Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kegelisahan Bobby


__ADS_3

 


Bobby duduk gelisah di teras belakang rumah kayu, sekali\-kali ia melempar beberapa remah roti ke dalam kolam. Lalu ia berganti posisi, bangkit lalu berjalan mondar mandir sambil menunduk mencoba berpikir keras kelihatannya.


"Kamu kenapa Bob ?", tanya Kikan yang sudah berdiri di samping Bobby keheranan dengan tingkahnya. Bobby berhenti lalu memberi Kikan kursi dan menyilakan nya duduk.


"Kamu ada masalah ?", tanya Kikan lagi begitu Bobby juga sudah duduk di hadapannya.


Bobby mengangguk.


"Intan .... ", jawabnya tersekat.


"Kenapa dengan Intan ?", tanya Kikan lagi.


"Intan kemarin dijemput paksa oleh orang tuanya. Dia akan dinikahkan dengan juragan kaya di kampungnya yang selama ini membiayai kuliahnya. Dan bodohnya aku, aku tidak pernah tahu akan hal ini sampai kemarin. Aku bener-bener gak berguna, aku tidak tahu ternyata Intan mempunyai masalah sebesar itu. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku sangat mencintai Intan, aku gak mau kehilangan dia. Apa yang harus aku lakukan ?. Tolong, bantu aku Kikan ", ucap Bobby kebingungan.


"Maafin aku Bob, sebenarnya aku sudah tahu mengenai masalah Intan sejak kita kemah dulu namun Intan melarang ku memberi tahukan dirimu. Saat itu juga, barengan aku lagi punya masalah. Aku minta maaf ya .... kenapa kamu tidak menyusul Intan kalau kamu sangat mencintai nya ?", tanya Kikan.


"Aku takut ... aku takut aku tidak sanggup untuk merebutnya kembali, Kikan. Aku gak berdaya".


"Kamu punya orang tua kan ?. Aku yakin Pakde dan Bude akan menolong mu kalau kamu berterus terang tentang semuanya. Aku yakin pengaruh Pakde luar biasa, dia pasti akan membantu mu".


"Aku takut Kikan, aku takut melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan padamu. Gara-gara aku kamu akan dijodohkan kan ? Kamu ingat ?".


"Aku yakin Bob, yang dilakukan Pakde itu untuk sebuah kebaikan, cuma caranya salah. Aku tidak dendam kok. Coba kamu bicarakan dengannya siapa tahu Beliau mempunyai jalan keluar. Apalagi aku yakin Bude sangat menyukai Intan, Beliau pasti juga tidak.ingin kehilangan Intan".


"Entahlah Kikan, apa aku mempunyai keberanian untuk bicara dengan ayah dan ibu ku. Aku sangat takut melihat amarah mereka. Aku takut ". Kikan tertawa mendengar nya.


"Kenapa tertawa ?", tanya Bobby kebingungan.

__ADS_1


"Kamu lucu, kamu belum berperang tapi sudah mengaku kalah. Itu pengecut namanya ". Bobby terdiam mendengar ucapan Kikan.


"Kamu harusnya bangkit dan menyusul Intan, buktikan kalau kamu benar-benar mencintai nya tidak bersembunyi, ketakutan dan bingung sendiri. Kamu punya senjata tapi tidak kamu gunakan. Kamu punya cinta dan orang tua yang mendukung mu, harusnya kamu pantang menyerah tidak malah sembunyi saja". Bobby lama terdiam.


"Apa kamu membutuhkan aku untuk bicara ke Pakde ?", tanya Kikan lagi.


"Gak usah Kan, aku bisa sendiri. Aku akan coba ngomong ke ayah dan ibu siapa tahu mereka mau membantuku ". Kikan tersenyum mendengar semangat Bobby.


"Kadang aku takjub dengan dirimu, mengapa kamu bisa melalui semua ini, padahal aku yakin masalahmu lebih berat dari punyaku", ucap Bobby.


"Setiap orang mempunyai masalah yang berbeda Bob, tergantung kapasitas mereka. Tuhan sudah tahu itu dan kita hanya menerima dengan ikhlas. Kalau sudah ikhlas semua pasti akan terasa mudah ". Bobby tersenyum.


"Kamu hebat, Kikan. Aku salut padamu. Lalu apa rencanamu setelah ini ?".


"Aku akan menyelesaikan skripsi ku, wisuda, bekerja dan membesarkan anakku tentu saja".


