Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Makan malam bersama


__ADS_3

"Aku tadi bertemu dengan Diana dan anaknya, Pa. Adrian juga ikut serta. Kelihatannya Tania, anak Diana itu suka dengan Adrian. Sejak datang dia sudah mencuri pandang ke Adrian terus ", cerita mama Adrian ke papanya.


"Terus ... Adrian sendiri bagaimana ? dia suka tidak ?", tanya papa.


"Ya .... dia seperti biasanya Pa, tetap cuek dan sibuk bermain ponsel saja seperti biasanya". Papa tergelak mendengarnya.


"Adrian beda dengan Julian, Ma. Dia tidak akan langsung menjawab iya untuk sesuatu hal. Dia pasti akan mempertimbangkan segalanya, dia orang yang teliti dan penuh perhitungan, Ma. Makanya aku lebih memilih dia untuk menggantikan aku daripada Julian ".


"Pa, kita tidak sedang membahas perusahaan tapi tentang Adrian, anak kita ", ucap mama kesal.


"Iya, Papa tahu. Papa cuma minta Mama jangan terlalu memaksakan diri. Mama harus mendengar juga pendapat Adrian. Siapa tahu dia juga sudah punya pilihan, Ma".


"Ah ... gak mungkin. Dia menghabiskan masa mudanya di luar negeri dan baru kembali kesini beberapa tahun ini. Mana mungkin dia sudah mempunyai pilihan, Pa ".


"Ya ... siapa tahu, Ma. Papa cuma gak ingin kamu dan Adrian ada selisih pendapat nantinya ".


"Adrian itu anak yang manis, meskipun dia sangat nakal tapi Mama yakin, dia akan menuruti kemauan Mama ", ucap Mama yakin.


"Ya .... kita lihat saja nanti, Ma. Jam berapa dia kesini katanya ".


"Jam 8, mungkin sebentar lagi datang. Aku tadi sudah ke apartemennya dan sudah meninggalkan pesan untuknya. Adrian sedang tidur waktu aku ke apartemennya, mungkin kecapekan habis bisnis trip kemarin ", ucap mama lagi. Papa hanya mengangguk mendengar ucapan mama.


Tak berapa lama, terdengar suara mobil berhenti.


"Itu Adrian datang, Pa ", seru Mama sambil mengintip di tirai jendela.


"Malam Ma, Pa", sapa Adrian begitu ia masuk ke rumah, tidak lupa ia mencium pipi mamanya. Adrian terlihat lebih segar kali ini, mungkin setelah istirahat cukup lelahnya sudah hilang.


"Kak Julian dan Mbak Tanti gak datang Ma ?", tanya Adrian sambil menghempas tubuhnya di sofa.


"Sudah datang, lagi di belakang mungkin ",

__ADS_1


"Bi ..., sudah siap makanannya ?", tanya mama lagi ke bibi.


"Sudah Bu ".


"Ya sudah, sekalian panggil Julian dan Tanti ", pinta mama lagi.


Malam ini sengaja Adrian pulang ke rumah untuk makan malam bersama. Memang sudah agenda rutin setiap bulan mereka mengadakan makan bersama sambil saling tukar cerita tentang aktivitas mereka.


"Adrian, Mama dan Papa mau bicara sama kamu. Julian dan Tanti, kamu juga ikut ", ucap mama selesai makan. Mereka kini berkumpul di ruang tengah.


"Adrian ... kamu kenal Tania kan ? anak Tante Diana yang Mama kenalkan ke kamu tadi ?", ucap mama. Adrian hanya mengangguk.


"Mama dan Tante Diana sebenarnya sudah merencanakan hal ini lama tapi mungkin ini saatnya untuk memberi tahu ke kamu, Adrian". Adrian terdiam, Adrian curiga ada sesuatu yang direncanakan Mama.


"Mama mau menjodohkan kamu dengan Tania, Adrian ", ucap mama akhirnya. Adrian sontak kaget dan berdiri.


"Enggak Ma, Aku gak mau ", ucap Adrian tegas.


"Enggak Ma, pokoknya Adrian gak mau. Aku sudah punya pilihan sendiri. Aku gak mau ", ucap Adrian lagi.


"Tolong Adrian, mengertilah. Ini menyangkut janji Mama dan Tante Diana ".


