Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Mobil mogok


__ADS_3

Siang ini jalanan macet sekali, sinar matahari juga sangat terik membuat semua orang yang di jalanan menggeliat kepanasan. Kikan sedang asyik di dalam mobilnya, dengan menyalakan AC dan memutar musik sedikit kepenatan akan kemacetan mulai sirna. Mobil Kikan mulai melaju lagi setelah menunggu lampu hijau menyala. Untung, dia berangkat pagi hari ini sehingga menjelang siang pekerjaannya sudah selesai semua.


"Huh ... aku laper banget, aku makan siang apa ya hari ini ?", gumam Kikan sendiri.


"Hem .... makan ikan bakar enak nih kayaknya", gumam Kikan lagi. Akhirnya Kikan mulai mengemudikan mobilnya menuju warung ikan bakar langganannya yang tak jauh dari tempatnya sekarang.


Kikan segera memarkir mobilnya begitu melihat warung langganannya di pinggir jalan. Lumayan ramai sih, pikirnya. Tapi karena perutnya sudah sangat lapar, Kikan tidak mengurungkan niatnya untuk mampir.


Setelah memarkir mobil, Kikan berjalan masuk ke warung ikan bakar. Suasana warung itu sedikit ramai, mungkin karena jam makan siang jadi banyak orang yang ingin makan siang di sini seperti dirinya. Kikan terus berjalan masuk mencoba mencari tempat yang kosong. Warung ikan bakar ini namanya saja yang warung tapi sesungguhnya ini seperti restoran. Ada banyak tempat lesehan di atas kolam ikan, ada juga aula untuk pertemuan, mereka juga menyediakan tempat dengan meja kursi lengkap bila tidak menginginkan lesehan. Kikan akhirnya menemukan tempat lesehan yang hanya bisa diisi dua orang. Ia beruntung banyak orang yang datang rombongan sehingga tempat itu kosong. Kikan segera duduk dan memanggil pelayan.


"Mau pesan apa, Mbak ?", tanya pelayan yang sudah menghampiri Kikan.


"Saya pesan ikan bawal bakar, tumis kangkung, sambal terasi, es kelapa muda, nasinya 1 piring saja", jawab Kikan. Air liurnya sudah netes dari tadi menahan lapar.


"Baik, Mbak, ditunggu sebentar ya ?", ucap pelayan itu segera berlalu. Kikan hanya mengangguk. Ia lalu menyandarkan kepalanya ke bilik bambu yang jadi penyekat tempat lesehan ini. Kemudian Kikan mengambil ponselnya, ia mengecek tidak ada WA dari anak-anak, coba aku telpon saja.


"Halo, Mel ... gimana ada masalah gak di toko ?", tanya Kikan ke Amel begitu ponselnya sudah terhubung.


""Aman kok, Mbak", jawab Amel.


"Ya, sudah kalau gitu. Aku capek habis kena macet, jadi istirahat bentar untuk makan siang. Kalian sudah makan ?", tanya Kikan lagi.


"Sudah, Mbak, barusan saja selesai ", ucap Amel lagi.


"Oh ya sudah kalau gitu, setelah makan aku langsung balik ke ruko. Sudah dulu ya, Mel", ucap Kikan mengakhiri teleponnya.


"Iya Mbak".


Pesanan Kikan datang, tepat setelah Kikan menutup ponselnya. Segera saja ia menyantap pesanannya, perutnya sudah bernyanyi rock dari tadi. Kikan terus asyik makan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ada beberapa rombongan karyawan kantor yang sudah datang lebih dulu dari Kikan dan ada seseorang yang memperhatikan Kikan terus sejak ia datang.


"Pak Hendy, kami balik kantor dulu ya ?. Terima kasih atas jamuan nya", ucap seorang karyawan mengagetkan lamunan Hendy.


"Iya ..., saya juga mau balik. Tapi, saya harus menyapa seseorang dulu", ucap Hendy.


"Baik ,Pak, kalau begitu kami permisi dulu ", pamit mereka. Hendy hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Setelah kepergian anak buahnya, Hendy segera beranjak berjalan menuju ke tempat Kikan makan.


"Waduh ... sedang asyik sendiri nih !", seru Hendy mengagetkan Kikan yang sedang asyik menyeruput es kelapa mudanya. Kikan mendongak kaget dan mendapati sosok Hendy yang sedang tersenyum di hadapannya.


"Boleh duduk?", tanya Hendy kini. Kikan hanya mengangguk, mulutnya masih penuh dengan kelapa muda.


"Kamu darimana ?", tanya Hendy lagi.


"Tadi habis ngantar pesanan orang, terus mampir belanja kain terus kelaparan dan makan disini", jelas Kikan. Hendy hanya tersenyum melihatnya.


"Kamu sendiri ? ngapain disini ?", tanya Kikan curiga.


