Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Keputusan Kikan


__ADS_3

Kikan bergegas melangkah turun menemui tamu yang dimaksud Amel. Betapa terkejutnya Kikan saat tahu tamu yang mencari Kikan adalah ibu Hendy dan Tante Ratih. Tantenya Hendy yang telah bersikap tidak sopan dan mengoloknya habis-habisan di pesta ulang tahun ibu Hendy kemarin. Dengan tersenyum, Kikan menyapa mereka berdua lalu mempersilahkan mereka duduk di sofa.


"Maaf Kikan, Ibu datang pagi-pagi kesini", ucap ibu Hendy ramah. Kikan tersenyum mendengarnya, memang ibu Hendy sangat anggun dan ramah beda dengan Tante Ratih. Sudah dari awal bertemu Kikan wajahnya sudah jutek, judes tanpa senyuman di wajahnya.


"Begini .... maksud kedatangan Ibu kesini sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kikan. Karena Kikan sudah mau mendesain baju untuk hari ulang tahun Ibu. Ibu sangat suka sekali dan Ibu berharap suatu saat bisa memesan lagi ke Kikan", tutur ibu Hendy.


"Terima kasih Bu, saya senang kalau Ibu cocok dengan desain saya. Saya siap sedia kapan saja Ibu membutuhkan bantuan saya langsung datang kesini saja", jawab Kikan. Ibu Hendy tersenyum ramah tidak ada gurat marah atau benci di wajahnya, beda dengan Tante Ratih yang terus memasang wajah ingin perang dengan Kikan.


"Selain itu ... maksud kedatangan Ibu kesini ingin menanyakan hubungan mu dengan Hendy ?. Maaf, bukannya Ibu lancang, tapi Ibu ingin tahu kebenarannya dari Kikan sendiri. Apa kamu serius dengan Hendy ?", tanya ibu Hendy. Kikan benar-benar kaget dengan pertanyaan ibu Hendy. Tapi, Kikan juga lega karena mungkin ini saatnya dia terus terang tentang perasaannya terhadap Hendy.


"Maaf Bu, sebenarnya saya sudah lama membicarakan ini dengan Hendy tapi sepertinya Hendy tidak mau menyerah. Saya hanya menganggap Hendy sebagai teman biasa, Bu. Tidak lebih. Saya juga belum ada keinginan untuk serius menjalin hubungan dengan siapa saja. Saya masih ingin sendiri, masih ingin mengejar karir saya, masih ingin membesarkan butik saya ini dan saya masih ingin membesarkan anak saya sendiri, Bu. Saya sadar status saya yang tidak jelas ini tentu tidak akan mudah diterima oleh masyarakat, makanya saya hanya ingin sendiri dan terus berkarya saja. Mungkin suatu saat nanti akan tiba saatnya saya menjalin hubungan serius dengan seseorang tapi untuk sekarang tidak terlebih dengan Hendy. Saya hanya menganggapnya teman saja. Mohon maaf, kalau perkataan saya menyinggung Ibu tapi inilah yang sebenarnya dan saya juga sudah mengungkapkan hal ini dengan Hendy", tutur Kikan. Ibu Hendy hanya tersenyum mendengar penjelasan Kikan. Sedangkan Tante Ratih berulang kali menebar senyum masamnya ke arah Kikan.


"Jadi selama ini Hendy tahu kalau kamu hanya menganggapnya teman saja ? tapi dia tidak menyerah mengejar mu. Dasar Hendy", ucap ibu Hendy sambil tersenyum.


"Sebenarnya Ibu suka dengan Kikan tapi maaf keluarga kami sangat menjunjung bibit, bobot dan bebet dalam mencari pasangan hidup. Jadi mohon maaf mungkin Kikan belum berjodoh dengan Hendy".


"Iya Bu, saya maklumi dan sadar posisi saya".


"Sebenarnya Hendy sudah lama akan Ibu jodohkan dengan kerabat jauh tapi masih menolak terus dengan alasan sudah punya pacar. Tapi setelah mendengar penjelasan Kikan, Ibu sekarang lega rasanya. Terima kasih ya, sudah sempat singgah di keluarga Hendy meskipun hanya sekejap. Ibu harap Kikan masih menjalin silaturahmi meskipun sudah tidak berjodoh dengan Hendy".

__ADS_1


"Tentu Bu, saya akan selalu menjalin silaturahmi".


"Ya sudah ... kalau gitu, sekarang semua sudah jelas. Oh ya, Ibu juga minta maaf atas nama Tante Ratih yang sudah membuatmu menangis di pesta kemarin ", ucap ibu Hendy lagi yang sempat membuat Tante Ratih terbelalak kaget.


"Mbak ...., jangan ngomong begitu dong. Aku kan hanya mengingatkan Kikan", ucap Tante Ratih akhirnya.


