Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Periksa ke dokter


__ADS_3

Kikan mematung di depan cermin, berulang kali ia menyisir rambutnya, memoles lipgloss di bibirnya dan menepuk-nepuk bedak di pipinya. Apa yang berubah padaku ya ? Apa aku masih seperti dulu ? masih secantik dulu ? Gimana nanti kalo perutku sudah semakin membesar ? apa aku masih cantik ? apa mas Ranu masih mencintaiku ? Akh.. , entahlah yang pasti sedikit kekhawatiran ku berkurang setelah mendengar tanggal pernikahanku dimajukan, pikir Kikan kini.


"Kikan .... ada Ranu di depan ", seru ibu sambil mengetuk pintu kamar Kikan. Kikan terjaga dari lamunannya, lalu segera menyambar tas dan beranjak keluar.


"Sudah lama mas ?", tanya Kikan. Ranu menggeleng.


"Kamu sudah siap ?". Kikan tersenyum dan mengangguk.


"Bu... Kikan berangkat dulu ya", pamitnya.


"Iya, hati-hati ya". Mereka berdua mengangguk, setelah salaman keduanya pun beranjak pergi.


"Kok tumben bawa mobil mas ?", tanya Kikan begitu melihat Ranu membukakan pintu mobil untuknya.


"Biar kamu gak capek di jalan, kenapa ? gak suka ?", tanya Ranu. Kikan hanya diam menunggu Ranu jalan memutar dan duduk di kursi kemudi.


"Sebenarnya aku senang naik motor, bisa meluk kamu terus ", jawab Kikan yang disambut tawa Ranu.


"Tenang saja, habis ini tiap saat bisa meluk aku terus kok. Bahkan gak cuman meluk, bisa ...."


"Bisa apa hayooo ??? Ikh, mas Ranu pagi-pagi udah reseh deh ", potong Kikan. Ranu hanya tersenyum mendengarnya.


"Kamu sudah sarapan ?". Kikan mengangguk.


"Sudah mas, tadi ibu bikin nasi goreng enak banget, aku sampai nambah 2 piring".


"Wah, nafsu makanmu luar biasa ya, bisa-bisa berat badanmu nambah banyak nih sayang ".


"Terus kenapa ? aku jadi gendut tambah jelek gitu maksudnya ". Ya, dia mulai sensi lagi pikir Ranu.


"Enggak, aku takut aja baju pengantin yang pernah kamu rancang dulu gak muat ", jawab Ranu asal.


"Wah iya ya Mas, gimana ini klo sampai gak muat, bisa gawat kalo ngerancang lagi juga gak sempat. Iya deh, bakal aku kurangin dikit nafsu makanku cuman sampai hari pernikahan saja, habis itu bisa loss lagi, hehehehe ", tawa Kikan disambut tawa Ranu.


"Udah nyampe belom Mas ?", tanya Kikan setelah 1 jam perjalanan. Dia merasa bosan.


"Bentar lagi ya Sayang, katamu kan gak mau yang deket-deket jadi Mas nyari rumah sakit yang agak jauhan dikit. Bentar ya ", ucap Ranu sambil mengelus rambut Kikan.

__ADS_1


Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah sakit yang dimaksud. Ranu dan Kikan segera masuk ke rumah sakit menuju ke tempat pendaftaran setelah itu menunggu di poli kandungan untuk menunggu pemeriksaan.


Di poli kandungan sudah banyak ibu-ibu yang mengantri, ada yang masih muda seperti Kikan ada juga yang sudah berumur. Sebagian dari mereka ada yang ditemani suaminya namun banyak juga yang memeriksakan kandungannya sendiri. Kikan dan Ranu segera memilih duduk di bangku pojok yang kosong, mereka menghindari berinteraksi dengan orang mungkin karena kondisi Kikan yang malu. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya nama Kikan dipanggil, segera Kikan masuk ditemani Ranu.


"Silakan duduk dulu Mbak, saya data dulu ya ", sapa seorang suster menyilakan Kikan duduk.


"Nama ?".


"Kikan Prameswari ".


"Umur ?".


"22 tahun".


"Pekerjaan ?".


"Saya masih mahasiswa Sus", jawab Kikan.


"Nama suami ?", Kikan melirik ke Ranu.


"Ranu Wibisana ", jawab Ranu.


"Umur ?"


"Pekerjaan ?".


" Karyawan swasta".


"Ada keluhan gak Mbak ? mual, pusing ?". Kikan menggeleng.


"Ini hamil anak pertama ?". Kikan mengangguk.


"Tunggu sebentar ya, setelah ini diperiksa dokter". Kikan mengangguk membiarkan suster itu berlalu.


