
Dengan deg degan Kikan membuka paket pesanannya yang diterima kemarin. Tampak kotak kecil berwarna biru dengan tulisan testpack. Kikan membaca dengan seksama petunjuk penggunaan. Lalu ia bangkit berdiri mondar mandir dengan testpack di tangannya. Aku harus mencobanya, aku harus memastikan. Tapi bagaimana kalau ternyata aku positif hamil ? bagaimana dengan ayah dan ibu bila mengetahui kebenarannya ?. Akh... gak mungkin, gak mungkin aku hamil. Mas Ranu hanya sekali melakukannya mana mungkin bisa membuatku langsung hamil. Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan, pikir Kikan. Kikan terdiam sejenak. Aku harus mencobanya, ya ... cepat atau lambat nantinya aku akan menikah dengan mas Ranu, apapun yang terjadi dia pasti mau bertanggung jawab.
Kikan segera masuk ke kamar mandi, selang beberapa lama dia keluar dengan segelas kecil urine di tangannya. Dia lalu memasukkan testpack sampai batas tertentu. Kikan menunggu beberapa saat sampai dua garis merah yang berangsur biru muncul di testpack itu. Akh... Kikan setengah teriak melihatnya. Segera dia mengambil dua testpack yang lain lalu memasukkannya bergantian setelah sebelumnya mengambil testpack yang pertama. Kikan memang sengaja membeli lebih dari satu testpack supaya lebih akurat pikirnya.
Kikan terduduk lemas di sudut kamar saat dia melihat ketiga testpack yang dicobanya menunjukkan kalau dia positif hamil. Ya Tuhan .... apa yang harus kulakukan, pikir Kikan dalam hati. Dengan bergetar ia raih hpnya kemudian mencari sebuah kontak dan meneleponnya.
"Hallo ", sapa suara di seberang.
"Mas .... kamu sibuk gak ? aku ingin ketemu penting ", jawab Kikan begitu mendengar suara Ranu di seberang.
"Ada apa Sayang ? Kamu sakit ?", tanya Ranu.
"Gak, aku hanya ingin ketemu bisakan ?".
"Oke, aku jemput satu jam lagi ya ?".
"Gak usah mas, kita ketemu di taman satu jam lagi saja ".
"Baiklah, tunggu ya ". Kikan langsung mematikan teleponnya. Ranu hanya terdiam, ada apa dengan Kikan kenapa dia bersikap aneh tadi.
"Ran, sketsa yang aku minta kemarin sudah jadi belum ? siang ini mau diambil klien ", tanya pak Yanto tiba-tiba.
"Sudah pak, sudah siap ".
"Ya sudah, tolong letakkan di meja saya ya ".
"Baik pak.... Pak, saya mau ijin keluar sebentar ada keperluan ".
"Pekerjaanmu sudah beres ?".
"Sudah pak ".
"Ya sudah, kalo gitu. Kalo sudah selesai cepat balik kantor ".
"Baik pak ". Ranu segera bergegas setelah berpamitan dan meletakkan sketsanya di meja Pak Yanto. Ada apa dengan kamu Kikan ? kenapa gak biasanya kamu bersikap aneh begini, pikir Ranu selama di jalan.
__ADS_1
Kikan duduk terdiam di bangku taman yang teduh dan terlindung dari terik mentari. Raut wajahnya terlihat kegelisahan, kebingungan. Kikan masih shock setelah melakukan testpack tadi pagi. Dia gak menyangka akan hamil secepat ini. Yang sedihnya lagi dia belum berstatus sebagai seorang istri. Akh, betapa hinanya diriku ... Perlahan airmata menetes di pipinya.
"Sayang ....", tiba-tiba terdengar suara Ranu mendekat di samping Kikan. Kikan menoleh dan mencoba mengusap airmata yang menetes di pipinya.
"Kamu menangis ? kenapa ? ada apa sayang ?", tanya Ranu tapi Kikan hanya diam lalu segera memeluk Ranu.
Ranu yang kebingungan hanya diam sambil membalas pelukan Kikan. Kikan makin terisak di dalam pelukan Ranu.
"Kamu kenapa sayang ?, ada masalah apa ?", tanya Ranu kini sambil membelai rambut panjang Kikan. Kikan diam lalu mencoba mengatur nafasnya, dia mulai melepaskan pelukannya.
"Mas ... Mas janji kan gak akan ninggalin aku ? akan terus bersamaku kan apapun yang terjadi ?", tanya Kikan kini.
