Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kejutan yang menyakitkan


__ADS_3

Beberapa hari ini Kikan disibukkan dengan pesanan pelanggan yang meningkat. Sebenarnya ia sangat senang dengan kesibukannya ini. Karena selain menambah pendapatan ia juga bisa sedikit mengikis rindunya dengan Adrian. Sudah hampir dua pekan Kikan tidak bertemu dengan Adrian. Adrian juga hanya tiga kali menelponnya. Mungkin dia sangat sibuk dan banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dalam bisnis tripnya kali ini. Memang itu resiko yang harus diambilnya bila mempunyai pacar sesibuk Adrian. Kikan harus sabar dan lebih positif thinking saja.


Sebuah panggilan menggugah lamunan Kikan pagi ini.


"Halo, selamat pagi Bu !", sapa Kikan di telepon. Setelah melihat nama panggilan di ponselnya ternyata adalah customer langganannya.


"Pagi, Mbak Kikan. Mbak, hari ini sibuk gak ?", tanyanya di telepon.


"Sesibuknya saya pasti ada waktu untuk Ibu. Ada yang bisa dibantu Bu ?", tanya Kikan kemudian.


"Soal anak saya yang akan menikah itu, Mbak. Kemungkinan nanti siang dia dan calon suaminya akan datang ke butik, Mbak Kikan bisa kan membantu anak saya ?".


"Tentu Ibu, dengan senang hati akan saya tunggu ", ucap Kikan dengan riang.


"Syukurlah kalau begitu, nanti dia dan calon suaminya akan saya suruh langsung kesana ya, Mbak ?".


"Iya Bu, Saya tunggu ".


"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih ya, Mbak ". Kikan kembali tersenyum lalu menutup teleponnya.


"Kamu kok ceria sekali, Nduk !", tegur ibu melihat Kikan yang terus tersenyum.


"Kikan lagi seneng Bu. Karena akhir-akhir ini butik Kikan ramai orderan. Tadi itu barusan ada telepon dari customer langganan yang mau pesan baju pengantin untuk anaknya ", jawab Kikan.


"Syukurlah Nduk, Ibu turut senang kalau melihat kamu juga senang. Oh ya, bagaimana kabar Adrian, dia kok jarang main kemari ?. Kalian berantem ?", tanya ibu lagi. Kikan lalu tersenyum.


"Adrian lagi bisnis trip, Bu. Dia lagi banyak kerjaan jadi tidak bisa kemari. Nanti kalau pekerjaannya sudah selesai atau senggang dia pasti kemari. Ibu tenang saja, kami gak berantem kok ".


"Ya sudah kalau begitu. Kamu mau berangkat sekarang ?", tanya ibu lagi melihat Kikan yang sudah bersiap akan pergi. Raka sedang libur sekolah dan dia sedang menghabiskan liburannya di rumah Mami Tiwi jadi Kikan tidak usah sibuk mengantarnya ke sekolah.


"Iya, Bu. Banyak kerjaan hari ini. Kikan pamit ya, Bu !", pamit Kikan sambil mencium tangan ibu.


"Iya, hati-hati ya, Nduk !", ucap ibu. Kikan mengangguk dan sambil tersenyum ia melangkah pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Ku menunggu ... ku menunggu kau untuk jadi kekasihku ", lirih Kikan mendendangkan lagu dari Rosa yang didengarnya dari radio di mobil. Ia gembira sekali dan sangat bersemangat hari ini.


Setelah memarkir mobilnya, Kikan segera bergegas melangkah menuju butiknya.


"Pagi Mbak !", sapa Amel begitu Kikan datang.


"Pagi, Mel. Oh ya, nanti kalau ada customer yang nyari aku suruh langsung naik ya ", pesan Kikan sebelum ke lantai dua menuju ruangannya tempat ia bekerja.


"Iya, Mbak ", kata Amel. Kikan mengangguk lalu meninggalkan Amel dengan senyuman manis.


Jam dinding di ruangan Kikan tepat menunjukkan pukul 11 saat Amel masuk ke ruangan Kikan memberitahu ada tamu yang mencarinya.


"Mbak, ada tamu yang mencari !", ucap Amel.


"Selamat pagi, Mbak !", ucap gadis yang berada di belakang Amel sambil tersenyum. Gadis itu sangat cantik, rambut pendek dan dandanan modis menambah nilai plus penampilannya. Kikan sampai terpukau menatapnya, wajahnya juga tidak asing dan sering dilihat di layar kaca.


"Selamat pagi, silakan masuk !", sapa Kikan sambil menyilakan gadis itu masuk dan duduk. Gadis itu tersenyum dan langsung duduk di kursi yang sudah dipersiapkan Kikan.


"Iya, gak pa-pa kok. Rasanya saya kok gak asing ya. Jangan-jangan yang sering main di FTV ya ?", ucap Kikan sambil tersenyum.


