Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Bertemu lagi


__ADS_3

Pagi ini Kikan penuh semangat berangkat ke ruko. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan baju pesanan pelanggan termasuk pesanan Irene sudah ada semua tinggal eksekusi saja.


"Pagi , Mbak !", sapa Amel begitu Kikan datang ke ruko.


"Mel, minta tolong bantuin barang-barang yang ada di mobil ya ?", pinta Kikan.


"Siap, Mbak ", jawab Amel sambil segera berlari keluar dan kembali sambil membawa beberapa bahan kain termasuk kain brokat yang kemarin dibawakan Adrian.


"Loh, Mbak Kikan sudah dapat kain brokatnya ? katanya kemarin susah nyarinya", ucap Amel sambil meletakkan barang-barang yang diambilnya dari mobil.


"Iya, ada temanku yang membantu mencarikan", jawab Kikan.


"Oh ....", kata Amel singkat.


"Mbak, tadi ada Pak Karso pemborong ruko sebelah. Beliau bilang rukonya sudah selesai dan kalau Mbak Kikan mau memindahkan barang-barang, Beliau dan karyawannya bersedia membantu", ucap Amel.


"Oh, syukurlah kalau begitu tolong beritahu anak-anak di atas untuk bersiap-siap pindahan ya. Aku mau mengecek ke sebelah, Pak Karso masih ada di sana kan ?", ucap Kikan.


"Iya Mbak, Pak Karso masih di sana kok".


"Ya sudah kalau begitu, kamu kasih info ke anak-anak ya". Amel mengangguk dan bergegas naik ke lantai dua. Sedangkan Kikan segera ke ruko sebelah menemui Pak Karso, si pemborong.


"Selamat pagi, Pak !", sapa Kikan begitu masuk ke ruko dan bertemu Pak Karso.


"Pagi, Mbak. Tadi saya ke sana. Ini sudah jadi, Mbak kalau mau pindahan bisa saya bantu", ucap Pak Karso.


"Iya, Pak , tadi anak-anak sudah saya beritahu untuk bersiap-siap. Oh ya, Pak, pintu penghubung dengan ruko sebelah yang saya minta sudah bisa digunakan ?".


"Sudah, Mbak. Silakan kemari, saya tunjukkan ", ucap Pak Karso sambil menunjukkan sebuah pintu. Kemudian pintu itu diputar kuncinya dan dibuka. Pintu tersebut langsung terhubung ke ruko sebelah, Kikan tersenyum melihatnya.


"Terima kasih, ya Pak. Untuk sisa pembayaran akan saya transfer hari ini", ucap Kikan lagi.


"Iya, saya juga terima kasih, Mbak sudah mempercayakan ke saya", jawab Pak Karso sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mbak, anak-anak sudah siap pindahan", ucap Amel tiba-tiba mengagetkan.


"Ya sudah, kalau begitu. Pak, bisa bantu kami kan ?", ucap Kikan lagi.


"Tentu, Mbak. Ayo, Eko, Prayit bantu Mbak Kikan", ucap Pak Karso sambil memanggil karyawannya.


Akhirnya hari itu menjadi sangat sibuk sekali, Kikan beruntung ruko yang baru dibelinya selesai direnovasi jadi dia bisa segera menempati ruangannya dan lebih konsentrasi mengerjakan pekerjaannya.


"Mel, kamu handle dulu ya pindahannya. Tadi aku sudah info ke Pak Karso apa saja yang harus dilakukan. Aku mau keluar sebentar untuk membeli makanan dan minuman sekedar syukuran kecil-kecilan kita".


"Iya, Mbak. Amel handle semuanya", ucap Amel. Kikan mengangguk dan bergegas pergi. Ia segera masuk ke mobilnya dan melajukan ke sebuah restoran langganannya.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, Kikan sampai dan segera memarkir mobilnya. Lalu turun dan segera masuk ke restoran itu.


"Selamat siang, Kak. Bisa kami bantu ?", sapa seorang pelayan menyapa Kikan.


"Iya, Mbak saya mau pesan makanan boleh lihat menunya ?", jawab Kikan.


"Silakan, Kak !", kata pelayan itu sambil menyodorkan daftar menu. Kikan membaca beberapa saat, lalu memesan beberapa menu.


"Mbak, saya pesan jus jeruk dong sambil menunggu", ucap Kikan.


