Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kesibukan Kikan


__ADS_3

"Nduk .... menurutmu bagus yang mana ? softblue ini atau softpink ?", tanya ibu sambil membandingkan dua kain di depan Kikan.


"Kalo Kikan lebih suka yang softpink Bu, lebih cocok dengan kain batiknya".


"Tuh kan bener, Ibu dari tadi juga udah naksir warnanya yang teduh ini. Cocok juga kan dengan gaun pengantinmu ?". Kikan mengangguk.


"Ya sudah Mbak, saya minta yang soft pink ini 4 meter ya ?. Buat masing-masing 2 meter ya?", pinta ibu Kikan.


"Bu, kita jadi ke toko souvernir juga ?", tanya Kikan sesudah mereka keluar dari toko.


"Iya, kita harus kesana kapan hari pas kamu tunangan kan Ibu pesan disana. Terus iseng-iseng Ibu ngomong kalo mau pesen lagi buat nikahan kamu, ternyata malah dikasih diskon. Tapi Ibu gak pesen yang neko-neko biar ontime gak pake nunggu lama ". Kikan hanya manggut-manggut.


"Tuh tokonya, ayo masuk tadi Ibu sudah telepon sama Ibu yang punya toko ". Kikan menurut dan lalu mengekor mengikuti ibunya.


"Siang Bu Ani, masih inget Ibu kan ?", sapa ibu Kikan begitu melihat Bu Ani si empunya toko souvernir.


"Oh tentu saja gak lupa Bu. Mari silakan, saya sudah siapkan beberapa souvernir yang sudah ready dalam jumlah banyak jadi gak perlu nunggu lama atau takut kekurangan jumlahnya. Ibu kemarin bilang butuh sekitar 2000 ya ?".


"Iya Bu, untuk acara resepsi dan akadnya total semuanya 2000 undangan tapi itu semua sudah saya up, saya takut kalau ada saudara yang tidak kebagian kasihan sudah datang jauh-jauh kan", ucap ibu menerangkan.


"Iya Bu, lebih baik menyimpan lebih daripada kekurangan, gak enak kalo jadi omongan orang". Ibu Kikan terus aja berbicara basa basi dengan Bu Ani pemilik toko souvernir itu. Kikan hanya diam memandangi sekeliling toko itu.


Ada kotak musik yang indah di sudut toko ini, pikirnya. Dia mengambil kotak musik itu, mengamati patung penari balet yang sedang meliukkan tubuhnya. Kikan lalu memutar bagian bawah kotak musik itu kemudian meletakkan kotak musik ke meja, tampak penari balet itu kini mulai berputar sesuai iringan musik yang keluar. Kikan tersenyum mendengarnya.


"Apa ini dijual Mbak ?", tanya Kikan ke seorang pelayan.


"Sebenarnya iya Mbak, tapi karena kotak musik itu cacat alias ada bagian patung yang tergores jadi tidak kami jual, disuruh Bu Ani simpan di sudut sini aja", jelas pelayan itu.


"Sayang sekali, padahal saya suka mendengar musiknya, apa tidak ada lagi ?". Pelayan itu menggeleng. Kikan tampak kecewa.


"Ada apa Mbak ?", tanya Bu Ani. Pelayan itu lalu menjelaskan.


"Mbak Kikan suka ? ambil saja mbak tapi maaf patungnya agak tergores tapi semuanya masih bagus kok". Kikan tersenyum gembira.


"Beneran ?", Bu Ani mengangguk, segera pelayan itu mengambil tas kemudian memasukkan kotak musik ke dalamnya dan menyerahkannya ke Kikan.


"Makasih ya Bu", jawab Kikan kegirangan.


"Iya, apa salahnya membuat calon pengantin bahagia nanti saya juga ketularan bahagianya kan", ucap Bu Ani sambil tertawa.

__ADS_1


Setelah itu ibu dan Kikan beranjak pergi dari toko souvernir.


"Kita mau kemana lagi Bu ?", tanya Kikan.


"Sudah selesai untuk hari ini, kita langsung pulang ya ?. Ranu bisa jemput atau kita naik ojek online Nduk, ? coba kamu telepon !", pinta ibu.


Kikan segera mengeluarkan hpnya, membuka kontak dan memencet nama Ranu kemudian tak lama sudah terhubung dengan Ranu.


"Hallo Mas ... kamu sibuk gak ? bisa jemput aku di mall gak ? aku sudah selesai ", ucap Kikan di telepon.


"Wah, kebetulan Sayang, aku lagi di luar kantor ini. Tunggu ya, aku jemput disana. Lima menit lagi aku sampai", jawab Ranu.


"Oke, aku tunggu ya Mas", ucap Kikan mengakhiri.


"Gimana ? Mas Ranu bisa jemput ?", tanya ibu.


