Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kejujuran


__ADS_3

"Apa itu Bi ?", tanya Bu Diana ke Bi Darmi.


"Paket untuk Nona Tania, Bu ", jawab Bi Darmi.


"Paket ? dari siapa ?", tanya Bu Diana lagi.


"Saya kurang tahu Bu, sepertinya Nona Tania habis berbelanja online ".


"Anak itu selalu hobby belanja padahal sebentar lagi akan menikah. Kalau dia belanja terus bisa-bisa habis uang suaminya. Tapi untungnya calon mantuku itu seorang CEO, jadi aku tidak khawatir akan Tania setelah menikah nanti. Ya sudah ... cepat taruh kamarnya dan bangunkan Tania, Papanya sudah menunggu sarapan ", perintah Bu Diana.


"Baik, Bu !". Bi Darmi bergegas ke kamar Tania, mengetuknya perlahan tapi ternyata tidak di kunci. Perlahan Bi Darmi masuk ke kamar Tania yang temaram. Sepertinya penghuni kamar masih tertidur.


"Non ... bangun, Non. Sudah ditunggu Bapak dan Ibu sarapan !", ucap Bi Darmi mencoba membangunkan Tania. Tania menggeliat sedikit lalu perlahan membuka matanya.


"Jam berapa Bi sekarang ?", tanya Tania dengan suara masih mengantuk.


"Jam 8, Non. Ini juga ada paket untuk Non Tania ", ucap Bi Darmi sambil menyerahkan paket yang diterimanya tadi. Tania segera bangun dari tidurnya dan menerima paket yang disodorkan Bi Darmi.


"Cepet banget datangnya ", gumam Tania sambil segera membuka bungkus paket itu tanpa mempedulikan Bi Darmi yang sibuk merapikan kamarnya.


Tania membaca sekilas petunjuk penggunaan obat itu. Lalu ia meletakkan obat itu di nakasnya begitu saja karena ia ingin segera ke toilet menuntaskan hajadnya.


"Tania sudah bangun, Bi ?", tanya Bu Diana yang sudah masuk ke kamar Tania.


"Sudah, Bu. Non Tania sedang ke kamar mandi ", jawab Bi Darmi masih sibuk merapikan kamar Tania.


Bi Darmi masih sibuk membersihkan kamar Tania sampai tidak sadar menyenggol botol obat yang diletakkan di nakasnya hingga terjatuh dan menggelinding mendekati kaki Bu Diana. Bu Diana segera mengambil botol itu, membaca tulisan di botol itu dan terkejut.


"Apa ini punya Tania, Bi ?", tanya Bu Diana.


"Iya, Bu. Itu paket yang baru dibuka Nona Tania yang saya bawa tadi ", jawab Bi Darmi.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu sudah selesai ?".


"Sudah, Bu. Saya permisi dulu ", ucap Bi Darmi segera keluar dari kamar Tania sambil membawa beberapa pakaian kotor.


Bu Diana tetap menunggu di kamar Tania sambil duduk manis di kasurnya.


"Eh ... Mama, kok ada disini ?", tanya Tania begitu keluar dari kamar mandi sepertinya dia sudah selesai mandi.


"Duduk ! Mama mau bicara !", ucap Bu Diana. Tania segera duduk di kursi riasnya menghadap Bu Diana.


"Ada apa Ma ?", tanya Tania bingung. Matanya sibuk mencari obat yang baru saja didapatnya, sepertinya tadi kuletakan di atas nakas sekarang kok gak ada, pikirnya.


"Kamu mencari ini kan ?", tanya Bu Diana sambil menunjukkan botol obat yang sibuk dicari Tania. Tania terkejut, bagaimana obat itu bisa di tangan mama. Ia memang ceroboh, seharusnya tadi disimpan di laci nakas.


"Jawab ! ini punyamu kan ?", tanya Bu Diana lagi. Tania hanya terdiam tak berani menjawab.


"Mama bilang jawab Tania !!!! ", tanya Bu Diana semakin keras suaranya. Tania kini menjadi terisak.


"I....iiiya, Ma. Itu punya Tania ", jawab Tania sedikit terisak.


"Untuk apa obat ini ?". Tania hanya diam dan semakin menundukkan kepalanya.


"Apa kamu sedang hamil, Tania ?". Tania terus diam semakin menundukkan kepala dan menangis.


Bu Diana terdiam melihat Tania menangis, ia rasa itu sudah menjadi jawaban untuk pertanyaannya.


"Siapa yang melakukannya ?", tanya Bu Diana lagi.


Tania diam saja dan terus menangis.


"Kalau kamu tidak mau mengatakannya, Mama akan mencari tahu sendiri dan menjebloskannya ke penjara ".

__ADS_1


"Jangan Ma .... tolong jangan lakukan itu ", ucap Tania akhirnya.


"Kalau begitu katakan sejujurnya sekarang juga !". Tania menghela nafasnya, mencoba mengaturnya dari isakan yang terus keluar.


"Kemal, Ma. Mas Kemal yang melakukannya ", jawab Tania akhirnya.


"Jadi kamu masih berhubungan dengan produser itu ?", tanya Bu Diana kesal. Tania mengangguk.


"Mengapa dia tidak mau bertanggung jawab ?", tanya Bu Diana lagi.


"Kemal mau Ma, dia mau bertanggung jawab dan akan melamar Tania. Tapi Tania yang tidak mau, Tania lebih memilih Adrian. Dia lebih tampan dan kaya, oleh sebab itu Tania ingin menggugurkannya. Tania tidak mau Adrian membatalkan pernikahan ini hanya karena Tania hamil dengan orang lain ", terang Tania. Bu Diana tertegun mendengar penjelasan Tania.


"Kamu sudah gila ya, Tania. Otakmu dimana ? Mengapa kamu tidak memikirkan dari awal saat melakukannya. Mama tidak mau kamu menutupi perbuatan dosamu dengan dosa yang lain. Apa kamu tidak tahu bahaya aborsi, apalagi aborsi yang kau lakukan sendiri tanpa pertolongan tenaga ahli ?. Mama pikir kamu lebih pintar dari kakak-kakakmu, ternyata sama saja dengan mereka ", ucap Bu Diana makin kesal.


"Terus Tania harus bagaimana, Ma ?. Tania tidak mau batal menikah dengan Adrian. Tania gak mau harus melepasnya ", ucap Tania.


"Lalu coba kau pikir, apa Adrian akan mau menerimamu ?. Dari awal dia sudah terpaksa melakukan perjodohan ini. Ketika sudah menyetujuinya, malah dirimu yang merusaknya dengan kebodohanmu sendiri. Lalu apa kau pikir dia akan melanjutkan pernikahan ini ?. Mama sungguh kecewa padamu Tania. Padahal Mama sangat berharap perjodohan ini. Sekarang terserah padamu. Mama sudah terbiasa menanggung malu akibat ulah kakak-kakakmu dan sekarang kau ulangi lagi kesalahan kakakmu. Entah, siapa yang salah, kalian atau Mama dan Papa yang terlalu memanjakan ", ucap Bu Diana dengan nada kecewa.


"Maafkan Tania ... Ma, Tania sebenarnya sudah melakukan hal itu sejak pertama kali terjun ke dunia akting. Dan itu semua Tania lakukan dengan Kemal karena kami saling mencinta Ma. Tapi, sejak Mama membicarakan tentang perjodohan dengan Adrian dan ternyata Adrian sangat menarik. Tania tergoda dan meninggalkan Kemal. Maafkan Tania ...., Ma ", isak Tania.


"Mengapa kamu tidak jujur dari dulu tentang hubunganmu dengan Kemal, Mama kan sudah berulang kali menanyakannya tapi kamu menepisnya. Kamu bilang hanya berteman saja ".


"Tania malu Ma, Kemal seorang duda. Tania takut Mama dan Papa tidak akan merestui hubungan kami ", ucap Tania lagi.


"Berarti kamu tidak percaya kepada Papa dan Mama, Tania !", ucap papa Tania yang tiba-tiba sudah masuk ke kamar Tania. Tania dan Bu Diana menoleh cepat karena kaget.


"Papa penasaran mengapa Mama begitu lama membangunkan Tania, sampai Papa kelaparan menunggu. Ternyata sedang ada ini toh ", ucap papa lagi sambil tersenyum.


"Terus ... bagaimana ini, Pa ? pernikahan Tania dan Adrian kurang beberapa hari lagi. Kalau diteruskan kasihan Adrian juga Tania dan perasaan Kemal juga bagaimana. Tapi kalau dibatalkan, kita akan menanggung malu apalagi semua undangan sudah tersebar ", ucap Bu Diana.


"Sekarang maumu bagaimana, Tania ?", tanya papa lagi.

__ADS_1


"Tania ingin tetap menikah dengan Adrian, Ma, Pa", ucapnya yang langsung dijawab tatapan tajam mama dan papanya.


"Baik, Tania akan menelpon Adrian dan Kemal hari ini !", ucap Tania akhirnya yang disambut senyuman mama dan papanya.


__ADS_2