Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kikan yang ceria


__ADS_3

Kikan mengerjapkan matanya, sinar mentari pagi sudah menerobos masuk ke kamarnya. Kikan terdiam lama sambil mengingat-ingat saat Adrian mencium bibirnya. Apa aku sedang bermimpi atau aku benar-benar mengalaminya ?, pikir Kikan sambil mengelus bibirnya. Ah, entahlah semua seperti mimpi saja baginya. Kikan langsung bangun dari tidurnya, mencuci muka dan sikat gigi lalu keluar kamar.


"Kok tumben kamu belum siap, Nduk ?. Kamu gak ke ruko ?", tanya ibu yang heran melihat Kikan belum mandi dan bersiap-siap.


"Nanti agak siangan kok, Bu. Kikan capek hampir beberapa minggu lembur terus", ucapnya.


"Ya sudah, kalau gitu ". Tiba-tiba, bel rumah berbunyi.


"Coba kamu bukakan pintunya, Kikan. Ibu masih repot", pinta ibu. Dengan malas, Kikan berjalan keluar menuju ruang tamu dan membukakan. Dan Kikan tambah terkejut lagi saat melihat Adrian sudah berdiri rapi di belakang pintu. Kikan buru-buru akan menutupnya lagi, namun terhalang oleh tangan Adrian.


"Kamu kenapa pagi-pagi kesini ?", tanya Kikan akhirnya.


"Memang gak boleh ya, aku kesini pagi-pagi ?", kata Adrian balik nanya. Kikan menggeleng cepat, ia malu dengan dirinya yang masih muka bantal, pakai piyama dan belum mandi.


"Kamu baru bangun ?", tanya Adrian lagi. Kikan mengangguk cepat.


"Ternyata kamu tetap cantik ya meskipun bangun tidur", jawab Adrian menggoda. Kikan hanya tersenyum masam lalu mempersilahkan Adrian duduk.


"Ada apa kamu pagi-pagi kesini ?".


"Aku ada janji dengan Raka dan ini sudah setengah delapan bukan pagi lagi", ucap Adrian sambil menunjuk jam tangannya.


"Janji apa dengan Raka ?", tanya Kikan lagi.


"Aku janji akan mengantarnya sekolah sebagai imbalan telah meminjammu seharian kemarin". Kikan terbelalak mendengar ucapan Adrian.


"Raka yang memintanya atau kamu yang menawarkan diri ?".


"Tentu Raka, tanya saja sendiri ke dia", kata Adrian.


"Halo, Ma..... ", sapa Raka yang sudah siap dan muncul diiringi ibu.


"Ayo, Pa ... kita belangkat", ucap Raka lagi sambil menarik tangan Adrian.


"Hei kok masih maen papa-papa an kan sudah gak ada temanmu, Raka", kata Kikan.


"Om Kelen gak kebelatan kok Ma. Iyakan Om eh Pa ?", sahut Raka lagi yang dijawab Adrian dengan anggukan.


"Papa dan Raka berangkat dulu ya, Ma", ucap Adrian menggoda Kikan sambil tersenyum. Kikan makin kesal melihat keduanya, sedang ibu hanya diam menahan senyum melihat tingkah mereka bertiga.

__ADS_1


*********


"Mel, akhir-akhir ini kamu perhatikan Mbak Kikan gak ?", tanya Rika ke Amel pagi ini.


"Memang kenapa, Rik ?", tanya Amel bingung.


"Mbak Kikan kok jadi ceria dan sering senyum gak seperti biasanya, jutek terus. Jangan-jangan Mbak Kikan lagi kasmaran atau mungkin sudah punya pacar ?", kata Rika.


"Ih kamu kepo banget deh, Rik ", kata Amel.


"Kalau punya pacar memangnya kenapa juga, gak ada hubungannya denganmu kan ?", kata Amel lagi.


"Iya sih, tapi aku ikut seneng, Mel. Akhirnya Mbak Kikan bisa tersenyum lagi dan bahagia. Kalau bosnya bahagia kan imbas juga ke anak buah, Mel", ucap Rika lagi. Amel hanya manggut-manggut mendengar ucapan Rika.


"Pagi Amel, Rika", sapa Kikan begitu masuk ruko dengan senyum manisnya. Kikan berjalan menuju ruangannya sambil bersenandung kecil. Amel dan Rika memperhatikan Kikan dan lalu keduanya saling berpandangan.


"Tuh kan .... betul kataku, kayaknya Mbak Kikan lagi kasmaran deh ", ucap Rika begitu Kikan sudah berada di ruangannya.


