Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Di apartemen


__ADS_3

"Kamu lama nunggunya ?", tanya Adrian yang tiba-tiba sudah datang dan duduk di depan Kikan.


"Enggak kok, aku juga baru selesai makan. Kamu sudah makan ?". Adrian mengangguk.


"Mana Amel dan Rika, katamu tadi bersama mereka kesini ?", tanya Adrian lagi.


"Mereka baru saja pulang, banyak kerjaan di butik".


"Banyak kerjaan atau kamu sengaja mengusir mereka agar kita bisa berduaan ", kata Adrian sambil mengelus tangan Kikan. Kikan hanya tertawa mendengarnya.


"Kita nonton yuk ! aku sudah lama tidak nonton bioskop ", kata Adrian lagi. Kini mereka mulai berjalan menjauh dari cafe itu.


"Boleh, kamu mau nonton film apa ?", tanya Kikan.


"Terserah deh, kamu yang milih saja ". Kikan mengangguk lalu mereka mulai berjalan menuju teater bioskop di mall itu.


Setelah membeli tiket, popcorn dan minuman mereka masuk ke bioskop. Kikan sengaja memilih film action, dia tidak terlalu suka film yang romantis. Adrian hanya menurut saja dan sudah duduk manis di samping Kikan, tangannya sudah sibuk memeluk pinggang Kikan sedari tadi. Kikan serius mengikuti film itu sambil sesekali mencomot popcorn dan minum softdrink. Sedang Adrian menonton sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kikan. Kikan baru sadar kalau dari tadi Adrian tertidur di bahunya tanpa sedikitpun tahu cerita film yang mereka tonton. Kikan tertawa geli melihat ekspresi Adrian yang imut saat tidur. Mungkin ia masih lelah tapi dia ingin bertemu denganku.


Kikan menepuk pipi Adrian lembut saat film yang diputar sudah selesai. Adrian perlahan membuka matanya. Tampak masih ada kantuk dan lelah di sana.


"Ayo kita pulang ", kata Kikan. Adrian mengangguk dan membiarkan Kikan membimbingnya.


"Maaf, aku tertidur tadi ", ucap Adrian sambil mencoba mengusir rasa kantuknya. Kikan hanya tersenyum geli.


"Aku ke toilet dulu ya ?", ucap Adrian akhirnya. Kikan mengangguk. Tak lama Adrian sudah keluar dan terlihat lebih segar karena habis cuci muka.


"Kalau kamu capek dan lelah, kita pulang saja ya ?", ucap Kikan. Adrian segera menggeleng.


"Enggak, aku masih pingin sama kamu ".

__ADS_1


"Tapi, kalau kamu kecapekan begitu, aku kasihan ...", ucap Kikan lagi. Adrian hanya diam. Memang sejujurnya ia capek sekali tapi ia juga ingin bersama Kikan.


"Baiklah kalau gitu, kita pulang tapi ke apartemen ku ya ?", sahut Adrian sambil menarik tangan Kikan bergegas menuju mobilnya.


"Loh ... kok gitu ?", protes Kikan.


"Sebentar saja, temani aku sampai tertidur. Setelah aku tidur, kamu boleh pulang. Kamu gak keberatan kan pulang naik taxi atau mau menginap di tempatku ?", kata Adrian menggoda lagi.


"Aku lebih memilih opsi yang pertama deh. Baiklah, aku temani kamu tapi jangan macam-macam ya ?", ucap Kikan sedikit mengancam. Adrian hanya tersenyum nakal mendengar ancaman Kikan.


Sampai di apartemen, Adrian segera menghubungi Satpam untuk menyiapkan taxi jika Kikan pulang nanti. Kikan mengikuti Adrian masuk ke apartemennya. Apartemennya masih tertata rapi, sama seperti saat pertama ia kesini. Tidak tampak barang yang berserakan.


"Sebentar, aku ganti baju dulu ", ucap Adrian. Kikan mengangguk dan langsung duduk di sofa warna putih yang sudah tertata di ruang tamu.


Ruangan ini berdesain minimalis didominasi dengan warna putih dan hitam. Di sebelah sofa ada sebuah nakas yang dipenuhi foto-foto. Kikan mendekat dan mengamati salah satu foto tersebut. Ada fotonya disana saat ia sedang asyik bermain pasir dan air laut. Kikan ingat dimana Adrian mengambil foto ini. Ia lalu tersenyum sendiri. Kikan juga mengamati beberapa foto Adrian saat masih di Australia.