"Wah ... Mbak Kikan ternyata suka nonton FTV juga ya ?. Iya Mbak, saya memang baru-baru ini main di beberapa FTV yang sedang tayang. Makanya baru kali ini saya bisa kemari ", jawab gadis cantik itu. Kikan tersenyum, ada sedikit kebanggaan di hatinya karena ternyata ada artis pendatang baru yang bersedia memesan baju pengantin di butiknya.


"Kalau boleh tahu tema apa untuk pernikahan kalian nanti ?", tanya Kikan akhirnya.


"Sebenarnya aku sudah lama banget mendambakan pernikahan seperti cerita putri-putri di negeri dongeng, Mbak. Seperti Cinderella misalnya. Karena menikah dengan calon suamiku ini bagaikan seperti sebuah impian yang terwujud. Aku benar-benar ingin pernikahanku ini tak terlupakan, Mbak. Apalagi calon suamiku ini orang yang sangat-sangat penting dan terkenal. Mbak Kikan pasti tahu ", jelas gadis itu.


"Oh ya .... siapa dia ?", tanya Kikan sambil tersenyum.


"Dia nanti kesini kok Mbak, sekarang kita bahas dulu saja ya tentang detail bajuku. Aku ingin sangat mencolok dan membuat semua tamu terpukau memandangku ", katanya lagi. Kikan tersenyum.


"Oke .... baiklah, saya punya beberapa sketsa baru yang belum pernah saya buat. Mungkin kamu tertarik ", ucap Kikan sambil mulai menunjukkan sketsanya baru-baru ini.


Gadis itu tampak tertarik dan mulai melihat satu persatu sketsa Kikan. Lalu keduanya tampak asyik membicarakan tentang detail gaun yang diinginkan. Mereka berbincang hampir satu jam, mungkin banyak detail yang diinginkan calon pengantin maka Kikan juga harus sedikit bersabar menghadapi customernya kali ini. Apalagi customernya kali ini adalah seorang artis dan anak dari customer langganannya.

__ADS_1


"Oke Mbak, saya rasa udah cukup deh. Nanti saya minta sketsanya dikirim ke saya sebelum dieksekusi ya, Mbak. Saya gak mau ada kesalahan meskipun hanya sedikit ", ucap gadis itu. Kikan mengangguk dan tersenyum.


"Apa sekarang saya bisa diukur, Mbak ?. Biar saya tidak bolak balik lagi ", ucapnya lagi.


"Oh, Iya tentu saja. Saya antar ke bawah ya, biar nanti dengan Amel, yang melakukan pengukuran", ucap Kikan sambil bangkit dan berjalan turun menuju lantai satu sambil mengantar kliennya itu.


"Baiklah ...., kebetulan calon suami saya juga sudah datang. Dia bisa sekalian diukur kan, Mbak ?".


"Tentu saja ", jawab Kikan sambil mencoba mencari Amel di lantai satu.


"Nah ... itu calon suami saya, Mbak ", ucap gadis itu sambil menunjuk seseorang yang sedang berjalan menuju butik sambil sibuk menelpon.


Kikan menoleh tepat saat seseorang yang disebut calon suami gadis itu membuka pintu butiknya. Dan betapa terkejutnya Kikan saat melihat sosok calon pengantin pria adalah orang yang sangat dikenalnya. Orang yang selama beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-harinya. Ya, sosok calon pengantin pria itu adalah orang yang kini sedang dirindukan dan dinantikan kedatangannya. Dia adalah .....


"Adrian .... ", lirih Kikan hampir tak terdengar saat sosok itu sudah masuk dan kini tengah berdiri mematung menatapnya.


"Sayang .... kamu lama banget, gak kesasar kan ?", ucap gadis itu sambil berjalan menghampiri Adrian dan segera bergelayut manja di lengannya.


"Mbak Kikan .... ini kenalin calon suamiku, Adrian Dinata, dia CEO Suryanata Group perusahaan terbesar di kota ini. Mbak Kikan pasti tahu kan ", ucap gadis itu. Kikan hanya terdiam mematung mencoba menahan sesak yang sudah memenuhi dadanya.


"Mbak ..... ", panggil gadis itu lagi.


"Eh ... iya, maaf ... saya ... Kikan", ucap Kikan lagi sambil mengulurkan tangannya ke Adrian. Ada serpihan kaca di mata Kikan yang hampir pecah namun ia mencoba menahannya. Adrian hanya terdiam dan terus menatap Kikan lama.


"Adrian .... ", ucap Adrian akhirnya. Kikan segera menarik tangannya dan segera berpaling dari pandangan Adrian.


"Mbak ... mencari saya ", Amel tiba-tiba datang dengan tergopoh-gopoh.


"Iya, Mel tolong bantu ukur mereka ya. Aku ada keperluan sebentar ", ucap Kikan sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Iya Mbak ", ucap Amel.


Kikan segera ngeloyor pergi meninggalkan butiknya. Ia tak sanggup melihat pemandangan yang menusuk hatinya. Airmata yang ditahannya dari tadi perlahan menetes mengalir di pipinya. Kejutan apa yang kau siapkan untukku, Adrian ? teganya kamu padaku, gumam Kikan sambil menangis sepanjang jalan.

__ADS_1


__ADS_2