Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Rencana Mama


__ADS_3

Adrian menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tamu apartemennya. Ia baru saja pulang dari pantai bersama Kikan tadi. Adrian mengecek ponselnya yang berkelip-kelip terus dari tadi. Ratusan notifikasi masuk ke ponselnya, email, SMS dan beberapa panggilan tak terjawab. Adrian memijat kepalanya yang tiba-tiba pening. Seharian tadi dia tidak bisa konsen bekerja, banyak janji penting yang harus ditunda. Gara-gara kedatangan Tania ke kantornya membuat dia malas beraktifitas. Sebuah panggilan masuk ke ponsel Adrian, ada nama Mama tertulis di sana. Dengan malas, Adrian menjawab teleponnya.


"Halo .... "


"Ian .... kamu itu kemana saja ? Tania tadi Mama suruh ke kantormu tapi malah kau tinggal pergi. Bener-bener gak sopan !", ucap mama.


"Adrian menemui klien, Ma. Memangnya untuk apa Mama menyuruh Tania ke kantor ?".


"Mama ingin kamu mengenal lebih dekat, Ian. Kamu harus mengenalnya dulu bandingkan dengan pilihanmu. Mama yakin Tania lebih baik ", ucap mama lagi.


"Adrian sudah bilang kan, Ma. Adrian menolak perjodohan ini. Lagipula jelas pilihan Adrian lebih baik daripada Tania. Lagipula masak ke kantor dengan dandanan seperti orang mau main sirkus saja. Apa seperti itu harus dibandingkan dengan pilihanku ?. Sudah Ma, Adrian tidak mau membahas lagi soal perjodohan ini. Adrian menolaknya ", ucap Adrian kesal.


"Adrian ...., dengar Mama ! pokoknya kamu harus menikah dengan Tania. Jangan harap Mama akan memberi mu restu jika kamu menikah dengan yang selain Tania. Ingat itu !", ucap mama mengancam.


"Sudah Ma, Adrian capek, mau istirahat. Jangan suruh Tania datang lagi ke kantor atau Adrian akan melepaskan semua tanggung jawab di kantor ", ucap Adrian sambil menutup teleponnya.


"Tuh Pa, aku ancam malah dia balas mengancam", ucap mama ke papa setelah telepon dengan Adrian terputus.


"Papa kan sudah bilang, batalkan saja rencanamu. Adrian sudah dewasa Ma, usianya menginjak 30 tahun ini. Dia pasti tahu mana yang terbaik untuknya ", kata papa.


"Tapi Mama sudah berjanji Pa, gak enak rasanya kalau di batalkan. Apalagi sesungguhnya ini Mama yang memaksa Diana agar menjodohkan Tania dengan Adrian. Mama ingin persahabatan dengan Diana terjalin terus sampai ke anak cucu ".


"Tapi tanpa perjodohan itu kan persahabatan kalian masih tetap terjalin. Papa kasihan sama Adrian, Ma. Dia sudah menebus semua kenakalannya dulu sekarang masak harus kita paksa lagi. Apalagi dia harus menikah dengan orang yang bukan pilihannya. Papa takut imbasnya nanti ke kehidupan rumah tangga yang akan dijalani nantinya ".


"Alah ... Papa ini ngomong apa sih. Dulu kita kan juga dijodohkan tapi buktinya tetap adem ayem sampai tua ".


"Itu beda Ma, saat itu kita memang sama-sama belum punya pilihan. Nah, Adrian sekarang, dia sudah punya pilihan sendiri Ma".


"Gak, pokoknya Adrian harus menikah dengan Tania, Titik ". Papa melengos marah.


"Kamu dan Adrian sama-sama keras kepala, repot bicara dengan kalian berdua ", ucap papa akhirnya.


Mama diam berpikir harus melakukan apa agar Adrian mau menuruti kemauannya untuk menikah dengan Tania. Beberapa rencana terlintas di benak mama, beliau tersenyum gembira saat menemukan sebuah rencana baru.

__ADS_1


********


Adrian sedang sibuk di depan laptop saat sebuah panggilan masuk dari mama mengganggu konsentrasinya.


"Ada apa lagi, Ma ?", tanya Adrian begitu sudah terdengar suara mamanya.


"Mama minta nanti malam kamu datang ke resto. Ada acara ulang tahun Om Kevin. Kamu ingat kan Om Kevin ?. Tadi dia titip pesan ke Mama untuk mengundangmu ke pesta ulang tahunnya. Nanti Mama kirim alamat lengkapnya".


"Iya, Ma".


"Ya sudah kalau begitu, Mama tunggu ya jangan sampai gak datang ". Mama menutup teleponnya begitu juga dengan Adrian.


Mungkin ini saatnya aku mengenalkan Kikan ke keluargaku tapi sayangnya dia sekarang sedang di luar kota ada acara pagelaran busana yang diikutinya. Aku baru saja mengantarnya tadi, tidak mungkin aku memintanya pulang lagi apalagi acara ini sudah lama ditunggu-tunggu Kikan. Ah, biarlah aku pergi sendiri saja, pikir Adrian.


Akhirnya Adrian memilih pulang lebih awal, ia mampir ke toko untuk membeli kado buat Om Kevin lalu ke apartemennya untuk mandi dan berganti pakaian. Adrian mengecek ponselnya, ia mengirim sebuah pesan ke Kikan berharap Kikan juga mengetahui aktivitasnya hari ini. Lalu sebuah senyuman tergambar di bibirnya saat pesannya sudah dibaca dan dibalas Kikan.