"Entahlah Bob, aku tak pernah memikirkan itu lagi. Hatiku hanya milik Mas Ranu seutuhnya. Kini dia telah pergi, begitupun hatiku telah dibawa pergi juga".


"Jangan begitu Kikan, kamu juga harus bahagia jangan hanya orang lain yang ingin kau bahagiakan. Kamu juga berhak bahagia". Kikan hanya tersenyum.


"Kalau kamu mau membuka hatimu, aku punya beberapa teman yang mungkin cocok denganmu. Aku akan sukarela menjodohkan salah satu dari mereka denganmu". Kikan kini tertawa.


"Jadi itu toh, tujuanmu kesini mau nyomblangin aku dengan temanmu. Mana ada Bob cowok yang mau dengan wanita single parent yang tanpa status pernikahan jelas seperti aku ini. Sudah jangan buat aku tertawa, sakit bekas lukaku", tutur Kikan sambil menahan tawanya.


"Kamu disini, Nduk. Masuklah dulu, Raka menangis minta susu sepertinya", ucap ibu. Kikan mengangguk lalu bangkit dan beranjak meninggalkan Bobby dan Ibu.


"Sudah selesai ngomongnya dengan Kikan ?", tanya ibu.


"Sudah Bulik, Alhamdulillah sedikit plong sekarang".

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, makanya kalau ada masalah itu diomongkan jangan dipendam saja ya Bob". Bobby mengangguk.


"Iya, Bulik. Kikan hebat, dia bisa melalui semua masalahnya ya Bulik. Bobby salut dengan Kikan".


"Ya... Bulik juga kok Bob, dia sudah berubah sekarang. Bukan anak manja yang bisanya menangis dan merengek saja. Dia sudah bisa mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah sekarang. Bulik harap dia selalu bahagia dan suatu saat nanti mendapat pengganti Ranu untuk menjadi ayah Raka dan pendamping hidupnya. Bulik hanya bisa berdoa saja, semoga Kikan selalu bahagia".


"Iya Bulik, Bobby juga mendoakan semoga Kikan selalu bahagia dan tidak sedih lagi. Tadi Bobby juga sempat menawarkan menjodohkan Kikan dengan teman Bobby".


"Lalu apa jawaban Kikan, Bob ?".


"Dia bilang, mana ada cowok yang mau dengan single parent tanpa status jelas seperti dirinya, gitu Bulik. Tapi jangan khawatir Bulik, mungkin sekarang Kikan belum fokus untuk itu suatu saat nanti, dia pasti akan memikirkan tentang pendamping hidupnya dan ayah untuk Raka. Bobby janji, Bobby akan bantu Kikan menemukan pendamping hidup".


"Iya, Bulik percaya kok Bob. Mungkin sekarang Kikan sedang fokus dengan Raka. Dia juga punya rencana merampungkan skripsi nya, wisuda dan bekerja. Semoga rencana Kikan itu berjalan dengan lancar. Bulik gak sabar membawa Kikan dan Raka pulang ke rumah".


"Bulik gak malu dengan tetangga ?". Ibu menoleh kaget ke arah Bobby.


"Kamu kok ngomong gitu toh Bob. Bulik sudah gak perduli lagi dengan omongan orang. Bulik hanya memikirkan Kikan dan sekarang ketambahan Raka. Hanya mereka berdua saja yang jadi prioritas Bulik sekarang. Oh ya, kabar ayahmu bagaimana ?, lama Bulik gak telepon".


"Ayah dan Ibu baik kok Bulik, mereka menyesal saat merundingkan masalah Kikan ke keluarga besar. Ayah dan Ibu juga jarang berinteraksi dengan keluarga besar, hanya kalau ada undangan saja mereka datang".


"Oalah ... Bulik sebenarnya kangen, Bob. Nanti saja kalau Kikan sudah pulang ke rumah. Bulik tak sowan ke rumahmu ngajak Kikan dan Raka".


"Iya, Bulik Bobby tunggu kedatangannya. Kalau gitu, sekarang Bobby pamit dulu ya Bulik. Titip salam saja buat Kikan dan semuanya", ucap Bobby sambil beranjak bangkit.


"Kok kesusu toh Bob".


"Ada yang harus Bobby kerjakan Bulik".


"Ya wes kalau gitu. Hati-hati ya!". Bobby mengangguk dan bergegas berlalu. Ia ingin segera cerita ke ayah dan ibunya tentang masalah Intan dan bergegas menyusul Intan. Ia tidak mau kehilangan Intan, ia tidak boleh menyerah.

__ADS_1


__ADS_2