
Sore ini cuaca sedikit mendung berbeda dengan kemarin malam. Padahal ini malam terakhir mereka berkemah. Intan, Kikan, Suci dan Ratih sedang sibuk menyiapkan makan malam. Mereka sengaja menyiapkan lebih awal karena takut kalo malam nanti turun hujan.
Sementara para anak cowok sibuk membuat parit kecil di sekeliling tenda untuk menghindari air masuk ke dalam tenda bila benar-benar turun hujan. Sedang sibuk-sibuknya mereka berdelapan tiba-tiba dikejutkan dengan serombongan anak-anak Pramuka yang berbaris rapi. Kalau dilihat dari wajah mereka sepertinya mereka masih seusia SMP. Kikan dan lainnya tersenyum melihat tampang-tampang imut mereka.
"Selamat sore Kak, kami rombongan Pramuka dari gugus 168. Kami berkemah tidak jauh dari sini", sapa pendampingya ramah menyalami Bobby.
"Sore juga, kalo butuh bantuan kami siap kok", ucap Bobby.
"Terima kasih Kak, semoga malam ini tidak turun hujan sehingga acara kami bisa berjalan lancar sehingga tidak merepotkan kakak-kakak". Bobby hanya tersenyum. Pendamping Pramuka itupun segera pamit dan beranjak pergi mengikuti rombongan tadi.
" Kita makan dulu yuk, aku takut nanti malam turun hujan jadi tidak bisa makan di luar tenda", ucap Bobby yang diiyakan teman-temannya.
Kikan dan teman cewek yang lainnya segera menyiapkan makanan. Mereka makan malam dengan bergegas karena kilat sudah menyambar-nyambar menciptakan gambaran seram akan amukan alam.
"Barang-barang sebagian kita masukkan mobil saja biar tidak kehujanan, kalau yang di dalam tenda biarkan saja, sudah aman ", pinta Bobby ke teman-teman lainnya.
Benar saja selesai mereka memasukkan barang-barang ke mobil hujan mulai turun di tambah dengan petir yang saling sahut menyahut. Untung saja tadi sore mereka sudah membuat parit di sekeliling tenda sehingga mencegah air masuk ke tenda. Kikan dan Intan di dalam tenda meringkuk di dalam selimut mereka menahan udara dingin.
"Kamu takut hujan ,Ntan ?".
__ADS_1
"Enggak, aku malah menyukainya. Aku ingin berlari ke luar kalau mendengar hujan. Sekarang saja aku mencoba menahan kakiku supaya tidak keluar", ucap Intan membuat Kikan tertawa.
"Hei ! kalian baik-baik saja kan ?", sapa Bobby tiba-tiba melongokkan kepalanya ke dalam tenda.
"Iya Bob", jawab Kikan.
"Ntan, aku butuh bantuan mu. Anak-anak Pramuka tadi ada yang terluka dia butuh bantuan, bukankah kamu pernah ikut PMR ?." Intan mengangguk.
"Kikan, kamu gak pa-pa kan sendirian di sini, sebenarnya ada Suci dan Ratih di tenda sebelah apa aku suruh pindah kesini ?".
"Gak usah Bob. Eh ... Mas Ranu mana ?".
Kemudian Intan dan Bobby segera berlalu meninggalkan Kikan sendirian di dalam tenda. Apa aku gabung saja dengan Suci dan Ratih, tapi tenda mereka terlalu kecil untuk dipakai bertiga, pikir Kikan. Kikan mencoba memejamkan matanya namun suara petir yang terus menerus sambar menyambar membuat dia takut. Kalau ada ular masuk gimana tapi Bobby dan mas Ranu sudah memberi garam di sekeliling lagian ada parit yang mengitari tendaku tidak mungkin ular masuk. Kikan mulai membayangkan hal-hal menyeramkan yang akan terjadi namun segera menghalaunya kembali. Mas Ranu dimana ya ??. Aku takut banget, apa aku harus telpon Bobby atau mas Ranu. Akh, gak deh aku takut mereka masih sibuk membantu anak-anak Pramuka itu.
