
"Kita sudah sampai ", ucap Adrian begitu mobilnya sudah berhenti di depan rumah Kikan. Kikan menoleh ke bangku belakang, melihat Raka yang sudah tertidur pulas. Dia kecapekan hari ini sudah bermain seharian, berlarian kesana kemari kegirangan.
"Adrian, terima kasih ya sudah membuat Raka senang hari ini", ucap Kikan. Adrian hanya tersenyum mendengarnya.
"Turunlah, biar Raka aku gendong", ucap Adrian. Kikan mengangguk lalu turun diikuti Adrian yang segera membuka pintu belakang dan menggendong Raka. Kikan bergegas berjalan mendahului Adrian untuk membukakan pintu.
"Ditaruh dimana ?", tanya Adrian begitu sudah masuk ke rumah Kikan.
"Langsung di kamarnya saja ya", ucap Kikan sambil segera mengantar Adrian ke kamar Raka. Kebetulan waktu itu ayah dan ibu sedang ke rumah Bude jadi keadaan rumah sepi.
"Disini", ucap Kikan sambil membuka kamar Raka, menyalakan lampu dan AC. Adrian perlahan meletakkan Raka ke kasurnya. Kikan segera membuka sepatu dan kaos kaki Raka lalu menyelimutinya. Adrian hanya diam terpaku mengamatinya kemudian duduk di samping Kikan.
"Kamu mama yang hebat ya ?", ucap Adrian. Kikan hanya tersenyum.
"Setiap wanita kalau sudah menjadi Ibu pasti akan berbuat yang terbaik kok", jawab Kikan.
"Aku salut padamu, Kikan. Kamu masih muda tapi sudah mendidik Raka jadi anak yang hebat". Kikan hanya tersenyum.
"Papa ... Om Kelen ....", tiba-tiba Raka menggingau. Andrian dan Kikan bertatapan sebentar lalu sama-sama tertawa.
"Ayo kita keluar, aku takut nanti dia terbangun", ucap Kikan sambil menarik tangan Adrian keluar. Adrian menurut dan membiarkan Kikan menariknya.
"Aku buatkan minum dulu ya, kamu tunggu di luar saja ", ucap Kikan lagi. Adrian mengangguk dan kembali duduk di ruang tamu.
"Iya Ma, Ian habis ini pulang. Kan Mama bisa pergi sama Kak Julian, masak sama Ian terus sih", ucap Adrian. Rupanya dia baru saja menerima telepon dari mamanya. Kikan yang keluar sambil membawakan minuman dan beberapa kue untuk Adrian hanya diam.
"Iya, iya .... besok siang Ian kesana. Iya, Ma. Sudah dulu ya, Ma. Ian lagi sibuk nih ", ucap Adrian begitu melihat Kikan sudah duduk menunggunya mengakhiri telepon.
"Kamu ada janji ?", tanya Kikan kini.
__ADS_1
"Enggak, itu tadi Mama. Beliau minta aku mampir ke rumah", jawab Adrian.
"Kamu selama ini tinggal di mana ? bukan di rumah orang tuamu ?".
"Enggak, aku tinggal di apartemen sendiri kok", jawab Adrian sambil menyeruput minuman yang sudah disuguhkan Kikan.
"Boleh aku tanya, apa yang membuatmu kembali lagi ?", tanya Kikan tiba-tiba. Adrian menghentikan minumnya, meletakkan kembali cangkir kopinya lalu menatap Kikan.
"Aku ada janji dengan seseorang yang harus ku tepati ".
"Oh ...."
"Kamu tidak ingin tahu siapa seseorang itu ?", tanya Adrian kini.
"Maaf ..., aku tidak mau mencampuri urusan orang lain terlalu dalam".
"Oke, baiklah kalau kamu menganggap ku orang lain. Tapi, apa kamu tidak ingin bertanya kemana aku pergi selama ini ?", tanya Adrian lagi. Kikan mengangkat kepalanya cepat dan kemudian bertatapan dengan Adrian lama.
"Bagiku tidak ada yang berubah selama ini, entah kalau menurutmu", jawab Adrian datar. Kikan kembali diam, Adrian juga diam. Keduanya seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Saat terakhir aku bertemu kamu adalah saat pipiku di tampar ayahmu. Aku selalu ingat itu, karena sejak saat itu aku berjanji akan berubah dan akan menjadi Adrian yang lebih baik", tiba-tiba Adrian bercerita lagi.
"Namun sayang, jiwaku masih labil saat itu. Aku masih suka terbujuk untuk ikut joki balap liar. Akhirnya malam itu, aku nekat jadi joki balap liar dan tertangkap razia polisi. Papaku yang kesal dengan tingkahku, akhirnya mengirimku ke Australia. Aku melanjutkan SMA di sana sampai kuliah dan S2. Tapi papa menghukumku lagi dengan tidak memberi uang bulanan untukku, akhirnya aku terpaksa kerja paruh waktu untuk biaya hidupku. Walau di sana aku ada saudara, tapi papaku melarangku untuk meminta bantuannya. Mungkin itu hukuman ku dan aku terima itu. Yang aku sesalkan waktu itu, aku tidak sempat berpamitan padamu ataupun mengirim pesan. Aku sungguh menyesal, Kikan". Kikan hanya diam mendengar cerita Adrian.
