucapkan selamat ulang tahun untuk Mama. Walaupun Mama bersalah padamu, ia tetap Mama kita dan tidak ada yang bisa menggantikannya ".
"Iya, Kak ", jawab Adrian pelan.
"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu kedatanganmu. Aku kirim alamat restonya ya !", ucap Julian lagi.
__ADS_1
"Iya, Kak", ucap Adrian sebelum menutup teleponnya.
Mungkin aku harus datang nanti, apa aku akan mengajak Kikan ?. Tapi aku takut dia tidak nyaman mengingat hubunganku dengan mama agak renggang. Aku takut Kikan akan sedih dan mendengar kabar pertunanganku dengan Tania malahan. Ah, lebih baik aku datang sendiri saja. Tapi, entahlah lihat saja nanti, pikir Adrian.
Akhirnya hari ini Adrian pulang larut malam, karena banyak pekerjaan yang sering ditunda akibat pikirannya yang tidak fokus akhir-akhir ini. Ia hempaskan tubuhnya di kasurnya, ia capek sekali padahal tadi ia sudah janji ke Kikan akan mampir ke rumahnya tapi rasa capek dan lelah telah mengalahkannya.
Sebuah SMS masuk dari Julian menanyakan keberadaan Adrian dan kepastian kehadirannya. Adrian membaca sekilas tanpa membalasnya. Sesungguhnya ia malas untuk hadir tapi entah apa yang menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, mandi dan bersiap-siap ke pesta Mama.
Adrian sudah sejak satu jam yang lalu berdiam di dalam mobilnya yang terparkir di sebuah resto bintang lima tempat ulang tahun mamanya. Hilir mudik undangan yang datang keluar masuk dari tempat itu. Adrian tidak berniat keluar dari mobilnya, ia hanya ingin mengamati pesta Mama. Hingga akhirnya hilir mudik tamu sudah sepi dan hanya tinggal beberapa mobil saja yang berada di parkiran.
"Kamu tidak masuk ?", tanya Julian sambil mengetuk kaca mobil Adrian.
"Kakak tahu aku disini ?", tanya Adrian begitu kaca mobilnya dibuka.
"Ya .... aku tahu sejak satu jam yang lalu ".
"Ayo .. masuk ! Mama sudah menunggumu ", ucap Julian sambil menarik lengan Adrian.
"Tapi ... Kak ....", protes Adrian.
"Sudahlah ... ayo aku temani ". Adrian akhirnya mengalah, keluar dari mobilnya dan mulai berjalan menjejeri Julian.
Mereka sampai di tempat pesta, suasana sudah sepi hanya ada beberapa kerabat dan tamu saja yang masih tinggal. Tampak sosok mama berdiri membelakangi Adrian sedang sibuk berbicara dengan seorang tamu.
"Ma .... ada yang ingin bertemu ", ucap Julian. Mama segera menoleh dan betapa terkejutnya mama melihat Adrian, anak kesayangannya datang.
"Adrian .... ", ucap mama sambil berkaca-kaca.
"Selamat ulang tahun, Ma ", ucap Adrian sambil mengulurkan tangannya. Namun mama tidak menjabat tangan Adrian melainkan menariknya ke dalam pelukan mama.
"Akhirnya kamu datang, Mama kangen, Nak ", ucap mama sambil mengelus punggung Adrian. Adrian terdiam, ia juga benar-benar merindukan mama.
"Kamu sudah makan ? ada soto Betawi kesukaanmu ", ucap mama lagi. Adrian hanya mengangguk. Julian dan papa yang berdiri tak jauh dari tempat Adrian hanya tersenyum memandang mereka.
"Apa kabarmu, Ian ? kamu baik-baik saja kan ?", tanya mama lagi. Adrian hanya mengangguk, ia sulit dan bingung untuk mengeluarkan kata-kata. Ia merasa bersalah mengingat terakhir kali pertemuan dengan mamanya.
"Ya sudah ... kalau begitu kamu makan dulu ya. Ayo, sini Mama ambilkan !".
"Gak usah Ma, aku ambil sendiri saja ", ucap Adrian gugup. Adrian segera bangkit dan berjalan ke meja prasmanan untuk mengambil makanan. Mama hanya tersenyum memandang Adrian dari belakang.
__ADS_1
"Terima kasih kamu sudah datang, Adrian ", ucap papa yang sudah berdiri di samping Adrian.
"Iya, Pa ", ucap Adrian sambil meneruskan mengambil makanan.
Adrian kini makan sambil ditemani mama yang sedari tadi memandanginya. Adrian jadi serba salah, gugup dan salah tingkah.
"Ma .... berhentilah memandangiku. Aku tidak kemana-mana kok !", ucap Adrian akhirnya. Mama tersenyum mendengarnya.
"Kamu tetap Adrian yang sama ya ?. Mama benar-benar merindukanmu. Apa kamu tidak akan menginap di rumah nanti ?", tanya mama lagi.
"Maaf, Ma lain kali saja ", ucap Adrian sopan.
"Baiklah, terserah kamu. Melihat kamu datang saja, Mama sudah senang ", kata mama masih dengan tersenyum.
"Aku ke toilet dulu ya, Ma ", pamit Adrian setelah makannya selesai. Mama mengangguk mengiyakan.
Adrian sedikit lega akhirnya mama kembali seperti dulu, beliau tidak sedikit pun membahas soal pertunangannya dengan Tania. Ah, andai saja mama tetap seperti ini, pikirnya. Adrian bergegas keluar ingin menemui mama lagi. Namun tiba-tiba dari belakang sepasang tangan sudah memeluk pinggangnya mesra. Adrian kaget, bukankah yang mempunyai kebiasaan seperti ini Kikan. Tapi mana mungkin Kikan disini. Adrian menoleh cepat.
"Aku kangen kamu, Adrian !", ucap suara yang tak lain Tania. Kini dia sudah menyandarkan kepalanya di punggung Adrian.
"Tania ! kamu apa-apaan sih ?", ucap Adrian sambil mencoba melepas pelukan Tania.
"Gak mau, aku kangen kamu. Baumu juga enak, aku suka ", ucap Tania sambil mencium punggung Adrian. Adrian semakin kuat berontak, akhirnya Tania menyerah dan melepaskan pelukannya.
"Ih ... Adrian galak tapi aku suka. Kamu kemana saja sih ? Aku terpaksa harus menuruti mamamu untuk tidak menemuimu selama setahun agar kamu tetap mau menyetujui pertunangan kita. Tapi, rasanya aku tidak sabar harus menunggu setahun. Untung tadi aku datang terlambat ke pesta mamamu jadi aku beruntung bisa bertemu kamu ", kata Tania kini sambil bergelayut di lengan Adrian.
"Kamu bisa gak nyentuh aku kan ? itu termasuk perjanjiannya loh ", ucap Adrian ketus sambil menarik lengannya. Tania tampak cemberut.
"Huh ... pacar macam apa sih kamu ? dipeluk gak boleh, dipegang tangan gak boleh terus bolehnya apa ?", tanya Tania sambil cemberut.
"Kalau gak boleh ya gak boleh, lagian siapa juga yang mau pacaran sama kamu ", ucap Adrian kesal.
"Oh iya, kita kan gak pacaran tapi tunangan berarti mau nikah ya ?", tanyanya lagi.
"Gak, apalagi itu, aku gak mau ", ucap Adrian sambil berlalu.
"Eh, tunggu Adrian. Aku masih kangen kamu ",seru Tania memanggil tapi Adrian sudah pergi berlalu.
Aku harus segera meninggalkan tempat ini, pikir Adrian.
__ADS_1