"Mama yang seharusnya bertanya ke Adrian dulu tidak memutuskan sepihak begini", ucap Adrian.


"Adrian ...., mungkin kamu harus mencoba mengenal Tania lebih dekat dulu baru memutuskan untuk menolaknya ", ucap papa kini.


"Iya ... Adrian, Kakak rasa kamu harus mengenalnya dulu. Kakak dan Kak Tanti juga dulu seperti itu tapi setelah saling mengenal, kami merasa cocok satu sama lain. Iya kan, Sayang ?", kata Julian ikut menimpali yang disambut anggukan Tanti.


"Aku beda dengan Kakak. Aku punya seseorang di luar sana yang sudah menantiku dan harus kujaga hatinya. Aku menolak perjodohan ini !", ucap Adrian tegas.


"Adrian ...., dengar Mama ! Mama minta sekali ini saja, tolonglah penuhi keinginan Mama ini !", ucap Mama.

__ADS_1


"Iya Adrian .. sekali ini saja ! Turutilah Mamamu !", ucap Papa. Adrian langsung menoleh kaget.


"Pa ... Ma ... Adrian kurang menurut apalagi sih. Adrian sudah menurut saat Papa mengirim Adrian ke Australia untuk sekolah di sana tanpa uang bulanan. Adrian terima konsekuensinya itu semua karena kenakalanku. Dan karena hal itu juga Adrian terpaksa meninggalkan seseorang yang sangat berarti buat Adrian. Sekarang, setelah Adrian pulang dan bertemu dengannya lagi, Mama dan Papa minta Adrian bersama yang lain. Ini gak adil, Ma, Pa. Bener-bener gak adil ", ucap Adrian sedikit meninggi membuat semua yang di ruangan itu terdiam. Adrian lalu bangkit dan bergegas berjalan keluar. Ia lalu masuk ke mobil, menyalakan mobil dengan menderu-deru dan melaju kencang meninggalkan rumah.


"Adrian .... tunggu, Mama belum selesai bicara ", ucap Mama memanggil Adrian.


"Sudah Ma ...., Papa rasa Mama harus membatalkan rencana dengan Diana itu ", ucap papa kemudian.


"Enggak Pa, gak bisa. Mama sudah berjanji dan Mama tidak mau membatalkannya ".


"Ma .... mungkin lebih baik Mama mengenal pilihan Adrian itu, siapa tahu dia lebih baik dari Tania ", kata Julian.


"Halah ... paling cewek matre dan genit yang mendekati Adrian. Apalagi setelah mengetahui posisi Adrian sekarang. Mama yakin pasti lebih baik Tania ".


"Jangan-jangan gadis yang dimaksud Adrian itu gadis yang pernah diajak ke kantor ", ucap Papa tiba-tiba.


"Memang ada Pa ?", tanya mama dan Julian berbarengan.


"Kapan hari Pak Sutris, orang kepercayaan Papa di kantor cerita kalau Adrian mengajak seorang gadis ke kantor. Gadis itu sopan, ramah dan cantik. Hampir seharian karyawan di kantor membicarakan mereka. Apalagi Adrian mengenalkan gadis itu ke rekan bisnisnya sebagai tunangannya", ucap papa lagi.


"Papa gak tanya siapa nama gadis itu ?", tanya mama kini.


"Pak Sutris hanya menceritakan itu saja Ma. Sudah, batalkan saja rencana perjodohan mu ini. Papa yakin Adrian pintar memilih, Ma ".


"Enggak, aku gak mau. Pokoknya Adrian harus menikah dengan Tania bagaimana pun caranya dan kalian harus mendukung Mama", ucap mama lagi. Papa, Julian dan Tanti saling berpandangan.


"Mama tidak mau ada pembangkang di keluarga kita ya, ingat itu !". Papa hanya melengos dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu disusul Julian dan Tanti.


"Hei ! kalian mau kemana semua ? Mama belum selesai bicaranya ", seru Mama agak meninggi. Namun papa, Julian dan Tanti sudah menghilang masuk ke dalam.


Aku harus membujuk Adrian supaya mau menikah dengan Tania. Aku tidak mau kalau Adrian menikah dengan gadis yang tidak aku kenal, aku harus memikirkan caranya, pikir mama.

__ADS_1


__ADS_2