"Aku tadi barusan makan siang sekalian meeting. Ini barusan selesai dan mau balik juga".


"Terus kenapa gak balik kantor ? kenapa masih disini ?", kata Kikan ketus.


"Kamu ngusir aku ya ?", tanya Hendy. Kikan hanya diam masih sibuk dengan es kelapa mudanya.


"Habis ini kemana ?", tanya Hendy.


"Pulang", jawab Kikan singkat. Hendy hanya diam, dia sudah paham sikap jutek Kikan.


"Aku bawa mobil kok". Hendy kembali menelan ludah mendengar jawaban Kikan.


"Ya sudah kalau gitu, aku balik dulu ya !", ucap Hendy akhirnya mengalah sambil beranjak pergi.


"Tunggu !", sahut Kikan. Hendy menoleh cepat.


"Tolong, jangan bayari makananku. Biar aku saja", ucap Kikan lagi membuat Hendy makin ciut. Hendy hanya mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Kikan.


Kikan segera menghabiskan minumannya dan bergegas menuju kasir. Ia bergegas masuk mobil, ia ingin cepat pulang, ia sangat capek hari ini. Kikan mulai menstater mobilnya namun gagal, Kikan mengulangi lagi dan gagal lagi. Kenapa nih mobil, padahal tadi gak pa-pa, pikir Kikan. Kikan segera keluar dari mobilnya, mencoba membuka kap mobilnya. Meskipun ia tidak mengerti mesin mobil, Kikan berusaha mengutak-atik lalu kembali ke belakang kemudi mencoba menstater tapi gagal lagi.


"Kenapa, Mbak ? mobilnya mogok ?", tanya tukang parkir yang dari tadi memperhatikannya.


"Gak tau mas, padahal tadi gak pa-pa. Bengkel daerah sini ada gak ?", kata Kikan.

__ADS_1


"Waduh ... gak ada bengkel Mbak, daerah sini", jawab tukang parkir itu.


"Waduh ... gimana ya ?. Ya, sudah saya coba telpon mobil derek saja", ucap Kikan sambil mengeluarkan ponselnya. Tapi, ponselnya mati baterainya habis, tadi selesai menelpon Amel, Kikan lupa kalau low bat ponselnya.


"Kamu belum pulang ?", sapa Hendy tiba-tiba. Untuk pertama kalinya Kikan senang sekali mendengar suara Hendy.


"Eh ... belum ", jawab Kikan.


"Ya sudah, aku duluan ya !", pamit Hendy.


"Tunggu ... Hen !", seru Kikan. Hendy menoleh.


"Aku boleh bareng gak ?", tanya Kikan lagi membuat Hendy kaget.


"Mobilku mogok, tiba-tiba gak mau di stater ", ucap Kikan menjawab kebingungan Hendy.


"Oh, Ok. Terus mobilmu ?", tanya Hendy.


"Boleh pinjam ponselmu ?, aku mau telpon mobil derek saja, hpku mati ", ucap Kikan gugup. Hendy tersenyum melihat tingkah Kikan.


"Boleh kok, nih !", ucap Hendy sambil menyerahkan ponselnya. Kikan segera menerima ponsel Hendy dan menelpon mobil derek untuk membawa mobilnya di bengkel langganan. Setelah memindahkan barang belanjaannya ke mobil Hendy, Kikan segera masuk ke mobil Hendy.


"Kok duduk di belakang ?. Aku bukan sopir mu loh", ucap Hendy begitu tahu Kikan duduk di kursi belakang. Dengan cemberut, Kikan pindah duduk ke depan samping Hendy.


"Mau pulang ke ruko atau ke rumah ?", tanya Hendy kemudian.


"Ke ruko saja, belanjaan ku itu harus di taruh di ruko", jawab Kikan.


"Terus kamu pulangnya gimana ?", tanya Hendy lagi membuat Kikan menoleh cepat dan menatap nya.


"Kenapa ? Boleh aku antar pulang ?", tanya Hendy lagi sambil tersenyum.


"Gak, aku naik taksi saja".


"Baiklah, tapi siang sampai sore ini aku nganggur kok", ucap Hendy masih dengan tersenyum.

__ADS_1


"Gak, terima kasih ", ucap Kikan singkat. Kini dirinya sibuk menatap jalanan lewat jendela di sampingnya. Ia malas sekali memulai pembicaraan dengan Hendy. Andai bukan karena mobilnya mogok, Kikan juga gak bakalan mau bareng dengan Hendy.


Hendy hanya tersenyum menatap Kikan, ia bersyukur menuruti kemauan bawahannya untuk meeting sekalian makan siang di tempat tadi. Kalau tidak, pasti dia gak akan seberuntung hari ini. Meskipun harus menerima kejutekan Kikan, tapi aku suka setiap berada di sampingnya, gumam Hendy dalam hati.


__ADS_2