"Eh, gak usah Adrian. Aku tadi sudah minum banyak ", jawab Kikan. Adrian hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil minum air putih.


"Katamu mengantuk, mengapa belum tidur ?", tanya Kikan mengikuti.


"Sebentar ...., aku melakukan ritualku dulu sebelum tidur", ucap Adrian. Kikan hanya diam memperhatikan Adrian yang sedang asyik mengupas sebuah jeruk lalu memakannya. Lalu tiba-tiba Adrian menyuapi Kikan sebuah jeruk ke mulutnya.


"Manis kan ?", sahut Adrian. Kikan hanya mengangguk.


"Sini yuk !", ajak Adrian sambil menggandeng tangan Kikan setelah sebelumnya dia menghabiskan jeruk dan meminum air putih lagi.


Kikan terkejut saat Adrian mengajaknya masuk ke kamarnya. Kamar Adrian begitu rapi dan lagi-lagi di dominasi warna hitam putih.


"Kamu jangan salah persepsi, aku hanya ingin kamu menungguku sampai tertidur setelah itu pulanglah ", ucap Adrian, kini dia sudah naik ke ranjangnya lalu masuk ke dalam selimut.

__ADS_1


"Duduklah disini !", pinta Adrian menyuruh Kikan duduk di tepi ranjangnya.


"Kamu ingin aku membacakan dongeng sebelum tidur ?", kata Kikan sambil tersenyum. Adrian hanya tertawa.


"Tidak, aku hanya minta ciuman selamat tidur saja. Bolehkan ?", ucap Adrian membuat alis Kikan sedikit terangkat.


"Kenapa kok kaget ?". Kikan tertawa.


"Tumben kamu memintanya dengan sopan ?". Adrian hanya tersenyum mendengarnya. Kikan lalu mendekatkan kepalanya dan mencium kening Adrian.


"Selamat tidur, Sayang, mimpi indah ya ?", ucap Kikan. Adrian tersenyum mendengarnya.


"Kok hanya itu saja, aku bukan Raka loh ", protes Adrian. Kikan hanya mendelik mendengar ucapannya. Lalu Adrian menarik bahu Kikan mendekat dan sebuah kecupan hangat sudah mendarat di bibir Kikan. Adrian sengaja tidak menyudahi lumatannya dengan cepat namun Kikan terus berontak.


"Adrian ... !", ucap Kikan kesal sambil menarik dirinya dari pelukan Adrian. Adrian hanya terkekeh senang. Ia senang melihat Kikan marah. Kemudian ia memiringkan badan dan mulai memejamkan mata.


"Pulanglah, kalau aku sudah tertidur ya !", gumam Adrian sambil memejamkan mata. Kikan mengangguk sambil mengelus lengan Adrian.


Tak berapa lama suara dengkuran lembut sudah keluar dari bibirnya. Adrian sudah tertidur. Kikan bergegas bangkit, merapikan letak selimut Adrian dan berjalan berjingkat keluar kamarnya. Kikan menutup pintu kamar Adrian perlahan. Ia tidak mau Adrian terbangun karenanya.


Kikan merapikan sebentar dirinya di toilet lalu bergegas mengambil tasnya dan pulang. Tadi Adrian sudah menitip pesan ke satpam di lobby untuk mencarikan Kikan taxi. Jadi Kikan tidak akan menunggu lama. Kikan memencet lift dan bergegas masuk ke dalam saat pintunya terbuka.


Kikan hampir saja berpapasan dengan seorang wanita separuh baya yang hendak masuk ke lift saat dia keluar.


"Maaf ", ucap wanita separuh baya itu sambil tersenyum. Kikan mengangguk dan membalas tersenyum. Wanita separuh baya itu tampak anggun dan cantik. Dia juga terlihat ramah. Sepertinya dia dari kalangan orang kaya, dilihat dari barang-barang branded yang dipakai pasti dia bukan orang sembarangan.


"Mbak ..., saya sudah menyiapkan taxinya ", sapa satpam di lobby begitu melihat Kikan.


"Oh iya, terima kasih, Pak ", kata Kikan sambil bergegas berjalan ke taxi. Ia ingin cepat kembali ke butik, masih ada beberapa pekerjaan yang belum tuntas tadi. Perlahan taxi yang ditumpangi Kikan meninggalkan apartemen Adrian.

__ADS_1


__ADS_2