Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Permintaan Ibu


__ADS_3

Kini Kikan mulai menjalani kehidupan barunya dengan si kecil Raka. Setelah melahirkan Raka, Kikan kembali fokus mengerjakan skripsi. Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar sarjana. Kikan juga mulai aktif lagi menerima pesanan baju. Ada yang memesan baju pengantin, baju pesta, baju anak semua coba dilayani Kikan. Memang sesungguhnya Kikan lebih suka menerima pesanan baju pengantin, itu passion nya tapi Kikan tak pernah menolak permintaan pelanggan nya. Ia ingin selalu menyenangkan pelanggan nya lebih-lebih pelanggan yang baru dikenalnya karena ini satu-satunya cara dia mengenalkan rancangannya ke dunia luar.


Kikan bergegas mengirim semua draf skripsinya ke email dosen pembimbing nya. Ia ingin segera mendapat persetujuan sehingga bisa maju sidang begitu semester baru dimulai. Ah .., Kikan tak sabar menunggu masa sidang skripsi, ia sudah seratus persen yakin kalau skripsinya tidak akan ada penolakan.


 


"Raka sudah tidur Kak ", sahut Galuh mengagetkan Kikan. Ya .... setelah melahirkan, Kikan ditemani Galuh di rumah kayu karena kebetulan Galuh juga magang di klinik tempat Kikan melahirkan.


"Makasih ya, Luh. Kamu mau berangkat sekarang ?", tanya Kikan.


"Iya Kak, aku dinas malam hari ini. Maaf gak bisa nemani Raka ya Kak ?".


"Gak pa-pa, aku juga sudah selesai kok. Aku juga mau istirahat. Kamu diantar Mang Ujang atau bawa motor sendiri ?".


"Aku bawa motor sendiri aja Kak, biar gak merepotkan Mang Ujang besok pagi. Jadi, aku bisa pulang sewaktu-waktu sesukaku".


"Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati ya !". Galuh mengangguk dan bergegas berjalan keluar.


Kikan segera merapikan buku sketsanya dan menyimpannya rapi di laci. Kemudian dia bangkit berjalan menuju ke kamar. Kikan membuka kamar perlahan, dia melihat Raka putra kecilnya sudah tertidur pulas.


Kini Raka berusia tiga bulan, ia sudah mulai belajar mengangkat kepalanya dan tidur miring-miring ke posisi tengkurap. Kadang lucu sekali kalau melihat tingkahnya yang belajar tengkurap. Kikan terkekeh melihat mulut kecil Raka yang sedikit terbuka saat tidur, ia gemas sekali setiap saat melihat tingkah Raka. Semua kelucuan yang dibuatnya seakan membuat Kikan lupa kalau dia pernah terpuruk, pernah depresi, pernah merasakan kesedihan yang teramat sangat.


Tiba-tiba, hp di saku Kikan bergetar. Kikan sengaja mengganti ke mode silent agar Raka tidak terganggu tidurnya. Kikan segera meraih ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari ibu.


"Assalamualaikum, Bu ", sapa Kikan di telepon.


"Waalaikumsalam, Nduk. Gimana kabarmu ?", tanya ibu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik Bu".


"Kalau si kecil gimana ? gak rewel lagi kan ?".


"Alhamdulillah, enggak kok Bu. Raka sudah pinter sekarang. Dia tambah lucu Bu, sudah mau belajar tengkurap. Miring-miring gitu terus, Bu, lucu banget".


"Waduh ... pasti tambah gemesin. Ibu gak sabar pengen kesana lagi padahal baru minggu kemarin Ibu disana ya ?". Kikan hanya tertawa mendengar nya.


"Nduk .... apa kamu gak mau mempercepat kepulangan mu ?. Biar Ibu tidak terus terusan telepon kamu tiap malam. Ibu ingin kamu di rumah sini, Nduk".


"Bu .... Kikan kan sudah pernah bilang ..."


"Ibu tahu Kikan, tapi ini saat yang tepat untukmu kembali ke rumah. Ibu tak ambil pusing dengan omongan tetangga, Ibu juga sudah tidak perduli dengan olokan dari keluarga besar. Kamu darah daging Ibu, Kikan. Kamu masih milik Ibu dan Ibu ingin menjagamu dan merawat mu sama seperti yang kamu lakukan pada Raka sekarang. Ibu ingin kamu ada disini, Nduk", tutur ibu panjang lebar.


