Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pendatang Terlucu


__ADS_3

"Aduh .... ganteng banget si kecil ini, persis mamanya ya ?", ucap Mami Tiwi sambil menggendong bayi mungil itu.


 


"Iya, Mi betul kayak kak Kikan. Kulitnya putih banget, hidungnya juga mancung. Gemes liatnya, Mi", seru Galuh kegirangan. Kikan dan ibu hanya tersenyum mendengarnya.


"Kamu sudah sehat, Nduk ?", tanya ibu kini.


"Iya, Bu. Insya Allah hari ini kita pulang. Kikan gak sabar pingin cepet pulang Bu", jawab Kikan.


"Kamu beneran gak mau pulang ke rumah Ibu ?", tanya ibu lagi.


"Bu.... Kikan kan sudah bilang, Kikan akan pulang ke rumah setelah satu tahun. Kikan ingin menyelesaikan skripsi dulu dan hal lain yang sudah menjadi janji Kikan. Ibu sabar ya .... Kikan pasti pulang kok". Ibu mengangguk mendengar penjelasan Kikan.


"Iya ... Ibu tahu kok Nduk, cuma Ibu kasihan kamu nanti kerepotan kalau harus mengurus si kecil sendirian ".


"Gak sendirian kok Tante, Galuh akan tinggal di rumah kayu untuk bantu Kak Kikan. Kebetulan semester ini, Galuh harus magang di klinik ini jadi bisa nemeni Kak Kikan", tutur Galuh.


"Bener Luh ?", tanya Kikan.


"Iya Kak, aku kan jurusan kebidanan kebetulan klinik ini juga membutuhkan tenaga pembantu jadi aku mengajukan aja ternyata disetujui. Jadi aku bakalan tinggal di rumah kayu dengan Kak Kikan dan si kecil ini, gak pa-pa kan ?".


"Wuah .... aku malah seneng Luh, ada yang nemeni", pekik kegirangan Kikan.


"Kok kamu gak cerita Mami, Luh ?", tanya mami kini.


"Supraise, Mi. Supraise ....", jawab Galuh sambil tersenyum.


"Oh ya, Nduk sudah dapat nama belum buat si kecil ?".


"Sudah Bu ".


"Siapa namanya ?", tanya mereka bertiga berbarengan. Kikan tersenyum melihat rasa ingin tahu mereka bertiga.


"Namanya Raka Sauqi ".

__ADS_1


"Wah ... bagus banget kayak anaknya ...", ucap Mami disambut anggukan yang lain.


"Oh.... dari tadi disini semua toh. Pantesan dicariin di luar kok gak ada", seru papi yang tiba-tiba datang bersama ayah.


"Gimana Yah, sudah diurus semuanya ?", tanya ibu.


"Iya, sudah, tinggal nunggu suster aja meriksa Kikan dan bayinya lalu pulang", jawab ayah.


"Syukurlah ...., loh Bi Ijah kemana ?", tanya mami.


"Tadi sudah Papi suruh pulang menyiapkan pesta penyambutan Kikan".


"Wah ... Papi pinter ternyata. Tadinya Mami mau nyuruh gitu, syukur deh kalau sudah diinfo Papi".


"Permisi .... Bu Kikan dan bayinya mau saya periksa dulu ya ? kan sudah mau pulang ?", seru suster yang mendatangi Kikan.


"Oh iya, silakan Sus", ucap Mami sambil segera bergeser memberi jalan diikuti yang lain.


Setelah diperiksa beberapa lama, akhirnya Kikan dan bayinya diperbolehkan pulang. Ayah, ibu, mami, papi dan Galuh begitu gembira mengantar Kikan pulang. Berulang kali bayi kecil itu bergantian digendong oleh mereka berlima.


Setelah perjalanan hampir lima belas menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah kayu. Rumah kayu itu masih sama seperti saat Kikan berangkat kemarin yang berbeda hanya hiasan balon-balon yang dipasang di pegangan tangga teras depan menyambut kedatangan Kikan.


"Welcome home new mother and baby boy", teriak suara seseorang yang sangat dikenal Kikan. Dia langsung menoleh cepat.


"Bobby ..... sudah kuduga pasti bukan Mang Ujang dan Bi Ijah yang menghias seperti ini".


"Sorry Kan, kamu gak suka ya. Habis dadakan sih Bulik ngabarinnya pun tadi pagi. Gampang deh, nanti aku ganti yang bagus ya ?", ucap Bobby.