Kikan mengangguk. Dia merasa kepalanya berat sekali, perutnya juga sakit merasa mual tak karuan. Kikan merasakan pandangannya mulai kabur, kakinya pun terasa lemas tak mampu menahan berat tubuhnya dan tiba-tiba dia terjatuh.


"Kikan ....". Ibu yang di dekatnya segera memegang tubuh Kikan sebelum jatuh ke tanah.


"Aduh ... kenapa anak ini tiba-tiba pingsan ?". Ibu kebingungan harus memegang Kikan dan membawa belanjaan.


"Ibu gak tahu, Kikan tiba-tiba pingsan".


Segera Ranu membopong tubuh Kikan dan membawanya ke mobil yang terparkir tak jauh dari mereka. Ranu segera mengeluarkan kotak P3K di mobil. Dia segera mengoleskan minyak angin di kening dan hidung Kikan. Ibu dan Ranu tampak khawatir melihat Kikan yang belum membuka matanya.


"Gimana ini Nak Ranu, kok Kikan gak sadar-sadar ", tanya ibu sambil memijat kaki Kikan. Tapi Ranu tak berhenti memberi minyak angin di kening dan hidung Kikan. Sampai akhirnya, Kikan membuka perlahan matanya.


"Mas Ranu ....", ucapnya lirih.


"Kamu udah sadar Nduk ... ?", tanya ibu menunjukkan kecemasannya.


"Kamu kenapa Nduk ? sakit ? lebih baik kita ke dokter ya ?. Ayo Nak Ranu kita ke rumah sakit saja, biar tahu Kikan sakit apa". Kikan segera menatap Ranu tajam dan Ranu tahu apa arti tatapan itu.


"Iya Bu, nanti Ranu antar ke rumah sakit. Ibu Ranu antar pulang ke rumah dulu ya, Ibu juga pasti capek ", ucap Ranu akhirnya.


"Iya sih, sebenarnya Ibu juga capek tapi Kikan gimana ?".


"Gak pa-pa Bu, kan ada Mas Ranu. Kalo Ibu ikut ke rumah sakit nanti kelamaan lagian Ibu sudah ada janji dengan pihak WO kan hari ini", cegah Kikan.

__ADS_1


"Iya sih, Ibu ada janji jam 2 nanti mereka bakalan ke rumah. Kamu gak pa-pa Kikan ?". Kikan mengangguk.


"Ya sudah kalo gitu, mending Ibu pulang naik taxi saja biar kalian bisa langsung ke rumah sakit kalo mengantar Ibu dulu kelamaan nantinya", ucap ibu akhirnya.


" Ibu gak pa-pa pulang naik taxi ?", tanya Kikan dan Ranu berbarengan.


"Gak pa-pa wes dang panggilkan taxi, biar kalian cepat berangkat", pinta ibu.


Akhirnya Ranu nurut, tak berapa lama ibu sudah masuk ke dalam taxi menuju ke rumahnya. Sesudahnya ibu berangkat segera Ranu masuk ke mobil dan mulai melajukan mobilnya.


"Kita kemana Mas ?", tanya Kikan yang melihat Ranu sedikit tergesa menjalankan mobil.


"Ke rumah sakit", jawab Ranu.


"Gak usah Mas, aku gak pa-pa. Aku cuman kecapekan tadi. Ibu sudah dari pagi mengajakku keliling mall, kami juga sampai lupa belum makan mungkin saking semangatnya Ibu. Lebih baik, kita cari makan saja, aku lapar", pinta Kikan.


"Bener kamu gak pa-pa ?". Kikan mengangguk.


"Kamu mau makan apa ?".


"Masakan Padang, boleh Mas ?", tanya Kikan malu-malu.


"Tentu boleh dong, apa sih yang gak buat kamu", ucap Ranu sambil mengacak rambut Kikan yang tersenyum kesenangan.


Ranu segera membelokkan mobilnya di sebuah restoran Padang, memapah Kikan turun lalu memesankan beberapa menu kesukaan Kikan.


Tak berapa lama, pelayan sudah membawakan rendang, cumi, kepala ikan, peyek udang, telur dadar dan beberapa sayur khas masakan Padang. Kikan tersenyum kegirangan lalu makan dengan lahapnya. Ranu tersenyum melihatnya.


"Minggu depan jadwalmu kontrol ya Sayang ?", tanya Ranu sambil asyik menyantap hidangannya.


Kikan mengangguk.


"Iya Mas, Mas bisa ngantar aku gak ?", tanya Kikan lagi.


"Mas usahain ya", ucap Ranu sambil tersenyum dan dibalas senyuman Kikan.


"Sudah sembuh ? gak pusing lagi ?", tanya Ranu sesudah mereka menghabiskan semua makanan.


"Iya, sudah sembuh. Pusingnya juga hilang ", jawab Kikan senang.

__ADS_1


"Berarti tadi anak Papa kelaparan ya ", ucap Ranu sambil mengelus perut Kikan dan tertawa bahagia.


__ADS_2