Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Tante Ratih


__ADS_3

Kikan kini duduk sendiri, tempatnya duduk memang mulai sepi karena banyak beberapa tamu yang beranjak duduk maju ke depan untuk menikmati artis ibukota yang sengaja diundang Hendy untuk memeriahkan ulang tahun ibunya.


Kikan tampak mengangguk-anggukkan kepala menikmati musik dan nyanyian artis ibukota itu.


"Kamu Kikan ya ?", tanya seorang wanita paruh baya dengan dandanan sedikit norak sudah berdiri di samping Kikan.


"Iya, Tante", jawab Kikan gugup karena dia merasa tidak mengenal wanita itu. Wanita paruh baya itu lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Kikan.


"Mungkin kamu tidak kenal saya, tapi saya tahu banyak tentang dirimu", kata wanita itu dengan nada sombong. Kikan hanya menarik nafas sambil mencoba mengingat-ingat siapa wanita ini.


"Kamu sedang dekat dengan keponakan ku, Hendy kan ?. Kamu pasti sedang berusaha untuk mendapatkan nya bukan ?", tanyanya lagi.


Kikan menggeleng cepat.


"Tidak, Tante. Kami hanya berteman saja hanya sebatas teman saja", jawab Kikan cepat.


"Alah ... jangan munafik kamu, pertamanya berteman lama-lama jadi pacar lalu jadi suami. Aku tahu kamu sedang mencari figur ayah untuk anak haram mu itu kan ?", tuturnya lagi. Kikan tercengang kaget dengan ucapan wanita separuh baya itu.


"Kenapa ? kamu kaget aku tahu soal anak haram mu ? aku juga tahu kamu gadis murahan yang mau menyerahkan keperawanannya begitu saja kepada seorang lelaki yang belum sah menjadi suaminya. Aku juga tahu kamu mau bunuh diri karena depresi. Aku tahu segalanya tentang kamu dan kini kamu mau seenaknya masuk ke keluarga kami dan bersanding dengan Hendy. Dengar ya, keluarga Hendy itu berdarah biru, semua keturunannya orang baik-baik tidak ada yang seperti kamu. Jadi jangan berharap masuk ke keluarga kami", jelasnya lagi. Kikan hanya diam, hatinya bagai diiris-iris pisau tajam. Airmata nya pun hampir tak terbendung namun Kikan berusaha tegar.


"Maaf ... Tante salah, saya tidak pernah berniat sedikitpun untuk masuk ke keluarga Tante. Saya hanya berteman dengan Hendy."


"Halah .... itu hanya alasanmu saja, aku tahu sebenarnya siapa kamu. Dengar ya ! aku tidak akan membiarkan mu bersatu dengan Hendy. Ibu Hendy harus tahu semua tentang kamu. Mungkin tadi dia bersikap manis padamu karena belum tahu kamu yang sebenarnya tapi setelah tahu jangan harap mendapat senyuman darinya. Aku hanya mengingatkan cepat jauhi Hendy, kamu tidak pantas untuknya. Kamu itu sudah seperti ******* saja ", ucap wanita itu sambil berlalu. Kikan hanya diam, airmata sudah tidak sanggup dibendung nya.


"Kikan .... , kamu kenapa ?", tanya Hendy mendekati nya sambil membawakan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.

__ADS_1


"Gak pa-pa ", ucap Kikan sambil mulai menyeka air matanya.


"Aku lihat tadi kamu berbincang dengan Tante Ratih, kamu ingat kan dia tetanggamu loh biasanya dipanggil Bu Sasongko. Kamu bicara apa tadi kok serius banget", ucap Hendy.


"Kami hanya sekedar menyapa saja. Hendy, aku rasa aku harus pulang. Kepalaku pusing sekali ", ucap Kikan beranjak bangkit.


"Tapi kamu belum makan, apa aku antar pulang ya ?".


"Gak usah, aku bawa mobil tadi. Maaf, aku tidak pamit Ibumu, kepalaku pusing sekali", ucap Kikan bohong dan segera berlalu. Ia sudah tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Kikan kenapa, Hen ?", tanya Bobby begitu melihat Kikan tergesa-gesa pulang meninggalkan Hendy.


"Gak tahu, katanya kepalanya pusing", jawab Hendy.


"Aku gak bicara apa-apa, tadi aku tinggal ambil makanan begitu kembali dia sudah begitu".


