Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Keputusan Kikan


__ADS_3

Kikan terduduk lemas di sudut kamarnya, hampir seharian ini ia habiskan dengan menangis saja. Ia bingung, sedih, putus asa apa yang harus dilakukannya. Semua orang selalu berkata sabar dan ikhlas tapi mereka tidak tahu bagaimana perasaanku, bagaimana keadaanku yang sebenarnya.


Kikan termenung, sambil mengelus janin di perutnya. Apa yang harus kulakukan denganmu nak ?. Semua terasa indah, terasa mudah aku jalani saat bersama mas Ranu namun sekarang apa yang harus kulakukan. Ayah dan ibu tak pernah tahu kehamilanku. Apa mereka akan menerimaku atau malah mengusirku karena aku bagai aib di keluarga yang telah mencoret muka mereka. Bagaimana cara menjalani kehidupanku selanjutnya ?. Ya Tuhan .... aku bingung sekali.


Kikan meremas-remas rambutnya sambil menangis kembali. Ini memang salahku, aku tak mau mengungkitnya lagi tapi sekarang apa yang harus kulakukan. Aku tak sanggup kalo harus berterus terang ke ayah dan ibu. Aku tak sanggup harus mengecewakan mereka lagi. Aku tak mau menjadi anak durhaka yang terus membuat orang tuanya menderita. Aku gak mau itu terjadi, aku gak mau. Kikan menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali masih sambil menangis.


Lalu tiba-tiba, ia melihat Carter yang tergeletak di bawah meja belajarnya. Ia mengambil Carter itu, diamati dengan seksama pisaunya masih tajam berkilat-kilat terkena cahaya mentari dari balik jendela kamarnya. Mungkin lebih baik aku menyusul mas Ranu. Ya .... itu lebih baik bagi aku dan si kecil di dalam perutku.


Akhirnya dengan menahan sakit Kikan menggoreskan Carter di pergelangan tangannya hingga menimbulkan banyak darah. Kikan hanya menangis sambil menahan sakit yang sangat sampai akhirnya ia tergeletak tak sadarkan diri.


"Assalamualaikum Bulik ", sapa Bobby yang datang bersama Intan sore ini ke rumah Kikan.


"Waalaikumsalam, Bobby, Intan ayo masuk", ucap ibu mempersilahkan.


"Kikan mana Bulik ?".


"Ada di kamarnya, mungkin sedang tidur dari tadi sepulang dari pemakaman dia masuk kamar", jelas ibu.


"Tapi ini hampir Maghrib loh Bulik, kok Kikan tidak keluar untuk makan. Ini aku bawain ayam goreng kesukaannya", ucap Bobby lagi sambil menyerahkan bawaan Bobby ke ibu Kikan.


"Wah iya, ini kesukaannya. Coba Bob, Ntan kamu bangunkan Kikan sekalian ajak makan. Bulik mau menyiapkannya dulu". Kikan dan Bobby mengangguk dan beranjak bangkit menuju kamar Kikan.


"Kikan ...Kikan ...", ketuk Intan pelan.


"Coba yang keras, Ntan. Kikan kalo tidur emang susah bangun". Intan menurut dan lalu mengetuk pintu kamar Kikan dengan keras.


"Kikan ... Kikan ....", seru intan lagi sambil berusaha membuka pintu tapi masih terkunci.


"Kikan ... Kikan ... ayo bangun Kan ...."..Kini giliran Bobby yang mengetuk keras pintu kamar Kikan tapi tidak ada jawaban.


"Belum bangun Bob Kikannya ?", tanya ibu menuju kamar Kikan.


"Belum Bulik, emang Kikan kalo tidur susah bangun begini ya ?", tanya Bobby.

__ADS_1


"Iya sih, tapi biasanya dia dua kali ketukan sudah dibukakan. Ini sudah dari tadi kamu mengetuknya kan ?", tanya ibu lagi. Bobby dan Intan saling berpandangan cemas.


"Jangan-jangan ..... ", ucap Bobby dan Intan berbarengan.


"Bulik punya kunci serep kamar Kikan ?", tanya Bobby.


"Punya, tapi kalo kuncinya Kikan masih mancep di pintunya tidak bisa toh Bob", terang ibu.


"Oke, kalo gitu, kita dobrak saja saya takut terjadi apa-apa dengan Kikan", jelas Bobby. Ibu mengangguk dan bergegas ke belakang mengambil palu untuk memudahkan mendobrak.


Tiga kali Bobby memukul handel pintu Kikan, akhirnya ia bisa merusak anak kuncinya lalu membuka pintu kamar Kikan.


"Kikan ......", pekik ibu begitu pintu kamar terbuka yang nampak Kikan sudah tergeletak di lantai kamar dengan darah dan Carter di tangannya. Bobby segera menyalakan lampu.


"Ya ... Allah Kikan, ayo Bobby cepat angkat dia kita bawa ke rumah sakit", pinta ibu.


Bobby lalu dengan sigap membopong tubuh Kikan lalu meletakkan di kursi belakang bersama ibu. Sedang dia dan Intan duduk di depan.