"Sudah, kamu minta maaf saja, sikapmu kemarin sangat tidak sopan", bisik ibu Hendy. Tante Ratih lalu mengangguk.


"Kikan ...., maafkan Tante ya !", ucap Tante Ratih kini dengan senyum manisnya. Kikan tersenyum.


"Gak pa-pa, Tante. Kikan sudah melupakannya kok", jawab Kikan.


Kedua orang itu lalu pergi di tengah guyuran hujan yang masih lebat. Kikan menarik nafas lega, akhirnya beres sudah urusanku dengan Hendy. Memang sebenarnya Kikan tidak pernah tertarik dengan Hendy, dia hanya menganggap teman. Selain itu, Kikan juga tidak mau mengisi hatinya dengan orang lain sebelum orang itu siap menerima keadaan dirinya. Kikan hendak melangkah kembali ke lantai dua tapi terhenti ketika pintu ruko terbuka. Sesosok tubuh basah kuyup tengah berdiri menatap dirinya.


"Hendy !", pekik Kikan begitu melihat ternyata sosok itu Hendy.


"Kamu kenapa lari di bawah hujan deras ini ", ucap Kikan sambil bergegas mengambilkan handuk kering yang ada di lemari penyimpanan. Hendy hanya diam dan menolak handuk dari Kikan.


"Apa yang dikatakan Ibu dan Tanteku tadi ?", tanyanya. Kikan menoleh kaget.

__ADS_1


"Kamu tahu mereka kemari ?", kata Kikan balik tanya. Hendy mengangguk.


"Ayo Hen, keringkan dulu bajumu. Kamu basah kuyup, kamu bisa sakit nanti", ucap Kikan sambil memberikan Hendy handuk lagi.


"Biar saja aku sakit, untuk apa kamu peduli ?".


"Hen, kamu kok ngomong gitu sih ?".


"Kamu bilang apa tadi ke Ibu ?", tanyanya lagi kini dengan wajah penuh amarah. Kikan terduduk di sofa, dia tidak mau melawan amarah Hendy dengan marah juga.


"Aku mengatakan sebenarnya, aku hanya menganggap mu teman, Hen. Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita lebih serius. Aku hanya ingin berteman saja".


"Kamu bohong. Kamu sebenarnya menginginkan ku tapi kamu terus menolak ku. Aku suka kamu, Kikan. Aku cinta kamu. Aku bersedia melakukan apa saja untuk kamu. Mengapa kamu terus menolak ku ?. Mengapa kamu terus mengingkari perasaan mu ?. Mengapa aku tidak kau perbolehkan masuk ? Mengapa ?", tanya Hendy kini mulai membabi buta. Kikan hanya diam.


"Hen, aku tidak ingin melukai semua orang. Aku juga tidak ingin menghancurkan keutuhan sebuah keluarga. Aku tidak sanggup melakukan itu semua. Aku tidak mau menjadi penyebab perselisihan di keluargamu. Tolong mengertilah, aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya menganggap mu teman saja. Jangan kamu mempertahankan aku yang tidak bisa mencintaimu. Tolong, penuhilah permintaan Ibumu, dia lebih menyayangimu dan mengenalmu. Aku hanya ingin kamu bahagia saja", jelas Kikan.


"Aku bahagianya kalau bersama kamu, Kikan".


"Tapi, aku gak Hen. Aku lebih bahagia bila sendiri saja. Cintamu bertepuk sebelah tangan, Hendy. Sadarlah !. Aku tidak bisa memberi cinta sebesar punyamu, aku tidak punya itu. Tolong, mengertilah keadaanku", ucap Kikan sedikit meninggi. Hendy terdiam, bajunya masih basah kuyup karena hujan, bibirnya mulai membiru, tangan dan tubuhnya juga mulai menggigil.

__ADS_1


"Baiklah ... kalau begitu. Ternyata semua yang aku lakukan selama ini untukmu tidak ada artinya. Kamu tidak pernah membuka hatimu untukku. Aku tahu sekarang. Kamu yang sengaja menutup terus hatimu kan ? meskipun aku berusaha telah membukanya tapi kamu terus menutupnya. Aku tahu, kamu hanya ingin sendiri terus untuk selamanya. Mungkin baru kali ini aku mengalami patah hati yang teramat sakit dan itu karena kamu. Terima kasih ... sudah mengisi beberapa hariku. Aku janji, ini kali terakhir aku menemuimu. Selamat tinggal, Kikan", ucap Hendy. Ia lalu berbalik dan kembali berjalan di bawah hujan lebat. Sepertinya, dia sangat terluka saat itu. Kikan hanya diam, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak pernah ingin menjalin hubungan serius dengan seseorang dulu. Hendy sudah tahu itu dan Hendy terus berusaha untuk menyakinkan Kikan namun ternyata semua usaha Hendy tidak mampu merubah keputusan Kikan.


__ADS_2