Sedang asyik Kikan dengan pikirannya, tiba-tiba sesosok bayangan menyeruak masuk ke tendanya. Hampir saja Kikan berteriak, namun begitu tahu itu Ranu segera diurungkan Kikan.
"Kamu gak pa-pa sayang ?", tanya Ranu. Kikan mengangguk. Di luar masih hujan tampak dari baju Ranu yang basah kuyup.
"Bajumu basah semua Mas, kamu gak ganti ?" tanya Kikan.
__ADS_1
"Aku tadi sudah ke tenda mau ganti baju tapi ternyata tenda kita ada yang bocor dan menetes di bajuku. Alhasil bajuku basah semua. Tapi aku sudah memindahkan ke tempat kering sekarang. Aku boleh masuk, aku kedinginan", ucap Ranu sambil melepas sepatunya.
"Ya Allah ,Mas kamu basah semua. Lebih baik bajumu di lepas biar tidak masuk angin", ucap Kikan.
Ranu menurut, kemudian melepas sweater dan kaosnya hanya celananya yang menempel. Kikan mengambilkan handuk dari tasnya mengelap seluruh tubuh Ranu lalu menyuruh Ranu berbaring di dalam selimutnya. Kikan menutup pintu tenda supaya udara dingin tidak masuk dan membuat Ranu semakin kedinginan.
Kikan memperhatikan Ranu yang meringkuk di dalam selimutnya, bibirnya masih biru menggigil kedinginan terdengar dari gemelatuk giginya. Kikan menempelkan tangannya di dahi Ranu, astaga panas sekali badannya, apa yang harus kulakukan ?. Kotak P3K tadi dibawa Intan untuk menolong anak-anak Pramuka. Kikan bingung, dia tidak rela melihat orang yang disayanginya menderita. Tiba-tiba Tangan Ranu menarik tangan Kikan membuat Kikan jatuh di dada Ranu.
"Pe.... Luk a...ku saaaaa yang, ....", pinta Ranu dengan suara menggigilnya.
Kikan segera membuka selimut Ranu dan ikut berbaring di sebelah Ranu kemudian memeluknya. Namun Ranu terus mengeluh kedinginan padahal sekujur tubuhnya dipegang Kikan panas. Kikan segera mendekatkan wajahnya ke wajah Ranu. Ranu merasakan hembusan nafas Kikan di wajahnya.
Ranu membuka matanya kemudian mencium bibir Kikan yang terasa hangat baginya, ia mencium berulang kali sambil tangannya sibuk masuk ke dalam kaos Kikan merasakan kehangatan yang luar biasa. Tampak sadar memegang bagian sensitif tubuh Kikan membuat ia mendesah kegelian.
Entah setan apa yang merasuki keduanya, mereka seakan menikmati semua kegilaan itu meskipun mereka tahu perbuatan mereka salah dan ini hanya karena nafsu belaka. Namun suasana dan waktu yang mendukung semuanya terjadi begitu cepat. Kikan merasakan kesakitan yang sangat. Ia hanya bisa menangis dan menahan sakit di bagian bawah tubuhnya. Ranu yang melihat Kikan menangis segera menyudahi dan berbaring di sampingnya.
"Maafkan aku sayang ....", ucap Ranu sambil memeluk Kikan yang masih terus menangis.
Untung saja hujan di luar masih terdengar lebat jadi suara tangis Kikan tidak terdengar. Ranu segera merapikan baju Kikan kemudian menyelimutinya. Ia sudah tertidur karena kecapekan menangis.
__ADS_1
Ranu menyesali kebodohannya, berulang kali dipukul-pukul kepalanya. Ya Tuhan, apa yang aku lakukan ini padahal aku sudah berjanji untuk menjaganya, aku benar-benar bodoh tidak bisa menahan nafsuku pikir Ranu. Ingin rasanya ia mengulang waktu tadi dan mencegah kejadian tadi tapi apa dikata nasi sudah menjadi bubur. Ranu segera bangkit menyambar kaos dan celananya yang masih basah kemudian berjalan keluar menuju mobil. Ia akan tidur di mobil malam ini.