
Sudah hampir tiga bulan lebih Kikan menikah dengan Adrian. Kini mereka tinggal di sebuah perumahan dekat dengan butik Kikan. Adrian tidak ingin Kikan bekerja terlalu jauh dari rumah. Ia tidak ingin Kikan terlalu capek dan akhirnya kelelahan. Ia lebih rela Kikan kelelahan karena melayaninya daripada kelelahan bekerja.
"Kamu sekalian bareng aku kan, Sayang ?", tanya Adrian. Kikan mengangguk sambil sibuk menyiapkan sarapan untuk Raka dan Adrian.
"Raka ... ayo sarapan dulu, Sayang !", ucap Kikan sambil memanggil Raka yang sibuk di kamarnya. Kini Raka sudah masuk SD namun tingkahnya tetap menggemaskan.
"Kenapa ini anak Papa, pagi-pagi kok sudah cemberut ?", tanya Adrian begitu melihat tampang Raka yang cemberut sudah duduk di sampingnya.
"Laka kesel sama Mama Papa, katanya mau ngasih Laka adik tapi buktinya mana sampai sekalang belum ada ", protes Raka. Adrian dan Kikan tersenyum mendengar ucapan Raka.
"Sayang ... jangan marah dong. Harusnya Raka berdoa ke Tuhan, minta sama Tuhan biar cepat dikasih adik ya ?", ucap Adrian lembut sambil membelai rambut Raka. Raka hanya mengangguk, Kikan tersenyum melihatnya.
"Raka pulang jam berapa ? nanti Mama jemput ya ?", ucap Kikan.
"Gak usah, Sayang ... biar aku saja. Kamu kan gak boleh capek ", ucap Adrian.
"Tapi kamu kan banyak kerjaan hari ini. Katamu ada janji bertemu klien penting nanti siang. Aku bisa kok jemput Raka ".
"Gak boleh ya gak boleh. Biar aku saja yang jemput ", ucap Adrian sedikit keras.
Sejak menikah Adrian memang jadi sedikit straight padanya. Ini gak boleh, itu gak boleh harus selalu bersama dia. Kikan senang juga sih, ia merasa dimanjakan oleh Adrian tapi kadang-kadang ia juga ingin sedikit longgar.
"Kenapa sih kok cemberut juga kayak Raka ?", tanya Adrian ke Kikan di mobil usai menurunkan Raka di sekolahnya.
"Habis kamu nyebelin banget, gini gak boleh, gitu gak boleh kan capek akunya ", cetus Kikan kesal. Adrian hanya tersenyum melihat istrinya yang sedang cemberut.
"Terus kamu lagi ingin apa sih ?", tanya Adrian lagi. Kikan diam, bingung juga ia harus menjawab apa.
"Gak tahu, bingung mau apa ", jawab Kikan asal membuat Adrian tertawa dan mencubit pipinya.
"Aduh .... sakit, Sayang ", pekik Kikan kesal.
__ADS_1
"Habis kamu gemesin jadi malas ngantor aku, balik pulang yuk kita di kamar saja ", ucap Adrian sambil mulai memutar balik mobilnya.
"Eh ... jangan ... aku ada janji dengan customer hari ini. Nanti saja ngamarnya habis pulang kantor ya ?", ucap Kikan sambil mengelus lengan Adrian. Adrian kembali tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk kembali pulang.
Akhirnya Kikan sampai di butiknya, setelah memberi banyak pesan ke Kikan, Adrian kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor. Kikan hanya geleng-geleng melihat kelakuan suaminya satu itu.
"Pagi Mbak ", sapa Amel sambil tersenyum.
"Pagi Mel, kamu ceria sekali hari ini ?", sapa Kikan yang langsung berlalu menuju ruangannya di lantai dua. Perasaan, Mbak Kikan deh yang makin ceria, batin Amel.
Kikan segera duduk di kursi kerjanya segera membuka laptop dan beberapa buku sketsanya. Baru saja ia akan mulai bekerja, tiba-tiba perutnya terasa enek dan ingin muntah. Kikan segera berlari ke toilet di seberang ruangannya. Sesampainya di sana, ia memuntahkan semua sarapannya tadi pagi.
Aku kenapa ya ?, perasaan aku tadi gak salah makan deh. Tapi kenapa perutku rasanya dikocok-kocok begini ingin muntah terus.
Lagi-lagi Kikan memuntahkan isi perutnya, kini ia benar-benar terasa lemas. Hampir semua makanan yang ada di perutnya sudah terkuras keluar semua.
Kikan terduduk lemas di kursinya kini. Ia sibuk mengamati kalender, dua hari lagi ulang tahun Adrian. Ia ingin memberi kejutan untuk Adrian tapi apa ya. Tiba-tiba perutnya bereaksi lagi dan ingin muntah kembali. Kikan kembali berlari ke toilet dan memuntahkan cairan saja karena semua isi makanannya sudah keluar tadi.
Aku kenapa sih ?. Apa jangan-jangan aku hamil ?, pikir Kikan. Ia bergegas bangkit dan berlari ke ruangannya kemudian melihat kalender. Ini sudah tanggal 20, harusnya aku datang bulan tanggal 5. Ini sudah telat hampir dua minggu, apa benar aku hamil ?, pikir Kikan lagi.
