
Pagi ini Kikan berjalan-jalan di sekitar danau, dia suka sekali pemandangan di sini. Mas Ranu benar-benar pintar memilihkan tempat tinggal untuknya. Akh, andai engkau masih ada mas.
"Non, mau makan siang apa ?", tanya Bi Ijah membuyarkan lamunan Kikan.
"Eh.... kalau ikan bakar seperti waktu itu boleh Bi ?", tanya Kikan. Bi Ijah tersenyum mendengarnya.
"Tentu boleh Non, disini kalau cari ikan gampang tinggal ambil di kolam gak usah repot-repot ke pasar", terang Bi Ijah lagi membuat Kikan tersenyum.
"Boleh saya bantu Bi, saya bingung mau ngapain daripada saya tiduran terus di kamar, bosan".
"Tentu Non, kalau Non gak capek Bibi mah senang aja kalau ada yang bantuin masak".
Mereka kemudian berjalan melangkah ke dapur. Lalu Bi Ijah memanggil mang Ujang untuk mengambil ikan di kolam sementara ia dan Kikan menyiapkan bumbu-bumbu.
"Bi Ijah anaknya berapa ?", tanya Kikan kini.
"Anak saya dua Non, tapi sudah berumah tangga, sekarang ikut suaminya semua. Yang satu di luar pulau dan satunya di dekat sini aja. Cucu saya sudah ada 4 orang Non. Biasanya kalau liburan sering main kesini. Gak pa-pa kan Non, biasanya Mas Ranu selalu memperbolehkan mereka menginap disini ".
"Iya, gak pa-pa Bi, saya malah seneng jadi ada temannya jadi ramai ", jawab Kikan membuat wajah Bi Ijah tersenyum senang.
"Ini ikannya, sudah aku siangi juga", ucap mang Ujang yang datang sambil membawa dua ekor gurami berukuran besar.
"Wah ... besar sekali ikannya Mang, kalau sebesar ini saya gak habis makannya", seru Kikan kegirangan.
__ADS_1
"Gak pa-pa Non, kalau gak habis nanti dibantuin saya ngehabisinnya", gurau Mang Ujang sambil tertawa disambut tawa Kikan dan Bi Ijah.
Kikan senang sekali dengan mereka berdua, ini membuat dia sedikit lupa akan segala masalahnya. Tapi tetap saja, aku harus segera memberi tahu ayah dan ibu supaya mereka tidak khawatir.
Selesai makan siang, Kikan beranjak ke kamar. Ia meraih ponselnya yang sedari tadi malam dalam posisi off. Kikan menyalakan ponselnya dan langsung saja ribuan SMS, panggilan tak terjawab dan pesan WA masuk bertubi-tubi. Kikan melihat panggilan dari ayah berulang kali, begitu juga pesan WA dan SMS. Semua tidak ada yang dibaca Kikan, ia langsung mengganti ponselnya ke mode pesawat. Ia benar-benar tidak ingin diganggu atau dihubungi siapapun dahulu. Ia ingin benar-benar tenang untuk kembali bangkit melanjutkan hidupnya.
"Sun ..., apa bener Kikan minggat ?", tanya pakde di telepon sore ini. Ibu yang mengangkat telepon hanya mengangguk mengiyakan.
"Kamu itu gimana toh, ngawasi anak satu saja tidak becus. Sudah hamil di luar nikah, sekarang minggat. Mau jadi apa Kikan itu ?", cercah pakde di telepon sedangkan ibu hanya diam.
"Lalu bagaimana besok ? Besok Mas Citro mau ke rumah mu untuk melamar Kikan. Aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Aku sudah membujuknya supaya mau menerima Kikan sebagai mantunya meskipun dia sudah hamil duluan. Bagaimana ini kalau sampai batal". Ibu diam saja.
"Sun, kamu diajak bicara kok diam saja ?. Jangan-jangan kamu sengaja menyembunyikan Kikan ya ?", cercah pakde lagi.
