Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kebohongan


__ADS_3

Tania membuka matanya perlahan, alarm di ponsel sudah berbunyi berulang kali dan membuatnya terjaga. Ia sedikit kaget saat melihat seseorang yang sedang terlelap di sampingnya. Ya, Kemal .... Aduh ... mengapa terjadi lagi, gumam Tania kesal sambil memukul kepalanya.


Ia segera bangkit menyingkap selimutnya, mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan bergegas memakainya.


"Kamu mau kemana ?", tanya Kemal yang ternyata sudah terjaga.


"Aku mau pulang, hari ini keluarga Adrian akan ke rumah. Ada prosesi lamaran yang harus kujalani ", jawab Tania mempercepat berpakaian. Kemal segera bangkit dan berjalan ke arahnya.


"Apakah kau yakin akan menikah dengan Adrian ?", tanya Kemal kini sudah berdiri di belakangnya.


"Sudahlah Kemal ... jangan memulai lagi. Aku janji tidak akan menggugurkan anak ini tapi tolong jangan cegah aku untuk menikah dengan Adrian. Aku sangat menginginkannya ", ucap Tania kini sambil merapikan rambutnya.


"Apa Adrian akan menerima keadaanmu ? bagaimana dengan malam pertama kalian nanti ? apa kau akan melakukannya dengan Adrian ?. Dia tidak mencintaimu, selain itu kamu sudah bukan perawan lagi lebih-lebih sekarang kau hamil anakku. Apa dia mau menerimamu ?.Ayolah ... Tania batalkan pernikahanmu dan terimalah pinanganku ".


"Cukup Kemal ! cukup ! jangan campuri urusanku lagi. Semua pertanyaanmu itu akan kupikirkan sendiri jawaban dan caranya. Yang penting Adrian akan menjadi milikku seutuhnya ", ucap Tania sambil tersenyum menyeringai.


Kemal hanya terdiam, ia sudah lama mengenal Tania sejak ia terjun ke dunia keartisan ini. Dulu Tania sangat lugu, kalem dan pintar. Walaupun sedikit manja tapi Kemal menyukainya. Ia sudah jatuh cinta dengannya sejak pertama bertemu dan semua rasa itu terus berkembang sampai sekarang. Sampai akhirnya Tania lebih memilih Adrian daripada dirinya. Ya ... memang dibanding Adrian dia tidak ada apa-apanya tapi kalau Tania mau bersabar sedikit, ia pasti bisa mewujudkan semua yang Tania inginkan.


"Aku pergi dulu, Kemal. Ingat pesanku, jangan temui aku ataupun Adrian !. Kalau kau melakukannya aku akan benar-benar menggugurkan anak ini ", ancam Tania sebelum meninggalkan Kemal. Kemal hanya mengangguk lemas. Padahal semalam ia sudah cukup senang ketika Tania mau menginap dan melakukannya sekali lagi. Ia pikir Tania berubah pikiran, ternyata ia salah.


Tania bergegas mengemudikan mobilnya, untung hari masih pagi sehingga ia bisa cepat sampai di rumah. Gara-gara Kemal, aku harus mengebut pagi-pagi. Tania bergegas memasukkan mobilnya ke garasi dan segera berlari ke dalam rumah. Ia takut mamanya marah.


"Tania ! kamu darimana saja ?", pekik Bu Diana begitu Tania masuk ke rumahnya.

__ADS_1


"Maaf, Ma ... kemarin Tania ada jadwal syuting terus menginap di rumah teman karena kemalaman ", jawab Tania bohong.


"Bukannya kamu sudah mengajukan ijin cuti ?".


"Kemarin yang terakhir kok, Ma ", bohongnya lagi.


"Ya sudah .... kalau begitu cepat bersiap. Jam sepuluh keluarga Adrian akan datang. Mama sudah menyiapkan baju di kamarmu ", ucap Bu Diana lagi. Tania mengangguk dan bergegas masuk ke kamarnya.


Setelah beberapa saat bersiap, akhirnya Tania sudah tampil cantik dengan baju pilihan mamanya. Meskipun Tania merasa bajunya sedikit sesak di bagian perut dan pinggul. Mungkin karena saat ini ia sedang hamil jadi menyebabkan perubahan bentuk tubuhnya meski belum seberapa menonjol.


"Mengapa kamu tidak diet, Tania ?. Perutmu terlihat buncit dan gemuk ", omel Bu Diana begitu melihat Tania sudah siap dengan dandanannya.


"Maaf ... Ma ... aku sedikit stress akhir-akhir ini hingga nafsu makanku bertambah ", bohong Tania lagi.


