Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Malam pagelaran


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, tiga puluh menit lagi pagelaran karya desainer universitas tempat Kikan kuliah akan dimulai. Kikan sudah berada di lokasi sejak pukul 17.00 tadi. Dia sudah menyiapkan segalanya, dua pasang baju yang akan ditampilkan sudah siap, para model juga sudah sibuk dirias. Dia sendiri sudah tampil sempurna dengan gaun rancangannya sendiri dan make up yang sesuai. Kikan senang bukan main, sudah lama dia menantikan malam ini, semoga semuanya berjalan lancar.


"Kikan .... ", tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. Kikan menoleh tampak ayah ibu beserta mami Tiwi, papi Farid dan tak ketinggalan Galuh.


"Terima kasih sudah mau datang dan mendukung Kikan", ucap Kikan sambil menyalami mereka satu persatu.


"Semangat ya Nduk, nanti ibu bakalan duduk paling depan", ucap ibu sambil disambut senyum mereka berlima.


"Sukses ya Kikan jangan nervous", ucap mami Tiwi. Kikan hanya mengangguk.


"Mami, Papi, Ayah, Ibu dan Galuh sudah dapat tempat duduk kan ? soalnya malam ini bakalan ramai katanya. Kami kedatangan tamu desainer kondang dari ibu kota jadi kemungkinan banyak media yang meliput".


"Oalah iya toh, klo gitu kita cepetan balik ke depan aja Bu ", ajak ibu ke mami Tiwi dan yang lainnya.


"Kami tinggal ya Nduk", pamit ayah. Kikan hanya mengangguk.


Dia senang sekali orang-orang yang disayanginya semua datang mendukung. Tapi ada satu orang lagi yang diharapkan kedatangannya. Ya, mas Ranu kemana dia ? apa begitu sibuknya sampai lupa dengan aku ?. Akh, aku tak boleh egois, mungkin ada hal yang lebih penting untuk dikerjakannya.

__ADS_1


Tiba-tiba suara musik berhenti mengalun, kini mulai terdengar suara MC pembuka acara.


"Ayo, mahasiswa minta tolong attensinya. Ini saatnya kalian tunjukkan karya kalian ke dunia", ucap Bu Rima.


"Siap-siap dan konsentrasi mendengar urutan kalian seperti saat GR kemarin ya. Semoga sukses semua", ucap Bu Rima mengakhiri.


Dan yang kemudian tampak kesibukan luar biasa di balik panggung mempersiapkan pementasan mereka. Satu persatu urutan mereka keluar dan dibacakan narasi oleh MC acara. Kikan kian tegang mendengar nya tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya. Kikan menoleh tampak Intan tersenyum padanya.


"Semangat dan doain aku sukses memperagakan nya nanti. Bajumu sudah bagus dan nyaris sempurna, pasti tidak akan mengecewakan mereka. Yakin dan percaya diri saja ya", ucap Intan.


"Terima kasih, Ntan", ucap Kikan sambil mempererat genggaman Intan.


"Tema desain my future planing , ... ", ucap MC melanjutkan ucapannya.


Segera Intan berjalan ke panggung catwalk melenggang lenggokkan tubuhnya sambil memperagakan hasil karya Kikan. Karya Kikan yang bertema my future planing memang berisi rencananya di masa depan, ia ingin menjadi wanita karir yang mandiri, sukses. Oleh sebab itu dia merancang baju kerja yang simple namun terkesan modis dan klasik. Karya kedua Kikan berupa gaun pengantin, ya rencananya di masa depan adalah ingin menikah dan berkeluarga tentu saja dengan pria idamannya, Ranu. Kikan berharap dua baju itu telah menuangkan rencana besarnya di masa depan nanti.


Acara terus berlangsung dengan lancar, semua desain baju telah diperagakan disambut dengan riuh rendah tepuk tangan penonton, semua desainer yang masih mahasiswa itu tersenyum bahagia.

__ADS_1


Kini tiba giliran mereka masuk ke panggung catwalk untuk mendapat tepuk tangan penonton tanda apresiasi mereka atas semua karya yang telah digelar. Kikan segera berbaris di antara teman-temannya, dia juga tak sabar melihat suka cita penonton terhadap hasil karya mereka. Kikan terpukau melihat penonton yang begitu banyak memberikan applause untuk mereka. Dia melihat ayah, ibu, mami Tiwi, papi Farid, Galuh, Bobby tapi kenapa orang yang sangat kuharapkan kedatangannya tidak muncul. Kamu dimana mas ?, kamu bener-bener sibuk ya ?. Kikan hampir menangis saat satu persatu temanya didampingi oleh pasangan mereka.


"Kikan, kamu kenapa ?", tanya mami Tiwi begitu Kikan sudah turun dari panggung. Kikan hanya menggeleng.


"Maaf ya, Ranu tidak bisa datang dia sibuk sekali akhir-akhir ini. Ranu selalu pulang larut malam, kadang mami juga kasihan kok padanya. Maafin Ranu ya, Sayang?". Kikan hanya mengangguk.


"Mami, Papi dan Galuh permisi pulang dulu ya. Galuh kurang enak badan hari ini tapi karena kepingin menonton pagelaranmu dia sedikit memaksakan diri".


" Iya Mi, maafin Kikan ya sudah merepotkan".


"Gak Sayang, Mami senang hari ini ternyata Mami punya menantu yang luar biasa bakatnya", ucap mami sambil memeluk dan mencium kening Kikan.


"Kami permisi dulu ya Kikan", ucap papi Farid. Kikan mengangguk dan menyalami mereka.


"Ayo kita juga pulang Kikan", ajak ibu begitu mami Tiwi dan keluarga nya sudah pulang.


"Iya Bu, Ayah dan Ibu tunggu di parkiran saja ini kunci mobilnya. Kikan mau ambil barang-barang dulu di dalam".

__ADS_1


"Ya sudah, Ayah dan Ibu tunggu di parkiran ya ?". Kikan mengangguk dan bergegas kembali ke belakang panggung untuk mengambil barang-barangnya.


__ADS_2