
Sudah hampir dua pekan Kikan tidak bertemu Adrian. Adrian menelpon hanya dua kali dan itu pun sangat singkat menurut Kikan. Ah, dia mungkin sangat sibuk. Dia seorang CEO, banyak yang harus dikerjakan sebagai pertanggung jawaban ke perusahaan nantinya. Aku harus sabar dan mengalah, aku tak mau dianggap Adrian egois , pikir Kikan.
"Mbak ..., kami pulang dulu ya ?", pamit Rika dan Amel berbarengan membuyarkan lamunan Kikan.
"Eh ... iya, aku juga mau pulang kok ", jawab Kikan.
"Kalian naik apa ? di luar masih hujan loh ", kata Kikan lagi.
"Saya bawa motor kok, Mbak, kalau si Rika sudah dijemput pacarnya tuh ", jawab Amel lagi.
"Oh ya, sudah hati-hati ya. Sebentar lagi aku juga turun kok !".
"Kalo gitu, kami duluan ya, Mbak ". Kikan mengangguk dan tersenyum ke Amel dan Rika. Kikan bergegas mematikan laptopnya, membereskan buku sketsanya memasukkan ke dalam tas lalu mematikan lampu ruang kerjanya.
Hujan masih turun dengan deras sejak tadi siang, Kikan perlahan mengemudikan mobilnya memecah guyuran hujan. Setelah empat puluh lima menit, akhirnya Kikan sampai di rumah. Ia segera parkir mobilnya di garasi dan berlari kecil masuk ke rumah.
Keadaan rumah sepi, tadi ibu sudah mengirim pesan kalau hari ini akan pergi ke rumah Bude bersama ayah dan Raka. Kini tinggal Bi Inah yang ada di rumah. Kikan segera masuk ke rumah dan langsung duduk di sofa ruang tengah. Ia hempaskan tubuhnya di atas sofa yang empuk itu lalu mencoba memejamkan matanya. Ia sangat merindukan Adrian, ia berharap Adrian akan datang meskipun hanya lewat bayangan saja.
Entah sudah berapa lama Kikan terpejam di sofa itu, saat sebuah sentuhan lembut membelai pipinya. Kikan menggerakkan bola matanya, terkejut dengan sebuah sentuhan hangat di pipinya. Kikan membuka matanya perlahan dan semakin terkejut saat melihat seseorang yang sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum manis.
"Adrian .... !", pekik Kikan langsung berhambur memeluknya. Adrian tersenyum dan membalas pelukan Kikan.
"Kapan kamu datang ?", tanya Kikan setelah melepaskan pelukannya.
"Baru saja, aku dari bandara langsung kemari. Aku kangen kamu ....", jawab Adrian sambil tersenyum.
"Tadi sebenarnya aku sudah menelponmu, aku takut kamu belum pulang tapi ponselmu tidak aktif jadi aku putuskan langsung kemari", jelas Adrian lagi. Kikan segera meraih tasnya dan mengambil ponselnya.
"Ah ... maaf hpku low bat ternyata ", ucap Kikan sambil memasukkan kembali ponselnya.
"Kok sepi ? kemana semuanya ?", tanya Adrian.
__ADS_1
"Ayah, ibu dan Raka ke rumah Bude ada keperluan".
"Kamu sudah makan ?", tanya Adrian. Kikan menggeleng, ia baru ingat tadi sepulang kerja dia langsung tertidur di sofa ruang tengah.
"Ayo temani aku makan !", ajak Adrian.
"Sekarang ?", kata Kikan lagi balik bertanya. Ia ragu masih ada restoran yang buka apalagi sejak tadi siang turun hujan.
"Iya, aku laper banget. Aku terakhir makan tadi jam 1 siang. Ayo !", ucap Adrian lagi.
"Baik, sebentar aku ganti pakaian dulu ya !". Adrian mengangguk. Kikan bergegas meletakkan tas dan segera berganti pakaian serta berdandan sejenak. Ia ingin tampak cantik di depan Adrian.
"Sudah siap ?". Kikan mengangguk dan bergegas mengikuti Adrian, tadi ia juga sudah menitip pesan ke Bi Inah.
"Kita naik mobilmu ya ? tadi aku diantar sopir kantor ke sini dan langsung ku suruh membawa barangku ke apartemen ", ucap Adrian.
"Iya, ini kuncinya ", kata Kikan sambil memberikan kunci mobil ke Adrian. Adrian dan Kikan segera masuk mobil dan mulai mengemudikan mobil memecah jalanan becek serta hujan yang tinggal gerimis saja.
"Kamu kangen banget ya ? dari tadi kok ngeliatin terus ", ucap Adrian begitu tahu Kikan dari tadi mengamatinya.