"Baik, Kak". Pelayan itu berlalu meninggalkan Kikan yang sedang sendiri.


"Sari, kamu bisa kembali ke kantor duluan kan ?. Saya ada urusan mendadak", ucap Adrian.


"Iya, baik Pak. Saya permisi duluan", ucap Sari sekertaris Adrian sambil berlalu. Hari ini kebetulan Adrian baru saja janjian bertemu dengan klien di restoran yang sama dengan Kikan tuju. Tadi sewaktu Kikan masuk ke restoran ini, tak sengaja Adrian melihatnya. Untung saja pertemuan dengan kliennya sudah selesai jadi dia bisa menemui Kikan. Memang kalau sudah jodoh, dimanapun pasti akan bertemu, pikir Adrian sambil tersenyum.


Kini Adrian berjalan perlahan mendekati meja Kikan. Ia tidak ingin mengagetkan Kikan yang sedang asyik bermain dengan ponselnya.


"Kita ternyata jodoh ya ? dimana saja selalu bertemu", ucap Adrian tiba-tiba sudah duduk di depan Kikan. Kikan yang kaget hampir saja menjatuhkan ponselnya.


"Kamu benar-benar jadi hantu ya sekarang ?", jawab Kikan kesal begitu tahu Adrian sudah duduk manis di depannya.

__ADS_1


"Hantu mana yang setampan dan sekeren aku, coba sebutkan ?". Kikan hanya diam dan membuang mukanya.


"Kamu sedang apa disini ?", tanya Adrian.


"Ya, pesan makanan. Kamu sendiri ngapain disini ?", kata Kikan balik tanya.


"Aku baru ketemu klien, mereka baru saja pulang dan aku melihatmu sendirian jadi aku kesini deh". Kikan diam lagi. Adrian tampak rapi hari ini, jas hitam dengan kemeja biru dan dasi garis-garis biru semakin menambah keren penampilannya. Rambutnya juga tersisir klimis rapi ke belakang.


"Mengapa kamu ngeliatin aku ? suka ya ?", ucap Adrian dengan senyum menggoda.


"Idih ... jangan sampai deh suka sama kamu lagi", kata Kikan.


"Berarti dulu suka kan atau sekarang juga masih suka ?". Kikan melotot mendengar ucapan Adrian. Dia selalu seperti itu, melempar kata-kata yang membuatnya kesal.


"Kamu tambah cantik loh kalau marah. Oh ya, kapan kamu akan membayar kainmu ?", kata Adrian.


"Maksudmu ?", tanya Kikan bingung.


"Aku kan sudah bilang, aku tidak menerima pembayaran cash. Tapi aku menerima pembayaran berupa makan malam, jalan bareng dan nonton, satu paket. Kapan kamu membayarnya ?". Kikan diam, ia bingung mau jawab apa.


"Memang harus ya ?", tanya Kikan.


"Wajib dong hukumnya, tahu gak kesusahan ku mendapatkan kain itu harusnya kamu menghargainya loh". Kikan diam lagi.


"Kalau kamu tidak bisa menentukan tanggalnya, biar aku saja yang menentukan. Sini !", ucap Adrian sambil mengambil ponsel Kikan dari tangannya lalu menulis beberapa nomor di ponselnya.


"Itu nomorku, aku sudah menyimpannya dan sudah miscall ke nomorku jadi tidak ada alasan kamu tidak punya nomorku, oke", ucap Adrian sambil mengembalikan ponsel Kikan lagi.


"Aku harus pergi, aku ada janji lagi habis ini. Nanti kamu akan aku hubungi, aku harap kamu tidak menghindar lagi", kata Adrian lagi sambil bangkit berdiri dan berlalu meninggalkan Kikan. Kikan tidak sempat berbicara sepatah pun, ia sudah capek kalau harus bertengkar terus dengan Adrian. Ia cek ponselnya, nomor Adrian sudah tersimpan di kontaknya dengan panggilan Adrian Sayang. Kikan tertawa sendiri membacanya. Dasar Adrian, tingkat pede nya masih sama seperti dulu setingkat dewa.


"Kak, ini pesanannya sudah siap semua", ucap pelayan sambil membawakan pesanannya.


"Oh iya, Mbak. Berapa totalnya ?", ucap Kikan.

__ADS_1


"Ini Kak, notanya". Kikan menerima nota dan segera membayarnya kemudian membawa semua pesanannya itu ke mobilnya.


__ADS_2