Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pengakuan Ranu


__ADS_3

Ranu merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Hari ini dia mendapat kejutan indah dari Kikan. Ya, Kikan hamil. Sebenarnya kalo dipikir ini benar-benar memalukan karena status mereka berdua belum resmi suami istri tapi Kikan sudah hamil duluan. Akh, sebodoh amat dengan status yang penting kita saling mencintai meskipun peristiwa malam itu terjadi karena sebuah kesalahan, pikir Ranu.


Ranu kembali dalam lamunannya, dia membayangkan jika sudah menikah dengan Kikan nanti akan ada si kecil yang menemani mereka. Mami dan papi tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan cucu karena sekarang di perut Kikan sudah tertanam benihku. Namun, aku harus memikirkan cara untuk mempercepat pernikahan kami, aku gak mau Kikan menanggung aib karena hamil sebelum menikah. Apa aku harus memberi tahu mami papi tentang keadaan Kikan ? apa mereka mau membantuku ?. Ranu semakin tenggelam dalam pikiran dan lamunannya. Ia harus memutuskan yang terbaik untuk masa depannya dan Kikan.


"Ranu, kamu sudah makan ?", tiba-tiba mami Tiwi menerobos masuk ke kamar Ranu. Ranu yang asyik melamun diam saja.


"Nih anak diajak ngomong malah diem aja ", kata mami Tiwi kini sambil memukul kaki Ranu.


"Aduh ... Mami ngagetin aja".


"Kamu diajak orang tua ngomong malah diem aja dari tadi. Lagi ngelamun apa kamu ?". Ranu hanya tersenyum cengengesan.


"Udah makan belum, tuh Papimu ngajak makan bareng, cepetan turun jangan ngelamun aja ", ucap mami segera berlalu.


"Iya Mi, Ranu turun".


Kesempatan nih, bisa ngomong sama mereka, tapi gimana mulainya. Akh, bodo amat dicoba dulu aja. Ranu setengah berlari menuruni tangga menuju meja makan.


"Nah, ini dari tadi ditungguin gak turun-turun gak tau kalo Papinya sudah kelaparan", ucap papi Farid begitu melihat Ranu turun dan langsung duduk di sampingnya.


"Maaf Pi, tadi Ranu capek leyeh-leyeh bentar di kasur ".


"Wong tadi Mami liat ngelamun gitu".


"Tau, padahal udah punya tunangan masih juga ngelamun. Nih, aku jomblo yang pantesnya ngelamun ", seru Galuh menimpali.


"Itu sih nasibmu, Luh ", jawab Ranu diiringi tawa mereka berempat.


"Udah, bercandanya kita makan dulu. Papi yang mimpin doa ya ", seru mami.


"Mumpung ada Ranu, biar Ranu aja Mi sekalian belajar jadi kepala keluarga nantinya". Ranu hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian memulai memimpin doa sebelum makan, mereka makan dengan tenang.


"Kikan kok jarang kemari sekarang Ran, Mami kangen. Besok Minggu ajak dia main kesini ya", pinta mami sesudah acara makan.


"Dia lagi sibuk bikin skripsi Mi, lagian Ranu juga sibuk kerja. Akhir-akhir ini kita juga jarang ketemu kok Mi".

__ADS_1


"Tapi kalian gak berantem kan ?".


"Enggak lah Mi, kita baik-baik aja kok".


"Syukur deh, jangan sering berantem ya Nak. Apalagi kalo sudah nikah nanti, semua harus dibicarakan baik-baik jangan emosi dulu ya".


"Tuh, dengerin Mami-mu Ran, biar bisa kayak Mami dan Papi ini ", kini papi menimpali kata-kata mami.


Ranu hanya diam, dia bingung mau mengawali kata-kata darimana, sebenarnya ini kesempatan yang bagus mumpung Galuh gak ada tapi gimana memulainya.


"Kamu kenapa ? kok kayak orang bingung gitu dari tadi Mami liat ", ucap mami yang melihat kegelisahan Ranu.


"Gak pa-pa kok Mi, hanya capek aja ".


"Kalo capek istirahat saja, Mami dan Papi biasanya ngopi disini sampe larut kok. Ya Pi ?". Papi hanya manggut-manggut.


"Gak Mi, Ranu masih ingin disini kok".