"Mungkin aku harus mengeceknya ", gumam Kikan bergegas ke toilet lagi sambil membawa testpack. Kikan menunggu agak lama di toilet, ia sudah pernah melakukannya jadi dia tahu bagaimana caranya.
Kikan menunggu dengan sabar, sampai akhirnya dua garis merah yang berangsur biru itu tampak di alat testpacknya. Kikan tersenyum kegirangan, Adrian dan Raka pasti senang begitu tahu tentang ini. Akhirnya Kikan mempunyai ide untuk ulang tahun Adrian.
**********
Besok ulang tahun Adrian dan Kikan ingin memberi kejutan untuknya nanti tepat tengah malam. Sehabis makan malam tadi, Adrian langsung masuk kamar dan tertidur sepertinya dia kecapekan. Kikan tersenyum mengamati wajah suaminya yang masih imut meski sudah kepala tiga.
Dengan perlahan, Kikan menyiapkan segalanya termasuk mengundang keluarganya. Mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah. Kini tinggal Kikan membangunkan Adrian, sudah hampir tengah malam.
"Sayang, sayang ... bangun dong, aku kepingin nih ", ucap Kikan berbohong sambil mengguncang lengan Adrian. Namun Adrian masih tertidur, sepertinya ia mengantuk sekali.
__ADS_1
"Sayang ... bangun dong !", ucap Kikan lagi. Ia tidak mau kejutannya gagal hanya gara-gara Adrian susah bangun. Lalu akhirnya Kikan mempunyai ide untuk membangunkan suaminya. Kikan mendekatkan wajahnya ke wajah Adrian yang sedang tertidur lalu Kikan mencium bibir Adrian sedikit bernafsu supaya dia cepat bangun. Benar saja, baru beberapa saat Kikan mencium, Adrian sudah membuka matanya dan menarik Kikan untuk tidur di sampingnya.
"Eh eh eh ... tunggu, nanti dulu. Ayo, bangun dulu !", ucap Kikan sambil menarik lengan Adrian.
"Ada apa sih, aku ngantuk sekali ", ucap Adrian sambil mengucek matanya. Kikan terus menarik lengan Adrian hingga dia terbangun.
"Sebentar saja, ikut aku ya !", ucap Kikan sambil mulai menuntun Adrian yang terus menguap.
"Kamu mau ngapain .. hoam ... aku masih ngantuk .. hoam ", ucap Adrian sambil setengah terpejam berjalan dituntun Kikan.
"Supraise !!!! ", teriak mama, papa, ayah, ibu, Raka, Julian, Tanti dan putrinya memberi kejutan begitu Adrian sudah di ruang tengah. Lalu tak berapa lama terdengar musik selamat ulang tahun mengalun dengan Kikan membawakan kue. Adrian tersenyum dan sudah benar-benar terjaga melihat keluarganya berkumpul disini.
"Selamat ulang tahun, Suamiku ", ucap Kikan sambil membawakan kue tart mendekat ke Adrian dan meminta untuk meniup lilinnya. Adrian menurut kemudian meniup lilin, memotong kue dan memberikan potongan pertama untuk Kikan.
"Terima kasih, Mama, Papa, Ayah, Ibu, Kak Julian dan Kak Tanti sudah mau datang. Ini pasti Kikan yang merencanakan ", ucap Adrian sambil tersenyum menatap istrinya.
"Selamat ulang tahun ya Adrian ... ", ucap mama yang akhirnya bergantian satu persatu dari mereka memberi ucapan selamat ke Adrian.
"Kamu belum membuka kadomu, Sayang ... ", ucap Kikan sambil menunjuk sebuah kado terbungkus kertas kado warna merah menyala dengan hiasan banyak pita.
"Kamu membelikan aku kado ? kenapa harus repot-repot sih. Kamu itu sudah kado terindah untukku ", ucap Adrian sambil mencium kening Kikan.
"Kamu buka dulu ya ?", ucap Kikan sambil menyodorkan kado warna merah itu. Adrian menerimanya lalu membukanya. Kado itu berukuran sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Adrian sudah membukanya ternyata isinya kotak kosong yang berisi kado yang berukuran lebih kecil dari sebelumnya. Kemudian Adrian membuka lagi dan isinya masih sama sampai beberapa kali Adrian membuka kado selalu ada kotak yang lebih kecil dari sebelumnya.
"Kamu ngerjain aku ya, Sayang ..", ucap Adrian sambil terus membuka kado. Kikan hanya tersenyum melihatnya.
Sampai akhirnya Adrian menemukan kotak yang sangat kecil, mungkin yang paling terakhir.
"Sudah ya ... ini yang terakhir ", ucap Adrian sambil membuka kota kecil itu. Adrian terkejut begitu melihat isi di kotak kecil itu. Ada sebuah testpack dengan dua garis biru.
"Kamu hamil ...., Sayang ?", tanya Adrian kini membuat semua yang hadir di situ ikut terkejut. Kikan tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
"Wah ... selamat ya Kikan, Adrian !", kembali suasana menjadi ramai karena ucapan selamat dari yang hadir di situ untuk Kikan dan Adrian.
"Terima kasih ya .... ini bener-bener kado yang paling kunanti dan paling indah ", ucap Adrian sambil mengelus perut Kikan dan mencium lembut bibirnya.