
Kikan baru lima menit menunggu Hendy di cafe dekat rukonya tapi yang ditunggu ternyata sudah muncul. Kikan sengaja memilih duduk dekat jendela, ia tidak ingin duduk di tengah cafe itu, ia ingin pembicaraannya dengan Hendy tidak didengar orang. Kikan melihat Waktu Hendy datang, sebenarnya dia cukup ganteng, penampilannya selalu rapi, keren, yang kurang hanya postur tubuhnya saja yang kurang proporsional sehingga dia terlihat terlalu kurus. Hendy tersenyum saat melihat Kikan dari jendela cafe. Kikan hanya diam dan tersenyum sedikit terpaksa.
"Sudah lama ya, nunggunya ?", tanya Hendy begitu tiba.
"Enggak kok, aku juga barusan datang", jawab Kikan datar.
"Permisi, mau pesan apa mbak ?", tanya pelayan yang sudah datang di meja mereka.
"Saya lemon teh saja, Mbak", jawab Kikan.
"Kalau saya, capuccino ya , Mbak", jawab Hendy.
"Baik, ditunggu sebentar", kata si pelayan kemudian berlalu meninggalkan mereka.
"Tadi di telepon kamu bilang mau ngomong penting, ngomong apa nih ?", tanya Hendy sambil tersenyum. Kikan hanya diam, dia sangat kesal dengan Hendy.
"Tolong, berhenti mengirimi aku dan anakku hadiah. Entah itu bunga, makanan, coklat ataupun mainan untuk Raka ", ucap Kikan akhirnya. Hendy yang tadi tersenyum kini terkejut dengan ucapan Kikan.
"Kenapa ? kamu keberatan ? atau gak suka ya dengan makanan, bunga, coklat atau Raka juga gak suka mainannya ?", tanya Hendy kini.
"Bukan begitu, aku hanya gak mau kamu salah sangka. Aku gak mau kamu terlalu berharap lebih padaku. Jujur saja aku belum mau menjalin sebuah hubungan yang serius. Aku hanya ingin menikmati semuanya ini dulu ", jelas Kikan terus terang.
__ADS_1
Kini Hendy yang terdiam lama, ia tampak berpikir keras. Mereka saling diam berbarengan dengan kedatangan pelayan yang mengantar pesanan mereka.
"Terima kasih, Mbak ", ucap Kikan setelah pelayan itu meletakkan pesanan mereka.
"Aku rasa itu hal penting yang harus ku omongkan padamu. Aku harus pergi, aku ada janji dengan pelanggan hari ini ", ucap Kikan lalu meminum tehnya dan beranjak akan pergi.
"Tunggu ....", ucap Hendy sambil menarik tangan Kikan. Kikan kaget dan menoleh ke arah Hendy.
"Kamu belum mendengar penjelasan ku mengapa buru-buru pergi ?", kata Hendy kini melepaskan tangan Kikan dan menyuruhnya duduk kembali. Sedikit kesal, akhirnya Kikan duduk lagi.
"Ya ... aku mengaku salah, aku terlalu cepat berharap padamu. Aku juga terlalu sok perhatian dengan mengirimkan berbagai hal untukmu. Tapi, itulah aku, Kikan. Aku memang ingin menjalin pertemanan ini tapi aku juga berharap lebih dari teman. Aku sudah suka dengan kamu saat Bobby pertama kali menunjukkan fotomu. Dan aku semakin suka kamu saat pertemuan kita pertama dulu. Memang aku yang salah, aku terburu-buru ingin berharap lebih tanpa menyadari keadaan mu. Aku minta maaf ", jelas Hendy kini.
"Tolong ... jangan putuskan pertemanan kita ini. Kalau kamu tidak ingin terburu-buru membuka hatimu untuk ku, aku akan bersabar menunggu. Aku akan melewati tahap-tahap pertemanan yang kau inginkan. Aku juga janji tidak akan mengirimi kamu barang-barang apapun termasuk juga untuk Raka. Tapi, tolong ... jangan suruh aku menjauh darimu. Aku sudah tertarik padamu, Kikan", tambah Hendy lagi.
"Kamu maukan memulai pertemanan kita dari awal lagi ?", tanya Hendy kini. Kikan hanya diam.
