
Kikan tersenyum membayangkan hari-hari yang akan dilalui bersama Ranu. Ranu sudah wisuda, dia pasti akan segera mencari kerja, melamarku dan kemudian kami menikah. Aku tidak sabar menanti hari bahagia itu datang. Aku juga tidak sabar menjadi ibu dari anak-anak Ranu. Akh, indahnya hidupku.
"Kikan, kamu wisudanya kapan ?", tanya mami Tiwi tiba-tiba membuyarkan lamunan Kikan. Kikan yang terkaget gelagapan bingung mau jawab apa.
"Pasti kak Kikan lagi ngelamun ya ?", seloroh Galuh dari bangku belakang.
"Aku tahu apa yang dilakukan kak Kikan. Pasti kak Kikan penasaran kapan mas Ranu akan melamarnya, iya kan ?" sambung Galuh lagi.
"Galuh, kamu sok tahu banget deh. Mungkin Kikan kecapekan karena semalam kan habis ngelembur persiapan pagelarannya", kata Mami Tiwi. Kikan hanya meringis saja.
"Oh ya, apa sudah beres semua Sayang, persiapan untuk pagelarannya ?", tanya Ranu kini sambil melirik Kikan dari kaca spion.
"Alhamdulillah, sudah 90% Mas. Doain ya Mi, Pi juga Galuh supaya lancar acara pagelaran saya besok sabtu. Insya Allah kalau semua lancar, skripsi saya juga akan mudah sehingga wisuda saya tepat waktu", jawab Kikan akhirnya.
"Alhamdulillah .... kalo begitu keinginan papi untuk cepat punya cucu dapat terlaksana", kata papi Farid disambut tawa mereka berlima.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil melambat dan berhenti di depan rumah mewah berpagar putih yang tampak sudah banyak tamu menanti di depan rumah. Begitu mereka berlima turun, segera para tamu menyambut dengan tepuk tangan meriah dan banyak balon yang diterbangkan ke angkasa. Semua tamu berebut menyalami Ranu yang masih mengenakan baju toganya. Ada dari beberapa tamu itu dikenal Kikan tapi banyak juga wajah-wajah asing yang datang. Bahkan Kikan tak pernah melihat wajah mereka mungkin itu kerabat jauh Ranu.
"Congratulation, my Darling.... Akhirnya kamu wisuda juga", tiba-tiba datang seorang gadis cantik yang langsung menyalami Ranu, memeluknya dan mencium pipi Ranu.
Kikan yang berada jauh di belakang Ranu terkejut bukan main. Siapa gadis itu, beraninya dia mencium Ranu dan kini Ranu pun membalas gadis itu dengan memeluknya erat.
"Thank you, Darling ", jawab Ranu.
Darling, sejak kapan dia manggil gadis lain dengan sebutan seperti itu, pikir Kikan. Siapa sih gadis itu ? kalo saudaranya kenapa mas Ranu gak pernah menceritakannya padaku. Untuk apa juga aku kesini kalo cuman disuruh melihat tontonan yang memuakkan ini. Menyesal aku menuruti ajakan mami Tiwi. Oh ya, kemana mami Tiwi, papi Farid dan Galuh, kenapa semua meninggalkan aku di sini sendirian ?. Apa ini rencana mereka ? Apa mereka tidak benar-benar menyukaiku ? Apa mereka hanya pura-pura mencintaiku ?. Akh, lebih baik aku pulang saja, apalagi mas Ranu sudah tidak perduli padaku, pikir Kikan.
Kikan begegas membalikkan badannya dan beranjak pergi namun sebuah tangan segera meraihnya dan membuat Kikan menoleh, mas Ranu.
"Aku ganti baju dulu ya, aku harap kamu gak pergi ada sesuatu yang mau aku omongin",lanjut Ranu.
"Oh, ok mas aku tunggu sini ya", ucap Kikan sambil duduk di sebuah kursi. Ranu mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Kikan.
__ADS_1
Kikan kembali sendiri memandang sekeliling yang tampak asing baginya atau hanya dia yang merasakan keterasingan ini. Padahal beberapa jam lalu, dia merasa bahagia sekali karna impiannya untuk menjadi bagian keluarga ini akan terwujud.
"Hai !, boleh aku duduk disini ?", sapa seseorang. Kikan langsung mendongak, tampak gadis tinggi semampai dengan perawakan yang ideal seperti model bergaun pink dengan rambut ikal yang diikat kebelakang sudah berdiri di depannya.
Kikan hanya mengangguk dan menyilakan kursi kosong di sebelahnya. Kikan melirik gadis di sebelahnya, bukankah dia gadis yang mencium Ranu tadi.
"Kamu teman kuliah Ranu ?", tanyanya lagi. Kikan mengangguk.
"Bagaimana dia di kampus ? pasti banyak gadis yang tergila-gila padanya. Dia tampan, pintar, baik lagi gadis mana yang gak kepincut. Benar kan ?". Kikan kembali mengangguk.
"Kamu pendiam sekali, tapi aku harap kamu menikmati acaranya. Sebentar lagi Ranu akan mengumumkan acara pertunangannya loh, kamu jangan pergi ya ?".
"Tunangan ?", tanya Kikan.
"Iya, pertunangan antara Ranu dan aku", jawabnya lagi.
__ADS_1
"Kamu ? tunangan Ranu?", tanya Kikan lagi. Gadis di depan Kikan mengangguk sambil tersenyum lebar.
Kikan terdiam, butiran halus perlahan keluar dari matanya. Apa ini yang akan dibicarakan Ranu padaku ?. Apa ini akhir dari semuanya ?. Jadi apa arti aku selama ini ?. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Kikan, membuat pandangannya buram dan tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri.