
Hari sudah pagi tapi matahari belum muncul atau menampakkan sinar panasnya. Sepertinya akan turun hujan hari ini karena sudah sejak tadi malam mendung bergantung. Kikan masih berdiam di kamarnya. Wajahnya tampak kuyu dengan bekas make up yang belum sempat di hapus. Semalam Kikan datang sangat larut. Ia sangat kacau akibat kata-kata Tante Ratih yang begitu menusuk hatinya. Kemarin setelah pulang dari pesta ibu Hendy, Kikan mampir ke rumah kayu. Dia mencurahkan segala keluh kesahnya, dia menangis sampai membuat Mang Ujang dan Bi Ijah kebingungan. Setelah puas menangis, Kikan lalu pulang. Untung saja semalam ibunya sudah tidur jadi Kikan tidak bingung memberikan jawaban.
"Nduk .... kamu sudah bangun, ayo sarapan ?", ketuk ibu di pintu.
"Iya Bu, Kikan mandi dulu", ucap Kikan sambil bergegas masuk kamar mandi. Ia ingin melupakan kata-kata Tante Ratih yang bagai menusuk hati itu. Baru kali ini ia bertemu orang yang tidak punya perasaan seperti dia, pikir Kikan.
"Kamu pulang jam berapa semalam ? Ibu ketiduran menunggumu", ucap ibu begitu Kikan sudah bergabung sarapan.
"Jam setengah 12, Bu. Maaf, kemarin Kikan mampir ke rumah kayu sebentar. Kikan kangen ingin kesana", ucap Kikan.
"Oh ya, sudah. Terus pestanya bagaimana ? meriah ?", tanya ibu lagi. Kikan hanya mengangguk sambil sibuk menyuapi Raka yang duduk di sampingnya.
"Hari ini kamu ke ruko jam berapa ?".
"Habis ini kok, Bu. Gara-gara mendung, Kikan agak terlambat bangun tadi", jelas Kikan.
"Ibu pikir kamu libur lagi hari ini". Kikan menggeleng sambil tersenyum.
Ting tong , bunyi bel rumah.
"Siapa pagi-pagi begini bertamu ?. Kamu teruskan sarapan biar Ibu bukakan pintu", kata ibu sambil beranjak bangkit. Kikan hanya mengangguk saja sambil terus sibuk menyuapi Raka yang mulai lahap makannya.
"Kikan ... ada Hendy, dia ingin bertemu kamu katanya", ucap ibu tergopoh-gopoh menghampiri Kikan. Dengan malas Kikan bangkit dari kursinya, ada apa lagi Hendy kesini, pikirnya.
"Selamat pagi, Kikan !", sapa Hendy begitu Kikan keluar. Kikan hanya diam lalu duduk di kursi sebelah Hendy.
"Ada apa ?", tanya Kikan.
"Aku mau minta maaf atas perkataan Tanteku padamu kemarin. Aku akhirnya tahu alasan kamu menangis kemarin. Maafkan aku ya", ucap Hendy.
"Sudahlah Hen, aku sudah gak pa-pa kok. Memang semua yang diucapkan Tante mu itu benar. Aku sudah memaafkannya".
"Jadi kita masih berteman kan ?".
__ADS_1
"Untuk itu aku tidak tahu Hen. Aku masih dan selalu menganggap mu teman tapi bagaimana dengan Ibumu, Tante mu. Apa mereka mengijinkan kamu berteman denganku ?".
"Aku sudah dewasa, Kikan. Aku punya kebebasan untuk memilih siapa saja temanku. Jadi kamu jangan kuatir ya ?. Oh ya, ini !", ucap Hendy sambil menyerahkan buket mawar merah.
"Apa ini ?", tanya Kikan bingung.
"Tanda permintaan maaf ku padamu, diterima ya ?", ucap Hendy kini sambil tersenyum. Dengan terpaksa Kikan menerima buket bunga itu.
"Ya sudah, kalau gitu aku pamit dulu ya. Aku ada meeting pagi. Kamu tidak ke ruko ?".
"Ya habis ini, aku berangkat".
"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya ?", pamit Hendy. Kikan mengangguk dan segera bangkit mengantar Hendy sampai pintu.
"Ada apa Nduk, kok Hendy pagi-pagi kemari ?", tanya ibu ingin tahu.