"Iya, gak biasanya Mbak Kikan seperti itu. Datang ke ruko dengan ceria sambil bersenandung lagi. Aku jadi ikut seneng, Rik ", ucap Amel akhirnya. Rika hanya mengangguk membenarkan ucapan Amel.


"Kamu sudah di ruko ?", tanya Adrian di telepon. Kikan baru masuk ke ruangannya tepat setelah itu Adrian menelpon.


"Aku juga baru nyampai kantor. Ternyata gitu ya kalau nganter sekolah terus yang nganter papanya, sekeren aku lagi. Banyak mama-mama muda bahkan Bu Gurunya Raka godain aku loh", ucap Adrian membuat Kikan tertawa.


"Memang mereka godain kamu gimana ?", tanya Kikan masih dengan tertawa.


"Enggak Ah, nanti kamu cemburu ", ucap Adrian lagi.


"Aku ? cemburu ? ngapain juga ?", kata Kikan lagi.


"Beneran kamu gak bakal cemburu ?. Berarti besok-besok kalau ada acara sekolah Raka aku yang hadir ya ?".


"Eh ... jangan ", sahut Kikan cepat-cepat.


"Maksudku aku tidak mau merepotkanmu. Kamu pasti sudah sibuk dengan aktivitasmu. Jadi jangan terlalu dipikirkan ya tentang Raka ?", ucap Kikan lagi.


"Itu alasanmu sebenarnya atau kamu memang takut ada yang mendekatiku ?", kata Adrian lagi dengan bergurau.


"Hah ? memang ada yang mau dengan cowok dengan pede tingkat dewa seperti mu ?", tanya Kikan lagi.

__ADS_1


"Permisi Pak, Pak Wisnu sudah perjalanan kemari untuk penandatanganan kontrak Wahana ", seru sebuah suara wanita.


"Baik, kamu sudah siapkan berkas-berkasnya ?", kata Adrian dengan nada serius.


"Sudah, Pak", jawab suara wanita itu lagi.


"Baik, saya akan segera kesana", ucap Adrian lalu terdengar suara pintu di tutup.


"Siapa itu ?", tanya Kikan kini melanjutkan pembicaraan di telepon.


"Kenapa ? kamu cemburu ya ?", kata Adrian dengan nada menggodanya.


"Sudah, ku bilang aku gak cemburu kok", cetus Kikan.


"Kalau cemburu juga gak pa-pa kok. Aku juga akan mencemburuimu kalau kamu dekat dengan cowok lain. Tapi yang tadi itu, Sari, sekertarisku. Aku ada janji habis ini, aku udahan dulu ya", kata Adrian kini dengan nada lembut.


"Iya, selamat beraktifitas ya. Terima kasih hari ini mau mengantar Raka".


"Iya ...., aku udahan ya. Nanti aku telepon lagi ", ucap Adrian mengakhiri. Kikan segera menutup teleponnya. Mengapa hatinya terus bergetar setiap mengingat kejadian di pantai kemarin. Kikan juga tidak berhenti jadi memikirkan Adrian. Ada apa dengan diriku ya ?. Apa aku jatuh cinta lagi dengannya ? Apa aku benar-benar sudah membuka hatiku untuknya ?. Ah, aku tidak tahu, pikir Kikan.


"Mbak, Mbak Kikan ....", seru Rika yang sudah berdiri di hadapan Kikan.


"Iya, ada apa Rika ?", tanya Kikan yang kaget melihat Rika sudah di depannya.


"Ada Bu Diana, langganan kita. Beliau mau bertemu dengan Mbak Kikan katanya sudah janjian", ucap Rika lagi.


"Oh ... iya, sekarang ada dimana Bu Diana ?", tanya Kikan kebingungan.


"Di bawah, mbak. Bu Diana bilang ingin melihat contoh kain yang disarankan Mbak Kikan kemarin", ucap Rika lagi.


"Oh ... iya, kemarin aku taruh dimana ya contoh kainnya ?", kata Kikan seperti bingung.


"Rika, bisa bantuin cari dong ?", pinta Kikan.


"Maksud Mbak Kikan, kain yang ini ?", tanya Rika sambil menunjukkan beberapa lembar kain yang tertumpuk di meja Kikan.


"Oh, iya tergeletak di situ ya. Ya sudah, aku temui Bu Diana dulu", ucap Kikan. Rika hanya mengangguk.


Mbak Kikan kok gugup gitu ya, dari tadi juga sedang melamun dan tersenyum sendiri, pasti Mbak Kikan sedang kasmaran pikir Rika.

__ADS_1


__ADS_2