Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Dilema


__ADS_3

Kikan masih terlelap di bawah selimutnya, setelah melewati hari yang melelahkan kemarin. Ia masih bingung dan seperti mimpi bila mengingat kejadian kemarin. Ia berharap semua yang diucapkan Adrian adalah sebuah kebenaran bukan karangannya saja untuk menyakitinya lagi.


Perlahan terdengar ketukan pelan di pintu kamar Kikan.


"Nduk ...., kamu tidak bangun. Ini sudah hampir jam 9, kamu tidak ke butik ?", ucap ibu di balik pintu. Kikan hanya terdiam, ia masih meringkuk di dalam selimutnya. Tenaganya seakan terkuras setelah kejadian kemarin. Tubuhnya lemas seakan tak bertulang dan semangatnya yang menggebu-gebu beberapa hari ini tiba-tiba menguap entah kemana.


Perlahan terdengar pintu dibuka, Kikan memang lupa mengunci pintunya semalam. Ia pulang sangat larut tadi malam dan langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Terdengar langkah ibu mendekat.


"Kamu sakit, Nduk ?", tanya ibu setelah duduk di tepi ranjang Kikan sambil memegang kening Kikan yang tidak tertutup selimut.


"Badanmu panas, Kikan. Mungkin kamu terlalu memforsir tubuhmu beberapa hari ini. Sebaiknya kamu istirahat ya, biar Ibu buatkan bubur dan teh hangat ", ucap ibu lagi.


"Gak usah Bu, nanti saja. Kikan hanya ingin tidur ", ucap Kikan dengan suara parau.


"Ya sudah ... kalau begitu istirahatlah. Apa Ibu perlu menelpon Amel ?". Kikan mengangguk.


"Baiklah, Ibu telpon Amel dulu supaya dia yang menghandle butik hari ini. Kamu istirahat ya !". Kikan kembali mengangguk.


"Terima kasih Bu. Apa Raka sudah datang, Bu ?", kata Kikan.


"Nanti sore, Mami Tiwi akan mengantarnya kemari tadi Beliau barusan telepon ", jawab ibu.


"Ya sudah kalau begitu ....", ucap Kikan lagi sambil memejamkan matanya kembali. Ibu berjalan keluar meninggalkan Kikan yang kembali terlelap di kamarnya.


Kikan hanya ingin tidur hari ini, siapa tahu setelah dia bangun semua yang terjadi kemarin hanya sebuah mimpi. Mimpi buruk yang tidak ingin dia jadikan kenyataan di kehidupannya.


Jarum jam di kamar Kikan menunjukkan pukul 4 sore. Sudah selama itu, ia tertidur. Perlahan, Kikan membuka matanya, sinar lampu temaram menghantarkan sesosok bayangan yang sedang duduk di tepi ranjangnya. Kikan mengerjapkan matanya mencoba memperjelas pandangannya terhadap sosok yang sedang duduk membelakangi cahaya itu.


"Kamu sudah bangun ?", suara lembut itu yang sangat dikenal Kikan membuat dia cepat terjaga.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini ?", tanya Kikan sedikit kesal. Jujur saja, ia masih kesal dengan sikap pemilik suara itu yang menyembunyikan pertunangannya.


"Aku baru datang kok ... tadi Ibu memintaku menjagamu sebentar. Beliau sedang keluar ", ucap Adrian. Kikan terdiam, mengapa kepalanya jadi ikutan pusing padahal tadi dia tidak apa-apa. Apa mungkin karena aku belum makan sejak tadi pagi ?, pikir Kikan.


Kikan mencoba bangun dari tidurnya namun kepalanya terasa berputar-putar. Alhasil akhirnya Kikan terjatuh lagi, untung saja Adrian sigap menolongnya. Kini Kikan kembali terduduk di kasurnya.


"Kamu tidak apa-apa ?", tanya Adrian khawatir.


"Ayo aku antar kamu ke dokter !", ajak Adrian lagi. Kikan menggeleng cepat.


"Gak usah, aku baik-baik saja. Mungkin karena aku belum makan dari pagi ", tutur Kikan masih memegangi kepalanya.


"Apa sekarang kamu mau makan ?. Aku ambilkan ya ?. Tadi Ibu sudah menyiapkannya untukmu di meja makan ", ucap Adrian.


"Gak usah, aku bisa ambil sendiri ", kata Kikan sambil mencoba berdiri dari kasurnya.


"Kamu mau kemana ?". Kikan menoleh kesal.


"Kurasa kita harus ke dokter, Kikan ", ucap Adrian kini.


"Gak, aku gak sakit ", tolak Kikan.


"Gak sakit gimana sih ?. Kamu terjatuh terus dari tadi. Ayo, aku antar ke dokter ", ucap Adrian sambil menarik tangan Kikan untuk dibantu berdiri.