"Gak ada apa-apa kok Bu", jawab Kikan santai sambil melanjutkan sarapannya. Raka sudah selesai makan dan sekarang sibuk bermain mobil-mobilan.
"Kok kamu dikasih Hendy bunga, Nduk ?", tanya ibu lagi sambil membawa buket bunga mawar ke meja makan.
"Wah .... ternyata romantis juga ya. Dulu ibu kok gak pernah ya dikasih ayah bunga ". Kikan hanya meringis mendengarnya.
********
"Pagi, Mbak. Amel pikir Mbak Kikan gak masuk", sapa Amel begitu Kikan sampai di ruko.
"Maunya sih gitu, habis cuaca mendung gini paling enak kalau tidur lagi. Tapi, banyak pesanan pelanggan yang harus aku kerjakan", ucap Kikan.
"Iya Mbak, Amel juga mau ngingetin tadi ada telepon dari Bu Siska menanyakan tentang bajunya, udah jadi belum".
"Terus kamu bilang apa ?", tanya Kikan.
"Ya ... Amel bilang belum jadi Mbak. Kan Bu Siska baru order kemarin masak sekarang harus jadi. Amel bilang maksimal selesai dalam dua Minggu gitu, Mbak".
__ADS_1
"Ya udah, pinter ", jawab Kikan sambil tersenyum.
"Oh ya, Rika mana ?", tanya Kikan lagi.
"Di atas Mbak, bantuin Ida dan Yenni masang kancing tadi katanya".
"Ya sudah, kalau gitu kamu di bawah sendiri gak pa-pa kan ?. Biar pekerjaan Ida dan Yenni cepat selesai", ucap Kikan sebelum beranjak ke lantai dua.
"Gak pa-pa, Mbak. Kalau menghandle pelanggan saya bisa kok", jawab Amel meyakinkan.
"Ya sudah .... aku tinggal ke atas ya ", pamit Kikan. Amel hanya mengangguk.
Akhir-akhir ini butik Kikan kian sibuk menerima pesanan. Apalagi bulan ini kan lagi musim orang nikahan jadi banyak sekali yang menggunakan jasa butik Kikan. Kikan terpaksa mempekerjakan karyawan ekstra jam alias lembur untuk memenuhi kebutuhan pelanggan nya.
Amel sedang sibuk mengatur manekin dan beberapa baju ready stock. Beberapa tumpukan kain juga ia atur agar tampak rapi. Tugas pembukuan sudah diselesaikan Amel kemarin, jadi hari ini tugasnya merapikan pakaian dan melayani pelanggan yang datang.
Langit di luar semakin bertambah gelap, petir dan kilat juga mulai kelihatan sepertinya akan turun hujan. Benar saja, baru saja Amel menyelesaikan mengatur baju, hujan sudah turun. Tiba-tiba berhenti sebuah mobil mercy hitam di depan ruko. Seorang sopir bergegas keluar, membawakan payung dan membukakan pintu mobil. Tampak seorang wanita separuh baya dengan tinggi di atas rata-rata dan berdandan sangat anggun turun dari mobil itu. Seorang lagi, sepertinya Amel pernah melihatnya. Ya, wanita norak yang berkata sombong dan menjelek-jelekkan kualitas butiknya. Untuk apa wanita itu kemari lagi, pikir Amel. Kedua wanita itu berjalan di bawah payung dengan hati-hati, sepertinya mereka tidak ingin sepatu atau bajunya basah. Amel bergegas beranjak dan membukakan pintu ruko begitu keduanya sudah berdiri di depan pintu.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu ?", sapa Amel ramah. Wanita paruh baya yang tampak anggun itu hanya tersenyum ramah sedangkan wanita norak itu masih sama seperti yang dulu.
"Apa betul ini butiknya Kikan ?", tanya wanita paruh baya yang anggun itu. Amel mengangguk dengan sopan.
"Iya, betul Bu", jawab Amel.
"Apa Kikannya ada sekarang ?", tanya wanita anggun itu lagi.
"Ada Bu. Sebentar, saya panggilkan. Silakan duduk dulu Bu", jawab Amel sopan dan bergegas ke lantai dua.
"Mbak ... ada tamu mencari Mbak", ucap Amel begitu sampai di ruangan Kikan.
"Siapa ?", tanya Kikan.
"Gak tahu, Mbak. Tadi lupa gak tanya", jawab Amel.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu, kamu tunggu sini saja", ucap Kikan sambil bangkit dan bergegas turun.