"Kamu kenapa sih kok kayak orang bingung gitu dari tadi Mami liat di kamar ngelamun, diajak ngomong gak jawab sekarang tingkahnya kayak orang bingung. Ada masalah apa bilang aja", kata mami lagi namun Ranu hanya menggeleng dan terdiam. Dia bingung harus memulai darimana.


"Kenapa ? kamu sudah ngebet ya ?", goda papi. Ranu hanya tersenyum.


"Sebenarnya kalo Mami dan Papi gak masalah sih, Mami dan Papi sudah menyiapkan dana pernikahanmu jauh-jauh hari. Kita tinggal pesan gedung, catering itu aja. Semua bisa Mami siapkan tapi apa pihak keluarga Kikan menyetujui lagian Kikan belum wisuda kalau 2 bulan lagi. Kemarin tanggal pernikahan kalian ditetapkan setelah Kikan wisuda. Apa mereka akan menyetujuinya ?".


"Nah itu Mi, makanya Ranu minta bantuan Mami dan Papi untuk ngomong ke keluarga Kikan agar memajukan tanggal pernikahan kami".


"Terus apa alasan Mami untuk memajukannya ?".


"Ranu 2 bulan lagi akan di pindah ke luar pulau Mi, untuk mengawasi pembangunan perumahan disana. Kantor Ranu sudah menanda tangani kontrak dengan pihak pengembang properti disana dan mereka mempercayai Ranu sebagai pengawasnya ", terang Ranu.


"Wah hebat kamu Ran. Tapi Mami rasa itu gak masalah lagian Kikan kan masih ngurusi skripsinya, tentu saja dia masih di sini. Kalo harus ikut kamu bagaimana skripsinya".


"Tapi Mi ... ada yang lebih penting ".


"Apa itu ?", tanya Mami lagi.

__ADS_1


"Kikan hamil Mi ...., hamil anak Ranu ", jawab Ranu lirih.


"Apa ? apa kamu bilang tadi ?", tanya mami dan papi bersamaan.


"Kikan hamil ".


"Ya Tuhan .... Ranu ....", ucap mami sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Papi hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu yakin itu ?", tanya mami lagi.


"Iya Mi, Kikan sudah melakukan testpack 3 kali dia juga sudah telat bulan ini. Makanya tadi dia menemui Ranu dan bilang kalo hamil sambil menunjukkan hasil testpacknya ".


"Kalian sudah periksa ke dokter ?".


"Belum Mi, Kikan malu tapi besok Ranu janji akan membawanya ke dokter".


"Ya Tuhan .... Ranu kenapa kamu gak mikir waktu melakukannya. Padahal Mami dan Papi percaya kalian 100% akan saling menjaga tapi .....". Mami tidak meneruskan kata-katanya, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa orang tua Kikan sudah tahu ?", tanya papi kini.


"Ranu rasa Kikan tidak akan memberitahunya, Pi. Kikan tidak ingin mengecewakan mereka ".


"Ya ... Mami paham, Kikan anak mereka satu-satunya apa jadinya kalau mengetahui anak mereka hamil di luar nikah. Mereka pasti akan shock. Kamu harus bertanggungjawab Nak, kasihan Kikan kalau harus menanggung ini sendirian. Mungkin jalan satu-satunya kita majukan pernikahan kalian dengan alasanmu tadi ". Ranu mengangguk.


"Apa kalian berdua tidak berniat memberi tahu sejujurnya ke orang tua Kikan ?", tanya papi.


"Untuk saat ini belum Pi, mungkin setelah kami resmi menikah nanti akan kami beritahu sebenarnya ", ucap Ranu.


""Baiklah, besok minggu kita ke rumah Kikan untuk memajukan pernikahanmu. Berharap saja mereka mau menyetujuinya", ucap mami akhirnya.


"Terima kasih ya Mi, Pi. Maafin Ranu kalau sudah mengecewakan ", ucap Ranu sambil mencium pipi kedua orang tuanya.


"Gak pa-pa Nak, selama kamu mau bertanggung jawab Mami dan Papi sudah memaafkan mu". Ranu tersenyum.


"Kita habis ini punya mantu dan langsung dapat bonus cucu Mi", ucap papi akhirnya membuat mami tersenyum setelah sedikit tegang tadi.

__ADS_1


__ADS_2