"Memangnya aku gak boleh kangen ya ?", kata Kikan balik bertanya sambil menutupi rasa malunya.
"Tentu saja boleh dong, apalagi kalau kamu yang ngangenin ", kata Adrian sambil mengelus tangan Kikan yang tergeletak bebas di sebelah persneling.
"Tapi kamu jahat, kamu menelponku cuman dua kali itupun sebentar banget. Kamu takut pulsamu habis ya ?", kata Kikan membuat Adrian tergelak.
"Kok ketawa sih, aku tuh sebel sama kamu ". Adrian berhenti tertawa.
"Maaf, habis aku diburu waktu. Aku ingin pekerjaanku cepat selesai sehingga aku cepat pulang dan bertemu kamu. Buktinya belum dua pekan, aku sudah pulang kan ?", jelas Adrian. Kikan hanya mengangguk.
"Lain kali kalau ada bisnis trip lagi kamu harus ikut ya, biar aku gak buru-buru pulang".
__ADS_1
"Ya gak mungkin bisalah, aku kan juga punya pekerjaan lagian bakalan berhari-hari. Ayah dan ibu tidak akan mengijinkan ".
"Siapa bilang gak mungkin. Kalau kita sudah menikah, ngapain harus butuh ijin ayah dan ibu ?", kata Adrian membuat wajah Kikan merah padam menahan malu. Untung saja di dalam mobil, kalau tidak Adrian pasti akan terus menggodanya.
"Kita makan di sini ya ?. hanya ini resto yang masih buka ", ucap Adrian sambil mulai memarkir mobilnya. Kikan kemudian turun saat mobil sudah berhenti. Adrian segera menarik Kikan dan merangkulnya kemudian berjalan masuk ke resto.
Mereka memilih tempat duduk lesehan dan agak berjauhan dari tamu yang lain. Mereka ingin menghabiskan malam ini berdua saja, gak ada yang menggangu.
"Sini ... duduklah mendekat padaku. Aku kangen banget ", ucap Adrian begitu Kikan selesai memesan beberapa menu makanan. Kikan menggeser duduknya dan mendekat ke Adrian.
"Kamu ngapain aja selama gak ada aku ?", tanya Adrian sambil memainkan beberapa anak rambut Kikan yang menutupi telinganya. Kikan geli melihat tingkahnya tapi itulah Adrian.
"Ya ... seperti biasanya ke butik, nganter Raka, pulang. Terus mau ngapain ?" Adrian tersenyum lagi kini sambil mengecup berulang kali tangan Kikan.
"Kamu sendiri ngapain saja disana ? jangan-jangan kamu tebar pesona ke cewek-cewek bule ya ?", kata Kikan kini. Adrian langsung tergelak.
"Kamu cemburu ya ?", ucapnya masih dengan tertawa.
"Aku gak cemburu, aku kan bertanya yang sesungguhnya. Cewek bule disana kan lebih cantik dan seksi, melihatmu yang tampan masak tidak ada yang menggodamu atau malah sebaliknya ".
"Kalau aku ingin main-main dengan mereka seharusnya sejak dulu aku lakukan ngapain nunggu sekarang. Aku sudah lama tinggal di negeri orang, sudah tahu betul gaya berpacaran mereka disana. Tapi aku tidak tertarik untuk mencobanya, aku sudah punya kamu disini. Dan cukup sama kamu saja ", ucap Adrian. Kini ia terdengar serius tidak ada tawa di kata-katanya.
"Kamu belum percaya padaku ya ?", tanyanya kini. Kikan terdiam, harusnya aku tidak melontarkan pertanyaan tadi tapi bagaimana lagi sejak aku mengutarakan isi hatiku padanya, aku jadi takut kehilangan dia, pikirnya.
"Kok diem ?".
"Maaf, Adrian. Aku percaya kok padamu tapi ... entahlah sejak aku menyakini perasaanku padamu, aku jadi takut kehilanganmu. Maaf, kalau aku cemburu". Adrian hanya diam lalu memeluk Kikan makin erat.
"Aku senang kok kalau kamu cemburu, itu tandanya kamu bener-bener cinta padaku ", ucap Adrian lagi sambil menatap Kikan lebih intens.
"Maaf, Kak, ini pesanannya ", sebuah suara pelayan yang mengantarkan makanan menghentikan tatapan Adrian. Kikan sedikit gugup melihat pelayan yang salah tingkah menatap mereka tapi Adrian cuek saja dan tidak melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya ...., aku sudah gak ada tenaga lagi rasanya", kata Adrian sambil memulai memasukkan suapan pertamanya setelah pelayan itu pergi.