"Tenang saja Ma ... kalau baju pengantin pasti cukup kok. Tania sudah memastikan kemarin, sudah Tania coba lagi kok ", bohong Tania lagi. Aduh ... berapa kali aku bohong ke mama hari ini, maafkan aku ya, Ma, batin Tania.


"Ya sudah kalau begitu ", ucap Bu Diana sambil geleng-geleng kepala.


Pukul 10 tepat rombongan keluarga Adrian datang, hari ini acara lamaran. Adrian terlihat tampan sekali namun wajahnya tidak secerah biasanya, sepertinya ada yang hilang dari rona mukanya. Tapi Tania tak peduli, ia tetap tersenyum melihat lelaki yang diinginkannya itu mau datang dan menuruti semua perintah mamanya.


Keluarga Adrian beserta rombongan membawa banyak barang-barang, berupa baju, sepatu, tas, make up, perhiasan semuanya barang branded dengan harga yang fantastis. Tania tersenyum kegirangan semua hal yang diinginkannya dengan mudah ia dapatkan. Ah ... beruntungnya aku.


Prosesi lamaran itu berjalan dengan cukup lama dengan bintang utamanya Adrian dan Tania beserta kedua orang tua mereka.

__ADS_1


"Mas ... kenapa dengan Adrian ? dia tidak secerah kemarin-kemarin. Senyumnya pun seperti dipaksakan ", bisik Tanti, kakak ipar Adrian berbisik ke Julian.


"Entahlah ... aku juga kasihan melihatnya. Ia seperti mayat hidup saja. Sudah seminggu ini, dia seperti itu ", jawab Julian sambil berbisik.


"Apa Mama yakin akan melanjutkan pernikahan ini ?", bisik Tanti lagi. Julian hanya diam.


Ingatan Julian kembali ke saat ia tanpa sengaja mendengar janji Adrian kepada mama untuk menikahi Tania. Mungkin Adrian mau melakukan itu untuk kesehatan mama tapi apa yang terjadi kini semua kebahagiaan dan senyumannya perlahan menghilang dari wajahnya. Andai saja ia bisa membantu adiknya setidaknya kembali tersenyum seperti biasanya.


"Adrian .... , Mama ambilkan makan ya ?", ucap mama, acara lamaran itu hampir selesai kini tinggal acara ramah tamah dan makan.


"Gak usah, Ma nanti Adrian ambil sendiri ", jawab Adrian.


"Aku ambilkan ya, Sayang !", ucap Tania kini. Sejak acara dimulai tadi Tania sudah menempel Adrian terus seakan tidak mau terpisah darinya.


"Gak usah, Tania. Aku bisa ambil sendiri kok !", jawab Adrian kini mulai bangkit dan berjalan ke deretan meja prasmanan yang sudah tersaji beberapa hidangan.


Namun, Adrian segera membelokkan langkahnya saat Tania dan mama sudah tidak memperhatikannya lagi. Kini ia mulai berjalan keluar dari rumah Tania. Ia mulai berjalan ke taman samping rumah Tania yang cukup luas. Lalu berhenti duduk di sebuah bangku taman yang menghadap sebuah kolam ikan.


Adrian terduduk lesu, rasanya penat sekali di dalam sana. Ia keluarkan ponselnya, mencoba menscroll galeri dan menemukan sebuah foto gadis cantik berwajah teduh yang sedang tersenyum padanya.


"Apa kabarmu, Sayang ? Apa kamu sanggup melalui hari-harimu tanpa diriku ? karena aku tidak sanggup melalui sedetikpun tanpa mengingatmu. Aku kangen kamu ..., Sayang. Sungguh tersiksa rasanya diriku tanpamu ", gumam Adrian pelan sambil terus memandangi foto Kikan. Ingin rasanya ia menangis saat itu, tapi nanti yang ada malah banyak orang yang akan bertanya-tanya tentang keadaan dirinya.


Adrian kembali menscroll ponselnya, menekan kontak dan menemukan nama "My Soul" sebutan untuk Kikan di kontak ponselnya. Adrian sudah menekan nama Kikan dan ingin sekali menekan tombol bergambar telepon itu. Tapi, ia urungkan, ia sudah berjanji akan melepaskan Kikan meskipun masih sangat sulit dan berat untuk dilakukannya.

__ADS_1


Jauh di dalam ruangan di balik jendela tampak sosok mama Adrian yang sedang sibuk mengamatinya. Kenapa dengan Adrian, mengapa wajahnya selalu murung akhir-akhir ini ?. Padahal sebelumnya ia baik-baik saja tapi mendekati hari pernikahannya mengapa ia selalu murung ya ?. Apa ia menyesal dan tidak menginginkan pernikahan ini ? Apa aku yang terlalu egois dan memaksakan keinginanku padanya ?, berbagai pertanyaan mulai berkecamuk di benak mama.


__ADS_2