"Iya sayang, Mas janji Mas selalu bersamamu. Memangnya ada apa sih ?".
"Mas janji akan terus mencintaiku walaupun aku bukan Kikan yang dulu lagi, gak cantik lagi", ucap Kikan lagi yang membuat Ranu makin bingung.
"Iya Sayang, Mas janji selalu mencintaimu. Mas gak pernah berpaling ke yang lain kok".
"Mas, beneran kan mau nikahin aku ?".
Kikan terdiam lalu meraih tasnya dan mengeluarkan 3 buah testpack yang dipakainya tadi pagi kemudian menyerahkan ke Ranu.
"Apa ini ?", tanya Ranu kebingungan.
"Aku hamil .... itu testpack yang aku gunakan untuk mengetesnya tadi pagi", ucap Kikan yang membuat Ranu kaget.
"Ka.. kamu hamil ?", tanya Ranu tak percaya.
"Iya ..., apa kamu lupa yang kamu lakukan di gunung waktu kita camping ?". Ranu hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Aku gak lupa Sayang, tapi ... kita hanya melakukannya sekali ... dan kamu langsung hamil".
"Apa Mas pikir aku juga melakukannya dengan orang lain ? aku hanya melakukan sekali itupun sama kamu Mas, kamu gak percaya aku ya ?".
"Bukan begitu Sayang ... , aku percaya kok. Cuman aku takjub saja kenapa bisa langsung hamil ya ?".
__ADS_1
"Kamu melakukannya tepat di masa suburku Mas, makanya aku langsung hamil ", terang Kikan. Ranu hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kikan.
"Terus gimana Mas", tanya Kikan lagi.
"Gimana apanya ? ya sudah Sayang, kalau kamu hamil ya dibiarkan aja sampai lahir lagian itukan anakku. Aku bakalan jadi Ayah nih", ucap Ranu sambil tersenyum.
"Aduh ... kamu gimana sih Mas ?. Kalau posisinya kita sudah nikah, aku gak akan kebingungan gini. Kita belum nikah, kalo perutku gede duluan sebelum pernikahan kita gimana ? apa kata orang ? lagian Ayah dan Ibu belum tahu kondisiku, aku gak mau mereka kecewa bila mengetahuinya nanti ".
"Iya ya, kamu betul kalo kita nunggu pernikahan yang sudah ditetapkan pasti kamu udah lairan duluan. Eh, gini aja gimana kalo pernikahan kita dimajukan, dua bulan lagi bisa mungkin".
"Terus alasannya apa ? orang tua ku pasti menanyakan alasannya, apalagi kalo kesannya mendadak gini".
"Gampang, biar Mas yang memikirkan alasannya, kamu tenang saja ya". Kikan terdiam sedikit tenang mendengar penjelasan Ranu.
"Pantesan beberapa hari ini kamu mengalami perubahan mood dan pola makan yang aneh ternyata kamu lagi hamil", tutur Ranu lagi.
"Kamu harus memeriksakan kandunganmu Sayang, aku gak mau terjadi apa-apa denganmu dan anak kita nantinya ".
"Aku malu Mas ... gimana kalo mereka menanyakan status kita, biarin gak usah Mas".
"Eh, jangan Sayang ... itu demi kebaikanmu dan si kecil nanti aku antar. Kalo kamu gak mau periksa di dekat-dekat sini karena malu, kita cari yang agak jauhan rumah sakitnya juga gpp kok asal kamu nyaman aja ". Kikan tersenyum lalu mengangguk tanda setuju.
"Kamu sudah makan belum ?", tanya Ranu lagi.
"Aku belum makan sejak tadi pagi, pikiranku kalut gara-gara hasil testpack tadi", jawab Kikan.
"Ya ampun ... berarti anak Papa belum makan ya ?", ucap Ranu sambil mengelus perut Kikan. Kikan hanya tersenyum.
"Ayo kita cari makan, mau makan apa hari ini ?".
"Terserah deh Mas, aku bisa makan apa aja kok".
"Wah hebat, anak Papa gak ngerepotin Mamanya".
"Apaan sih mas, malu diliat orang kalo ada yang dengar gimana ?".
__ADS_1
"Iya,iya .. habis kabar ini bener-bener mengejutkan sih. Aku jadi bingung harus seneng atau harus gimana. Namun yang pasti aku tambah yakin menjadikanmu istriku", ucap Ranu sambil mencium kening Kikan yang dibalas senyum manis Kikan.