
Pagi ini Kikan bangun pagi sekali, segra dibuka jendela kamarnya. Ia hirup udara sejuk pagi hari.
"Akh .... segarnya, Good morning Monday", sapanya mengawali hari.
Hari ini Kikan ada kuliah pagi, sudah mendekati UAS membuat dia harus lebih giat belajar. Kikan gak mau nilai-nilainya menurun akibat kelelahan mempersiapkan pagelaran kemarin. Yah, selain pagelaran kemarin sebagai nilai UAS Kikan juga harus menghadapi UAS tulis yang lain. Kikan melirik jam di dinding masih pukul 5 pagi, aku bantu ibu di dapur akh, pikirnya.
"Pagi Bu, bikin sarapan apa hari ini ?", sapa Kikan begitu sampai di dapur melihat ibunya sibuk menyiapkan sarapan. Ibu menoleh sambil tersenyum.
"Tumben kamu ,Nduk jam segini sudah bangun". Kikan hanya meringis.
"Perlu dibantu apa Bu ?", tanya Kikan lagi.
"Bener nih mau bantu ibu ?". Kikan mengangguk mantap.
"Ya sudah, kalau gitu ceplokin telur aja itu, 4 butir. Ibu mau bikin nasi goreng. Bisa kan nyeplokin telur ?", tanya ibu ragu.
"Ya ampun..., ibu ngeledek banget. Kikan bisa lah klo cuman nyeplok telur. Mau yang setengah matang atau kering Bu ?".
"Setengah matang aja, ayah gak suka kalo kering".
"Oke, siap Bu".
__ADS_1
Segra Kikan menyalakan kompor menuang sedikit minyak dan mulai menyeplok telur satu persatu. Ibu hanya tersenyum mengamati tingkah Kikan, ternyata dia cukup luwes juga gak terlalu kaku saat di dapur.
"Mulai sekarang kamu harus mulai belajar masak nduk. Memang Ranu bilang menerima kamu apa adanya tapi mosok kamu gak mau memberikan dia yang terbaik, termasuk soal masakan. Kata orang Jawa, cinta itu bermula dari perut alias makanan. Kalo istrinya pinter masak pasti suaminya tambah cinta, kayak Ayah dan Ibu ini", ucap ibunya. Kikan hanya tersenyum.
"Iya Bu, mulai sekarang Kikan bakalan sering bantuin ibu masak di dapur deh biar bisa ketularan pinter masak kayak ibu".
"Bisa aja kamu ngerayunya ....". Kikan hanya ketawa melihat ibunya.
"Kalau sudah selesai segera atur di meja makan sana, sekalian buatin minum untuk sarapan nanti". Kikan mengangguk dan bergegas menuju meja makan.
Ia kemudian meletakkan beberapa piring, sendok dan garpu. Mengatur posisi lauk pauk, nasi goreng dan buah semua tertata rapi. Kemudian Kikan kembali ke dapur menyiapkan kopi untuk ayah, teh untuk ibu dan dirinya.
Begitu pintu dibuka, begitu terkejut nya Kikan.
"Mas Ranu .... ngapain pagi-pagi kesini ?", pekik Kikan kaget begitu tahu yang dihadapannya adalah Ranu. Ranu hanya tersenyum.
"Kamu lupa, hari ini aku janji mau nganter kamu kuliah kan sekalian aku berangkat kerja. Tapi kamu kelihatannya belum bersiap-siap ".
"Oh iya, maaf aku lupa. Aku sudah mandi, tunggu sebentar aku ganti baju dulu tadi aku habis bantu ibu, sebentar ya ...". Ranu mengangguk kemudian duduk di sofa.
"Siapa Nduk ?", tanya ibu.
__ADS_1
"Mas Ranu Bu, mau nganter Kikan kuliah sekalian berangkat kerja", jawab Kikan.
"Kalau gitu, ajak sarapan dulu bareng-bareng ayo "!, pinta ayah yang sudah duduk rapi di meja makan.
"Mas, ayo sarapan dulu. Tadi aku yang masak loh, tapi telur ceploknya aja hehehe ". Ranu tersenyum.
"Oke deh, kamu cepetan ganti ya". Kikan mengangguk dan bergegas ke kamar untuk ganti baju.
"Pagi Ayah, Ibu maaf pagi-pagi Ranu sudah kemari", sapa Ranu kemudian duduk di samping ayah.
"Gak pa-pa, oh ya gimana sudah bilang Mami Papimu kapan rencana bermain ke sini ?", tanya Ayah.
"Sudah Yah, insya Allah hari minggu akhir bulan ini, mungkin kami akan membawa beberapa kerabat dekat jadi saya harap Ayah dan Ibu tidak keberatan".
"Wah, Ibu malah seneng itu ... jadi rame pada ngumpul semua yo toh Yah ?".
"Iya, memang sewajarnya kalo ada berita bahagia harus disebarkan biar semua juga ikut bahagia", kata ayah lagi.
"Ayo, silakan makan anggap saja seperti rumah sendiri." Ranu hanya menganggukkan kepala dan segra mulai makan nasi gorengnya.
Sementara itu di balik kelambu tampak sosok Kikan bersembunyi dengan pipi penuh rona merah dan senyum kegirangan.
__ADS_1