"Gak usah Bob, ini sudah bagus terima kasih ya ?". Bobby mengangguk mendengarnya.


"Makasih ya Bob ",ucap ibu sambil mengelus punggung Bobby.


"Oh ya..., Intan kemana ? kok gak ikut ?", tanya Kikan kini. Bobby hanya diam sambil menggaruk kepalanya.


"Nanti deh, aku cerita tentang Intan. Kamu istirahat dulu aja ", ucap Bobby akhirnya. Kikan hanya mengangguk lalu mulai sibuk dengan Raka yang sudah menangis minta menyusu.

__ADS_1


"Kamu sudah bisa Nduk ?", tanya ibu.


"Kemarin sempat diajarin suster Bu. Tapi ASI-nya belum keluar banyak ".


"Gampang Kikan, nanti Mami suruh Bi Ijah bikinin kamu makanan yang melancarkan ASI ", kata mami sambil mendekat ke Kikan. Kikan hanya tersenyum mendengarnya lalu mulai sibuk dengan Raka.


Kikan senang sekali melihat bayi kecil yang ada di dekapannya sekarang, seakan sebuah keajaiban saja. Kikan mengamati bayi kecil yang sedang asyik meminum susunya itu. Rambutnya tebal sekali dan hitam, kulitnya putih bersih benar kata Galuh, kulit Raka seperti dirinya. Hidung mancung dan mata itu, mata Raka mengingatkan Kikan pada Ranu. Akh, mungkin kamu di alam sana juga turut bahagia mas melihat kebahagiaan ini. Aku sekarang tidak akan menangisimu lagi, aku sudah ikhlas dengan kepergianmu, ini saatnya aku bangkit untuk memulai hidupku lagi memulai lembaran baru lagi bersama Raka tentunya.


"Hei ! .. ngelamun ya , pamali tau !", tiba-tiba Bobby sudah berdiri di dekat Kikan.


"Ngapain disini, aku masih ngasih ASI nih".


"Aku disuruh Bulik, kalau sudah kamu disuruh keluar, suruh makan tuh", ucap Bobby sambil berlalu lagi. Kikan hanya mengangguk mendengarnya.


Tak berapa lama setelah Bobby berlalu, Kikan pun ikut keluar kamar. Raka sudah tertidur pulas di kamarnya setelah menyusu tadi lagipula sudah ada Galuh yang menemani Raka.


"Kamu makan dulu, Nduk", kata ibu begitu melihat Kikan keluar kamar.


"Iya Bu, Kikan lapar banget. Mami, Papi dan Ayah kemana Bu ?", tanya Kikan sambil mulai duduk di meja makan.


"Ada, di belakang. Mereka tadi makan duluan, kelamaan nungguin kamu ". Kikan tersenyum mendengarnya.


"Nduk .... ibu mungkin akan disini sampai 40 hari ya, gak pa-pa kan ?. Ibu ingin nemani kamu, Nduk".


"Tentu Kikan tambah seneng Bu, tapi Ayah gimana ?. Kasihan di rumah sendirian".


"Ayahmu, sebulan ke depan ini harus ke luar pulau ada urusan kerjaan. Seharusnya sudah seminggu yang lalu berangkat tapi beliau ingin nungguin kamu lahiran jadi keberangkatannya diundur. Jadi ibu tenang saja selama nunggu kamu disini".


"Oh ya, sudah kalau begitu Bu. Bobby kemana Bu ?".


"Gak tahu, tuh anak kayak orang bingung aja dari kemarin bolak balik telepon Ibu, tiap ditanya ada apa gak jawab. Makanya Ibu suruh kesini aja, siapa tahu dia mau cerita sama kamu", terang Ibu. Kikan hanya manggut-manggut sambil nerusin makannya.


"Ibu gak pernah telepon Pakde lagi ?", tanya Kikan setelah menghabiskan makanannya. Ibu hanya diam.


"Jangan gitu Bu, jangan memutus tali silaturahim hanya gara-gara hal sepele".

__ADS_1


"Entahlah, Nduk. Ibu masih kesel ama Pakde mu tiap kali ingat niatnya mau jodohin kamu dulu. Kesel banget rasanya".


"Jangan gitu Bu, itukan kakak Ibu. Kikan sudah gak marah kok sama Pakde. Nanti kalau sudah pindah dari sini, kita main ke rumah Pakde ya Bu", pinta Kikan. Ibu hanya mengangguk mengiyakan.


__ADS_2