Adrian bergegas berangkat, ia tidak ingin terlambat di pesta ulang tahun Om Kevin. Adrian segera memarkir mobilnya dan masuk ke lokasi pesta.


"Selamat ulang tahun ya Om", kata Adrian sambil menyerahkan kadonya. Om Kevin tersenyum dan menerima kadonya.


"Terima kasih Adrian, kamu sudah dewasa sekarang. Kapan nikah nih ?", kata Om Kevin. Adrian hanya tersenyum mendengarnya.


"Ayo ! kita berkumpul dengan yang lain ", ajak mama. Adrian menurut, ia melihat sekeliling hanya keluarga dekat saja yang diundang di pesta ini. Adrian sangat menikmati acara ini, andai saja Kikan ikut dengannya.


"Adrian ... kamu tambah ganteng saja, mana pacarmu ?", goda Tante Ana, istri Om Kevin. Adrian hanya tersenyum mendengarnya.


"Mana cucu Oma yang ganteng ya ?", tanya Oma begitu mendengar nama Adrian disebut. Adrian segera menoleh dan menyambut tangan Oma lalu menciumnya.


"Adrian disini Oma", katanya. Oma tersenyum dan mencium pipi Adrian.


"Kamu persis Papamu waktu muda, sama-sama ganteng. Kamu sudah tidak nakal lagi kan sekarang ?", tanya Oma lagi. Adrian tersenyum lalu menggeleng.


"Tes tes ... Selamat malam semuanya ", suara pembawa acara meminta perhatian semua anggota keluarga tertuju ke tengah resto. Acara ulang tahun Om Kevin kali ini diadakan di resto semi outdoor.

__ADS_1


"Terima kasih sudah datang di acara ulang tahun Om Kevin yang ke berapa ya, Om ?", ucap pembawa acara itu mencairkan suasana.


Akhirnya semua acara berjalan dengan lancar, mulai nyanyi lagu panjang umur, tiup lilin, baca doa dan potong kue. Semua bersukacita mengikuti acara demi acara di pesta itu.


"Baiklah .... acara inti pertama sudah kita lalui ya, selanjutnya acara inti kedua ", ucap pembawa acara itu. Semua anggota keluarga kembali menyimak pembawa acara itu.


"Tapi sebelumnya, saya panggil dulu Mas Adrian Dinata silakan maju ke depan !", ucap pembawa acara itu. Adrian yang bingung dan tidak mengerti hanya diam sampai akhirnya beberapa anggota keluarga menyeretnya ke depan.


"Waduh ... ternyata Mas Adrian ganteng banget ya ?', ucap MC itu. Adrian hanya tersenyum malu.


"Mas, tahu gak kenapa disuruh maju ?". Adrian menggeleng.


"Ya udah, kalau gitu kita hitung mundur ya sama-sama semuanya ada kejutan apa untuk Mas Adrian. Tiga, dua, satu, Yee ... "


"Wah, maaf gak ada apa-apa ternyata ", ucap MC itu lagi. Adrian hanya tertawa. Ini pasti kerjaan keluarganya yang iseng, pikirnya.


"Baiklah, malam ini selain acara ulang tahun Om Kevin, malam ini juga malam spesial buat Mas Adrian. Karena malam ini adalah malam pertunangan Mas Adrian dan Mbak Tania ", ucap MC itu membuat Adrian kaget. Namun semua anggota keluarga malah bersorak-sorai gembira mendengar pengumuman itu. Lalu tiba-tiba entah darimana Tania bersama keluarganya sudah datang di sana dan kini Tania sudah berdiri di depan bersama Adrian.


"Wah ... selamat Adrian, Tania ", teriak anggota keluarga yang lain. Adrian diam saja tak bergerak tiba-tiba seluruh senyumnya langsung hilang dari wajahnya. Ini pasti rencana licik mama, pikirnya.


"Ayo Mas Adrian, cincinnya dipasangkan ke jari Mbak Tania ", seru MC itu lagi. Tapi Adrian tidak bergeming hanya terdiam.


"Adrian ... cepat pasangkan cincinnya ", bisik mama yang sudah berada di sampingnya.


"Aku gak mau, Ma. Kan aku sudah bilang, aku gak mau ", bisik Adrian juga.


"Apa kamu mau mempermalukan Mama dan Papa di depan mereka semua ? Apa kamu tega melihat Oma sedih melihat tingkah mu ini ?. Cepat pasangkan ", bisik mama lagi. Adrian terdiam, dipandangi satu persatu orang-orang tersayang itu lalu ia melihat papa yang tampak serba salah.


"Ayo Adrian cepat pasangkan cincinnya !", teriak para kerabatnya lagi.


Akhirnya Adrian meraih cincin di tangan mama dan memasangkan di jari Tania.Tania tampak tersenyum bahagia disambut tepuk tangan dan sorak-sorai kerabat nya.


Maafkan aku, Kikan, ucap Adrian dalam hati. Ia segera turun dari panggung dan pergi meninggalkan pesta dengan mata penuh berkaca-kaca. Ia sedih harus mengkhianati Kikan, ia juga sedih bila mengecewakan keluarganya. Ia tak peduli kebingungan Tania dan seluruh keluarganya. Ia tak tahu harus bagaimana lagi, ia hanya ingin pergi dari sini secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2