"Aku takut Mas ", ucap Kikan sambil meremas tangan Ranu yang duduk di sebelahnya.


"Mari mbak, naik kesini ", perintah suster menyilakan Kikan.

__ADS_1


"Saya boleh ikut, Sus ?", tanya Ranu.


"Silakan ". Kikan segera naik ke ranjang periksa ditemani Ranu disampingnya.


"Bapak di sebelah sini ya, biar memudahkan dokter memeriksa ", ucap suster sambil menarik lengan Ranu supaya geser ke arah bawah ranjang.


"Sudah siap Dok, " ucap suster. Segera dokter yang tadi sibuk menulis beranjak ke ranjang periksa, menyingkap sedikit baju Kikan dan memeriksanya.


Kemudian perut bagian bawah Kikan diberi gel yang terasa dingin lalu dokter mengeluarkan alat seperti microphone kecil yang terhubung dengan secara visual di layar monitor.


"Masih kecil ya, itu ... kelihatan kan Pak ?", ucap dokter ke Ranu. Ranu tersenyum takjub melihat benda sekecil kacang di layar monitor.


"Ini umurnya sekitar 8 mingguan ya, sehat semuanya kok", ucap dokter menyudahi pemeriksaannya. Kikan segera bangkit dibantu Ranu dan bergegas duduk di tempatnya tadi.


"Saya kasih vitamin dan penguat ya Bu. Biasanya umur segini masih sangat rentan sekali. Untuk hubungan suami istri sedikit dikurangi porsinya ya baru nanti setelah 3 bulan keatas boleh lebih sering ", ucap dokter yang sempat membuat Kikan dan Ranu malu.


"Resepnya bisa ditebus di apotik ya", ucap dokter mengakhiri.


"Makasih ya Dok ", ucap Kikan dan Ranu berbarengan. Mereka keluar dari ruang periksa dengan sumringah.


"Aku tebus obat bentar ya, trs kita cari makan. Kamu tunggu di mobil atau disini ?", tanya Ranu.


"Aku tunggu di mobil saja mas, mana kunci mobilnya. Cepetan ya ". Ranu mengangguk sedang Kikan segera berjalan ke parkiran menuju mobil Ranu menyalakan ac-nya dan duduk manis di samping kemudi.


Kikan tersenyum-senyum mengingat kata-kata dokter tadi tentang hubungan suami istri yang jangan terlalu sering dulu. Sering bagaimana ? dia hanya merasakannya sekali, itupun di situasi dan tempat yang sangat tak terduga, udah gitu langsung hamil lagi. Duh, pingin ketawa deh kalo denger nasehat dokter tadi tapi wajar sih orang hamil kan biasanya sudah menikah jadi wajar aja kalau beliau menyarankan hal itu. Aku saja yang aneh, belum nikah tapi sudah hamil. Tapi, sudahlah gak mau membahas lagi, sekarang dijalani aja yang sudah terjadi, pikir Kikan akhirnya.


"Hei ! ngelamun ya ?", tegur Ranu begitu dia sudah selesai menebus obat dan masuk ke mobil.


"Iya ... aku kelaparan Mas ". Ranu tersenyum lalu segera menyalakan mobilnya meninggalkan rumah sakit itu.


"Kita mau kemana Mas ? kok berlawanan arah pulang ?".


"Mumpung disini sekalian saja kita jalan-jalan, aku kan ijin gak masuk hari ini jadi bisa bebas dikit ".


"Emang mau kemana Mas ?".


"Tenang aja, kamu pasti suka ". Kikan diam berusaha menikmati perjalanan.

__ADS_1


Mobil Ranu berjalan semakin menjauhi keramaian, berjalan berbelok, menikung melewati jalan-jalan sempit. Kini jalanannya udah sedikit lenggang, hanya satu dua kendaraan yang lalu lalang. Di kanan kiri jalan juga sudah terhampar pemandangan indah, banyak sawah dan pepohonan tinggi menjulang. Akhirnya setelah hampir 45 menit mereka sampai di sebuah rumah yang bangunannya unik dan terbuat dari kayu semua.


Sebelum menuju rumah itu kita akan memasuki halaman yang luas dengan berbagai tanaman bunga di kanan kiri. Ranu menghentikan mobilnya tepat di depan rumah itu. Dia melirik ke bangku sebelah tampak Kikan tengah tertidur pulas. Ranu tersenyum mungkin dia kecapekan. Dengan perlahan Ranu menggendong tubuh Kikan membawa masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di tempat tidur. Ranu tidak ingin Kikan terbangun dengan perlahan dia keluar dan bergegas ke dapur.


__ADS_2