"Aku sempat pulang sebentar ke Indonesia, aku juga pernah bertemu kamu. Tapi waktu itu kamu sudah bersama Ranu dan kamu tampak bahagia. Kamu ingat hari wisuda Ranu, dimana kamu bertemu dengan Irene pertama kali. Disana juga ada aku, namun waktu itu aku hanya melihat mu dari jauh. Aku melihat kamu tersenyum begitu bahagia, aku tidak mau merusak kebahagiaan mu di hari itu. Lebih-lebih Ranu juga masih kerabat ku, aku tidak mau merusak kebahagiaan kalian". Kikan terkejut mendengar penuturan Adrian. Jadi saat itu, Adrian tahu kalau dirinya sudah bersama Ranu. Kikan hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya.
"Akhirnya aku kembali lagi ke Australia meneruskan S-2 ku. Sampai akhirnya papa memanggil ku pulang untuk membantu meneruskan perusahaannya. Dan di cafe Mall bersama Irene, itu adalah pertemuan keduaku denganmu. Aku juga terkejut mendengar ceritamu dan Ranu. Aku sudah tahu semuanya tentang dirimu. Apa salah aku kembali lagi kesini ?". Kikan hanya menggeleng.
"Maafkan aku, Adrian. Aku tidak tahu tentang apa yang menimpamu. Aku hanya kesal dan benci padamu yang tiba-tiba pergi menghilang dariku tanpa pamit dan pesan. Jadi, wajar saja kalau ekspresi ku kepadamu saat bertemu di cafe Mall itu berlebihan", ucap Kikan akhirnya. Adrian hanya mengangguk sambil tersenyum, lesung pipinya membuat senyumnya makin menawan.
__ADS_1
"Aku sudah biasa kok menghadapi sikapmu. Bukankah dari dulu kamu seperti itu ?", jawab Adrian. Kikan hanya manyun mendengar ucapan Adrian.
"Aku heran padamu, kenapa sikap konyolmu gak berubah. Aku juga gak percaya kalau kamu seorang CEO, apa kamu bisa serius menghadapi klienmu ?", tanya Kikan kini.
"Hei, kamu meremehkan aku nih. Harus dibuktikan dengan apa kalau aku seorang yang kompeten ?".
"Gak usah bukti, sudah dilihat saja kamu tidak menyakinkan sekali. Aku lihat kamu juga belum punya pasangan seharusnya kalau seorang CEO pasti akan dengan mudah mendapatkan pasangan entah pacar atau istri tapi kamu ....", kata Kikan dengan nada bergurau.
"Kalau tentang itu, aku sudah punya kok. Aku kan tadi sudah bilang, aku kembali ke sini karena aku sudah berjanji dengan seseorang", ucap Adrian tenang.
"Oh ya, siapa dia ? jangan-jangan teman hayalan ya ?", ucap Kikan lagi sambil tertawa. Adrian hanya terdiam lalu tiba-tiba menatap Kikan tajam.
"Seseorang itu .... kamu, Kikan Prameswari", jawab Adrian lagi. Kikan langsung diam.
"Aku kan sudah bilang aku ingin mengulang semuanya lagi denganmu. Aku ingin memperbaiki kesalahanku. Aku ingin memulainya lagi dari awal. Apa boleh aku mencobanya lagi ?", kata Adrian.
"Gak, aku gak mau. Kamu gak tahu, aku sudah berubah. Aku bukan Kikan yang dulu ".
"Kamu tetap sama, Kikan. Kamu masih Kikan yang sama. Aku masih mencintaimu, Kikan. Aku masih menyimpan semua rasa itu untukmu. Aku tidak bisa berpindah ke orang lain. Aku hanya ingin kamu".
"Enggak, Adrian. Aku gak bisa .... aku sudah berubah .... "
"Kata siapa kamu berubah ? kamu tetap Kikan yang ku kenal dulu ...."
"Enggak, aku bukan Kikan yang dulu. Aku sudah tidak gadis lagi, aku sudah punya anak, aku sudah hamil duluan tanpa status pernikahan. Aku bukan Kikan yang dulu, puas kamu ?", kata Kikan keras kini dengan sedikit terisak.
"Aku sudah tahu itu .... aku tak pernah menganggap itu hal yang perlu dipermasalahkan. Aku mau menerima mu apa adanya. Aku mencintaimu, Kikan", ucap Adrian kini ia duduk mendekati Kikan, memegang tangan Kikan.
"Aku masih mencintaimu ... dan itu akan selalu ada tidak pernah mati. Tolong, berilah aku kesempatan untuk menebus kesalahanku", ucap Adrian kini sambil memegang kedua tangan Kikan. Kikan hanya diam sambil terus menggeleng.
__ADS_1
"Kamu seorang CEO perusahaan ternama, Adrian. Karirmu cemerlang, kamu layak mendapatkan yang lebih baik dariku. Tolong, pergilah ...", ucap Kikan sambil mencoba menarik tangannya. Namun Adrian tidak menyerah begitu saja, ia malah menarik Kikan ke dalam pelukannya. Kikan mencoba berontak tapi percuma, Adrian lebih erat memeluknya.
"Aku hanya ingin kamu, cuma kamu", ucap Adrian di telinga Kikan.