"Cepat Bob, Bulik gak mau terjadi apa-apa dengan Kikan", ucap ibu sambil mulai menangis.


"Ntan, cepetan kamu telepon Paklik beritahu keadaan Kikan supaya segera menyusul kita ke rumah sakit", ucap ibu lagi.


"Baik Bu", ucap Intan lalu menelpon ayah Kikan yang habis istirahat tadi berangkat ke kantor.


Sesampai di rumah sakit Kikan langsung di bawa ke UGD. Ibu hanya bisa menangis saja, ia menyesal tidak menemani Kikan tadi siang padahal ibu tahu Kikan sangat terpukul dengan kematian Ranu.


"Sabar ya Bulik, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan Kikan",ucap Intan sambil mengelus-elus punggung ibu Kikan.


"Bu ... bagaimana Kikan ?", tanya ayah setengah berlari begitu sampai di rumah sakit setelah mendapat telepon dari Intan tadi.


"Kikan masih di dalam Yah, masih ditangani dokter. Aku benar-benar menyesal Yah mengapa tadi siang aku tidak menemaninya. Mengapa aku membiarkan Kikan sendirian tadi ?. Pasti dia masih terpukul, dia masih sedih dengan kepergian Ranu. Aku benar-benar ibu yang tidak mengerti perasaan anaknya. Aku ibu yang tak berguna ya", ucap ibu Kikan sambil menangis di pelukan ayah.


"Sudah Bu, jangan menangis ini bukan kesalahanmu. Kita berdoa saja supaya tidak terjadi hal buruk pada Kikan".

__ADS_1


"Mungkin kalau ada apa-apa dengan Kikan akulah orang yang harus kau salahkan Yah. Aku pantas disalahkan". Ibu masih terus menangis di pelukan ayah. Ayah hanya bisa menenangkannya sambil terus melantunkan doa supaya Kikan tertolong.


Hampir dua jam mereka berempat menunggu, akhirnya seorang suster datang menghampiri.


"Ibu keluarga Kikan ?", tanya suster itu. Ibu langsung mengangguk dan bangkit dari duduknya.


"Mari silakan masuk dokter ingin bicara", lanjut suster itu lagi. Segera mereka berempat masuk ke ruangan tempat Kikan di rawat tadi.


Begitu masuk, ibu melihat wajah Kikan tampak pucat dengan infus di tangan dan bekas irisan di tangannya tadi sudah diperban dengan rapi. Kikan masih tertidur ketika mereka masuk.


"Ibu keluarga Kikan ?", tanya dokter begitu melihat mereka berempat ikut masuk semua.


"Iya Dok, saya Ayah dan Ibunya, ini kakaknya", terang ayah.


"Baiklah kalo begitu. Kondisi Kikan sudah membaik, untung saja kalian tidak telat membawanya kesini. Sepertinya dia sudah menggoreskan Carter di tangannya sejak tadi siang diliat banyaknya darah yang keluar dan luka yang dalam. Dia mengalami depresi berat Bu, seharusnya jangan membiarkan dia sendirian."


"Iya Dok, saya yang salah saya meninggalkan dia sendirian tadi", jawab ibu.


"Tapi gak pa-pa, ini jadi pelajaran buat kita. Orang yang depresi berat cenderung nekat. Bila dia ingin bunuh diri sekali tidak berhasil, dia akan mencobanya lagi. Saya harap ibu harus ekstra mengawasinya, sering ajak dia ngobrol untuk membicarakan masalahnya siapa tahu nanti akan ada jalan keluar". Ibu dan ayah manggut-manggut mendengar penjelasan dokter.


"Dia sekarang sudah mulai membaik tapi kondisi janin di perutnya tampaknya kurang asupan gizi sepertinya dia belum makan, tapi tadi saya sudah memberinya vitamin ", terang dokter lagi membuat ibu berpikir.


"Tunggu Dok, apa maksudnya janin di perutnya ?", tanya ibu kebingungan.


"Ibu belum tahu kalau akan punya cucu ?". Ibu menggeleng cepat.


"Ya ... anak Ibu sedang mengandung kalo dilihat ukuran janinnya sepertinya sudah usia 15 Minggu", lanjut dokter itu.


"Maksud ... maksud dokter Kikan hamil ?", tanya ibu lagi kini dengan ekspresi terkejut.


"Iya, selamat ya Bu. Saya permisi dulu, biarkan Kikan istirahat", ucap dokter sambil berlalu.


Semua yang mendengar pernyataan dokter tadi tentang kehamilan Kikan ikut terkejut. Bobby dan Intan hanya berpandangan, mereka baru tahu keadaan Kikan hari ini. Kikan tidak pernah menceritakan apapun kepada siapa-siapa kecuali mas Ranu-nya. Ayah dan ibu yang juga shock hanya terdiam membisu. Mereka tidak tahu mengapa Kikan tidak pernah menceritakan hal ini.

__ADS_1


Ibu terduduk lemas di bangku rumah sakit, ia masih tidak percaya penjelasan dokter tadi. Ia harus menanyakan ke Kikan sendiri setelah dia sadar.


__ADS_2