Kikan hanya terdiam. Sebenarnya, alasan Kikan tidak ingin kembali ke rumah adalah karena Kikan takut ibunya akan sedih mendengar gunjingan orang-orang tentang dirinya. Dia tak tega bila setiap saat ibunya mendengar orang-orang mengoloknya. Kikan sungguh tak mau ibunya ikut menanggung bebannya. Ia ingin cukup dia saja yang merasakannya jangan ibu.


"Kikan ... bingung mau jawab apa Bu".


"Kikan ..., dengar Ibu, apa yang terjadi padamu itu adalah masa lalu dan kamu sudah melaluinya dengan berani. Sekarang, tinggal kamu yang bangkit dan mengejar ketinggalan mu jangan pedulikan masa lalu mu lagi. Biar saja itu menjadi kenangan tapi jangan terus mengingatnya karena membuat kamu susah move on. Kamu harus bangkit, gak usah kamu pedulikan omongan orang yang penting kamu sekarang sudah berubah, sudah menjadi Kikan yang baru. " Kikan hanya diam saja mendengar perkataan ibu.


"Nduk ... kamu sudah punya Raka, itu penyemangat mu dan Ibu yakin kamu akan lebih baik lagi bila menghadapi semua tanpa mengingat masa lalu lagi. Ibu sayang kamu Kikan, Ibu dan Ayah akan selalu berada di belakang mu ".


"Kikan takut Ayah dan Ibu akan terluka bila ada orang yang menggunjingkan masa lalu Kikan apalagi setelah ada Raka. Kikan takut, mereka akan menyakiti perasaan Ayah dan Ibu. Kikan tak mau itu, Kikan tak mau membuat Ayah dan Ibu terluka lagi".


"Kikan ... Ayah dan Ibu sudah bosan mendengar omongan tentang itu. Sudah biasa dan itu semua tidak membuat kami sedih. Ayah dan Ibu sudah tidak peduli omongan orang, yang penting kamu bahagia itu sudah cukup". Kikan terdiam lagi.


"Jadi ... Nduk, Ibu harap kamu segera pulang ya. Bobby dan Intan sering menanyakan mu, Pakde dan Bude mu juga, mereka merasa bersalah atas kepergian mu. Ibu harap kamu segera mempertimbangkan permintaan Ibu ini".

__ADS_1


"Iya Bu, akan Kikan pikirkan", jawab Kikan sambil mengangguk.


"Oh ya, gimana kabar skripsi mu ?".


"Tadi barusan saja Kikan kirim email Bu, semoga saja segera disetujui jadi Kikan bisa segera maju sidang".


"Iya, syukurlah kalau begitu. Berarti semester depan kamu akan kuliah lagi, Nduk ?".


"Iya, Bu. Tapi, Kikan sudah tidak ada kuliah, tinggal skripsi saja. Makanya sekarang Kikan selesaikan supaya begitu masuk sudah langsung sidang Bu".


"Ya wes, terserah kamu saja. Ibu gak ngerti tentang hal itu". Kikan tersenyum mendengar ucapan Ibu.


"Terus gimana usahamu, Nduk ?. Makin banyak pesanan ?".


"Alhamdulillah Bu, semua lancar dan banyak pesanan. Kikan berusaha menyelesaikan pesanan dengan sesuai kok Bu".


"Tapi jangan capek-capek, kasihan Raka kalau gak keurus", pesan ibu.


"Gak kok Bu, Kikan bekerja saat Raka tidur atau ada yang jagain. Ibu tenang saja ya".


"Ya wes, kalo gitu. Ibu sudahi dulu ya .... Ingat pesan Ibu tadi ya ?".


"Iya Bu, akan Kikan pertimbangkan".


"Ya wes kalau gitu, Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam ...", ucap Kikan mengakhiri teleponnya.

__ADS_1


Kikan menghela nafas panjang, benar kata ibunya mungkin ini saatnya ia kembali ke rumah tak peduli apa tanggapan orang lain yang penting Ayah dan Ibu mendukungku. Entahlah, mungkin nanti menunggu kabar skripsiku bagaimana baru aku akan memutuskan, pikir Kikan.


__ADS_2