"Mas, mboh sudah jangan ngurusin Kikan lagi. Kasihan dia ...., aku gak tahu dia dimana sekarang. Dia minggat juga gara-gara dia mendengar pembicaraan kita kemarin malam. Kalau Mas Citro mau kesini, ya main aja tapi maaf untuk melamar Kikan aku akan menolaknya. Aku gak mau menjual kebahagiaan anakku hanya untuk menutupi rasa malu. Aku sudah gak perduli anggapan orang lain lagi. Kalaupun aku dicoret dari silsilah keluarga juga aku gak pa-pa".
"Salahnya Mas sendiri kenapa tidak tanya aku dulu, tanya Kikan dulu mau apa tidak. Memang yang mau nikah siapa ? sampean atau Kikan ? kok memutuskan sepihak saja. Sudah urus saja sendiri, pokoknya mulai sekarang aku gak perduli dengan anggapan keluarga besar tentang aku dan keluargaku. Aku sudah capek harus manut terus. Ini sudah tidak sejalan lagi dengan pemikiranku, sekarang aku hanya ingin Kikan ketemu dan dia hidup bahagia. Wes ngono ae Mas, aku sudah capek mau istirahat", putus ibu di telepon sambil mematikan ponselnya padahal di seberang pakde masih sibuk mengomel.
"Gimana Bu ?", tanya ayah kini setelah ibu menutup teleponnya.
"Wes Yah, aku sudah bilang pokoknya aku sudah gak perduli lagi anggapan keluarga besar apa tentang kita. Aku hanya ingin Kikan bahagia, itu saja". Ayah mengangguk mendengar jawaban ibu.
"Eh iya, gimana kabar Bobby, Yah ?", tanya ibu.
__ADS_1
"Tadi Ayah sudah telepon Bobby, katanya Winda di rumah sakit, melahirkan. Gak mungkin Kikan ada disana. Intan juga tadi sudah tanya ke teman kuliah Kikan yang di kampus, mereka tidak ada yang tahu Bu".
"Oalah Nduk, kamu dimana toh. Semoga saja kamu selalu baik-baik saja".
"Bu... bagaimana kalau kita lapor polisi ?", saran ayah. Ibu langsung menoleh kaget.
"Jangan Yah, Ibu takut Kikan melakukan ini untuk menenangkan dirinya saja. Nanti setelah tenang mungkin dia akan pulang. Kalau kita lapor polisi, Ibu takut dia makin depresi dan ketakutan akhirnya malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Gak, Yah , aku gak mau terjadi apa-apa pada Kikan".
"Terus kita harus bagaimana Bu ?".
"Kita biarkan saja dulu, siapa tahu setelah keadaan tenang Kikan akan pulang Yah. Ibu yakin sekarang dia pasti berada di tempat yang aman".
"Kok kamu yakin gitu toh Bu ?", tanya ayah penasaran.
"Feeling seorang Ibu Yah, lebih kuat dari segalanya".
"Yo wes, kalo gitu sekarang siapkan makan saja. Aku lapar seharian keliling nyari Kikan sampai bolos kerja lagi". Ibu tersenyum lalu bergegas bangkit dan menyiapkan makanan untuk ayah.
"Kalau anak Kikan lahir kira-kira mirip siapa ya Bu ?", tanya ayah sambil bergegas duduk di meja makan.
"Belum apa-apa kok bingung tanya mirip siapa dulu. Sekarang kita doakan saja keadaannya sehat terus Yah. Kalau aku sih kepingin cucu laki-laki, dari dulu pengen banget memberikan Kikan adik laki-laki kok gak bisa terus. Ya... siapa tahu anak yang dikandung Kikan itu laki-laki, jadi bisa jaga ibunya", ucap ibu sambil tersenyum.
"Kita sudah tua ya Bu, habis ini mau punya cucu", ucap ayah sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya Yah, andai saja Nak Ranu tidak kecelakaan pasti semua tidak akan seperti ini".
"Ihs... kok ngomong gitu, ini takdir Bu. Sudah-sudah ayo cepetan kita makan dulu, aku sudah lapar". Ibu tersenyum lalu segera mengambilkan ayah nasi, lauk dan sayur. Mereka makan dengan lahapnya, sedikit beban mulai terangkat. Kini mereka hanya ikhlas dengan semua cobaan yang menimpa keluarga mereka terutama Kikan.