"Entahlah ...., aku hanya tidak mau membuatmu kecewa. Aku tidak bisa memberimu harapan yang lebih. Aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain", jawab Kikan akhirnya. Hendy tampak kecewa mendengar jawaban Kikan.
"Tolong ... beri aku kesempatan dan waktu untuk bisa membuka hatimu ya ?", ucap Hendy lagi. Kikan diam lagi, Hendy terlalu memaksa ternyata tidak seperti yang aku bayangkan, pikir Kikan.
"Aku akan memberimu waktu, tapi jangan paksa aku bila ternyata aku tidak bisa memberimu lebih", ucap Kikan akhirnya. Hendy sedikit sumringah mendengar jawaban Kikan. Senyuman sudah muncul lagi di wajahnya.
"Baiklah, aku janji tidak akan mengecewakan mu", ucap Hendy.
__ADS_1
"Hubungan kita hanya sebatas teman, jangan meminta lebih. Kalau nanti seiring waktu ternyata kita cocok mungkin akan berlanjut ke tahap selanjutnya tapi untuk sekarang jangan meminta lebih", terang Kikan lagi. Hendy hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Terserah Apa yang Kikan mau, akan dia turuti yang penting dia selalu dekat dengan Kikan, itu pikir Hendy.
"Aku kembali ke ruko dulu, ada pelanggan yang sudah menunggu. Dan, tolong jangan kirim makanan lagi ke ruko, aku sudah menggaji karyawan termasuk uang makannya, jangan bikin mereka manja". Hendy hanya mengangguk mendengar ancaman Kikan tadi. Ia tambah kelihatan cantik kalau marah begitu, gumam Hendy dalam hati.
"Biar, aku yang bayar tagihannya, Kikan ", seru Hendy saat Kikan berjalan ke kasir.
Namun, Kikan hanya mengibaskan tangannya dan tetap membayar semua tagihan di mejanya tadi termasuk pesanan Hendy. Hendy hanya menggelengkan kepala menatap kepergian Kikan yang mulai menjauh.
Dia memang gadis yang berbeda, dia sangat mandiri berbeda dengan yang diceritakan Bobby dulu. Mungkin kesedihan dan pengalaman pahitnya yang membuatnya berubah seperti sekarang. Hendy asyik menikmati sisa capuccino-nya sambil memainkan ponsel di tangannya. Lalu dia menekan sebuah kontak yang ditandai bintang.
"Halo ... Mas, ini saya yang pesan makanan untuk makan siang tadi", ucap Hendy di telepon setelah ponselnya tersambung.
"Iya ... kenapa Pak ?. Apa ada tambahan menu ?", tanya suara di seberang.
"Tidak, saya cancel saja. Hari ini, rukonya tutup jadi tidak ada karyawan di sana", bohong Hendy.
"Oh, begitu ya, Pak. Tapi mohon maaf Pak, kalau ada cancel, pembayaran Bapak tadi di potong 10 persen, itu sudah ketentuan dari manajemen", jelas karyawan di seberang.
"Iya, gak pa-pa ,Mas. Nanti sisa uangnya minta tolong di transfer ke rekening saya, nanti saya kirim nomornya", ucap Hendy lagi.
"Baik, Pak. Kami tunggu pesanan Bapak berikutnya", ucap karyawan itu mengakhiri telepon.
Hendy segera menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celananya. Ia melirik arlojinya sudah pukul 10, satu jam lagi ia harus bergegas menemui kliennya. Hendy segera menghabiskan capuccino-nya dan bergegas pergi. Ia berjalan keluar meninggalkan cafe itu menuju tempat parkir mobil yang berada di seberang jalan.
__ADS_1
Hendy sengaja memarkir mobilnya di seberang ruko Kikan. Ia mengamati Kikan yang sedang sibuk di ruang kerjanya di lantai dua. Ruang kerja Kikan di lantai dua memang menghadap parkiran sekaligus taman kota. Kikan memang suka tempat yang memiliki sirkulasi udara yang bagus, makanya dia memilih ruangan yang mempunyai jendela besar. Hendy menarik nafas panjang. Aku harap kamu mau membuka hatimu untukku suatu saat nanti dan aku berjanji akan membuatmu selalu bahagia, gumam Hendy dalam hati.