"Gak usah ... Adrian ", ucap Kikan sambil menepis tangan Adrian. Lalu tiba-tiba, Kikan menangis. Adrian tertegun menatapnya, ada rasa bersalah menghinggapinya.


"Aku gak sakit ... hiks .... hiks .... hiks .... tubuhku gak sakit .... tapi .... hiks ... hatiku yang masih sakit hiks ... hiks ", ucap Kikan dalam isakannya. Adrian terdiam, kini ia sudah duduk disamping Kikan yang terus menutupi wajahnya dan menangis.


"Sayang .... dengar .... kalau semua yang kau alami karena aku. Aku minta maaf .... tolong ... beri aku waktu ... beri aku waktu untuk memperbaikinya ", ucap Adrian sambil membelai rambut Kikan. Kikan menggeleng dan masih terus menangis.

__ADS_1


"Lepaskan aku .... ", kini Kikan sudah mengangkat kepalanya dan menatap Adrian.


"Apa maksudmu ?", tanya Adrian kebingungan.


"Lepaskan aku dari ikatanmu .... aku tidak ingin mempersulit pilihanmu ". Adrian menggeleng cepat dan segera memeluk Kikan.


"Gak ... kamu ... kamu adalah hidupku dan aku tak sanggup kalau harus berpisah denganmu. Tolong ... bersabarlah ... , Sayang. Aku mohon ... sekali ini saja. Aku mohon ... jangan memintaku untuk melepaskanmu lagi. Aku tak akan mau melakukannya ", ucap Adrian makin mempererat pelukannya. Sedangkan Kikan terus menangis di dalam pelukan Adrian.


"Aku mencintaimu ... Kikan. Aku tak sanggup kalau harus menjauh dan hidup tanpamu. Tolong .... bersabarlah ... aku akan menemukan cara untuk menyelesaikan ini semua ", bisik Adrian lagi.


"Sampai kapan aku harus bersabar dan menanti ? sedangkan waktu terus berjalan. Aku tidak ingin membuatmu menjadi anak durhaka, Adrian ", jawab Kikan kini tangisnya sudah reda.


"Kalau kamu masih percaya padaku dan masih ingat janji terakhirmu padaku. Aku yakin ... semua ini akan ada jalan keluarnya. Tolong ..... jangan hilang rasa percayamu padaku. Aku mohon .... ikutlah berjuang bersamaku ", ucap Adrian. Kini dia sudah melepas pelukannya dan menggenggam tangan Kikan. Ada sedikit keraguan di hati Kikan tapi dia juga tak sanggup kalau harus kehilangan sosok di depannya. Ia tak mau kehilangan orang yang disayangi lagi.


"Aku percaya ... padamu, Adrian ", ucap Kikan akhirnya. Adrian tampak senang, ia tersenyum dan segera mengecup tangan Kikan berulang-ulang.


"Eh .... Adrian, maukah kau menungguku di luar saja. Aku mau mandi ", ucap Kikan setelah lama terdiam.


"Baiklah .... , apakah kau sudah tidak pusing ?". Kikan menggeleng kemudian bangkit dan berjalan perlahan ke kamar mandi. Adrian tersenyum dan bergegas berjalan keluar kamar Kikan.


Baru saja Adrian keluar dari kamar Kikan, ibu sudah berdiri mematung di depannya. Apa ibu mendengar semua pembicaraanku dengan Kikan ?, pikir Adrian.


"Kikan sudah bangun, Bu dan sekarang sedang mandi. Saya menunggu di ruang tamu saja ", ucap Adrian sedikit gugup. Ibu hanya mengangguk, lalu sebelum Adrian berlalu ....


"Apa kalian baik-baik saja ?", tanya ibu. Adrian mengangguk sambil tersenyum mencoba menenangkan ibu.


"Kami baik-baik saja kok, Bu. Bukannya hal biasa dalam sebuah hubungan ada sedikit perselisihan ", jawab Adrian.


"Maafkan Ibu, nak Adrian. Kadang seorang Ibu tahu lebih dulu bila anaknya sedang ada masalah meskipun si anak tidak bercerita. Ibu hanya berharap semoga kalian bisa menyelesaikan masalah kalian secepatnya ", tandas ibu.

__ADS_1


"Iya, Bu. Terima kasih ", ucap Adrian akhirnya. Ia juga berharap begitu, ia ingin menyudahi pertunangan ini dan membatalkan pernikahannya dengan Tania. Tapi bagaimana dengan mama, sejak Adrian menuruti kemauan mamanya, kesehatannya berangsur membaik. Sejujurnya Adrian bingung harus bagaimana memutuskan semua ini.


__ADS_2