Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Sabar ya Kikan


__ADS_3

"Kamu kuliah sampai jam berapa nanti ?", tanya Ranu begitu mereka sudah sampe di kampus.


"Jam 1an Mas ", jawab Kikan.


"Aku jemput ya, pas aku istirahat makan siang itu. Kamu tunggu disini ya, nanti aku telepon". Kikan mengangguk dan mencoba melepas helmnya.


"Sini Mas bukain ", ucap Ranu begitu melihat Kikan kesulitan membuka pengait helm.


Kikan segera mendekat dan segera Ranu membuka pengaitnya dengan mudah. Saat mereka masih berdekatan, tiba-tiba Ranu makin mendekatkan kepalanya ke arah Kikan. Kikan langsung kaget dan melotot. Ranu hanya tersenyum melihat tingkah Kikan.


"Masih pagi Mas, lagian ini di parkiran, malu", ucap Kikan akhirnya.


"Emangnya malu kenapa ? aku gak ngapa-ngapain loh. Aku cuman pengen mandang wajahmu aja kok, soalnya berangkat dari rumah tadi senyummu gak pernah hilang. Kamu lagi seneng banget ya ?", tanya Ranu selidik.


"Apaan sih mas Ranu ?. Ya, tentu saja aku seneng dong pagi-pagi sudah dianterin kamu".


"Tapi biasanya kan juga gitu, aku antar jemput kamu kuliah setiap hari hanya seminggu kemarin aja aku absen. Tapi kok hari ini rasanya beda, kamu seneng banget. Apa sih yang bikin kamu kayak gini ?".

__ADS_1


"Ihhh.... Mas Ranu ada-ada aja deh. Sudah, aku mau masuk nih nanti telat", ucap Kikan sambil segera berlalu.


"Tunggu .... ", ucap Ranu sambil menarik lengan Kikan.


"Jangan-jangan kamu dengar percakapan ku dengan Ayah tadi ya, soal kapan Mami dan Papi akan datang ke rumah mu untuk melamarmu ?. Iya kan ?".


"Akh ....", Kikan hanya menutup wajahnya, menutup rona merah di pipinya dan gemuruh di dadanya yang naik turun kegirangan.


"Kamu bener-bener menantikan saat itu ya ?". Kikan hanya mengangguk sambil masih menutup wajahnya.


"Aku juga sudah lama menantikan saat ini Sayang", ucap Ranu sambil perlahan menarik tangan Kikan dari wajahnya.


"Iya Mas, aku akan bersabar menanti kok".


"Ya sudah, kalau gitu cepat kelarin kuliahmu, cepat wisuda dan lalu nikah". Kikan tersenyum.


"Aku berangkat dulu ya, nanti aku telepon saat otw kesini". Kikan mengangguk lagi.

__ADS_1


"Hati - hati ya Mas !", ucap Kikan sambil melambaikan tangan ke Ranu.


Kikan bergegas berjalan menelusuri taman begitu Ranu sudah berlalu.


"Eh, ada yang ngebet mo nikah nih", tiba-tiba Bobby sudah nyeletuk di sebelah Kikan. Duh, nih anak tau darimana sih.


"Sst... jangan berisik, jangan reseh loh. Emang kata siapa ?", kata Kikan balik nanya.


"Tadi pagi - pagi Bulik nelpon, ngundang Ayah dan Ibu untuk datang ke rumah mu hari minggu akhir bulan ini, katanya acara lamaran kamu. Bener ya ?". Oh iya, Kikan lupa kalo ayah Bobby itu kakak ibunya ya tentu saja ibunya menelpon ayah Bobby.


"Hei ... bener gak ?", kata Bobby lagi sambil menyikut Kikan.


"Iya, iya bener tapi aku dan Ranu masih tunangan bukan nikah Bob".


"Yeiii... kan sama aja, nanti akhirnya nikah. Kok bisa-bisanya aku diserobot duluan padahal aku kan abang, masak kalah sama adik." Kikan hanya diam mendengar ocehan Bobby yang ngaco itu.


"Udah Bob, aku ada kuliah pagi. Aku duluan ya", pamit Kikan sambil sedikit berlari menuju kelasnya.

__ADS_1


"Hei .... aku kan belum selesai nanya kok ditinggal sih. Kikan ...!" panggil Bobby tapi Kikan tidak perduli karena dia sudah terlambat masuk kelas.


__ADS_2