"Ya sudah kalau gitu biar aku bicara padanya nanti", ucap Bobby. Hendy hanya mengangguk, dia melihat Tante Ratih sedang tersenyum menyeringai sambil menatapnya tajam. Pasti ada hubungannya dengan Tante Ratih, pikir Hendy.


"Tante ... boleh bicara sebentar ?", kata Hendy begitu pesta sudah selesai dan tamu sudah banyak yang pulang.


"Tentu saja, Hendy sayang. Ada apa ya ?", tanya Tante Ratih dengan genit.


"Tadi Tante sempat berbicara dengan Kikan ya ? Kalo boleh tahu apa yang Tante bicarakan ?", tanya Hendy sopan.


"Kikan ?, Oh gadis yang merancang baju Ibumu ? gadis yang kau kenalkan tadi ? yang rumahnya dekat rumah Tante itu ?", tanyanya.

__ADS_1


"Iya, Tante kalau boleh tahu apa yang Tante bicarakan".


"Aku tidak bicara apa-apa, aku hanya menyapanya", jawab Tante Ratih. Hendy hanya manggut-manggut.


"Tapi kenapa tadi dia pulang tergesa-gesa dengan menangis pula", gumam Hendy.


"Aku hanya menyapanya dan mengingatkan nya kalau dia itu tidak pantas denganmu. Dia tidak sebanding dan selevel dengan kita, Hendy", jelas Tante Ratih lagi. Hendy terkejut mendengarnya.


"Tante ..., kenapa Tante bicara seperti itu. Apa yang gak sebanding dengan kita ?. Dia baik, dari keluarga baik-baik, kenapa Tante tega bicara seperti itu", bela Hendy.


"Hendy ..., dengar Kikan itu sudah punya anak dan anaknya itu anak haram tidak punya bapak karena kamu tahu, karena dia hamil duluan. Dia bukan gadis baik-baik. Mana ada gadis baik-baik yang mau menyerahkan keperawanannya sebelum menikah. Dia tidak cocok untukmu ", jelas Tante Ratih.


"Ada apa ini kok ribut-ribut", tiba-tiba ibu Hendy sudah menengahi obrolan mereka.


"Tuh, Mbak anakmu marah-marah karena pacarnya aku buat menangis", tutur Tante Ratih.


"Hendy, Tante Ratih sudah cerita semuanya ke Ibu. Tante Ratih benar, Hen. Dia ingin kamu mendapat gadis yang lebih baik. Kamu masih ganteng, sukses lagi pasti banyak gadis yang memujamu. Sudah, lupakan saja Kikan. Apa kamu juga tidak tahu tentang masa lalu Kikan ? Apa kamu tidak mau mendapat yang lebih baik dari Kikan ?", tutur Ibu.


"Hendy tahu, Bu. Hendy tahu semua tentang Kikan. Oleh sebab itu, Hendy ingin menjadi penawar kegagalannya. Hendy ingin menjadi obat kesedihannya. Hendy juga ingin menjadi sosok ayah untuk anaknya", kata Hendy.


"Tapi Ibu tidak mengijinkannya, Hen. Ibu tidak mau kamu menjadi ayah dari anak yang tak jelas itu. Ibu tidak mau kamu bersama Kikan. Kita keluarga terhormat, berdarah biru. Ibu tidak mau keturunan kita tercoreng karena ulahmu. Sudah, akhiri saja kisahmu dengan Kikan. Cukup sampai disini dan jangan pernah berhubungan lagi dengannya".


"Tidak bisa, Bu. Hendy sudah terlanjur cinta dengannya", ucap Hendy lagi.


"Hendy .... kamu anak laki-laki Ibu satu-satunya, jangan kecewakan Ibu. Apa Ibu sendiri yang harus menemui Kikan dan memutuskan hubungan kalian ?", ancam ibu. Hendy hanya terdiam. Ibunya sedang marah, dia tidak berani menyangkal atau berkata-kata. Dia menyadari sepenuhnya, keluarga nya masih berdarah biru pemilihan calon menantu tentu harus melihat bobot, bibit dan bebet. Andai keluarga nya bisa menerima masa lalu Kikan. Apakah keluarga besarnya juga dapat menerima nya atau malah mencemoohnya ?. Hendy terus terdiam, banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Antara memilih Kikan atau keluarga nya ?

__ADS_1


__ADS_2